My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Bucin rasa micin


__ADS_3

Canggung, itulah yang Jovanka rasakan saat dia dan Luke berada di dalam mobil. Keduanya hendak pergi ke mall membeli kado untuk baby Van, beberapa hari terakhir Jovanka sangat sibuk sehingga tidak sempat membelikan hadiah kepada keponakannya itu.


Selama perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Jovanka kerap curi-curi pandang ke arah Luke. Sejak kejadian kiss scene beberapa hari yang lalu Luke bersikap biasa saja seolah tak terjadi apapun di antara mereka, sementara Jovanka merasa gugup setiap kali berdekatan dengan Luke, bayangan saat Luke melumaaat bibirnya masih sangat terasa membuat wanita cantik itu kerap meremang setiap kali membayangkannya.


"Sial, kenapa cuma aku yang gugup. Dasar pejantan tak berperasaan," gumam Jovanka kesal dan tentunya hanya terucap di dalam hati, tidak mungkin kan dia mengucapkan secara langsung, bisa jatuh harga dirinya jika dia mengatakan gugup dan ingin mengulangi adegan kiss scene lagi.


"Kita sudah sampai nona," ucap Luke setelah dia memarkirkan mobil di basement mall, pria itu menoleh dan memperhatikan Jovanka yang sedang melamun. "Nona, kita sudah sampai!" ulang Luke dengan suara yang lebih keras, namun karena Jovanka masih larut dalam khayalannya, Luke terpaksa mengguncang lengan Jovanka. "Nona!"


"Dasar tidak berperasaan," celetuk Jovanka tanpa sadar, melihat wajah terkejut Luke, wanita itu segera membekap mulutnya, bisa-bisanya mulutnya tidak bisa di rem.


"Siapa yang tidak berperasaan nona?" tanya Luke dengan kening mengkerut, oh ayolah dia sangat tidak peka.


"Bukan siapa-siapa. Ayo turun!" ajak Jovanka dengan kesal, dia segera turun dari mobil sebelum Luke melihat wajahnya yang memerah karena malu.


Jovanka berjalan menuju toko perlenglapan bayi dan Luke mengekorinya di belakang. Jovanka mengelilingi toko bayi tersebut, wanita itu di buat bingung harus membelikan hadiah apa untuk keponakannya karena terlalu banyak barang yang ingin dia beli.


"Kenapa nona?" tanya Luke saat melihat Jovanka terlihat kebingungan.


"Aku bingung mau beli apa Luke," jawabnya seraya menatap box bayi berwarna merah muda dengan renda berwarna putih, sangat menggemaskan.


"Tuan muda Van pasti sudah memiliki box bayi, anda bisa membelikan yang lain," tanpa Jovanka mengatakan apapun, Luke tau jika majikannya itu mengidapkan box bayi berwarna merah muda itu.


"Aku ingin membelinya untuk calon anakku," celetuk Jovanka tanpa berkedip sedikitpun, aneh memang namun dia sudah membayangkan memiliki putri kecil yang menggemaskan seperti Abel.


"Mungkin anda harus menikah dulu sebelum membelinya," jawab Luke memberi saran.


Jovanka memutar tubuhnya sehingga dia dan Luke saling berhadapan. "Apa kau mau menikahiku?" tanyanya dengan wajah serius. Luke menelan ludahnya dengan kasar, bagaimana bisa Jovanka bercanda dengan wajah serius.

__ADS_1


"Tidak!" tolak Luke dengan cepat.


"Kenapa Luke?"


"Anda bukan tipe saya!" jawab Luke dengan konsisten, dua kali Jovanka mengutarakan perasaannya dan jawaban Luke selalu sama.


Jovanka memutar bola matanya jengah, muak sekali mendengar jawaban Luke yang tidak bervariatif. "Jangan begitu Luke, suatu saat aku yakin kau akan bucin padaku," ucap Jovanka penuh percaya diri.


"Bucin? Apa itu?" tanya Luke dengan alis hampir bertaut, dia sungguh kurang paham dengan bahaya gaul anak jaman sekarang.


"Penyedap masakan," jawab Jovanka kesal, wanita itu lalu pergi meninggalkan Luke yang sedang berusaha mencerna ucapannya.


"Nona itu micin!" teriak Luke tanpa sadar, pria itu seketika menjadi pusat perhatian, apalagi perawakannya yang tinggi besar dan wajah yang rupawan membuat para pengunjung menatap Luke dengan takjub. Luke segera pergi mengikuti majikannya, dia paling tidak suka menjadi pusat perhatian.


