
"Luke!" teriak Jovanka dengan jafas terengah-engah, wanita hamil itu terbangun ketika bermimpi suaminya tertembak dan meninggal dunia tepat di depan matanya.
"Jov, kau sudah bangun nak?" tanya Katherine dengan cemas.
"Dimana Luke mom?" Jovanka bertanya dengan nafas memburu, wanita itu menatap sekeliling ruangan yang tampak asing baginya.
"Luke ada di rumah sakit ini, momy akan mengantarkanmu ke sana setelah infusmu habis!" ujar Katherine seraya mengusap kepala putrinya.
"Tidak mom, aku harus bertemu Luke sekarang!"
"Jov, suamimu pasti sedih melihat wajahmu pucat begini. Dengarkan momy sekali ini saja, habiskan infusmu baru setelah ini kita temui Luke!"
Katherine lalu menghubungi dokter, mereka terpaksa memberikan obat tidur dalam dosis kecil kepada Jovanka karena wanita itu terus bersikeras untuk menemui suaminya.
Jovanka tidur sangat lama, sudah hampir lima jam dan wanita hamil itu masih terlelap. Katherine bisa memakluminya karena semenjak Luke pergi Jovanka sangat sulit tidur karena merasa cemas setiap saat.
Larut malam Jovanka terbangun karena merasa haus, dia bangun dan melihat Katherine tidur di sofa di temani Josh. Jovanka memeriksa tangannya, beruntungnya infusnya sudah di lepas sehingga dia bebas bergerak. Jovanka turun dari ranjang, dia lalu minum untuk menghilangkan dahaganya.
Diam-diam Jovanka keluar dari kamarnya, dia ingat sebelumnya Katherine mengatakan jika Luke juga di rawat di rumah sakit yang sama. Jovanka turun ke lobby, namun dia tak menemukan siapapun karena sudah malam. Jovanka lalu bertanya pada perawat yang berjaga.
"Maaf sus, apa anda tau dimana Lucas Robbert Anderson di rawat?"
__ADS_1
"Maaf nyonya saya tidak tau, sebaiknya anda datang lagi besok dan bertanya pada bagian informasi!"
"Tolong sus, saya istrinya dan saya baru datang dari luar negeri. Suami saya di rawat di sini karena luka tembak!"
"Oh, pasien dengan tembak?"
"Benar sus!"
"Pasien masih berada di ruang ICU!"
"Terima kasih banyak sus!"
Jovanka mencari dimana keberadaan ruang ICU karena dia lupa bertanya kepada perawat yang dia temui. Setelah berkeliling, Jovanka melihat Andrew duduk di depan sebuah ruangan. Jovanka segera menghampiri Andrew.
"Nona, kapan anda bangun?" Andrew begitu terkejut melihat Jovanka, apalagi Jovanka masih memakai baju rumah sakit dan tidak mengenakan alas kaki.
"Dimana Luke?" ulang Jovanka.
"Dia ada di dalam. Duduklah dulu, saya akan meminta izin pada dokter agar anda bisa masuk!"
Setelah Jovanka duduk, Andrew pergi ke ruangan dimana Jovanka di rawat untuk mengambil alas kaki, Andrew melakukannya dengan sangat hati-hati agar Josh dan Katherine tidak bangun. Setelah itu Andrew meminta izin pada dokter jaga agar Jovanka di perbolehkan menemui suaminya.
__ADS_1
Jovanka langsung berdiri saat melihat Andrew datang. "Bagaimana, aku boleh masuk kan?" tanyanya tak sabar.
"Boleh, tapi pakai sandal anda dulu nona!"
Setelah memakai alas kaki dan baju khusus, Jovanka akhirnya di perbolehkan masuk ke dalam ruang ICU. Begitu masuk, Jovanka membeku di depan pintu. Di ruangan yang dingin itu, Luke terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai macam alat penunjang hidup yang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang tampan terlihat begitu pucat dengan beberapa bekas luka lebam.
Hati Jovanka begitu teriris, dengan langkah gontai wanita itu berjalan menghampiri suaminya. Sekuat tenaga Jovanka menahan air matanya karena dia tau Luke sangat benci melihatnya menangis. Jovanka duduk di sebelah tempat tidur Luke, dia meraih tangan suaminya yang tak sehangat biasanya. Jovanka menggenggam tangan itu dengan erat, dia lalu mencium tangan Luke penuh kasih sayang.
"Hay, aku datang," ucapnya dengan suara tertahan. "Aku tau kau pasti lelah, kau pasti ingin beristirahat. Tapi tolong jangan terlalu lama, segera buka matamu karena aku sangat merindukanmu!"
"Cepatlah bangun Luke, bukankah kau berjanji akan membelikan oncom goreng untukku? Aku sangat ingin memakannya sekarang Luke, kau tidak mau anak kita ileran kan?"
Jovanka tidak tahan lagi, dia melepaskan tangan suaminya dan segera keluar dari ruangan tersebut. Begitu keluar Jovanka langsung menangis, bahunya naik turun seirama dengan suara isak tangisnya, tubuhnya melorot, wanita hamil itu terduduk di lantai. Salah satu tangannya memukul dadanya yang terasa sesak. Rasanya dia hampir mati melihat suaminya terkapar tak berdaya.
Andrew hanya diam dan menemani Jovanka mengeluarkan kesedihannya. Tak lama setelah itu Katherine dan Josh datang setelah mereka sadar Jovanka pergi dai kamarnya.
Katherine ikut menangis melihat putrinya begitu menyedihkan, wanita yang selalu tertawa dan bersikap konyol kini menunjukan kelemahannya. Jovanka rapuh, Jovanka hancur, Jovanka bukan apa-apa lagi tanpa adanya seorang Luke.
Sebagai seorang kakak, Josh merasa bersalah karena gagal melindungi Luke. Josh lalu menghampiri Jovanka dan memeluknya dengan erat.
"Menangislah!" ucap Josh dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak akan menyuruh Jovanka untuk bersabar karena Josh sendiri tau bagaimana rasanya menjadi Jovanka. Josh ingat bagaimana rasa sakitnya saat dia melihat Frey terbaring tak berdaya, saat itu Josh merasa hidupnya berakhir.
__ADS_1
"Menangislah. Setelah itu kuatkan dirimu dan yakinlah jika Luke akan baik-baik saja!"
BERSAMBUNG...