My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Hujan di pagi hari


__ADS_3

Pagi yang tak cerah, langit tertutup awan hitam dan hujan mengguyur sejak dini hari. Di bawah selimut tebal, dua sejoli saling memeluk dan menghangatkan tubuh masing-masing.


Bunyi ponsel yang terus berdering mengusik ketenangan Jovanka, perlahan wanita itu membuka matanya dan mencari keberadaan ponselnya. Jovanka meraba nakas di sebelahnya dan meraih ponsel yang sejak tadi tak berhenti berdering.


"Hallo," ucap Jovanka dengan suara serak, dia bahkan tak tau siapa yang menelfonnya pagi-pagi begini


"Kau dimana Jov, kenapa kau tak pulang semalam?" tanya seseorang, dari suaranya terdengar seperti Freesia


Jovanka melebarkan matanya dan menatap langit-langit kamar yang tampak asing baginya. Jovanka menggigit bibir dalamnya saat dia merasakan sebuah tangan memeluk perutnya. Jovanka memberanikan diri menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat Luke tidur di sebelahnya dan memeluknya dengan erat.


"Jov, kau dengar aku!"


"Ah, Frey. Aku menginap di hotel karena semalam mabuk. Ada apa Frey?" jawab Jovanka gugup.


"Oh. Syukurlah!"


"Kepalaku masih pusing Frey, aku akan tidur lagi!" Jovanka segera mematikan ponselnya dan membuangnya asal. Gadis itu kembali menatap Luke dan kembali di buat terkejut saat menyadari Luke tak memakai baju. Jovanka menelan ludahnya dengan kasar, dengan ragu dia mengintip ke dalam selimut dan mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


"Apa yang terjadi?" gumam Jovanka seraya menggigit kuku jarinya. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam. Namun yang dia ingat hanya saat dia sedang minum minum bersama Steve dan kru film.


"Kau sudah bangun?" tanya Luke seraya mempererat pelukannya. Pria itu perlahan membuka matanya dan mendapati wajah Jovanka yang sedang panik.


"Lu-Luke, apa yang terjadi?" Jovanka menoleh dan bertanya dengan gugup.


"Kau tidak ingat?"


Jovanka menggelengkan kepalanya dengan cepat, otaknya buntu dan tidak mengingat apapun.


Luke menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, pria itu melepas pelukannya dan tangannya membelai wajah Jovanka. Untuk yang pertama kalinya Luke menatap Jovanka dengan lembut.


"Maafkan aku, semalam aku tidak bisa menahan diri dan...."


"Dan apa?" potong Jovanka dengan cepat.

__ADS_1


"Dan melakukannya denganmu!" sambung Luke, namun tak terlihat penyesalan sedikitpun di wajah tampannya.


"Kita melakukannya? Maksudmu semalam kita bercinta?"


"Hem!"


Jovanka menutup wajahnya dengan tangan, dia sangat malu karena sudah dapat di pastikan dialah yang menggoda Luke terlebih dahulu.


Luke terkekeh dan membuka tangan Jovanka sehingga dia bisa melihat wajah Jovanka dengan jelas.


"Kau menyesal?" tanya Luke dengan serius.


Jovanka memberanika diri menoleh dan menatap Luke. "Apa aku yang menggodamu semalam?"


Luke mengusap kepala Jovanka dengan lembut, tiba-tiba pria itu mengecup kening Jovanka membuat wanita itu membeku. Jovanka heran, kenapa Luke memperlakukannya dengan sangat lembut. "Kau mabuk dan Steve menaruh obat perangsang di minumanmu. Steve membawamu ke kamar ini, untung saja aku datang sebelum badjingan itu menyentuhmu," Luke menceritakan apa yang terjadi semalam, dia tidak ingin Jovanka salah paham kepadanya dan mengiranya memanfaatkan kondisi Jovanka yang sedang mabuk.


"Lalu apa yang terjadi?"


"Setelah Steve pergi kau terus saja merayuku. Aku pria normal dan aku tidak bisa menahan diri!"


Luke kembali terkekeh, dia tak menyangka Jovanka akan mengatakan hal itu. "Bagaimana caranya?"


"Aku akan menikahimu? Kau mau kan?" tegasnya tanpa keraguan sedikitpun.


"Kenapa kau sangat mudah mengatakan hal itu?"


"Kenapa tidak. Aku mencintaimu, aku juga menidurimu jadi langkah selanjutnya adalah aku harus menikahimu kan!"


"Tapi aku hanya seorang pengawal. Aku bukan orang kaya!" Luke ingin mendengar jawaban apa yang keluar dari mulut Jovanka.


"Kau tenang saja, aku bisa menafkahimu!"


Luke kembali tersenyum. Jovanka benar-benar wanita yang sangat langka. Seharusnya dia sedih karena Luke menidurinya, tapi dia malah terlihat bersemangat dan mengajak Luke menikah.

