My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Good bye, Lynda


__ADS_3

Komunikasi yang baik, jujur dan terbuka terhadap pasangan, saling mengerti dan memahami satu sama lain sangatlah di butuhkan dalam kehidupan berumah tangga. Karena sejatinya pernikahan bukan hanya sekedar saling cinta, butuh beberapa elemen lainnya agar pernikahan tersebut kokoh dan bertahan selamanya.


Pagi terlihat begitu indah di pedesaan tempat Jovanka dan Luke menginap, pasangan yang baru saja berbaikan itu bangun lebih awal dan berjalan-jalan di sekitar penginapan mereka. Hawa yang begitu sejuk, udara yang masih bersih membuat keduanya merasa lebih segar.


Setelah puas berjalan-jalan, mereka kembali ke penginapan. Jovanka lalu mandi karena Luke mengajaknya sarapan di luar.


Namun saat Jovanka sedang mandi, ponsel Jovanka terus berdering. Luke memeriksanya karena, dia lalu mengangkat panggilan dari Frey.


"Hallo Frey, ada apa. Jov sedang mandi!" ucap Luke begitu panggilan tersambung.


"Luke, bawa Frey pulang sekarang. Granny masuk rumah sakit!"


"Baik Frey!"


Selama Jovanka mandi, Luke mengemasi barang-barang mereka. Beberapa saat kemudian Jovanka keluar dari kamar mandi dan heran melihat barang-barang Luke sudah di kemas ke dalam tas.


"Ada apa Luke?" tanya Jovanka seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Luke menghampiri istrinya lalu memeluknya. "Kita pulang sekarang, Granny masuk rumah sakit!"


"Apa?" Jovanka memekik, dia menjatuhkan handuknya karena terkejut.


"Ganti bajumu, kita pulang sekarang juga!"


Dengan cepat Jovanka mengganti pakaiannya, dia mulai khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada neneknya. Setelah siap, mereka menyempatkan diri menemui Martha untuk sekedar berpamitan.


"Hati-hati di jalan. Jangan kesehatan kalian dan jaga kandunganmu dengan baik!"


Martha memeluk Jovanka dan Luke secara bergantian, wanita paruh baya itu bersyukur karena anak dan menantunya kembali bersama. Dengan begitu Martha akan lebih tenang menjalani kehidupan barunya.


Sebelum naik ke pesawat, Luke membeli roti dan susy hangat untuk Jovanka dan dirinya sendiri karena mereka tidak sempat sarapan.


Meski tak berselera, namun Jovanka tetap memakan roti tersebut untuk mengisi tenaganya. Dia harus tetap kuat karena penerbangannya akan memakan waktu lama.


Perjalanan selama dua puluh jam terasa begitu lama, setelah mendarat di Jakarta mereka bergegas pergi ke rumah sakit tempat dimana Lynda di rawat.

__ADS_1


Jovanka segera menghampiri keluarganya. Wanita hamil itu lalu memeluk Katherine yang sedang menangis. "Bagaimana kondisi Granny mom?" tanya Jovanka dengan cemas.


Katherine hanya menggelengkan kepalanya. "Granny kritis,' jawab Katherine dengan suara tertahan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Granny sampai masuk rumah sakit?" cecar Jovanka lagi.


"Granny jatuh dari kursi roda!" jawab Frey.


"Apa? Bagaimana bisa?"


"Kami juga kurang tau, tiba-tiba pelayan berterisk saat akan menjemput Granny untuk makan siang!"


Jovanka lalu duduk karena kakinya terasa lemas, dia menyesal karena pergi tanpa pamit. Inilah yang selalu mereka takutkan, saat Lynda sedang sendiri dan tiba-tiba dia jatuh. Kesehatan Lynda memang semakin memburuk beberapa bulan terakhir, namun Jovanka berharap sang nenek akan segera sembuh.


Satu persatu anggota keluarga Janzsen bergantian pulang, mereka bergantian menjaga Lynda di rumah sakit. Setelah di bujuk oleh semua keluarganya, akhirnya Jovanka mau pulang dan beristirahat.


Luke menemani istrinya pulang, Jovanka tampak begitu kelelahan sampai-sampai dia tidur di mobil. Karena tak ingin membangunkan istrinya, Luke akhirnya menggendong tubuh Jovanka sampai ke kamar.


Luke menatap wajah istrinya yang masih pulas, dia merasa bersalah karena meninggalkan Jovanka selama beberapa hari. Luke lalu menyelimuti tubuh sang istri dan membiarkan ibu hamil itu beristirahat.


