My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Liburan


__ADS_3

Jovanka mendapat libur seminggu penuh setelah film yang di bintanginya sukses besar, namanya semakin melambung dan terkenal berkat film perdananya. Namun ada hal lain yang membuat Jovanka tak terlalu senang, dia menjadi pusat perhatian kemanapun dia pergi. Dan karena hal itu, Jovanka memilih berdiam diri di rumah selama tujuh hari ke depan.


Namun rencana Jovanka sepertinya akan gagal, pagi-pagi sekali Luke menemui Jovanka di kamarnya. Pria itu menarik selimut tebal yang membungkus tubuh Jovanka dan melipatnya. Perbuatan Luke tentu saja mendapat tatapan horor dari wanita cantik yang nyawanya belum sepenuhnya terkumpul.


"Kembalikan selimutku," rengek Jovanka seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"Bangunlah Jov, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," jawab Luke penuh semangat, pria itu lalu menghampiri Jovanka dan membangunkan Jovanka secara paksa. Luke bahkan menarik tangan Jovanka dan membawanya ke kamar mandi.


"Apa kau akan memandikanku juga?" tanya Jovanka setelah kesadarannya penuh.


"No way!"


"Lalu kenapa kau membawaku ke kamar mandi?" protes Jovanka kesal.


"Cepat mandi karena aku akan membawamu jalan-jalan!"


"Tidak mau! Aku tidak suka di kerumuni orang-orang!"


"Dan aku menemukan tempat yang cocok untukmu. Tempatnya indah, sepi dan tidak terlalu jauh dari kota! Cepat mandi, sepuluh menit lagi aku menunggumu di bawah. Dan, kenakan baju manusia!"


"Kau pikir selama ini aku memakai baju binatang?"


"Maksudku yang tertutup!"


Sepuluh menit, lima belas menit, dua puluh menit dan setelah satu jam kemudian barulah Jovanka keluar dari kamarnya. Luke menunggu sampai kakinya kesemutan dan semutnya beranak pinak.


Luke mendesah kesal saat Jovanka tersenyum tanpa rasa bersalah sedikitpun karena membiarkan Luke menunggu selama satu jam.


"Astaga, apa yang kau lakukan selama satu jam?" tanya Luke.


"Mandi dan make up!" jawab Jovanka dengan santai. Wanita itu lalu masuk ke dalam mobil. "Cepat Luke!" teriaknya dari dalam mobil.


"Dasar women!" rutuk Luke dalam hati, lalu dia segera menyusul Jovanka ke dalam mobil karena matahari mulai meninggi.

__ADS_1


"Pakai ini Luke," Jovanka memberikan kacamata hitam kepada Luke, pria itu menerimanya dan memakainya dengan penuh gaya, kini mereka siap berkendara ke tempat tujuan yang Jovanka sendiri tak tau dimana letaknya.


"Luke sebenarnya kita mau kemana? Sudah hampir tiga jam dan kita belum sampai juga!" protes Jovanka kesal karena Luke bikang mereka akan pergi ke tempat yang tak terlalu jauh dari kota.


Setelah hampir lima jam lamanya, akhirnya Luke memarkirkan mobilnya di sebuah tempat.


Jovanka begitu terkejut, wanita itu turun dari mobil dengan rasa tak percaya. Ya, mereka berada di pantai sekarang. Angin laut berhembus menyibak rambut Jovanka, rasanya sangat menyegarkan. Pemandangan alami berupa bukit yang masih alami dan pasir pantai berwarna putih membentang indah, suara deburan ombak seolah menyambut kedatangan sejoli itu.


"Oh God, it's beautifull," gumam Jovanka seraya menatap lautan lepas di hadapannya.


'Bagaimana, kau suka?" tanya Luke yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Jovanka. Wanita itu menoleh dan menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Aku sangat suka, dan kenapa di sini sangat sepi?"


"Karena tempat ini masih jarang yang tau dan belum di jadikan tempat wisata resmi oleh pemerintah setempat," jawab Luke. Pria itu lalu menggandeng tangan Jovanka dan membawanya ke bibir pantai.


Jovanka duduk di pasir sambil bersandar di dada Luke karena pria itu berada di belakangnya dan tengah memeluknya. Tatapan keduanya lurus menikmati gulungan ombak yang datang silih berganti.


"Dari mana kau menemukan tempat ini?" tanya Jovanka penasaran.


