
Steve menggeram kesal, sudah hampir seminggu orang suruhannya mencari informasi mengenai Luke namun hasilnya masih nihil. Mereka tak menemukan apapun, bahkan nama lengkap Luke pun mereka tidak bisa menemukannya. Pria itu sangat misterius karena tak meninggalkan jejak apapun tentang identitasnya.
Meski belum mengetahui siapa Luke yang sebenarnya, namun Steve tetap berusaha mendekati Jovanka lagi. Bahkan dia memanfaatkan adegan syuting demi bisa berdekatan dengan mantan kekasihnya.
Steve sudah tidak sabar untuk melakukan kiss scene, meski sebenarnya tidak ada di dalam skenario, namun Steve berhasil membujuk sutradara untuk menambahkan beberapa adegan kiss scene antara dirinya dan juga Jovanka.
Marah, tentu saja itu yang Jovanka rasakan saat ini. Namun dia tak bisa berbuat apapun selain mengikuti skrip yang sudah di setujui oleh Mister Serkan.
"Rileks baby, dulu kita juga sering melakukannya kan?" bisik Steve sebelum pengambilan vidio.
"Camera roll and action."
Steve membelai rahang Jovanka, pria itu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Jovanka, sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Jovanka. Jovanka memejamkan matanya, karena tak bisa menghindar dia hanya bisa membayangkan jika Luke yang sedang menciumnya saat ini. Sesuai dengan naskah, Jovanka harus mengalungkan tangannya di leher Steve dan keduanya harus beradegan semesra mungkin.
"Cut!"
Jovanka segera menarik diri, wanita itu lalu berlari ke arah Luke dan meminta sikat serta pasta gigi yang sudah dia pesan sebelumnya. Dengan cepat Jovanka segera menggosok giginya dan membersihkan mulutnya, rasanya begitu menjijikan berciuman dengan pria dari masa lalunya.
"Cukup nona, gusi anda bisa berdarah," tahan Luke karena Jovanka terus menggosok giginya dengan kasar.
"Tidak Luke, aku tidak ingin bibirnya meninggalkan bekas di bibirku," tolak Jovanka dengan mata berkaca-kaca. Jovanka kembali teringat kenangan buruk beberapa tahun silam saat Steve memaksa untuk menyentuhnya. Meski memiliki banyak kekasih, namun Jovanka berusaha menjaga kehormatannya dan dia sangat marah saat Steve berusaha merusaknya. Karena hal itulah Jovanka memutuskan hubungan mereka.
Seperti dugaan Luke, mulut Jovanka mulai mengeluarkan darah. Luke kembali menahan tangan Jovanka namun wanita itu terus memberontak.
"Hentikan nona, gusi anda sudah berdarah!" Luke benar-benar tak tega melihat semua itu, apalagi saat ini Jovanka menangis sesegukan.
"Jovanka Janzsen, cukup!" titah Luke dengan tegas, pria itu lalu merebut sikat gigi dari tangan Jovanka dan membuangnya. Jovanka menoleh dan menatap Luke dengan air mata berderai.
__ADS_1
"Kembalikan Luke, aku harus menghilangankan bekas bibirnya. Sangat menjijikan," pinta Jovanka dengan wajah begitu sedih. Karena tak mendapatkan sikat giginya, Jovanka mengusap bibirnya dengan kasar sehingga bibirnya mulai memerah dan aga sedikit robekan di tepi bibir ranumnya.
Entah apa yang di pikirkan Luke, tiba-tiba pria itu menahan tangan Jovanka, lalu salah satu tangannya menekan pinggang Jovanka sehingga tubuh mereka saling berdekatan tanpa jarak sedikitpun. Luke menatap bibir Jovanka yang kini juga mengeluarkan darah, tanpa seizin Jovanka, Luke tiba-tiba ******* bibir Jovanka dengan mesra, bukan sekedar kecupan sesaat, Luke menyesaaap bibir Jovanka dengan lembut. Jovanka membelalakan matanya, sungguh dia sangat terkejut dengan apa yang Luke lakukan, namun detik berikutnya Jovanka mulai memejamkan matanya dan menikmati sapuan bibir Luke yang sangat menggairahkan.
Cukup lama Luke mencium Jovanka, pria itu lalu melepaskan bibirnya. Luke menangkup wajah Jovanka dan menatapnya dengan perasaan bersalah. "Maafkan saya nona," ucap Luke penuh penyesalan.
Jovanka menggelengkan kepalanya dengan cepat. Wanita itu memegang tangan Luke yang berada di pipinya. "Terima kasih sudah membersihkan bibirku Luke," jawab Jovanka dengan pelan.
Luke tak menjawab, pria itu menyeka bibir Jovanka yang basah karena salivanya. "Jangan pernah melukai diri sendiri. Cuci wajahmu, aku akan izin pada sutradara agar kita bisa pulang!"
"Tidak perlu Luke, aku baik-baik saja sekarang. Aku bisa bekerja!"
"Anda yakin?"
"Hem. Jangan khawatir, aku baik-baik saja sekarang!"
Jovanka benar-benar profesional, dia tetap menyelesaikan syuting meski suasana hatinya sedang buruk. Setelah syuting selesai dia segera pergi ke mobilnya karena tak ingin bertemu dengan Steve lagi. Melihat majikannya murung, Luke hanya diam dan melajukan mobilnya. Suasana begitu canggung setelah ciuman yang tak terduga itu.
"Luke," panggil Jovanka setelah sekian lama diam.
"Hem," seperti biasa, Luke mananggapinya dengan gumaman.
"Kenapa kau menciumku?" tanya Jovanka seraya menatap Luke, di lihat dari samping saja pria itu terlihat begitu tampan.
Cittt....
Luke menginjak remnya dan menepikan mobil mereka di tepi jalan. Luke menoleh dan menatap Jovanka yang sedang terkejut karena Luke berhenti mendadak.
__ADS_1
"Maaf nona. Saya lancang," jawab Luke.
"Aku tanya apa alasannya kau menciumku? Apa kau menyukaiku?"
"Saya...." Luke bingung harus menjawab apa karena dia juga tidak memiliki alasan pasti mengapa tiba-tiba mencium Jovanka.
"Katakan jika kau menyukaiku Luke!"
"Maafkan saya nona. Saya berjanji tidak akan lancang lagi. Anda boleh memotong gaji saya atau memecat saya atas kelancangan yang saya perbuat kepada anda!"
"Apa kau menyukaiku?" tanya Jovanka lagi, dia sungguh ingin tau mengapa Luke tiba-tiba menciumnya.
Luke menelan salivanya dengan kasar, lidahnya tiba-tiba kelu dan dia tak bisa mengucapkan apapun.
"Sudahlah. Kau tak perlu menjawabnya. Kau pasti melakukannya karena kasihan padaku!" ucap Jovanka putus asa.
"Bukan begitu nona, saya..."
"Aku lelah Luke!"
Luke merasa serba salah, dia merutuki dirinya sendiri karena bertindak tanpa berpikir dengan jernih. "Baik, kita pulang sekarang!"
Setibanya di rumah, Jovanka segera ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Luke. Wanita itu lalu merebahkan tubuhnya di kasir, tangannya perlahan bergerak dan menyentuh bibirnya. Bayangan saat Luke melumaaat bibirnya kembali terngiang, tiba-tiba dia ingin mengulanginya lagi, Kiss scene bersama Luke.
"Secepatnya kau akan menjadi milikku," gumam Jovanka dengan senyum penuh arti.
BERSAMBUNG...
__ADS_1