My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Kepergian Luke


__ADS_3

Jovanka mulai mengerjapkan matanya, begitu kelopak matanya terbuka, hal yang pertama kali dia rasakan adalah rasa sakit di sekitar perutnya. Jovanka mencoba mengingat apa yang terjadi, wanita itu ingat dia sedang jalan-jalan bersama Luke dan tiba-tiba seorang pria menabraknya. Dia di tusuk oleh orang tak di kenal dan tak sadarkan diri.


"'Luke," ucap Jovanka dengan pelan, dia melirik ke kiri dan ke kanan namun tak menemukan siapapun.


"Jov, kau sudah sadar sayang?" ucap Katherine dengan wajah penuh kelegaan, wanita itu lalu memanggil Frey dan Josh, kedua anaknya lalu masuk dan segera menghampiri Jovanka.


"Syukurlah kau sudah bangun Jov," ujar Frey yang ikut merasa lega, sejak tadi dia tidak bisa tenang karena Jov tidak kunjung sadar dan Katherine terus saja menangis.


"Dimana Luke? Apa dia baik-baik saja?" tanya Jovanka dengan lemah, dia sunggung menkhawatirkan kekasihnya itu.


"Luke baik-baik saja. Dia bilang mau ke kantor angency untuk mengurus masalah penusukan yang kau alami," jawab Katherine apa adanya, karena sebelumnya Luke memang berpamitan padanya.


"Istirahatlah!" sela Josh seraya menatap adik bungsunya. Josh yakin Jovanka sudah baik-baik saja karena dia sudah mengingat Luke.


"Hem," Jov kembali menutup matanya, rasanya dia begitu lelah dan mengantuk. Mungkin saat dia bangun nanti Luke sudah berada di sampingnya.


Namun, sampai keesokan harinya Luke tak kunjung datang. Berkali-kali Jovanka menghubungi Luke namun ponselnya tidak aktiv. Kebetulan Desy datang berkunjung, Jovanka bisa mencari tau keberadaan Luke lewat Desy.


"Oh God, berapa banyak orang yang iri padamu sehingga kau selalu terluka seperti ini," ujar Desy frustrasi, pasalnya bukan hanya kali ini Jov celaka. Desy ingat betul tengang insiden lampu gantung, penculikan dan kini malah lebih mengerikan, penusukan di tempat umum. "Kalau aku berhasil menangkapnya aku akan mencongkel matanya!" sambung Desy penuh amarah.


"Apa tidak ada petunjuk apapun tentang orang itu?" tanya Jovanka penasaran. Dia bahkan baru tau jika kasusnya sedang dalam penyelidikan pihak berwajib.


"Ada beberapa rekaman CCTV di mall, tapi pria itu menutup wajahnya dengan masker dan topi hitam!"


"Pasti akan ada petunjuk lain. Oh ya, dimana Luke sekarang?"


"Luke mengundurkan diri, apa dia tidak bilang padamu?" jawaban Desy tentu saja membuat Jovanka terkejut.


"Mengundurkan diri? Tapi kenapa?" tanya Jovanka dengan perasaan yang mulai tidak enak.


"Dia bilang dia mendapatkan pekerjaan baru di luar negeri," jawab Desy apa adanya. Awalnya Desy menolak surat pengunduran diri Luke karena hanya pria itu yang berhasil menjinakan Jovanka. Namun Luke memaksa dan mengatakan jika dia menemukan pekerjaan yang lebih layak. Luke bahkan membawar ganti rugi karena telah melanggar kontrak kerja.


"Mustahil," pekik Jovanka dengan mata berkaca-kaca, dia tau betul Luke tidak mungkin meninggalkannya. "Aku harus mencarinya," ujar Jovanka, wanita itu berusaha melepas infus di tangannya seperti di sinetron ikan terbang yang sering dia tonton, namun sialnya ternyata tak semudah itu melepaskan infus di tangan. Jovanka malah meringis kesakitan karena tangannya berdarah. "Kenapa tidak bisa di lepas?" gumamnya seraya menahan kesal, selama ini dia merasa tertipu oleh sinetron yang dia tonton.

__ADS_1


"Kau belum sehat betul, aku akan membantumu mencari keberadaan Luke. Tapi kau harus tetap tenang dan jangan mencoba kabur!" Desy lalu memanggil perawat untuk membetulkan infus Jovanka, setelah itu dia pulang ke kantor dan menyuruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Luke sebelum Jovanka benar-benar menggila.


Hari sudah kembali gelap, Jovanka mulai gelisah karena belum mendapatkan kabar dari Desy, dia juga terus berusaha menghubungi Luke meski nomornya tidak aktiv. "Luke kau kemana?" gumam Jovanka seraya menatap foto Luke yang ada di ponselnya. Jovanka turun dari tempat tidur, dia mendorong infus stand dan berdiri di dekat jendela. Jovanka menatap langit yang begitu gelap, dia merasa hampa dan kesepian karena Luke tidak ada di sampingnya.


Frey dan Josh masuk ke dalam ruangan Jovanka. Frey begitu prihatin melihat Jovanka murung sepanjang hari, wanita yang selalu ceria itu bahkan tidak mau makan dan kehilangan semangat untuk sembuh. Melihat ekspresi Josh yang biasa saja, Frey jadi curiga kepada suaminya. Frey lalu mengajak Josh keluar untuk bicara empat mata.


