
Satu minggu kemudian akhirnya Luke sudah di izinkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Selama seminggu itu pula dia tidak pernah berhenti menanyakan keberadaan Charli. Akhirnya yang tak di harapkan tiba, Martha dan Jovanka harus mengatakan yang sebenarnya. Sepulang dari rumah sakit mereka tidak langsung pulang ke apartemen, mereka membawa Luke ke sebuah pemakaman di mana Charli beristirahat dalam damai.
Awalnya Luke mengira jika mereka akan ke makam Anderson, namun Luke akhirnya ingat jika Anderson tak memiliki tempat persemayaman karena setelah di bunuh Anderson entah di buang kemana oleh anak buah Wilson.
"Kita mau kemana mom?" tanya Luke dengan perasaan gamang, dia mulai takut jika apa yang ada di pikirannya adalah benar, tentang keberadaan Charli yang menurut mereka berada di tempat yang damai.
Martha tak menjawab pertanyaan Luke, mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah makam baru yang tanahnya masih basah.
"Mom, makam siapa ini?" tanya Luke seraya menatap Martha penuh tanya.
"Charli," jawab Martha dengan suara yang terdengar begitu sedih.
"Momy bercanda kan?" tegas Luke, dia lalu berbalik menatap istrinya, mencoba mencari jawaban dari Jov. "Ini tidak benar kan Jov?" tanyanya penuh penekanan.
"Charli sudah pergi Luke," jawab Jovanka seraya menitikan air mata.
Seketika air mata Luke menetes dengan derasnya, baru saja dia merasa bahagia karena mengetahui jika kakaknya masih hidup. Dan kini ketika dia membuka matanya dia harus kembali merasa kehilangan dan kali ini benar-benar kehilangan yang sesungguhnya.
"Tidak mungkin!" pekik Luke dengan suara tertahan, sekujur tubuhnya bergetar hebat, tenaganya seolah hilang. Luke berlutut di samping pusara sang kakak dengan air mata berlinang. "Tapi kenapa kak? Kenapa kau harus pergi lagi?" isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati, seolah Tuhan belum berhenti memberinya ujian hidup. Pria itu kembali jatuh dengan luka yang sama, di tinggal oleh orang-orang terkasihnya.
Sementara itu Martha dan Jovanka ikut menangis, hati mereka tersayat melihat kesedihan Luke. Cukup lama Luke menangisi pusara kakaknya, hingga akhirnya pria itu kembali berdiri.
"Apa yang terjadi mom, kenapa Charli meninggal?"
Martha mengusap air mata di wajah putranya. "Dia mengalami pendarahan otak!" jawab Martha.
"Apa karena penyiksaan yang di lakukan Wilson?" terka Luke dan Martha hanya mengangguk.
"Badjingan!" umpat Luke dengan rahang mengeras, kedua tangannya terkepal dan dadanya kembang kempis menahan amarah.
"Luke aku tau kau marah, tapi kau tidak boleh seperti ini. Ingat kata dokter, kau tidak boleh terlalu stres," ucap Jovanka seraya mengusap lengan suaminya. "Lagi pula Wilson sudah mendapat balasan, pria itu tertembak dan mati!" lanjut Jovanka, sejak Luke sadar dia memang sengaja belum menceritakan apa saja yang terjadi selama Luke koma.
"Dia mati?" ulang Luke penuh penekanan.
"Ya. Dia di tembak setelah menembakmu!"
Rasanya tidak rela mendengar Wilson mati semudah itu. Mengingat semua yang Wilson lakukan terhadap keluarganya, rasanya Luke ingin menyiksa Wilson hingga mati. Lalu kenapa dia harus mati semudah itu?
__ADS_1
"Kau yakin dia mati?" tanya Luke ragu.
"Ya. Josh melihatnya secara langsung dan Andrew hadir di pemakamannya!"
"Sudah petang, lebih baik kita pulang!" ajak Martha sambil menggandeng tangan putranya. Ketiga orang itu lalu meninggalkan pemakaman dan kembali ke apartemen.
Setibanya di apartmen, Luke langsung pergi ke kamar untuk beristirahat. Rasanya bukan hanya tubuhnya yang lelah, jiwanya juga terasa sangat lelah.
Luke meringkuk di atas tempat tidur. Jovanka yang baru masuk ke dalam kamar langsung menyusul ke atas tempat tidur dan memeluk suaminya dari belakang. Sungguh Jovanka tidak ingin melihat suaminya bersedih.
"Jangan seperti ini, aku sedih melihatmu begini," ucap Jovanka dengan pelan.