Jovanka dan Luke sudah berada di villa keluarga Zantman, Jovanka berdiri sambil mengamati Luke yang sedang mondar-mandir mengangkut mainan yang di beli oleh Jovanka untuk keponakannya.


Anne yang sedang menimang baby Van hanya bisa diam dan terperangah melihat ruang tamunya di penuhi oleh mainan.


"Tentu saja adikmu yang cantik itu Jo," jawab Anne seraya menunjuk Jovanka yang tengah tersenyum pongah menyombongkan betapa banyaknya dia membelikan hadiah untuk sang keponakan.


Jonathan segera menghampiri adiknya dengan kesal, bukan tidak berterima kasih hanya saja mainan yang di belikan Jovanka sangat banyak. "Apa yang kau lakukan Jov? Kalau mau buka taman bermain jangan di rumahku!" ucap Jonathan dengan tangan berkacak pinggang.


"Aish, kau ini kak, bukannya berterima kasih tapi malah marah-marah," jawab Jovanka kesal.


"Bagaimana aku tidak marah kau membeli banyak sekali mainan. Astaga, mau di taruh di mana mobil dan motor serta kereta itu. Dan lagi, ayunan sebesar itu seharusnya kau taruh di taman bukan di rumahku!"


"Oh my god, kau kan bisa membuatkan taman bermain untuk anakmu kak. Seharusnya kau bangga memiliki adik yang menyayangi keponakannya!" bukan Jovanka namanya jika dia mengalah begitu saja, meski dia tau apa yang dia beli sangat berlebihan.

__ADS_1


"Sudahlah Jo, terima saja niat Jovanka. Ibu akan menyuruh beberapa orang membuat taman bermain untuk Van," sela Maggie Zantaman yang baru saja datang, wanita tua itu awalnya terkejut namun dia tau jika niat Jovanka hanya ingin memberi hadiah untuk keponakannya.


"Dengar kak, oma saja tidak keberatan. Kau saja yang berlebihan!' sahut Jovanka, dia merasa di atas angin karena mendapat dukungan dari Maggie Zantman.


Mau tidak mau Jonathan harus mengalah, dengan bantuan Luke dan beberapa pelayan mereka memindahkan mainan tersebut ke gudang karena mereka belum memiliki ruangan khusus untuk Van bermain. Ayolah, Van belum genap berusia satu tahun mana mungkin dia bisa memainkan mobil dan motor mainan sebesar itu.


Maggie menghampiri Jovanka dan menyuruh gadis itu duduk. "Bagaimana kabarmu Jov? Lama sekali oma tidak melihatmu?" tanya Maggie setelah keduanya duduk bersebelahan.


"Aku baik oma. Bagaimana dengan oma?" jawab Jovanka ramah.


"Oma juga baik!"


"Syukurlah. Maaf ya oma, aku jarang datang karena sedang sibuk syuting!"


"Ya oma tau, oma ikut senang. Semoga film pertamamu booming dan kau semakin terkenal," Maggie menepuk punggung tangan Jovanka sambil tersenyum, terlepas hubungan mereka di masa lalu, kini Maggie dan Jovanka sudah seperti nenek dan cucu kandung. Jovanka sering datang ke vila dan menghibur Maggie saat Frey dan Josh memutuskan pergi ke Paris.


"Terima kasih oma. Apa oma mau tanda tanganku sekarang. Nanti kalau aku terkenal akan sangat susah meminta tanda tanganku oma," kelakar Jovanka.


Maggie Zantman terkekeh, dia sangat menyukai sifat Jovanka yang begitu ceria dan menghibur. Untuk itu Maggie sedikit khawatir saat Andrew memberi tahunya mengenai Luke. Maggie tidak ingin Jovanka terluka dan keceriaannya menghilang.


"Bagaimana hubunganmu dengan pria itu Jov? Maaf oma lancang, tidak bisakah kau mencari pria lain!"


Jovanka terdiam sejenak, wanita itu lalu menggenggam tangan Maggie Zantman dan menatapnya dengan lembut. "Jov tau oma khawatir padaku. Tapi oma tenang saja, aku tau mana yang baik dan tidak untukku oma. Jovanka akan baik-baik saja! Percayalah!"


BERSAMBUNG...


Hallo gays, maaf kemarin nggak up karena komplek rumah aku kebanjiran, malam-malam sibuk jaga air takut masuk rumah...

__ADS_1


Mulai hari ini aku bakal up tiap hari..


Happy reading all❤️❤️


__ADS_2