"Dasar pelit," Jovanka mencubit punggung tangan Luke karena kesal.


Luke hanya terkekeh karena cubitan tersebut sama sekali tak terasa baginya. Puas duduk dan menikmati pemandangan, keduanya lalu bermain air di bibir pantai dan bermain air.


"Kena kau," gumam Jovanka seraya menyipratkan air ke baju Luke. Setelah berhasil membuat baju Luke basah, Jovanka berlari menjauh. Tak terima hanya dirinya yang basah, Luke berlari mengejar Jovanka. bukan hal sulit bagi Luke untuk mengejar Jovanka, pria itu berhasil menangkapnya. Luke memeluk perut Jovanka dan mengangkat tubuhnya, tak sampai di situ Luke memutar tubub Jovanka sehingga wanita itu tertawa dengan begitu lepas.


Puas bermain kejar-kejaran, keduanya berbaring di atas pantai pasir putih. Keduanya menoleh dan saling menatap. Luke tersenyum melihat Jovanka begitu bahagia.


"Terima kasih Luke," ucap Jovanka dengan tulus, dia tak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.


"Kau senang?"


"Ya, aku sangat senang!"

__ADS_1


Waktu berjalan begitu cepat, matahari mulai bergerak ke barat dan bersiap kembali ke peraduannya. Burung camar terbang berkelompok di bawah bentangan langit berwarna merah keemasan. Jovanka terpana, dia seolah melihat sebuah lukisan. Rasanya sangat tidak nyata, keindahannya benar-benar membuat wanita cantik itu merasa berada di dunia dongeng.


"Sudah gelap, ayo kita makan lalu ke penginapan," ajak Luke seraya mengulurkan tangannya ke arah Jovanka, wanita itu meraih uluran tangan Luke lalu berdiri. Jovanka hanya menurut, dia tidak akan banyak bertanya karena dia yakin Luke sudah menyiapkan yang terbaik untuk dirinya.


Sekitar lima menit mengendarai mobil, mereka sampai di sebuah desa nelayan. Suasana malam terbilang ramai karena banyak nelayan yang baru saja pulang melaut.


Luke mengambil tas besar dari dalam mobil dan membawanya ke sebuah penginapan yang tak terlalu besar namun sangat bagus dan yang paling penting tempatnya bersih. Luke hanya memesan satu kamar, di dalamnya terdapat kasur yang ukurannya cukup untuk mereka berdua, kamar mandi dengan bak rendam serta sebuah dapur dan table bar.


"Cepat mandi, aku akan menyiapkan makan malam," ucap Luke memerintah.


"Tapi aku tidak bawa baju ganti," jawab Jovanka sedih, seharusnya Luke bikang kalau mereka menginap jadi dia bisa menyiapkan banyak hal dari rumah.


"Aku membawanya," Luke menunjuk tas yang berada di atas meja.


"Kapan kau menyiapkannya?" tanya Jovanka penasaran.


"Aku menyuruh pelayan untuk mengemas beberapa baju untukmu!"


Jovanka lalu membuka tas tersebut, wajahnya sedikit kecewa karena baju yang ada di dalam tas itu tak sesuai dengan gayanya. Tapi tak masalah, asal bersama dengan Luke, memakai baju rombeng pun Jovanka akan melakukannya dengan senang hati.


Setelah Jovanka masuk ke kamar mandi, Luke di bantu oleh pemilik penginapan menyiapkan makan malam. Setengah jam kemudian Jovanka keluar dan mengendus aroma yang begitu menggugah selera.


Jovanka menghampiri Luke yang sedang sibuk mengipasi bara api dan membolak balik ikan bakarnya, saking seriusnya, dia tidak sadar jika Jovanka berada di sampingnya.


"Sepertinya enak," ucap Jovanka seraya menatap ikan bakar tersebut penuh damba.


"Tentu saja, ikan ini baru saja di tangkap oleh pemilik penginapan, rasanya pasti sangat enak dan segar!"


Makan malam sudah siap, bukan hanya ikan bakar, pemilik penginapan juga menyiapkan beberapa olahan seafood dan tumis sayuran. Setelah menyajikan semua makanan enak itu, pemilik penginapan pergi dan membiarkan kedua tamunya menikmati makan malam mereka.


"Makanlah yang banyak, aku tidak akan mengadukannya pada Desy," celetuk Luke.


"Aku akan menghabiskannya tanpa sisa Luke!

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2