
Jovanka benar-benar menghabiskan semua makan malamnya, Luke bahkan sampai tak berkedip melihat Jovanka begitu lahap tanpa memikirkan berat badannya akan bertambah. Di sisi lain Luke merasa senang melihat Jovanka begitu lahap, karena biasanya wanita itu hanya makan tiga sendok nasi, sedikit sayur dan lauk.
"Enak?" tanya Luke sambil tersenyum.
"Sangat enak," jawab Jovanka dengan mulut penuh. "Ah aku kenyang," imbuhnya seraya mengusap perut.
"Bagaimana tidak kenyang, kau menghabiskan semuanya Jov," jawab Luke sambil menunjuk semua piring kosong di atas meja.
Jovanka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bersama Luke dia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Dia tidak perlu menjaga image karena Luke sudah mengetahui semua keburukannya.
"Ayo jalan-jalan," ajak Luke seraya menarik tangan Jovanka agar berdiri. Keduanya lalu berjalan ke tepi pantai yang di penuhi oleh jejeren kapan nelayan.
Sapuan angin malam menusuk kulit Jovanka, apalagi wanita cantik itu hanya memakai kaos pendek. Melihat kekasihnya kedinginan, Luke melepas jaket dan memakaikannya di tubuh Jovanka.
"Terima kasih!"
Luke dan Jovanka berjalan di sepanjang pantai, meski pemandangannya tak seindah pantai yang mereka kunjungi sebelumnya, namun mereka tetap menikmati waktu mereka, waktu dimana tidak ada yang memperhatikan mereka dan mereka bebas melakukan apapun.
"Kata Desy banyak tawaran sinetron untukmu, apa kau akan mulai bekerja setelah liburanmu selesai?" tanya Luke seraya menatap wajah Jovanka, wanita itu selalu terlihat cantik meski tak memakai make up.
"Hmm, aku belum memikirkannya. Tapi sepertinya kesempatan yang bagus untuk meningkatkan kualitas aktingku Luke. Tapi kalau aku sibuk syuting kita akan jarang memiliki waktu bersama," jawab Jovanka ragu, dia masih belum yakin apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Aku akan selalu menemanimu," ucap Luke tanpa keraguan. Jovanka begitu senang mendengar ucapan Luke, dia lalu menggandeng tangan Luke dan kepalanya bersandar di bahu kekasihnya.
__ADS_1
Angin malam semakin terasa dingin, mereka memutuskan kembali ke hotel untuk beristirahat. Setelah mandi, Luke menyusul Jovanka di atas tempat tidur. Wanita itu sedang serius menonton filmnya sendiri. Luke mematikan televisi dan menarik Jovanka ke dalam selimut.
"Luke aku sedang menonton," protes Jovanka.
"Kau sudah menontonnya berulang kali. Sudah malam, kau harus tidur dan mengumpulkan tenaga untuk hari esok," jawab Luke seraya memeluk tubuh Jovanka.
"Memangnya besok mau kemana?"
"Ke tempat yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya," jawab Luke penuh tanda tanya.
"Kau yakin ingin tidur Luke?" Jovanka tersenyum nakal.
"Hem, aku sangat lelah!"
Luke menghela nafas berat, pria itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jovanka dengan intens. "Tidak," tolak Luke dengan tegas.
"Kenapa? Kau bosan? Padahal aku ingin melakukannya secara sadar?"
Luke meraup wajahnya dengan kasar, dia heran kenapa Jovanka mengatakan hal-hal frontal itu tanpa rasa malu sedikitpun. "Tutup mulutmu dan tidur!"
Jovanka membuang nafasnya dengan kasar, wanita itu lalu berubah posisi membelakangi Luke. "Selain tidak mau menikahiku kau juga tidak mau bercintaa denganku. Aku semakin yakin kalau kau tidak benar-benar mencintaiku. Buktinya sampai sekarang kau tidak pernah mengatakan jika kau mencintaiku," Jovanka merajuk, dia mengutarakan semua isi hati yang dia tahan selama ini.
Luke memilih diam dan menatap punggung kekasihnya. Ingin sekali dia berteriak dan mengatakan jika dia mencintai Jovanka, jika dia ingin menikahi wanita itu secepatnya. Namun keraguan di hatinya menahan semua ucapannya. Dia ketakutan, dia tidak ingin kehilangan Jovanka karena keegoisannya. Bisa bersama Jovanka saja merupakan anugerah di dalam hidupnya. Baginya Jovanka bagaikan sependar cahaya yang menerangi kehidapnnya yang gelap, dia tidak ingin sependar cahaya itu padam dan hidupnya kembali tak berarti.
__ADS_1
Luke bangun terlebih dahulu, pria itu keluar mencari sarapannya dan juga Jovanka. Saat kembali ke penginapan, Jovanka yang bangun dan sedang mandi, terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Tak lama kemudian Jovanka keluar, wanita itu hanya membalut tubuhnya dengan handuk, membuat Luke tak berkedip saat tak sengaja melihat tubuh mulus Jovanka.
"Cepat pakai bajumu dan sarapan," titah Luke seraya menarik pendangannya, pria itu memilih menyiapkan sarapan. Jovanka hanya diam, setelah berpakaian lengkap dia menghampiri Luke dan duduk untuk sarapan.
Luke heran mengapa Jovanka hanya diam sejak tadi, biasanya dia sangat bersemangat dan bertanya banyak hal. "Apa kau sakit?' tanya Luke seraya menatap Jovanka. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menyantap sarapan mereka. "Kau marah padaku?" tanya Luke lagi karena dia tidak suka di cuekin seperti ini. Dan lagi-lagi Jovanka hanya menggelengkan kepalanya, membuat Luke merasa frustrasi.
Setelah sarapannya habis, Jovanka keluar dari penginapan dan berjalan-jalan di pinggir pantai tanpa mengajak Luke. Jovanka tersenyum ramah saat beberapa nelayan menyapanya. Dia juga bertemu dengan pemilik penginapan yang akan berangkat melaut.
"Bapak mau melaut?" tanya Jovanka penuh semangat.
"Benar non," jawab bapak itu dengan ramah.
"Boleh saya ikut pak?"
Pemilik penginapan sempat ragu, dia takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan selama mereka berada di laut.
"Dia perenang yang hebat pak, anda tidak perlu khawatir. Anggap saja kami sedang menyewa perahu anda," sahut Luke yang tiba-tiba muncul di belakang Jovanka.
"Baik, mari silahkan!"
Jovanka begitu senang, dia lalu naik ke atas perahu dengan bantuan Luke. Karena tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, pemilik penginapan mengambil pelampung untuk Jovanka dan Luke. Mereka akhirnya berlayar menggunakan perahu motor penangkap ikan, romantis bukan?
BERSAMBUNG...
__ADS_1