__ADS_1


"Kau tidak mau ya?" seketika wajah Jovanka berubah sendu. "Baiklah kalau begitu. Lagi pula kita sudah sama sama dewasa. Anggap saja semalam tak terjadi apapun dan aku tidak perlu bertanggung jawab padamu!" imbuhnya dengan kecewa, Jovanka lalu menyibak selimutnya dan tanpa malu sedikitpun dia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Jovanka menggigit bibirnya karena intinya sangat perih saat dia berjalan. Namun dia tak boleh mengeluh karena dia yakin Luke tidak akan perduli.


Entah mengapa Luke merasa sedih saat Jovanka menyuruhnya melupakan kejadian semalam. Pria itu turun dari ranjang dan memakai boxernya, dia lalu menyusul Jovanka dan tiba-tiba menggendong tubuh Jovanka.


"Apa yang kau lakukan Luke?" tanya Jovanka seraya mengalungkan tangannya di leher Luke.


Luke hanya diam dan membawa Jovanka masuk ke dalam kamar mandi. Luke mendudukan Jovanka di closet, lalu dia mengisi bathtube dengan air hangat dan meneteskan esensial oil.


Setelah bathtube terisi, Luke kembali menggendong Jovanka dan menurunkannya ke dalam bathtube. "Bersihkan dirimu, kita bicarakan masalah ini setelah mandi!"


Satu jam kemudian, Luke dan Jovanka duduk berdampingan di tepi tempat tidur. Keduanya terlihat lebih segar setelah mandi. Karena tak memiliki baju ganti, Jovanka terpaksa memakai bathrobe.


"Kau tidak perlu bertanggung jawab Luke. Aku tidak akan memaksamu," ucap Jovanka membuka percakapan setelah keduanya cukup lama terdiam. "Lagi pula aku yang salah, kau tidak mungkin menyentuhku jika aku tidak memaksamu! Oke, tidak perlu membahas masalah ini lagi!" Jovanka lalu berdiri dan berniat meminta tolong pada Desy untuk mengirimkan pakaian ke hotel. Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Luke menarik tangannya dengan cukup keras sehinga tubuhnya kembali berhadapan dengan Luke.


"Apa yang kau...


Tanpa berkata apapun, Luke langsung mencium bibir Jovanka dan melumatttr bibir wanita itu dengan lembut. Jovanka membelalakan matanya dan berusaha mendorong tubuh Luke, dia tidak mau kejadian semalam terulang lagi karena Luke menyentuhnya bukan karena pria itu mencintainya.


Terpaksa Jovanka menggigit bibir Luke sehingga pria itu melepaskan ciumannya. "Apa yang kau lakukan Jov?" tanya Luke seraya memegangi bibirnya yang berdarah.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan padaku Luke? Katamu aku bukan tipemu? Katamu kau tidak mencintaiku? Tapi kenapa kau menciumku dan membuatku salah paham! Tolong jangan menyiksa perasaanku Luke. Aku sudah melepaskanmu, aku tidak menuntutmu untuk bertanggung jawab, tapi tolong jangan permainkan perasaanku," teriak Jovanka dengan mata memerah. Dia hanya ingin melindungi hatinya, dia tidak ingin kecewa karena terlalu banyak berharap.


"Kau pikir aku pria brengseekkk yang dengan mudahnya meniduri wanita yang tidak aku cintai?" tanya Luke dengan tegas, entah mengapa Jovanka dapat melihat ketulusan di mata Luke.


"Apa maksudmu Luke?"


"Kau benar-benar bodoh. Menurutmu kenapa aku rela melindungimu dari lampu sebesar itu? Menurutmu kenapa aku membiarkan punggungku meleleh terkena air keras? Kau pikir kenapa aku menciummu setelah Badjingan itu menciummu?"


"Katakan yang jelas Luke. Jadi maksudmu kau mencintaiku?"


Luke mengangguk pelan. Untuk yang pertama kalinya Luke tersenyum dengan begitu lebar. Jovanka begitu tak percaya, wanita itu membekap mulutnya karena tak menyangka Luke juga mencintainya. Tanpa basa basi lagi, Jovanka segera menghambur ke dalam pelukan Luke.


'Terima kasih Luke. Aku pikir aku harus menyerah dengan perasaanku," ucap Jovanka penuh haru.

__ADS_1


Luke memeluk tubuh Jovanka dengan erat, pria itu lalu mencium pucuk kepala Jovanka penuh kasih sayang. "Maafkan aku Jov. Maaf karena aku tak bisa menahan diri. Semoga saja kau tak terluka karenaku!" batin Luke cemas, namun dia ingin egois sekali ini saja, dia ingin menikmati waktunya bersama wanita yang dia cintai.


BERSAMBUNG...


__ADS_2