
Luke memeriksa jam tangannya berulang kali, malam semakin larut namun Jovanka belum juga keluar. Karena khawatir, Luke memutuskan menyusul Jovanka ke dalam restoran namun Luke tak menemukan Jovanka di manapun. Perasaannya semakin tidak tenang saat melihat beberapa kru mabuk.
"Permisi, apa anda melihat nona Jovanka?" tanya Luke pada seorang kru yang masih sadar.
"Steve membawanya keluar karena mabuk," jawab kru laki-laki tersebut.
"Terima kasih!"
Luke berlari keluar dan menuju parkiran. Dia tak menemukan Steve dan Jovanka di sana, namun mobil Steve masih terparkir dan artinya mereka masih berada di dalam hotel.
"Badjingan," umpat Luke seraya menedang spion mobil sport milik Steve, pria itu berlari masuk ke dalam hotel dan mencari keberadaan Jovanka. "Damnn it," Luke kembali mengumpat karena Jovanka tidak menjawab telefonnya, pria itu mulai frustasi karena tak menemukan Jovanka.
Di tengah rasa putus asanya, Luke melihat asisten Steve keluar dari lift dan berjalan keluar hotel. Luke segera mengikuti pria itu untuk menanyakan keberadaan Jovanka.
"Kau," pekik asisten Steve dengan wajah terkejut.
"Dimana mereka?" tanya Luke tanpa basa basi.
"Siapa yang kau maksud?" jawabnya pura-pura bodoh.
"Dimana mereka?" bentak Luke dengan suara yang begitu keras. Asisten Steve menelan ludahnya dengan kasar, tatapan Luke benar-benar membuatnya takut. "Cepat katakan atau aku akan menghajarmu!" Luke terpaksa mengancam karena takut terjadi sesuatu pada Jovanka.
"Ak-Aku tidak tau," jawabnya masih berusaha menutupi keberadaan Jovanka dan Steve.
Luke menyeringai, wajahnya terlihat sangat menakutkan. Luke lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, sebauh belati dengan ujung yang begitu runcing Luke todongkan di wajah asisten Steve. "Katakan atau aku akan menyayat wajahmu!"
"Me-me-mereka di kamar nomor 205," jawab pria itu dengan wajah pucat dan sekujur tubuh gemetaran, siapa yang tidak takut jika di ancam oleh sebilah belati. Persetan dengan omelan Steve yang penting dia aman dari Luke.
__ADS_1
"Brenggsekkk," geram Luke, dia kembali berlari mencari kamar nomor 205. Setibanya di depan kamar, Luke berusaha membuka pintu namun tak ada hasilnya.
Kemarahannya memuncak, membayangkan apa yang akan terjadi di antara mereka membuat Luke marah. Luke lalu menendang pintu tersebut dan berusaha mendobraknya. Setelah tiga kali percobaan, akhirnya pintu tersebut terbuka.
Braakkk....
Steve terperanjat saat pintu kamar hotel terbuka dengan paksa, Steve menoleh dan menelan ludahnya dengan kasar melihat Luke berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuh.
Bugg...
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Steve, pria itu terhuyung ke samping. Luke menarik tubuh Steve dan melemparkannya ke lantai, namun sebelum menghajarnya, Luke lebih dulu menutup tubuh Jovanka yang terpampang.
Setelah tubuh Jovanka tertutup selimut, Luke kembali menghampiri Steve. "Mati kau!" ucap Luke dengan wajah memerah dan tatapan membunuh. Tanpa memikirkan apapun Luke memukuli Steve tanpa ampun. Pria itu tak berdaya, Steve tergeletak dengan wajah berlumuran darah. Kondisinya sangat mengenaskan. Steve hampir saja mati seandainya asistennya tidak datang bersama petugas keamanan hotel. Mereka segera menahan Luke dan menyelamarkan Steve yang sudah babak belur.
"Lepaskan aku, aku harus membunuhnya!" teriak Luke sambil memberontak.
"Aku tidak perduli. Dia harus mati karena berani menyentuh wanitaku!"
Samar-samar Jovanka mendengar teriakan Luke, namun kepalanya begitu berat dan matanya enggan terbuka. "Luke," gumam Jovanka dengan pelan.
Kesadaran Luke seolah kembali, dia segera menepis tangan security di tubuhnya dan berlari ke atas ranjang. "Jov, aku di sini. Maaf aku datang terlambat," ucapnya seraya menciumi tangan Jovanka. Dia merasa sangat bersalah karena membiarkan Jovanka masuk ke dalam perangkap Steve.
