My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
After Darkness


__ADS_3

Tiga hari sejak insiden penculikan Jovanka, wanita cantik itu sudah mulai beraktivitas seperti biasanya meski luka memar di keningnya belum sembuh. Luke juga sudah mulai bekerja karena dia tak suka berlama-lama libur. Sementara itu Windy sama sekali tak ada kabarnya, wanita itu bak di telan bumi. Diam-diam Jovanka mencari keberadaan Windy di kantor polisi namun Jovanka tak menemukan Windy di manapun. Jovanka yakin pasti Josh yang melakukan semua itu.


Setelah jam makan siang Jovanka pergi ke kantor agency karena managernya menelfon dan menyuruhnya datang. Sesampainya di kantor Jovanka langsung masuk ke dalam ruangan Desy.


"Ada apa Des?" tanya Jovanka seraya menaruh tas mahalnya di meja kerja Desy, dia lalu duduk dengan anggun.


"Apa kau mau main film?" bukannya menjawab Desy malah memberikan pertanyaan pada modelnya.


"Film?" ulang Jovanka.


"Hem. Kau mengenal Mister Serkan kan, sutradara terkenal itu menghubungiku dan menawarimu casting di film terbarunya. Dia sudah mengirim naskahnya, kau bisa membacanya dan memikirkannya Jov," jelas Desy dengan wajah berbinar, wanita itu sangat senang karena Jovanka mendapat tawaran sebagus itu. Desy lalu memberikan naskah kepada Jovanka.


"Aku akan membacanya," jawab Jovanka seraya meraih naskah tersebut. "Aku boleh pulang kan, kepalaku sedikit pusing," sambung Jovanka.


"Tentu saja. Pulanglah dan istirahat. Baca naskahnya baik-baik ya!"


"Oke!"


Jovanka lalu keluar dan segera masuk ke mobilnya karena sebelumnya dia sudah mengirim pesan pada Luke untuk menunggunya di dalam mobil.


"Anda akan pulang atau pergi ke tempat lain?" tanya Luke.

__ADS_1


"Pulang saja tiba-tiba kepalaku pusing," jawab Jovanka seraya memijat pelipisnya, sejak kecelakaan beberapa hari yang lalu dia memang sering pusing, namun Jovanka tidak memeriksakan dirinya karena menganggap luka di kepalanya tidaklah serius.


"Baik nona!"


Luke segera mengemudikan mobilnya, selama perjalanan pulang keduanya hanya diam. Sesekali Luke melirik Jovanka karena wanita itu terlihat serius membaca naskah padahal sebelumnya dia mengeluh sakit kepala.


"Membaca hanya akan membuat anda semakin pusing," ucap Luke setelah sekian lama diam.


Jovanka menoleh dan tersenyum karena Luke diam-diam memperhatikannya. "Aku hanya membacanya sekilas Luke. Sepertinya ceritanya cukup menarik," jawab Jovanka.


"Cerita apa?"


"Ah, Mister Serkan mengundangku ikut casting dalam film terbarunya!"


"Dari mana kau tau aku ingin main film?" tanya Jovanka penasaran, pasalnya hanya dia yang tau jika selama ini dia ingin sekali merambah ke dunia akting.


"Anda pernah menyebutnya saat tidur," jawab Luke dengan wajah yang sedikit tegang.


"Benarkah?"


"Hem," gumam Luke, pria itu lalu kembali fokus pada kemudinya.

__ADS_1


Setibanya di rumah, alih-alih istirahat Jovanka malah melanjutkan membaca naskah tersebut. Wanita itu larut dalam cerita yang begitu menyayat hati. Film tersebut di angkat dari sebuah novel berjudul After Darknes yang mengisahkan seorang Dokter Militer bernama Robbert yang di fitnah melakukan tindakan mal praktek dan membunuh salah satu rekannya. Robbert lalu di penjara. Karena merasa tak terima dengan fitnah tersebut, Robbert berhasil melarikan diri dan bergabung dalam organisasi gelap dan berharap nama baiknya akan pulih. Saat dia sedang menjalankan misinya, Robbert bertemu dengan seorang wanita cantik di sebuah toko kue. Wanita cantik itu berhasil membuat Robbert jatuh cinta. Namun Robbert menahan perasaannya mengingat statusnya saat ini adalah seorang buron. Namun takdir kembali mempertemukan Robbert dan wanita itu, mereka lalu saling jatuh cinta, namun hubungan cinta mereka begitu tragis karena Robbert tertangkap dan di tembak mati.


"Siapa yang menulis novel kejam seperti ini, kenapa endingnya sadis sekali," gumam Jovanka setelah selesai membaca naskah tersebut. "Aku tidak suka film ini, aku tidak mau!" lanjut Jovanka dengan terisak, dia seolah larut dalam naskah yang baru saja dia baca.


Jovaka segera menyeka air matanya saat pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang, Jovanka lalu membukanya karena terkejut melihat Luke berdiri di depan kamarnya.


"Apa anda sakit? Kenapa mata anda bengkak?" tanya Luke setelah melihat wajah sembab Jovanka.


"Ini semua gara-gara naskah sial itu, aku sampai menangis karena membaca kisah tragis tokoh utamanya!"


"Bukankah itu pertanda baik, tandanya anda cocok menjadi pemeran wanita karena anda ikut masuk ke dalam alur ceritanya!"


"Benarkah? Tapi aku tidak suka endingnya. Aku hanya akan main film yang happy ending!"


"Terserah anda saja. Tapi menurut saya film ini akan berhasil, mungkin saja anda akan semakin terkenal!"


"Terserahlah. Oh ya ada apa kau kemari?" tanya Jovanka.


"Minum obat ini dan istirahatlah!" Luke memberikan obat tersebut pada Jovanka, pria itu lalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.


"Ck, sok cuek padahal kau perduli padaku kan!"

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2