
Semalam suntuk Luke tidak bisa tidur, pria itu memikirkan ancaman Morgan yang akan melukai orang-orang terdekatnya. Luke ingin pergi, namun melihat wajah Jovanka membuatnya berpikir berulang kali, sanggupkah dia meninggalkan wanita yang sangat dia cintai. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, saat ini Luke hanya ingin menghabiskan waktu bersama Jovanka, namun dia juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada orang terkasihnya.
"Aku harus apa Jov?" tanyanya sambil menatap wajah lelah Jovanka, wanita itu terlihat sangat cantik meski sedang tidur.
Luke menatap wajah Jovanka sepanjang malam, hingga alarm ponselnya berbunyi dan dia harus membangunkan Jovanka.
"Jov, bangun!" ucap Luke seraya membelai wajah cantik Jovanka.
Jovanka mulai menggeliat, kelopak matanya mulai bergerak dan perlahan matanya mulai terbuka, bola mat berwarna biru nampak berbinar seiring senyum yang menghiasi wajah cantiknya. "Morning Luke," sapa Jovanka dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Morning. Tidurmu nyeyak?"
Jovanka mengangguk pelan, bukannya bangun dia malah kembali memeluk Luke dan menyembunyikan wajahnya di dada Luke. "Aku tidak ingin bangun," gumamnya tak rela.
"Kalau begitu tidurlah lagi!"
Jovanka menarik wajahnya dan menatap Luke dengan menggoda. "Benarkah? Kalau kita tertangkap bagaimana?"
"Mm, aku akan bilang kau yang menerobos kamarku. Semua orang pasti percaya karena mereka tau kau sangat tergila-gila padaku," goda Luke dengan wajah serius.
"Cih, dasar licik," Jovanka lalu bangun dan duduk sambil bersandar pada headboard, wanita cantik itu sedang mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya kembali. "Oh ya, nanti aku ada fashion show, kau tidak perlu ikut karena aku akan pergi bersama Desy!"
Luke menyusul Jovanka duduk dan memasang wajah kecewa. "Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanyanya kesal.
"Lihat wajahmu itu. Orang-orang akan berpikir aku telah menyiksamu!"
"Aku bisa memakai masker. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri!" Luke tidak setuju, dia benar-benar khawatir membiarkan Jovanka pergi sendiri.
"Oke kau boleh ikut, tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
"Kiss me," ujar Jovanka seraya memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Luke terkekeh, namun bukan persyaratan sulit baginya. Tanpa di mintapun dia selalu siap mencium bibir ranum itu.
Cup...
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Jovanka, gadis itu tersipu karena Luke melakukannya tanpa aba-aba.
"Jam 7 pagi tunggu aku di depan!" pesan Jovanka, wanita itu lalu turun dari tempat tidur. Luke menyusul Jovanka dan membuka pintu kamarnya, pria itu memeriksa sekeliling dan saat kondisi terkendali dia menyuruh Jovanka untuk keluar. Jovanka berjalan mengendap-endap, dia terlihat seperti maling di rumahnya sendiri.
"Bagaimana malammu Jovanka Janzsen?" tanya seseorang yang suaranya sangat Jovanka kenali. Jovanka menegakan tubuhnya, dia memikirkan alasan yang tepat untuk dia berikan kepada kakak iparnya, Freesia. Di ambang pintu kamar, Luke turut menegang melihat Freesia menangkap basah Jovanka yang baru saja keluar dari kamarnya.
Jovanka membalik tubuhnya dan tersenyum seperti orang bodoh. "Hai kakak ipar," ucap Jovanka sambil melambaikan tangannya. "Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanyanya kemudian, perasaan kemarin malam Frey belum ada di mansion kenapa tiba-tiba wanita itu berada di sini.
"Kenapa? Apa aku tidak boleh menginap di sini?" bukannya menjawab, Frey malah kembali bertanya.
"Ah bukan begitu. Aku hanya sedikit terkejut!" kilah Jovanka.
"Apa yang kau lakukan di kamar Luke? Dini hari begini?" selidik Freesia dengan tatapan penuh tanya.
"Ah itu anu mmm. Aku membangunkannya karena kita harus bekerja Frey. Ya, aku harus bekerja!"
"Eh, mm. Ya, karena Luke suka bangun telat!" jawab Jovanka yang semakin gugup dan panik.
