
Hanya dalam waktu empat bulan, Luke berhasil membuktikan kepada keluarganya jika dia mampu menggantikan Jimmy untuk memimpin J&J Company. Awalnya Luke di tempatkan sebagai seorang wakil direktur, namun sepak terjangnya begitu di luar dugaan. Pria itu berhasil menyelesaikan beberapa proyek penting yang selama ini mangkrak dan mendatangkan client baru di perusahaan mereka.
Memiliki latar belakang militer, Luke begitu tegas dalam bertindak. Dia tak mentolelir segala bentuk kecurangan di dalam perusahaan, alhasil beberapa petinggi perusahaan harus kehilangan pekerjaannya karena tertangkap basah menggelapkan dana perusahaan.
Jimmy merasa lega karena dalam setahun ke depan mungkin dia bisa pensiun setelah Luke menggantikannya. Dia ingin beristirahat dan menikmati masa tuanya bersama cucu serta keluarganya.
Kehamilan Jovanka sudah memasuki bulan ke sembilan. Jovanka dan Luke mulai sibuk menyiapkan segala keperluan bayinya termasuk membuat kamar khusus yang bayi yang sengaja di rahasiakan jenis kelaminnya.
Meski sibuk bekerja dan menulis, Luke tetap meluangkan waktu untuk sang istri. Sebisa mungkin dia pulang tepat waktu agar bisa menemani istrinya di rumah.
"Bagaimana persiapannya? Apa sudah selesai semua?" tanya Luke seraya memijit kaki Jovanka, hal yang selalu dia lakukan setiap malam.
"Sudah hampir selesai, kamarnya sudah di dekor, tinggal mengisi beberapa barang saja," jawab Jovanka dengan wajah bahagia. "Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanyanya pada sang suami.
"Seperti biasa, sedikit melelahkan!"
"Kalau begitu istirahatlah, jangan memijatku lagi!"
"Melihatmu semua lelahku hilang!" jawab Luke seraya menatap wajah sang istri yang kini terlihat cubby.
"Dasar gombal!" sahut Jovanka dengan wajah bersemu merah, meski sudah sering mendengarnya namun dia tetap saja tersipu setiap kali Luke mengatakan jika melihatnya membuat lelah sang suami hilang.
.
.
Bagi Jovanka, menjadi seorang istri adalah hal yang menyenangkan. Wanita yang dulunya tidak bisa bangun pagi kini mulai terbiasa bangun lebih awal karena dia akan menyiapkan keperluan Luke sebelum berangkat bekerja. Meski tak bisa memasak, namun Jovanka selalu memperhatikan asupan yang masuk ke dalam tubuh suaminya. Dia akan membuat list makanan dan memberikannya kepada sang asisten rumah tangga.
"Sayang nanti aku akan pulang telat, jangan menungguku dan tidurlah lebih awal," pesan Luke seraya mengecup kening istrinya.
"Ya. Hati-hati di jalan Luke!"
Jovanka mengantar Luke sampai ke depan rumah, namun saat Luke akan naik ke mobilnya tiba-tiba Jovanka merasa ada yang aneh di perutnya, Jovanka juga merasa ada yang basah keluar dari pangkal pahanya.
"Momy, aunty ngompol," teriak Abel yang melihat air keluar dari pangkal paha Jovanka.
Luke dan Frey terkejut mendengar teriakan Abel, keduanya segera menghampiri Jovanka yang masih berdiri sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Luke, sepertinya dia akan melahirkan," ucap Frey panik.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Luke lalu membantu Jovanka masuk ke dalam mobil. "Frey tolong semua perlengkapan melahirkan sudah ada di kamar bayi, tolong bawa itu dan susul kami ke rumah sakit!" pesan Luke sebelum dia masuk ke dalam mobil.
"Baik Luke. Hati-hati di jalan!"
Luke memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, dia khawatir Jovanka akan melahirkan di mobil karena air ketubannya sudah pecah.
"Sakit sekali Luke," erang Jovanka seraya memegangi perutnya. Keringat mulai membanjiri tubuh Jovanka.
"Bertanlah sayang, kita akan segera sampai di rumah sakit!"
"Arggh, sakit!" Jovanka berteriak tak karuan, untung saja Luke bisa bersikap tenang sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.
Luke menggendong Jovanka keluar dari mobil, dia berlari membawa Jovanka masuk ke dalam UGD rumah sakit. "Istri saya akan melahirkan, air ketubannya sudah pecah sekitar sepuluh menit yang lalu," jelas Luke secara rinci.
"Cepat bawa ke ruang bersalin!"