Luke lalu merubah posisinya, dia berbalik dan menghadap sang istri. Luke membelai wajah Jovanka yang terlihat kurus dan Luke menyesalinya karena baru menyadarinya sekarang. "Wajahmu sangat tirus, apa kau tidak pernah makan?" tanya Luke dengan sedih.
"Bagaimana aku bisa makan sementara kau tidak sadarkan diri. Kau tau aku sangat takut, setiap hari aku berdoa agar Tuhan mengembalikanmu kepadaku. Setiap saat aku ketakutan, aku cemas kau tidak akan pernah bangun lagi," jawab Jovanka panjang lebar.
"Maaf karena membuatmu khawatir!" sesal Josh.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mungkin akan mati jika kau pergi dariku!"
.
.
Kini kondisi Luke benar-benar pulih, dia juga sudah bisa menerima kepergian Charli. Kini Luke sedang di sibukan dengan kasus yang menyeret Wilson. Luke di jadikan sebagai saksi atas kejahatan yang Wilson lakukan. Karena kejahatannya, semua kekayaan Wilson di sita oleh negara, Wilson juga kehilangan hak pemakaman dengan upacara militer. Wilson tewas sebagai seorang penjahat.
Setelah sekian lama akhirnya semuanya selesai. Kematian Wilson dan semua bukti kejahatannya sebagai awal yang baru bagi Luke. Kini Luke bukan lagi seorang buronan, status buronannya sudah di cabut dan nama baiknya sudah di bersihkan oleh negara. Bahkan Luke mendapat penghargaan atas keberaniannya membongkar kejahatan Wilson.
Karena dedikasinya, pemerintah meminta Luke kembali ke militer. Mereka ingin Luke mengabdi pada negara dan membongkar kejahatan yang ada di negaranya.
Lalu apa keputusan yang Luke ambil?
Jawabannya tidak.
Luke menolak semua tawaran itu. Bukan karena dia tidak mencintai negaranya, namun karena Luke ingin fokus kepada keluarga kecilnya. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama orang-orang terkasihnya.
Luke pulang ke apartemen setelah mendapat penghargaan. Martha dan Jovanka menyambut kepulangan Luke dengan senyum bahagia.
__ADS_1
"Selamat datang Lucas Robbert Anderson," ucap Jovanka menyambut kedatangan sang suami.
Luke memeluk istrinya dengan erat. "Terima kasih Jovanka, terima kasih sudah menemaniku sampai aku bisa menggunakan namaku lagi!" ujar Luke dengan tulus.
Jovanka melepas pelukan sang suami. "Tidak perlu berterima kasih karena kewajibanku adalah selalu mendukungmu!" jawab Jovanka dengan senyum penuh kebahagiaan.
Luke lalu beralih pada sang ibu dan memeluknya dengan erat. "Terima kasih karena sudah bertahan selama ini mom!"
Martha tak kuasa menahan air matanya. Meski kini dia hanya memiliki Luke, namun dia yakin Anderson dan Charli selalu menjaganya.
Luke melepaskan pelukannya dan menatap kedua wanita yang sangat berarti di dalam hidupnya. "Semuanya sedah selesai. Aku ingin memulai awal yang baru. Ayo kita kembali ke Indonesia dan hidup bersama!"
Jovanka sangat senang mendengar keputusan Luke, namun sayangnya Martha terlihat sedih.
"Kenapa mom, apa momy tidak mau ikut denganku?" tanya Luke penasaran.
"Bukan Luke. Hanya saja momy tidak bisa meninggalkan negara ini," jawab Martha dengan sendu.
"Kenapa mom?" kini giliran Jovanka yang bertanya.
Martha mengangkat kedua tangannya dan menatap telapak tangannya yang bergetar. "Kedua tangan ini sudah membunuh ratusan nyawa tak bersalah. Momy tidak bisa pergi begitu saja, momy harus menebus dosa yang sudah momy perbuat!"
"Tidak mom, semua itu bukan salah momy. Momy melakukannya karena terpaksa!"
"Tetap saja Luke, dengan tangan ini momy mengakhiri hidup mereka. Izinkan momy menebus semua kesalahan momy. Momy tidak ingin hidup dalam penyesalan!"
"Lalu apa yang akan momy lakukan di sini?"
"Momy akan menyerahkan sisa hidup momy untuk melayani Tuhan selagi memohon pengampunan!"
"Momy yakin?" tanya Luke, meski berat hati dia harus menghormati keputusan sang ibu.
"Momy yakin. Kalian harus hidup dengan bahagia, jangan terlalu memikirkan momy, kunjungi momy jika kalian merindukan momy!"
Martha lalu memeluk putra dan menantunya. Berat rasanya harus berpisah dengan mereka, namun inilah jalan yang Martha pilih, dia ingin menebus dosa-dosanya selama sisa hidupnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1