
Sepertinya kesabaran Luke masih harus di uji, pagi ini Steve kembali datang untuk menjemput Jovanka, dan yang membuat Luke kesal adalah Jovanka tidak menolaknya sama sekali.
"Tunggu sebentar Steve, aku akan turun" jawab Jovanka sebelum panggilan berakhir, wanita itu lalu keluar kamarnya karena Steve mengabari jika pria itu sudah menunggunya di depan rumah.
Jovanka begitu terkejut melihat Luke sudah berdiri di depan kamarnya. Masih seperti biasanya, pria itu memasang wajah datar, namun sepintas terlihat gurat amarah di wajah tampannya.
"Selamat pagi nona, hari ini syuting terakhir dan saya yang akan mengantarkan anda ke lokasi!" ucap Luke yang terdengar seperti perintah.
"Kau bisa libur hari ini, aku akan berangkat bersama Steve," tolak Jovanka, wanita itu lalu berjalan melewati Luke, namun siapa sangka jika Luke berani menahan tangan Jovanka sehingga membuat wabita itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tangan Luke yang mencekal pergelangan tangannya. Jovanka hendak menepis tangan Luke, namun dia di buat terkejut dengan luka robek di punggung tangan Luke, bukan hanya satu, ada banyak luka terbuka yang sepertinya belum di obati oleh Luke.
"Astaga, kenapa tanganmu?" tanya Jovanka khawatir.
Dengan cepat Luke melepaskan tangannya dan berusaha menyembunyikannya, namun Luke kalah cepat karena tangannya lebih dulu di cekal oleh Jovanka. "Tidak papa, hanya luka kecil," jawab Luke sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Astaga, luka kecil katamu. Ini sangat berbahaya, kalau infeksi bagaimana. Kita harus mengobatinya sekarang!" Jovanka terlihat begitu cemas, wanita itu menarik Luke masuk kembali ke dalam kamarnya. Jovanka mendudukan Luke di atas sofa sementara dirinya sibuk mencari kotak obat. Sekilas bibir Luke terangkat, pria itu memperhatikan gerak-gerik Jovanka, kepanikannya membuat wanita itu terlihat menggemaskan.
Setelah menemukan kotak obat, Jovanka duduk di samping Luke. Dengan cekatan wanita itu meraih tangan Luke dan berniat mengobatinya. "God, dari mana kau mendapatkan luka ini Luke?" tanyanya seraya menatap getir punggung tangan Luke yang di penuhi luka akibat tergores pecahan kaca.
"Saya berlatih tinju," jawab Luke bohong, mana mungkin pria sepertinya mengaku jika dia memukul cermin gara-gara marah.
__ADS_1
"Astaga, apa kau meninju cermin? Kau pikir kau ini dukun yang kebal atau bagaimana sih, bisa-bisanya latihan tinju sampai seperti ini," Jovanka terus mengomel, namun hal tersebut justru membuat suasana hati Luke membaik, pria itu hanya diam dan pasrah menerima omelan majikannya yang cantik.
Luke menatap lekat wajah Jovanka, jarak mereka begitu dekat sehingga mereka bisa mendengar helaan nafas masing-masing. Di saat Jovanka sedang mengobati Luke, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Tolong ambilkan ponselku Luke!" titah Jovanka tanoa menoleh sedikitpun, wanita itu sedang sibuk meniup tangan Luke yang terluka.
Luke lalu meraih ponsel Jovanka yang berada di tas dan tak jauh darinya. Sebuah panggilan dari Steve dan Luke segera mengangkatnya dan mengaktivkan mode pengeras suara.
"Babe kenapa kau lama sekali turunnya?" tanya Steve tak sabaran.
"Luke terluka, aku sedang mengobatinya. Bagaimana kalau kau berangkat lebih dulu," jawab Jovanka dengan cepat.
"Ya, aku turun sekarang!" potong Jovanka dengan cepat, wanita itu terlihat panik karena Luke mendengar percakapan mereka. Jovanka segera menutup tangan Luke dengan perban, setelah selesai dia langsung berdiri dan bersiap keluar dari kamar. Namun lagi-lagi Luke menahan tangannya, pria itu menarik tangannya dengan keras sehingga Jovanka kehilangan keseimbangannya dan jatuh tepat di atas pangkuan Luke.
"Vidio apa yang dia maksud?" tanya Luke dengan tatapan mengintimidasi, mata elangnya membuat Jovanka gugup.
"A-A-Apa maksudmu?" jawab Jovanka gagap.
"Jangan bohong lagi, vidio apa yang brengsek itu maksud?" cecar Luke dengan suara yang lebih tegas, kedua tangannya tiba-tiba melingkar di pinggang Jovanka dan menekannya sehingga tubuh Jovanka condong ke depan dan begitu dekat dengan Luke.
__ADS_1
"Le-lepas Luke!" pinta Jovanka dengan suara yang begitu pelan, oh ayolah jantungnya pasti akan melompat keluar kalau Luke tidak melepaskannya sekarang.
"Jawab!" paksa Luke.
Jovanka mencoba menenangkan dirinya, dia tidak boleh terintimidasi oleh Luke. Di tengah ketegangan itu terlintas sebuah ide yang menurutnya sangat cemerlang. "Aku akan menjawabnya tapi dengan satu syarat?" jawab Jovanka dengan berani, dia bahkan berani menatap wajah Luke yang jaraknya hanya sejengkal dengan wajahnya.
"Katakan!"
Nafas hangat Luke menyapu wajah cantiknya, Jovanka tersenyum penuh arti membuat Luke sedikit heran, padahal beberapa detik yang lalu Jovanka terlihat sangat tertekan. "Cium aku dan katakan kau mencintaiku," ucap Jovanka penuh penekanan.
Ya, bukan Jovanka namanya jika tidak berhasil membuat orang kesal. Lihatlah, rahang Luke mulai mengeras dan jika Jovanka seorang pria mungkin Luke akak memukulnya. Luke menghela nafas panjang, pria itu lalu melepaskan tangannya di pinggang Jovanka dan mendudukan gadis itu di sofa. "Baiklah jika anda tidak ingin mengatakannya, saya bisa mencari tau sendiri!" ucapnya lalu pergi dari kamar Jovanka.
"Haissh, pria macama apa dia. kenapa dia tidak tergoda sama sekali," gumam Jovanka kesal. "God, jangan-jangan dia belok? Astaga, tidak mungkin kan dia tidak menyukaiku karena dia menyukai pria juga! Oh Jov, hilangkan pikiran itu!"
Jovanka bergidik ngeri, dia hanya bisa berharap apa yang dia pikirkan salah. Semoga saja Luke benar-benar pria normal dan akan menyukainya jika Jovanka terus menggodanya.
"Hufh, lebih baik aku turun sekarang sebelum Steve membuat ulah!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1