My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Mencari Luke


__ADS_3

Jovanka menggila, dia tidak menemukan suaminya dimanapun. Ponsel Luke pun tak bisa di hubungi dan keberadaannya tak bisa di lacak. Jovanka meminta bantuan Josh untuk mencari keberadaan Luke, namun Josh menolak dengan alasan kepergian Luke sebagai pelajaran bagi Jovanka agar tidak terlalu keras kepala dan mementingkan egonya sendiri, Josh juga ingin Jovanka tau betapa berartinya Luke di dalam hidupnya.


Satu-satunya harapan Jovanka adalah Mister Serkan, wanita hamil itu menemui Mister Serkan di kantornya. Kedatangan Jovanka di sambut ramah oleh pria paruh baya itu.


"Wah, ada apa ini, tumben sekali seorang Jovanka Janzsen mampir ke kantor?" tanya Mister Serkan seraya tersenyum.


"Maaf mister, saya datang karena ingin menanyakan sesuatu," jawab Jovanka.


"Apa itu?"


"Apa anda tau dimana Luke berada?" tanya Jovanka langsung pada intinya.


"Bukankah dia tinggal di rumahmu?"


"Dia pergi dan saya yakin anda tau dia pergi kemana?"


"Dia kan suamimu, bagaimana aku tau dia pergi kemana," ujar Mister Serkan.


"Tapi anda satu-satunya teman Luke. Tolong Mister, tolong katakan dimana Luke," pinta Jovanka tak menyerah.


Mister Serkan menghela nafas berat, pria paruh baya itu menatap Jovanka penuh arti. "Rumah adalah tempat ternyaman ketika seorang pria patah hati," ucap Mister Serkan penuh misteri.


Jovanka mencoba mencerna kalimat yang di ucapkan Mister Serkan, seketika dia mengingat rumah lama Luke di Amerika.


"Cih, jauh sekali kau bersembunyi," gumam Jovanka pelan. "Terima kasih informasinya mister, saya permisi!"


Setelah dari kantor Mister Serkan, Jovanka langsung ke bandara karena dia akan menyusul Luke ke Amerika. Jovanka sangat yakin jika Luke berada di sana berdasarkan ucapan ambigu Mister Serkan.


Dua puluh jam bukanlah waktu yang singkat, wanita hamil itu akhirnya tiba di Amerika. Dia segera pergi menuju rumah lama suaminya dan hasilnya nihil, rumah itu kosong dan Luke tidak ada di sana. Karena sudah malam, Jovanka memutuskan menginap di hotel, kini dia benar-benar menyesali perbuatannya. Dia sendiri bingung kenapa bisa semarah itu pada Luke.


"Kau dimana Luke?" gumamnya seraya memeluk foto pernikahan mereka. Jovanka sangat merindukan senyuman suaminya. Karena terlalu lelah, Jovanka akhirnya terlelap dalam mimpi.


Keesokan harinya, Jovanka bangun lebih awal karena dia akan kembali mencari Luke. Dia akan kembali mencari di rumah lama Luke, siapa tau Luke sudah berada di sana. Namun lagi-lagi dia merasa kecewa karena tak menemukan siapapun di rumah tersebut.


"Rumah adalah tempat ternyaman ketika seorang pria patah hati," Jovanka mengulangi perkataan Mister Serkan. "Rumah, rumah mana yang dia maksud?" Jovanka terus memikirkan kemungkinan keberadaan suaminya. "Momy Martha," pekiknya setelah teringat sang ibu mertua. "Astaga, kenapa aku tidak kepikiran sejak kemarin sih!"

__ADS_1


Jovanka lalu menyewa sebuah mobil dan mengendarainya sendiri menuju pedesaan di mana Martha tinggal. Untung saja dulu dia ikut mengantar Martha sehingga dia ingat dimana mertuanya itu menetap. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam, meski merasa lelah namun Jovanka tetap memaksakan diri karena dia ingin segera menemui Luke. Hingga akhirnya dia tiba di d depan tempat tinggal Martha. Jovanka segera turun dan meminta bantuan seseorang untuk memanggilkan Martha.


Tak lama setelah itu, Martha keluar dan terkejut melihat kedatangan Jovanka. Dan yang lebih mengejutkan lagi karena Jovanka terlihat begitu pucat dan wajahnya tampak kelelahan.


"Jov," panggil Martha seraya berjalan menghampiri menantunya.


