My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Keras kepala


__ADS_3

Katherine dan Jimmy mengumpulkan keluarga mereka untuk makam malam bersama. Jerry yang datang bersama istrinya merasa bingung karena tiba-tiba sang kakak mengundang makan malam bersama meski tak ada acara peringatan apapun. Begitupun dengan Jonathan dan Anne, keduanya datang bersama Van dan Maggie memenuhi undangan Katherine.


Jovanka dan Luke yang baru saja pulang juga sedikit terkejut melihat anggota keluarga mereka berkumpul, Jovanka menghampiri Frey yang sedang menyiapkan makan malam karena penasaran ada acara apa di rumah besar tersebut.


"Tumben mereka datang, ada acara apa Frey?" tanya Jovanka penasaran.


Frey mengangkat kedua bahunya karena dia sendiri juga tidak tau kenapa Katherine ingin makan malam bersama. "Aku juga tidak tau!"


Setelah makan malam siap, semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Seperti tradisi sebelumnya, tidak ada yang boleh bersuara saat mereka sedang makan.


Setelah makan malam selesai, mereka masih berkumpul di meja makan karena Katherine melarang mereka beranjak.


"Ada apa sebenarnya mom?" tanya Josh mewakili rasa penasaran semua orang.


"Begini Josh. Momy dan dady berencana untuk rujuk," ucap Katĥerine sedikit ragu.


Uhuk...uhukk...


Jovanka tersedak minumannya, wanita itu begitu terkejut mendengar ucapan sang momy. "What? Rujuk?" pekiknya seraya menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Ya. Dady ingin kembali bersama momy mu lagi!" kali ini Jimmy yang menjawab.


"No, aku tidak setuju!" ujar Jovanka dengan tegas, semua orang kini menatap Jovanka.


"Kenapa Jov. Bukankah bagus jika mereka kembali bersama," sahut Jonathan.


"Jo, kau tidak lupa bagaimana dady menghancurkan momy dan keluarga ini kan? Kalian tidak lupa itu kan. I mean, aku memaafkan dady, tapi aku tidak setuju jika momy dan dady rujuk. Aku tidak mau momy tersakiti lagi!" jelas Jovanka dengan emosional.


"Jov, itu masa lalu. Aku rasa dady sudah berubah," timpal Josh yang juga ikut setuju jika kedua orang tua mereka bersama kembali.


"Aku tetap tidak setuju!" tegas Jovanka dengan lugas, wanita itu beranjak dari duduknya dan pergi tanpa permisi.


Luke yang duduk di samping Jovanka pun ikut berdiri. "Aku akan bicara dengannya," ucap Luke lalu menyusul Jovanka ke kamar.


Luke menghampiri Jovanka yang sedang membereskan mainan JV, pria itu duduk di samping istrinya dan ikut menata mainan sang putra.


"Jangan katakan apapun Luke, aku tetap tidak setuju," ucap Jovanka bahkan sebelum Luke mengatakan apapun.


"Aku tau kau tidak ingin momy terluka lagi. Tapi apa kau tidak melihat sorot bahagiia di mata momy saat dia mengatakan ingin rujuk?"


Jovanka menghentikan aktivitasnya, wanita itu lalu menatap wajah suaminya tajam. "Luke, kau bahkan tidak tau sedalam apa luka yang dady torehkan di hati momy dan hati kami semua!" ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Ya aku memang tidak tau Jov. Tapi aku melihat kesungguhan dady untuk menebus kesalahannya. Kau tau, dady sengaja pensiun lebih awal karena ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucunya. Dia ingin menebus semuanya!" Luke meraih tangan Jovanka dan menggenggamnya dengan penuh kasih. "Sama seperti kau yang memaafkanku dan memberiku kesempatan kedua, momy pasti juga ingin memberi kesempatan kedua pada dady Jov. Pikirkan baik-baik sayang!" Luke lalu membiarkan Jovanka untuk berpikir, pria itu bergabung bersama keluarganya di lantai bawah.


"Bagaimana?" tanya Josh memastikan.


"Dia sangat keras kepala," bisik Luke.


"Biarkan saja, dia pasti butuh waktu!"


Jovanka merenungi ucapan Luke sepanjang malam, dia sampai tak bisa tidur memikirkan kedua orang tuanya. Karena matanya enggan terpejam, Jovanka memutuskan untuk ke kamar JV dan memeriksa kondisi putranya. Dari kejauhan samar-samar Jovanka mendengar sebuah suara dari kamar JV. Pintu kamar JV tidak tertutup sempurna sehingga Jovanka bisa mengintip dari celah pintu. Rupanya di dalam kamar JV ada Katherine dan Jimmy, baby JV juga terlihat belum tidur dan sedang bermain dengan kakek dan neneknya.


