
Luke sudah selesai mengisi form jual beli namun Jovanka belum juga kembali. Karena merasa khawatir, Luke memutuskan menyusul Jovanka. Pria itu tersenyum lega melihat istrinya sedang berdiri di dekat mobil.
"Sayang kenapa lama sekali?" tanya Luke seraya berjalan menghampiri istrinua.
Jovanka menoleh dan saat Luke sudah berdiri di hadapannya dia menunjukan foto serta secarik kertas berisi biodatanya. "Apa ini Luke? Kenapa kau memiliki foto lamaku? Dan, kenapa kau memiliki biodata lengkapku? Dan di sini juga tertulis tanggal saat kau menulisnya. Lima tahun yang lalu, apakah kau sudah mengenalku sejak dulu?" cecar Jovanka dengan tatapan nyalang.
"Jov aku bisa jelaskan!" ujar Luke dengan wajah menegang.
"Katakan? Apa kau sudah mengenalku sejak lama?" tanya Jovanka lagi dan Luke mengangguk pelan.
"Lalu kenapa kau menyembunyikan semuanya? Apa tujuanmu sebenarnya Luke?"
"Aku...
"Katakan!" teriak Jovanka dengan mata memerah, entah mengapa dia merasa kesal karena selama ini Luke menipunya.
"Aku...
Lima tahun yang lalu...
Setelah berhasil melarikan diri dari kelompok Morgan, Luke kembali menjadi imigran gelap. Kali ini tujuannya adalah Indonesia, menurut info dari beberapa anak buah Morga, Indonesia menjadi tempat aman menjadi tempat persembunyian.
Berbekal uang seadanya Luke tiba di Jakarta. Dia mencari tempat kos untuk tinggal sementara waktu. Karena tak memiliki kartu identitas, Luke tidak bisa memilih pekerjaan. Dia melakukan apapun agar menghasilkan uang dan bertahan hidup Jakarta.
Tiga bulan menetap di Jakarta, Luke sudah menjajal semua pekerjaan kasar yang dia bisa, mulai dari kuli bangunan, kuli angkut di pasar dan bahkan Luke sempat memulung. Sialnya, semua uang yang dia kumpulkan selama ini di rampas paksa oleh preman, Luke menahan diri untuk tidak melawan dan merelakan semua uangnya di bawa pergi. Sebenarnya Luke bisa saja melawan para preman itu, tapi dia tak ingin mengusik warga lokal dan membahayakan persembunyiannya.
Lengkap sudah penderitaan Luke, menjadi imigran gelap, di usir dari kos karena tidak sanggup membayar, uang hilang dan hidup terlunta-lunta di negeri orang. Semangat hidup Luke seakan hilang, untuk apa dia bertahan hidup jika dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini. Rasa lapar dan putus asa mendorong Luke untuk mengakhiri hidupnya, pria itu berjalan menyusuri jalan raya dan berakhir di jembatan panjang yang tertutup kabut.
__ADS_1
Luke naik dan berdiri di tiang penyangga jembatan. Tatapannya lurus ke bawah, menatap aliran sungai yang begitu deras. Pria muda itu tampak begitu putus asa, wajahnya pucat dan tatapan matanya terlihat kosong. Luke benar-benar muak dan ingin mengakhiri penderitaan itu secepatnya, sekarang juga.
Luke memejamkan matanya dan siap untuk melompat, namun sebuah suara yang begitu indah menghentikannya, membuatnya membuka mata dan menoleh ke arah suara.
"Hari ini aku berulang tahun, apa kau mau menemaniku tiup lilin?" tanya seorang gadis yang memiliki suara begitu indah, seindah bola matanya yang berwana biru dan memantulkan cahaya.
"Pergilah, aku sibuk!" tolak Luke dengan suara lesu.
"Hm, kau hanya perlu diam di situ. Aku bosan tiup lilin sendiri!" ujar gadis itu seraya menghidupkan lilin dan menancapkannya di atas cup cake dengan cream berwarna merah muda. Gadis itu memejamkan matanya dan bibirnya komat-kamit merapalkan doa dan harapannya. Gadis itu lalu meniup lilin dan bertepuk tangan. "Ck, setidaknya ucapkan selamat ulang tahun untukku!" gerutu gadis itu seraya menatap Luke.
"Selamat ulang tahun!" ucap Luke dengan suara dingin namun terdengar tulus.
