
Duka mendalam menyelimuti pemakaman Lynda Janzsen yang di hadiri oleh seluruh keluarga berasa Janzsen dan Zantamn serta beberapa rekan kerja J&J Company. Meninggalnya Lynda menyisakan duka terdalam bagi semua orang, namun kini yang bisa mereka lalukan adalah melepas dengan ikhlas agar Lynda tenang di sisi Tuhan.
Usai pemakaman, semua orang berkumpul di mansion utama keluarga Zantman. Mereka sengaja di kumpulkan oleh pengacara Lynda dalam rangka pembagian harta waris.
Tak ada yang keberatan dengan keputusan Lynda karena menurut mereka Lynda bertindak adil sebagai seorang ibu. Dia memberikan hak penuh J&J Company kepada kedua putranya, Jimmy dan Jerry.
Karena Jerry memiliki perusahaan sendiri, dia menyerahkan semua tanggung jawab J&J Company kepada Jimmy, padahal Jimmy sendiri merasa sudah tua dan waktunya untuk pensiun.
Masalah pembagian warisan selesai, mansion utama di berikan kepada Jovanka karena kedua kakaknya sudah memiliki rumah masing-masing, sementara Jerry dan keluarganya pun sudah memiliki mansion mewah yang tak terlalu jauh dari mansion utama.
Hari pertama setelah kepergian Lynda, semua orang memutuskan untuk menginap di rumah besar itu. Karena lelah mengurusi pemakaman, mereka istirahat lebih cepat.
Jovanka kembali ke kamarnya dengan wajah sembab, dia benar-benar kehilangan sosok nenek yang sangat menyayanginya.
"Sayang, makanlah sedikit. Kasian bayi kita," ucap Luke seraya membawa makanan untuk Jovanka.
Jovanka menunduk dan memegangi perutnya, dia sampai lupa jika seharian ini dia belum makan. "Tolong suapi aku Luke!" pinta Jovanka dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.
Luke lalu menghampiri Jovanka dan duduk di samping istrinya. Dengan telaten Luke menyuapi Jovanka hingga makanannya habis. Luke juga membantu Jovanka meminum vitaminnya.
"Bagaiaman kalau kau berendam air hangat? Tubuhmu sangat lengket, pasti tidak nyaman jika tidur dalam kondisi seperti ini?" tanya Luke lagi dan Jovanka hanya mengangguk.
Luke bergegas ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat di dalam bathtube. Setelah siap dia kembali ke kamar dan memapah Jovanka ke dalam kamar mandi.
"Temani aku Luke," pinta Jovanka lagi.
"Ya, aku tidak akan pergi!"
Luke duduk di samping bathube seraya memijit kaki Jovanka. Seharian ini Jovanka berdiri di pemakaman dan sudah dapat di pastikan jika seluruh tubuhnya terasa pegal.
"Maaf merepotkanmu Luke," ucap Jovanka seraya menatap suaminya.
"No, aku tidak merasa di repotkan!"
Setelah selesai mandi, Jovanka kembali ke kamar dan beristirahat. Tak sedetikpun Jovanka mengizinkan Luke pergi dari sisinya, sepeninggal Lynda, wanita hamil itu takut di tinggal sendirian.
__ADS_1
"Tidurlah, aku di sini!" Luke memeluk tubuh Jovanka penuh kasih sayang, pria itu mengusap kepala istrinya hingga terlelap.
Kesedihan yang sama juga di rasakan oleh Freesia. Ibu satu anak itu kembali menangisi kepergian Lynda. Baginya Lynda lebih dari sekedar nenek mertua. Frey ingat betul bagaimana Lynda menyambutnya di rumah besar ini. Saat semua orang menolaknya, Lyndalah yang selalu menerima Frey dengan tangan terbuka. Dan berkat Lynda pula Frey dan Josh bisa bersama hingga saat ini.
"Jangan menangis lagi Love, Granny pasti sedih melihatmu begini!" ujar Josh seraya memeluk tubuh istrinya.
"Kenapa Granny pergi secepat ini Josh?" tanya Frey sambil terisak.
"Semua sudah takdir Frey. Kita tidak bisa berbuat apapun jika menyangkut takdir. Aku yakin Granny sudah bahagia di sana, dia tak perlu merasakan sakit lagi!"
Sementara di rumah kecil yang berada di belakang mansion utama, seorang wanita paruh baya menangis sambil memeluk selimut yang selalu Lynda gunakan. Wanita itu adalah Katherine, meski dia sudah bercerai dengan Jimmy namun baginya Lynda tetaplah ibunya. Terkadang mereka memang tak akur, namun hubungan mereka dekat melebihi hubungan ibu dan menantu.