"Ada apa Love?" tanya Josh seraya menatap istrinya.


"Kau tau kalau Luke pergi kan? Jangan bilang kau yang menyuruhnya pergi?" terka Frey dengan tatapan menyelidik.


Josh tertawa untuk menutupi kegugupannya. "Untuk apa aku mengusirnya. Mungkin dia merasa gagal melindungi Jovanka," jawab Josh bohong, bisa-bisa dia puasa satu tahun jika Frey tau dirinya terlibat dengan kepergian Luke.


"Awas kalau kau sampai membohongiku Josh, tidak ada jatah untukmu setahun kedepan!" ancam Frey dengan wajah seriusnya.


Josh menelan ludahnya dengan kasar, dia begitu tegas kepada orang lain tapi tidak berkutik di depan istrinya. "Aku tidak bohong. Kenapa kau tidak percaya padaku sih!" keluh Josh dengan wajah yang dia buat sesedih mungkin.


"Karena kau tidak bisa di percaya!"


.


.


Buliran demi buliran air matanya kembali berjatuhan, dia tidak berhenti menangis sejak semalam. Dia cemas, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya.


Jovanka menyeka air matanya dengan kasar, dia segera meraih ponsel begitu benda pipih itu berbunyi.


"Hallo Des, apa ada informasi?" tanya Jovanka begitu panggilan tersambung.


"Luke akan pergi ke luar negeri sore ini, penerbangannya jam 3 sore!"


"Apa? Luar negeri?" ulang Jovanka terkejut. "Terima kasih informasinya Des!" Jovanka menutup telefonnya. Dia sangat panik dan tidak bisa berpikir jernih. Di tengah kepanikannya Frey masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa kau sangat panik?" tanya Frey seraya menatap adik iparnya.

__ADS_1


"Luke akan ke luar negeri. Tolong bantu aku keluar dari sini Frey. Aku harus bertemu dengan Luke!" pinta Jovanka dengan mata berkaca-kaca.


"Luar negeri?" ulang Frey dan Jovanka mengangguk dengan cepat.


"Tolong Frey, aku tidak ingin menyesal. Tolong aku sekali ini saja!" Jovanka kembali memohon, melihat kondisi Jovanka yang memprihatinkan, Frey merasa tidak tega.


"Tunggu di sini, aku akan bicara pada dokter!"


Entah apa yang di katakan Freesia sehingga dokter mengizinkan Jovanka pulang meski kondisinya belum sepunuhnya sembuh. Frey segera membawa Jovanka ke bandara. Dalam sekejap Frey menjelma sebagai seorang pembalap, ibu beranak satu itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia tidak ingin terlamabat datang ke bandara dan berakhir mengecewakan Jovanka.


"Aku hanya bisa membantumu sampai di sini, seterusnya kau harus berjuang sendiri!"


"Terima kasih Frey!" Jovanka berlari masuk ke dalam bandara, dia segera memeriksa semua tempat yang mungkin di singgahi oleh Luke. Wanita itu menggila karena tak menemukan Luke di manapun. Jovanka mulai putus asa, apalagi lukanya kembali berdarah karena dia terlalu banyak bergerak.


Jovanka duduk di kursi tunggu sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis sesegukan dan tak perduli menjadi bahan tatapan orang-orang yang melewatinya. "Kau benar-benar jahat!" gumam Jovanka di tengah isak tangisnya. Lelah menangi, Jovanka beranjak dari kursinya. Dia mungkin akan menyerah dan akan melupakan Luke. Di tengah keputusasaannya, sekilas dia melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Luke. Jovanka mengejar pria itu dan menahan salah satu tangan pria itu. Pria itu menoleh dan terkejut melihat Jovanka.


"Luke," ucap Jovanka dengan nafas terengah-engah, Jovanka sangat lega karena berhasil menemukan Luke. "Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun?" tanyanya dengan mata memerah.


Luke melepaskan tangan Jovanka dengan kasar, pria itu tersenyun smrik dan membuat Jovanka kebingungan. "Kau pikir kau siapa? Kenapa aku harus mengatakan kepadamu?" ucap Luke dengan dingin.


"Apa maksudmu Luke. Kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah kau berjanji untuk selalu melindungiku dan menjagaku?" Suara Jovanka mulai bergetar, dia begitu takut menghadapi Luke yang tiba-tiba bersikap dingin padanya.


"Oh come on nona, selama ini aku hanya memanfaatkanmu. Sekarang aku tidak membutuhkanmu lagi!"


"Luke, jangan begini. Bukankah kau mencintaiku?"


Luke tersenyum mengejek. "Cinta? Cih, apa aku pernah mengatakannya padamu. Apa aku pernah bilang kalau aku mencintaimu. Sadarlah nona, kau sangat naif dan mudah di bodohi!"


Ucapan Luke begitu menyayat hati Jovanka, ingin sekali Jovanka memukul Luke saat ini juga. Namun tangannya sama sekali tak bisa bergerak, dia bahkan tak bisa mengatakan apapun lagi.


"Pergilah karena aku sudah tidak membutuhkanmu lagi!" setelah mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan, Luke melangkahkan kakinya menjauh dari Jovanka sebelum dia berubah.


"Lalu bagaimana dengan bayi kita Lucas Robbert Anderson?"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2