"Mom," Jovanka memekik, lalu segera memeluk sang ibu mertua.


"Nak, kau bersama siapa?" tanya Martha yang mulai cemas saat merasakan sekujur tubuh Jovanka terasa dingin.


"Sendiri mom!" jawab Jovanka pelan, dia lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Martha. "Mom apa Luke datang kemari?" tanyanya penuh harap.


Martha mengangguk pelan. "Ya, dia ada di sini!"


Jovanka bisa bernafas lega, wanita itu akhirnya bisa tersenyum. "Ah, syukurlah mom. Aku hampir gila karena tak menemukannya dimanapun! Sekarang dimana dia mom? Aku harus bertemu dengannya!"


"Dia ada di penginapan di ujung jalan, momy akan mengantarmu ke sana!"


"Tidak mom, biar aku kesana sendiri. Nanti aku akan menemui momy lagi," tolak Jovanka, dia merasa tidak enak hati kalau harus merepotkan Martha.


"Baiklah kalau itu maumu! Berhati-hatilah nak. Momy tunggu kalian di sini!"


"Permisi, apa benar pria ini menginap di sini?" tanya Jovanka seraya menunjukan foto Luke.


Penjaga tersebut mengamati foto Luke lalu mengangguk. "Ya benar, ada perlu apa?"


"Saya istrinya, apa boleh saya tau dimana kamarnya?" jawab Jovanka apa adanya.


"Istri?" tanya penjaga itu ragu.


Jovanka lalu menunjukan foto pernikahannya bersama Luke agar penjaga tersebut percaya.


"Ah, maaf. Mari aaya antar!"


"Terima kasih banyak!"

__ADS_1


Jovanka lalu mengikuti penjaga tersebut ke sebuah kamar. "Ini kamarnya. Tapi sepertianya suami anda sedang keluar. Anda boleh menunggu di dalam, ini kunci cadangannya!"


Jovanka menerima kunci itu. "Terima kasih banyak!"


"Ya sama-sama!"


Setelah penjaga itu pergi, Jovanka masuk ke dalam kamar Luke. Meski belum melihat sang suami, namun Jovanka merasa lega melihat barang-barang Luke didalam kamar tersebut.


Jovanka duduk di tepi ranjang sambil mengamati seisi ruangan yang tidak terlalu besar itu. Cukup lama dia menunggu, lelah dan kantuk bercampur menjadi satu. Karena Luke belum juga kembali, Jovanka memutuskan untuk merebahkan tubuhnya.


Hampir saja Jovanka terlelap saat pintu kamar hotel terbuka, wanita hamil itu segera bangun dan menatap ke arah pintu. Kelegaan menyuar di hati, pria yang di rindukannya kini berada tepat di depan matanya. Jonvaka segera turun dari tempat tidur, namun karena terlalu terburu-buru, dia merasakan sesuatu yang kurang nyaman di perutnya.


"Argh," Jovanka memekik sambil memegangi perutnya,.dia ingin sekali menghampiri Luke namun rasa kurang nyaman di sekitar perutnya berubah menjadi rasa sakit.


Luke yang masih terkejut melihat kedatangan Jovanka segera menghampiri istrinya dengan panik. "Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Perutku sakit," keluh Jovanka seraya memegangi perutnya, buliran keringan dingin mulai menetes di pelipisnya.


"Kita ke klinik sekarang," Luke mengangkat tubuh Jovanka dan berlari keluar dari penginapan dan membawanya ke klinik kecil yang berada di desa itu. Setibanya di klinik, Luke segera membaringkan tubuh Jovanka di atas brankar dan membiarkan dokter memeriksanya.


Luke menunggu dengan cemas, dia khawatir terjadi sesuatu yang buruk terhadap istri dan bayinya.


"Apa yang terjadi Luke?" tanya Martha yang tiba-tiba berada di klinik itu.


"Dia mengeluh perutnya sakit mom. Bagaimana momy bisa tau kami di sini?"


"Momy menyusul kalian ke penginapan dan penjaga penginapan bilang kalau Jovanka di bawa ke klinik!"


"Mom, mereka akan baik-baik saja kan?" tanya Luke dengan khawatir.


"Tunggulah di sini, momy akan menyusul ke dalam!"


Setengah jam kemudian Martha keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri putranya.


"Bagaimana mom?" tanya Luke.

__ADS_1


"Dia...."


BERSAMBUNG...


__ADS_2