Dua hari kemudian kondisi Lynda mulai stabil. Jovanka merasa lega, siang ini dia menjenguk sang nenek bersama suaminya. Lynda sudah di pindahkan ke ruang perawatan sehingga anggota keluarga Janzsen bisa menemui Lynda bersama-sama.


"Ya, aku sudah kembali. Granny harus cepat pulih dan pulang ke mansion bersama," jawab Jovanka sambil berusaha menahan air matanya.


Lynda tersenyum samar, dia lalu menyuruh Luke untuk mendekat. "Luke, tolong jaga Jovanka dengan baik. Dia memang keras kepala, tapi dia memiliki hati yang begitu lembut!"


Luke mengangguk seraya menggenggam tangan Lynda. "Aku akan menjaganya dengan baik Grann, jadi kau harus segera pulih dan kita pulang bersama ke mansion!" jawab Luke dengan mata memerah.


"Luke, jika kau tidak keberatan. Tinggalah di mansion dan bantu dadymu mengurus perusahaan bersama Josh. J&J Company bisa hilang jika tidak memiliki penerus. Kalian lah harapan kami semua!"


"Ya Grann, aku akan belajar mengurus perusahaan!" janji Luke dengan serius.


Lynda merasa lebih tenang, setidaknya dia bisa melihat anak dan cucunya bahagia sekarang. Hanya saja dia merasa ada yang kurang karena Axel masih berada di luar negeri. Lynda kadang mencemaskan Axel, hanya pemuda itu satu-satunya cucunya yang belum menikah.


"Kapan Axel pulang?" tanya Lynda pada Jerry.

__ADS_1


"Dia sedang di pesawat mom, mungkin sebentar lagi dia sampai!" jawab Jerry.


"Syukurlah, aku ingin melihatnya!"


Karena kelelahan Lynda kembali tertidur, semua orang tetap berada di ruangan itu dan berjaga.


Sore harinya Axel tiba di Jakarta dan langsung menemui Lynda di rumah sakit. Pemuda itu langsung memeluk Lynda dan akhirnya Lynda terbangun.


"Cucuku yang tampan," ucap Lynda tertatih.


"Ya Gran, Axel kembali. Granny harus sehat ya!"


"Axe, apa kau masih menyalahkan dirimu sendiri mengenai orang tua Frey? Granny mohon jangan siksa dirimu lagi. Semua itu bukan salahmu nak. Jangan siksa dirimu dan berbahagialah!"


Axel menganggukan kepalanya dengan pelan. "Ya, Axel akan berusaha!"


"Kalian kemarilah!"


Semua anggota keluarga Janzsen berdiri mengelilingi tempat tidur Lynda. Mereka semua menahan air matanya melihat Lynda yang semakin memucat.


"Josh, jaga Frey dan Abel dengan baik. Bahagiakan mereka!"


"Jo, jadilah menantu yang baik dan berbaktilah pada mertuamu!"


"Dan untukmu Kath, momy bahagia karena kau masih menganggap momy sebagai keluargamu!"


"Untuk Jimmy dan Jerry, momy harap kalian selalu kompak dan saling mengandalkan!"


Lynda menatap satu persatu anak dan cucunya. Dia sangat bersyukur karena mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Tidak ada penyesalan lagi dalam hidupnya, kini Lynda ingin beristirahat dengan tenang.


Tiiiiitttt.....


Suara lengkingan monitor menggema di ruangan tersebut bersama dengan menutupnya kelopak mata milik Lynda. Semua orang panik dan salah satu dari mereka memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa kondisi Lynda. Namun dokter tersebut menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. "Maaf, nyonya Lynda Janzsen telah berpulang!"

__ADS_1


Suara tangis memenuhi ruangan tersebut. Mereka merasa kehilangan yang teramat dalam. Seorang yang berarti dalam hidup mereka telah pergi untuk selama-lamanya. Kini tak ada lagi Lynda yang akan memarahi mereka saat mereka salah, tak.ada lagi omelan jika salah satu dari mereka makan sambil bicara. Kini Lynda telah pergi, membawa sejuta kenangan indah bersama keluarganya. Kini dia tak merasakan sakit lagi dan akan segera menemui sang suami yang lebih dulu pergi. Selamat jalan Lynda, terima kasih untuk semua hal yang telah kau berikan untuk keluargamu.


BERSAMBUNG...


__ADS_2