Sementara itu Steve di bawa keluar oleh asistennya,petugas keamanan hendak membawa Luke untuk menjelaksan apa yang terjadi namun asisten Steve melarangnya dan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Tak ingin masalah menjadi panjang, mereka akhirnya menyelesaikan masalah ini secara diam-diam.
"Kita pulang sekarang ya," ajak Luke dengan mata memerah, sungguh dia tidak tega melihat kondisi Jovanka.
"Luke tolong aku, tubuhku sangat panas," Jovanka menyibak selimutnya sehingga tubuh setengah polosnya kembali terlihat. Dengan cepat Luke mengalihkan pandangannya dan kembali menutup tubuh Jovanka dengan selimut.
__ADS_1
"Sadarlah dan pakai bajumu Jov. Kita harus pulang sekarang!"
Perlahan Jovanka membuka matanya, wanita itu tersenyum menggoda melihat Luke berada di sampingnya. Rupanya efek obat perangsaang tersebut belum hilang, Jovanka masih di luar kendali. Tanpa Luke sangka, tiba-tiba Jovanka menyergap tubuhnya. Karena tidak siap akhirnya Luke terjatuh di atas kasur dan Jovaka segera menindih tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan Jov?" tanya Luke dengan jantung berdebar. Oh ayolah, dia seorang pria normal, mana mungkin dia baik-baik saja melihat tubuh molek Jovanka.
"Touch me Luke!" pinta Jovanka dengan suara menggoda. Namun sebelum Luke mengatakan apapun Jovanka lebih dulu membekap mulutnya dengan ciuman penuh hasrat.
Luke berusaha mendorong tubuh Jovanka dan berhasil melepaskan ciuman mereka. "Sadarlah Jov!" tegas Luke dengan cemas, jika Jovanka terus seperti ini dia takut tidak bisa menahan diri dan berakhir menyakiti Jovanka.
"Kau tidak menginginkanku?" tanya Jovanka dengan tatapan berkabut gairah. Wanita itu begitu bernafsu, bahkan tanpa Luke sadari Jovanka telah melepas braaa nya sehingga tubuh bagian atasnya benar-benar polos. "Sentuh aku Luke, aku milikmu!" ucapnya dengan suara yang begitu menggoda, melihat Luke lengah Jovanka kembali mencium bibir Luke. Namun kali ini dia menciumnya dengan lembut dan mesra.
Sebagai pria normal tentu saja Luke tidak bisa menahan godaan dari seorang Jovanka Janzsen. Dia melupakan segalanya, dia lupa jika dia harus pergi dari kota ini secepatnya. Luke tak memperdulikan apapun lagi, otaknya sudah di penuhi pikiran mesyuumm sehingga pria itu mulai membalas ciuman Jovanka. Keduanya lalu larut dalam ciuman yang bergelora.
Luke membalik keadaan, kini pria itu mengungkung tubub Jovanka dan mulai mencumbu tubuh wanita yang baru saja dia claim menjadi miliknya. Akal sehatnya telah hilang, Luke begitu larut dalam nafsu yang menggebu-gebu.
Entah sejak kapan keduanya sudah sama-sama polos. Jovanka terus saja meneriakan nama Luke dan hal tersebut justru semakin membuat Luke lupa diri. Sejak awal dia tau jika Jovanka menyukainya, namun dia tak menyangka jika Jovanka serius dengan perasaannya.
"Ah, Luke. Jadilah milikku," desaaaah Jovanka seraya menatap wajah Luke.
"Aku milikmu Jovanka Janzsen!" jawab Luke dengan nafas tersenggal-senggal. Tak ingin membuang waktu, Luke segera memposisikan dirinya untuk mamasuki Jovanka.
"Ahhh..." rintihan kenikmatan yang keluar dari bibir Jovanka menandakan jika mereka telah berhasil menyatu. Sempat terbersit penyesalan dalam hati Luke saat mengetahui jika Jovanka masih tersegel, namun dia terlanjur menodai Jovanka, tak ada pilihan lain selain melanjutkannya dan menikmati malam panas mereka.
Suara erangan dan desahannn saling bersahutan di dalam kamar tersebut. Keduanya larut dalam percintaan panas nan menggairahkan. Entah berapa kali mereka melakukannya, Luke baru selesai saat matahari hampir terbit.
"Semoga kau tak menyesalinya," gumam Luke seraya mengecup pucuk kepala Jovanka, dia lalu menyelimuti tubuh Jovanka dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...