Di tengah tangisannya, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di samping Katherine. "Momy pasti sudah tenang di sana," ucap seorang pria yang suaranya tak asing bagi Katherine, wanita itu menoleh dan benar saja pemilik suara itu adalah mantan suaminya, Jimmy.
"Kenapa kau tak terlihat sedih?" tanya Katherine seraya menatap sang mantan suami.
"Kau sangat mengenalku. Seharusnya kau tau jika kesedihanku mungkin melebihi kesedihan semua orang. Banyak hal yang belum aku lakukan untuk membahagiakan momy, bahkan aku tidak sempat minta maaf padanya atas semua kesalahanku di masa lalu!" ujar Jimmy dengan mata berkaca-kaca.
Katherine kembali memeluk selimut milik Lynda. "Momy tidak kesakitan lagi kan? Dia pasti sudah bertemu dengan dady kan?"
"Jangan menangis, biarkan momy tenang di sana!"
Hampir setengah jam lamanya Katherine menangis di pelukan Jimmy. Hingga akhirnya dia tersadar dan segera melepaskan diri dari pelukan mantan suaminya.
"Maaf Jim, aku tidak bermaksud," ucap Katherine dengan canggung.
'It's okay. Sudah malam, sebaiknya kita kembali ke mansion!"
Katherine mengangguk seraya mengusap air matanya, mereka lalu berjalan beriringan menuju mansion utama dan melewati taman bunga milik Lynda. Bunga-bunga bermekaran di musim semi dan pemiliknya gugur pada musim yang sama.
"Kehamilan Jovanka mulai membesar, apa kau tidak mau tinggal di sini dan menemaninya?" tanya Jimmy dan membuat Katherine sedikit tercengang dengan ucapan Jimmy. "Maksudku, aku dan Luke akan sibuk di perusahaan. Jovanka pasti kesepian di rumah. Kalau kau mau tinggal di sini, aku akan tinggal di apartemen. Aku hanya merasa kasihan pada Jovanka!"
"Aku akan merundingkannya bersama Frey dan Josh!"
"Baiklah. Aku harap kau memikirkannya dengan matang!"
__ADS_1
"Ya!"
.
.
.
Seminggu kemudian, Katherine memboyong Frey dan Abel pindah ke mansion utaman, jangan lupakan Josh yang juga ikut pindah ke mansion bersama anak dan istrinya. Setelah mendiakusikan bersama, mereka memutuskan pindah ke mansion lagi agar Jovanka tak kesepian.
Jovanka begitu senang melihat kedatangan Katherine dan kakaknya. Apalagi ada baby Abel yang semakin memeriahkan mansion besar mereka.
"Momy, Frey, kalian benar-benar akan tinggal di sini kan?" tanya Jovanka memastikan, dia khawatir jika mereka hanya menginap untuk beberapa waktu saja.
"Ya, kami akan tinggal di sini, bersammu!" jawab Frey dengan yakin.
Jovanka bersorak dan memeluk momy serta kakak iparnya. Dia sangat bahagia karena tidak akan kesepian lagi.
Karena Jovanka sudah tak kesepian lagi, Luke memutuskan untuk mulai bekerja di perusahaan. Setelah memikirkan masak-masak, dia akan mengemban tanggung jawab yang Lynda berikan kepadanya sebelum meninggal.
Pagi-pagi sekali Luke dan Jovanka sudah bangun. Jovanka mulai berperan menjadi istri yang baik, dia sangat bersemangat menyiapkan pakaian kerja untuk sang suami.
"Kau yakin akan kembali ke kantor?" tanya Jovanka seraya memasangkan dasi suaminya.
"Ya. Kasihan dady mengurus perusahaan sendiri!"
"Lalu bagaimana dengan novelmu? Bukankah kau ingin menjadi penulis lagi?"
"Aku bisa menulis sepulang kerja atau saat aku memiliki waktu luang. Kau tidak keberatan kan?"
Jovanka tersenyum lalu mengecup bibir sang suami. "Asal kau tidak membohongiku, aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu!" ujar Jovanka.
"Terima kasih sayang," Luke lalu memeluk tubuh istrinya. Setelah itu dia berlurut dan mencium perut Jovanka. "Hay, dady harus bekerja. Jangan nakal di perut momy ya. We Love you!"
"We love you to dad!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...