Luke membaringkan tubuh Jovanka di atas brankar, beberapa perawat mendorong brankar tersebut dan membawanya ke ruang bersalin.
Jovanka meremas tangan Luke saat dia kembali merasakan gelombang kontraksi. "Sakit Luke. Aku tidak mau hamil lagi! Rasanya sangat menyakitkan!" Jovanka berteriak karena rasa sakitnya memang begitu dahsyat.
"Pembukaannya sudah lengkap. Ikuti instruksi saya nyonya!" ucap bidan yang membantu persalinan Jovanka. "Atur nafas, mengejan sekarang!"
Jovanka mulai mengejan dan berjuang melahirkan bayinya. Sementara itu Luke tak bisa menahan air matanya, dia tidak tega melihat Jovanka kesakitan. Erangan sang istri membuat hatinya teriris. Sama seperti Jovanka, rasanya Luke tidak akan menyuruh Jovanka untuk mengandung lagi. Dia tidak sanggup melihat perjuangan istrinya saat melahirkan.
Jovanka mengatur nafasnya yang terengah-engah, saat dia kembali mengejan tanpa sadar dia mencengkeram tangan Luke hingga meninggalkan luka di sana. Namun Luke tak perduli, rasa sakit yang dia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit yang tengah Jovanka rasakan.
Oek...oek...oek...
Suara tangis bayi menggema di ruangan tersebut. Luke bisa bernafas lega karena bayinya sudah lahir. Sementara itu Jovanka menangis mendengar suara bayi yang baru saja dia lahirkan. Semua kesakitannya seolah hilang bersamaan dengan tangisan bayinya.
"Selamat tuan, nyonya. Bayi anda laki-laki," ucap bidan sambil menunjukan bayi merah itu kepada kedua orang tuanya.
"Luke, lihat bayi kita!" Jovanka kembali menangis saat melihat bayinya untuk yang pertama kali.
"Terima kasih sayang, terima kasih karena sudah berjuang melahirkan anak kita ke dunia ini," ucap Luke dengan tulus, pria itu lalu mengecup kening istrinya seraya menitikan air matanya.
__ADS_1
Setelah bayinya di bersihkan, bidan membantu Jovanka agar melakukan Inisiasi Menyusui Dini. Bayi mungil tersebut di letakan di atas tubuh Jovanka sehingga wanita itu bisa menyentuh tubuh bayinya secara langsung.
"Luke, dia sangat mirip denganmu," ucap Jovanka seraya menatap bayi mungil yang ada di atas dadanya.
"Lihat Jov, matanya biru sama sepertimu!" sahut Luke dengan mata berbinar, sungguh hal yang sangat membahagiakan bisa melihat bayinya secara langsung.
"Dia kombinasi antara aku dan dirimu Luke!"
Luke tersenyum bahagia, tak henti-hentinya kecupan dia berikan di kening istrinya sebagai tanda terima kasih yang teramat dalam.
Beberapa jam kemudian Jovanka sudah di pindahkan ke bangsal dan anggota keluarganya sudah bisa menjenguknya. Karena kondisi bayinya sehat, bayi mungil itupun sudah berada di kamar yang sama bersama Jovanka.
"Astaga, dia sangat lucu," puji Frey dengan gemas.
"Apa kau mau lagi Love? Sepertinya Abel sudah cocok menjadi kakak," ucap Josh penuh harap.
"Tidak untuk sekarang tuan Josh!" tolak Jovanka dengan cepat.
"Kenapa Frey, bukankah lebih banyak maka rumah lebih ramai," sahut Jo mendukung saudara kembarnya.
"Kau pikir hamil dan melahirkan itu tidak sakit apa?" celetuk Anne.
"Benar kak, aku saja kapok mau hamil lagi," ujar Jovanka menimpali.
"Tidak boleg bicara seperti itu. Dulu momy saat baru melahirkan Jo dan Josh juga tidak mau hamil lagi. Tapi setelah mereka besar momy memutuskan untuk hamil dan hadirlah dirimu yang cantik ini Jov," Katherine menimpali keresahan anak dan menantunya.
"Frey juga mau lagi mom, tapi kasian Abel masih kecil. Setidaknya tunggu Abel berusia lima atau enam tahun!"
"Masih lama dong Love!" keluh Josh.
"Memangnya kau tidak kasian pada Abel, dia masih terlalu kecil untuk memiliki adik!" sungut Frey.
"Baiklah lima tahun lagi. Yang terpenting jatahku aman tiap hari!" bisik Josh
"Dasar mesyumm!!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1