"JV, kenapa kau terbangun malam-malam begini nak?" tanya Jimmy seraya mengusap kepala cucunya.


"Dia mirip ibunya. Siang selalu tidur, sedangkan malam selalu mengajak begadang dan bermain," sahut Katherine sambil tersenyum. Dia merasa kembali ke masa lalu saat Jovanka masih kecil.


"Kau benar. Dia selalu menangis dan minta di temani bermain saat aku pulang kerja," sambung Jimmy.


"Jim," panggil Katherine pelan.


"Ya!"


"Bagaimana kalau Jovanka tetap tidak setuju?" Katherine terdengar sedih.


"Maka kita harus menghormati keputusannya. Mungkin ini hukuman untukku karena mengecewakan kalian. Asal kau dan anak-anak bahagia, aku akan bahagia juga!" jawab Jimmy dengan bijak, dia tak mau jika memaksa Jovanka untuk merestui mereka bersama lagi.


Jovanka pelan-pelan menjauh, dia merasa bersalah setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya. Dia merasa egois karena tidak memikirkan perasaan Kartherine. Jovanka lalu kembali ke kamarnya, dia kembali naik ke atas tempat tidur.


"Kau dari mana?" tanya Luke dengan suara serak, dia terbangun karena merasakan pergerakan Jovanka.


"Melihat JV," jawab Jovanka jujur.


"Apa dia bangun?"


Jovanka mengangguk. "Hem. Dia sedang main bersama kakek dan neneknya!"


"Dady masih di sini?" Luke menatap istrinya yang tampak gusar.


"Hem!"


"Lalu kenapa kau terlihat gelisah?"


Jovanka membalas tatapan sang suami. "Apa aku egois karena tidak mengizinkan mereka kembali bersama?"

__ADS_1


Luke mengusap wajah Jovanka dengan pelan. "Aku tidak bisa menilaimu karena aku tidak merasakan kesakitan yang kau rasakan saat dady mengkhianati kalian!" jawaban Luke malah membuat Jovanka semakin gusar. "Jika kau merasa kau egois, maka hilangkan sifat itu dan cobalah mengerti perasaan orang lain!"


"Entahlah, aku pusing!" Jovanka memilih mengakhiri percakapan, wanita itu memeluk tubuh suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.


"Demi kebahagiaan mereka, pikirkan hal ini baik-baik sayang!"


Keesokan harinya, Jovanka bangun lebih awal karena dia ada syuting pagi. Setelah menyiapkan keperluan Luke, dia turun ke dapur dan melihat Katherine sedang membantu asisten rumah tangga mereka menyiapkan sarapan.


"Morning Jov," sapa Katherine dengan lembut.


"Morning mom," jawab Jovanka dengan senyum. "Bi, tolong buatkan bekal untukku ya. Aku tidak sempat sarapan hari ini!" ucap Jovanka kepada asisten rumag tangganya.


"Kau ada syuting pagi?" tebak Katherine tepat sasaran..


"Ya mom. Titip JV lagi ya mom, maaf merepotkan momy!"


"Tidak repot, momy malah senang. Hari ini dady berencana mengajak JV, Abel dan Van ke taman hiburan, apa JV boleh ikut?"


"Dady?" ulang Jovanka.


"Hem. Kau jangan salah paham. Frey dan Anne juga ikut kok!"


"Baiklah mom!"


"Ini kotak bekalnya non!"


"Terima kasih bi!" Jovanka meraih kotak bekal tersebut. Sebelum pergi dia berpamitan kepada momy nya. "Jov mungkin pulang malam mom, tolong jaga JV mom!"


"Kau tenang saja, JV aman bersama momy!"


Jovanka merasa lega meski harus meninggalkan JV seharian. Tiba-tiba Jovanka teringat dengan nasihat Luke untuk menghilangkan sikap egoisnya.


"Mom, apa kau mencintai dady?" tanya Jovanka tiba-tiba.


""Kenapa kau bertanya seperti itu Jov?"


"Aku hanya ingin tau? Apa mom masih mencintai dady?"


Katherine mengangguk pelan. "Maaf Jov, momy tau kau mencemaskan momy tapi..."


"Baiklah kalau begitu, aku mengizinkan kalian untuk rujuk!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2