Frey menganggukan kepalanya dengan senyum meledek. "Jangan lupa hapus rekaman CCTV nya, bermainlah dengan cantik Jov," bisik Frey di telinga Jovanka, dengan santai wanita itu berjalan melewati adik iparnya dan kembali ke kamarnya.
"Freesia Lovina!" gumam Jovanka kesal karena Freesia berhasil menjahilinya. Namun dia juga merasa lega karena yang memergokinya adalah Frey, dia percaya kakak iparnya itu akan menyimpan rahasianya. Jovanka lalu berlari ke kamarnya sebelum ada yang melihatnya lagi. Sementara Luke bisa bernafas lega karena Frey tak membuat keributan. Dia harus berterima kasih pada Frey nanti.
Setelah sarapan bersama, Frey sengaja membawa Abel keluar, tujuannya tentu saja untuk bicara dengan Luke. Frey dan Abel menghampiri Luke yang sedang memanasi mobil.
"Luke," panggil Frey pelan. Luke menoleh dan menunduk memberi hormat pada nyonya besar mansion Janzsen.
"Ya nyonya!"
"Bisa kita bicara sebentar?"
__ADS_1
Luke mengangguk dan mengikuti Frey ke taman samping. Frey membiarkan Abel bermain sementara dia duduk di kursi taman sambil mengawasi putri kecilnya.
"Duduk Luke!" titah Frey dan Luke tak bisa menolak, pria itu duduk di samping Frey. "Sejak kapan kalian bersama?" tanya Frey tanpa basa-basi.
"Beberapa hari yang lalu," jawab Luke apa adanya. Di dalam mansion utaman, Frey lah yang begitu perduli padanya setelah Jovanka, dia tidak mungkin menutupi hal tersebut dari wanita itu.
"Luke, jujur aku tidak ingin ikut campur. Tapi aku sangat mengkhawatirkan Jovanka. Semoga kau tidak menyalah artikan kecemasan seorang kakak!"
"Saya mengerti nyonya. Saya sangat bersyukur karena Jovanka memiliki orang yang sangat perduli dengannya. Sungguh saya tidak bisa menahan perasaan ini, saya sangat menyukainya!"
"Apa Jovanka sudah tau siapa kau sebenarnya? bagaimana kalau Jovanka terluka karena dirimu?" tanya Frey dengan tatapan serius.
Luke menunduk dan meremas buku-buku jarinya. "Saya..."
"Jovanka sangat naif Luke, tidak bisakah kau meninggalkannya sebelum perasaan kalian semakin jauh. Aku harap kau tak membenciku karena aku mengatakan hal sekejam ini!" Frey beranjak dari duduknya, wanita itu berdiri dan menatap Luke yang terlihat gusar. "Pikirkan baik-baik Luke. Identitasmu saja mungkin akan melukai Jovanka!"
Selama perjalanan menuju tempat fashion show Luke lebih banyak diam dan merenungi nasihat dari Freesia. Dia mengerti alasan Frey melakukan hal itu, hanya saja Luke tak rela berpisah dari Jovanka.
"Kau kenapa?" tanya Jovanka penasaran.
Luke menoleh sekilas dan tersenyum simpul. "Sedang memikirkan makan siang apa yang enak untuk kita makan bersama," jawab Luke bohong.
"Bagaimana dengan Pasta?"
"Sepertinya enak juga!"
Seperti biasa, Luke dengan setia menemani Jovanka bekerja. Luke tak henti-hentinya mengagumi kecantikan Jovanka, wanita itu begitu anggun dan elegan berjalan di atas catwalk.
Luke meraih ponselnya karena sejak tadi berbunyi terus. Dia membuka sebuah pesan dari nomor asing. Luke melebarkan matanya melihat foto-foto Jovanka di atas catwalk. Luke menatap sekeliling, dia melihat salah satu anah buah Morgan berdiri tak jauh dari panggung.
Menyadari Luke menemukannya, anak buah Morgan menyeringai dan menunjukan pistol saku bagian dalam jaketnya.
"Serahkan barang itu atau peluruku akan menembus jatungnya!"
__ADS_1
Luke begitu panik, namun dia tak boleh menunjukan kelemahannya. Luke harus bersikap tenang dan memikirkan langkah selanjutnya.
BERSAMBUNG...