My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Tawaran bagus


__ADS_3

Dalam misi mengembalikan kepercayaan sang istri, Luke melibatkan Frey dan Katherine untuk membantunya membujuk Jovanka. Sudah dua hari sejak Jovanka marah, wanita hamil itu benar-benar menghindari Luke meski mereka tinggal di bawah atap yang sama, dan yang lebih mengenaskan lagi Luke harus tinggal di kamar yang dia tempati saat dia menjadi bodyguard karena Jovanka selalu mengunci pintu kamarnya, benar-benar apes nasib Luke.


Sesuai rencana yang di usulkan oleh Freesia, Luke akan mencoba merayu Jovanka dengan makanan. Untungnya dia sedikit bisa memasak dan pagi ini dia menyiapkan nasi goreng untuk semua anggota keluarganya dan di khususkan untuk sang istri.


Waktu sarapan telah tiba, Luke bersembunyi di dapur sambil mengintip ke ruang makan, dia berharap Jovanka menyukai masakannya dan hatinya tersentuh. Luke tersenyum melihat Jovanka mulai memakan nasi goreng buatannya.


"Bagaimana rasanya Jov?" tanya Frey seraya menatap adik iparnya.


"Lumayan. Tapi rasanya tidak seperti biasanya," jawab Jovanka.


"Ah, itu karena Luke yang memasak pagi ini. Rupanya dia pantai memasak," ucap Katherine seraya memberi pujian pada menantunya. Demi mendamaikan anak dan menantunya, Katherine rela menginap di mansion itu dan tinggal satu atap bersama mantan suaminya.


Jovanka meletakan sendoknya, dia lalu menghabiskan minumannya dan beranjak dari duduknya. "Aku sudah kenyang!" ucapnya lalu kembali ke kamar dan mengunci pintu.


Setelah Jovanka pergi, Luke keluar dari persembunyiannya dan bergabung dengan anggota keluarganya. Pria itu duduk dengan lesu.


"Sabar Luke, ini baru permulaan," ujar Frey prihatin.


"Iya, aku akan sabar!"


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Jimmy mengalihkan topik pembicaraan mereka, pria itu tau masalah yang menimpa rumah tangga putrinya tapi memilih tidak berkomentar karena sudah bukan ranahnya lagi.


"Sejauh ini lancar dad!"


"Bagus. Fokuslah belajar, aku sudah lelah dan ingin secepatnya istirahat. Hanya kau satu-satunya yang bisa aku andalkan!"

__ADS_1


"Baik dad!"


Saat jam istirahat kantor, Luke bertemu dengan Mister Serkan di sebuah cafe yang tak jauh dari kantornya. Mereka sengaja bertemu untuk membahas kelanjutan novel After Darkness yang akan di buat mini series oleh perusahaan produksi milik Mister Serkan.


"Jadi bagaimana, apa kau setuju? Filmya sangat sukses dan banyak yang mengirim email agar novelmu di buatkan mini series?" tanya Mister Serkan tanpa basa-basi.


"Aku harus mendiskusikannya dengan Jovanka!" jawab Luke dengan wajah muram.


"Dia sudah tau?" tebak Mister Serkan tepat sasaran.


"Ya dan dia sedang marah!"


"Sudah ku bilang sejak awal, lebih baik kau jujur!"


"Bicarakan ini dengan istrimu. Karena dia sudah tau, bukankah bagus jika kau mengungkap identitasmu? Novelmu sangat di gemari dan aku yakin kau akan sangat terkenal setelah identitasmu di publikasikan! Kali ini dengarkan nasehat dari orang tua sepertiku! Aku pergi dulu!" sebelum pergi, Mister Serkan menepuk pundak Luke untuk memberikan dukungan kepada pria itu. Luke menatap kepergian Mister Serkan, dia kembali teringat bagaimana dia bisa mengenal produser sehebat Mister Serkan.