Gadis itu tersenyum. "Terima kasih. Karena kau sudah menemaniku meniup lilin maka aku akan memberikan kue ini untukmu. Makan ini dan berbahagialah!" ucapnya lalu pergi, sebelun menghilang gadis itu kembali berbalik dan berteriak. "Tetaplah hidup!"
Luke menatap kepergian gadis itu sambil memegang cup cake di tangannya. Luke menatap cup cake itu lalu memakannya dengan rakus, Luke mengunyah cup cake tersebut di iringi air mata yang berlinang dan nafas sesegukan. Dia kira hidupnya akan berakhir di jembatan ini, namun dia justru memiliki alasan untuk tetap hidup.
Ya, berkat gadis pemilik bola mata biru itu Luke memutuskan untuk hidup dan kembali berjuang. Beberapa hari Luke tinggal di kolong jembatan selagi mengumpulkan uang untuk menyewa tempat kos.
"Cantik kan?" tanya salah satu teman Luke.
"Hem," sahut Luke. "Siapa dia?" tanya Luke penasaran.
"Dia model pendatang baru, namanya Jovanka Janzsen!"
"Kau mengenalnya?" tanya Luke lagi.
"Tidak terlalu. Tapi dia sering datang untuk melihat proyek. Kata bos dia salah satu model di kantor agency yang sedang kita bangun ini!"
__ADS_1
"Jovanka Janzsen," gumam Luke seraya menarik sudut bibirnya.
Selama bekerja di proyek, Luke sering melihat Jovanka datang. Pria itu diam-diam memperhatikan Jovanka dan merasa semangat setiap kali melihat senyumnya.
Luke sedih ketika proyeknya berakhir, dia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Jovanka lagi. Namun takdir seolah mengikat mereka, setelah dua bulan berlalu Luke kembali bertemu Jovanka dalam situasi yang tak terduga. Saat itu Jovanka sedang membereskan barang-barangnya yang bercecer di lantai, melihat kekacauan itu Luke segera membantu Jovanka memunguti barang-barang milik Jovanka.
"Terima kasih ya," ucap Jovanka dengan tulus. Gadis itu lalu mengeluarkan dua lembar uang dan memberikannya kepada Luke. "Aku sedang buru-buru, terima kasih atas bantuanmu!" setelah mengatakan itu Jovanka berlari dan menghilang di tengah keramaian. Luke menatap uang yang berada di tangannya, pria itu terkekeh dan semakin mengagumi Jovanka. Saat Luke akan pergi, dia tak sengaja menemukan foto Jovanka tergeletak di lantai. Luke meraih foto itu dan tersenyum. "Terima kasih Jovanka!"
Jovanka tak bisa menahan air matanya saat mendengar cerita Luke. Namun dia juga merasa kecewa karena Luke memilih menyimpannya selama ini.
"Kau pasti senang saat aku mengejarmu dan mengemis cintamu Luke?" tanya Jovanka dengan dada naik turun selaras dengan nafasnya yang tak teratur. Dia marah, dia kecewa namun dia juga sedih setelah mendengar cerita suaminya.
"Tidak Jov, tidak seperti itu. Aku memang menyukaimu sejak lama, tapi aku takut dan aku merasa tidak pantas untukmu!"
"Beberapa kali aku bertemu dengamu, apa semua itu bagian dari rencanamu? Pertama kali saat aku melihatmu di Sky Bar, apa kau sengaja mengikutiku? Dan saat kau menjadi pengawal Danish apa kau juga sengaja menemuiku?"
Luke meraup wajahnya dengan kasar. "Ya, pertemuan kita di Sky Bar adalah rencanaku. Waktu itu aku melihatmu bersama Frey dan aku mengikutimu! Tapi untuk pertemuan selanjutnya itu benar-benar bukan bagian dari rencanaku, aku juga tidak tau kenapa kita sering bertemu Jov!" Luke kembali mengaku, dia tak memiliki alasan untuk terus menyembunyikan semuanya.
Jovanka membuang nafas kasar, dia lalu kembali menatap fotonya. Jovanka mengeryitkan dahinya saat dia melihat tulisan kecil di sudut fotonya.
"JV?" eja Jovanka. "JV?" ulang Jovanka sambil menatap Luke, rasanya dia tidak asing dengan inisial tersebut. "Apa maksudnya JV?" tanya Jovanka.
"JV adalah inisial namamu, JoVanka!" jawab Luke.
"JV? Kenapa aku merasa tidak asing dengan kedua huruf ini?"
"JV adalah penulis novel After Darkness!"
__ADS_1
"What?"
BERSAMBUNG...