Beberapa tahun yang lalu, Luke pernah bekerja di sebuah tempat cuci mobil. Di sanalah di bertemu dengan Mister Serkan untuk yang pertama kalinya. Waktu itu tempat cuci mobil hampir tutup dan Mister Serkan datang untuk mencuci mobilnya, karena merasa kasihan akhirnya Luke mencuci mobil Mister Serkan. Namun tiba-tiba Mister Serkan pingsan dan Luke membawanya ke rumah sakit. Sejak saat itu Mister Serkan selalu datang untuk mencuci mobilnya di tempat Luke bekerja. Hingga saat Luke kehilangan pekerjaannya karena suatu masalah, Mister Serkanlah yang membantu Luke bekerja sebagai pengawal di tempat Danish. Hubungan mereka berjalan dengan baik sampai suatu hari Luke berencana menerbitkan bukunya. Dengan senang hati Mister Serkan mengenalkan Luke pada seorang editor dan novel After Darkness berhasil cetak.


Saat novelnya menjadi best seller, Mister Serkan menawarkan bekerja sama. Rumah produksi Mister Serkan akan memfilmkan novel After Darkness. Awalnya Luke menolak, namun tiba-tib dia teringat dengan Jovanka dan menyetujui tawaran Mister Serkan dengan syarat Jovankalah yang harus menjadi pemeran utama.


Awalnya Mister Serkan ragu mengingat Jovanka adalah seorang model yang belum memiliki pengalaman akting, namun Luke berhasil membujuk Mister Serkan hingga akhirnya film tersebut sukses di pasaran.


Hari ini Luke pulang telat karena dia harus lembur. Saat perjalanan pulang dia melihat gerobak penjual gorengan yang mangkal di pinggir jalan. Luke menepikan mobilnya saat mengingat jika Jovanka sangat menyukai oncom goreng. Luke turun dari mobil dan membeli oncom goreng favorit istrinya.


Pukul sepuluh malam Luke belum juga sampai, Jovanka menunggu Luke dengan cemas. Meski dia sedang marah namun dia tetap mengkhawatirkan suaminya. Jovanka bernafas lega saat melihat mobil Luke datang, Jovanka bergegas masuk ke dalam kamar karena tidak ingin Luke melihatnya sedang menunggu kepulangan suaminya.

__ADS_1


Mansion sudah sangat sepi, Luke naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar istrinya. "Sayang, aku belikan oncom goreng dan es cekek kesukaanmu," ucap Luke setengah berteriak. "Aku letakan di depan pintu ya!" sambungnya lagi karena tak ada sahutan dari Jovanka.


(Es Cekek\= Minuman dingin yang di taruh di plastik kiloan bening di kasih sedotan terus di pegangnya kek di cekik gitu🤣🤣🤣)


Luke lalu kembali ke kamarnya karena seharian ini otak dan tenaganya terkuras habis di tempat kerja. Meski memiliki masalah dengan Jovanka, dia tetap fokus pada pekerjaannya dan belajar dengan giat agar dia bisa mengemban amanah yang berikan Jimmy kepadanya.


Setelah membesihkan diri, Luke membuka laptopnya dan mencoba menulis kelanjutan novel After Darkness. Dia juga mulai memikirkan saran dari Mister Serkan untuk mempublish identitasnya. Dan sebelum hal itu terjadi, dia harus berdiskusi dengan Jovanka. Karena tak bisa menemui sang istri, Luke berniat mengirim pesan pada Jovanka.


"Kau sudah tidur?"


"Sayang, tadi aku bertemu Mister Serkan. Dia menawariku agar novelku di buat mini series. Bagaimana menurutmu? Dia juga memintaku untuk mempublish identitasku?"


Luke kambali menaruh ponselnya karena pesannya tak di baca oleh Jovanka.


Sementara itu, Jovanka membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, setelah merasa aman dia mengambil kantung plastik berisi oncom goreng kesukaannya.


Mata Jovanka berbinar saat dia membuka kantung plastik, oncom goreng yang masih hangat di makan dengan cabai rawit rasanya sangat nikmat dan untuk mengobati rasa pedasnya Jovanka minum es cekek rasa jeruk yang juga menjadi favoritnya.


"Ah, kenyang sekali," gumamnya seraya mengusap perutnya yang buncit.


Sebelum tidur, Jovanka memeriksa ponselnya. Dia lalu membaca pesan yang Luke kirim. Jauh di lubuk hatinya dia merasa senang karena suaminya mendapat tawaran yang bagus, namun karena kekesalannya belum juga hilang jadi dia enggan berkomentar apapun.


"Terserah kau saja!!!


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2