
Pagi Jovanka selalu sibuk, namun dia menikmatinya karena dia sangat mencintai pekerjaannya apalagi setelah JV memberikan izin untuk merubah akhir dari kisah Robbert dan Eve. Seperti biasa, setelah berdandan cantik dia segera turun karena Luke pasti sudah menunggunya. Jovanka sengaja tidak sarapan lagi karena berharap Luke akan menyiapkan sarapan untuknya.
Senyum di wajah Jovanka hilang seketika saat dia keluar dari rumah dan melihat Steve bersandar di mobil sambil melipat kedua tangan di dada. Steve terlihat sangat menyebalkan dengan setelan serba hitam dan juga kacamata dengan warna senada.
"Morning babe," sapa Steve dengan ramah, namun di telinga Luke lebih ke ganjen.
"Apa yang kau lakukan di sini Steve?" tanya Jovanka dengan malas, pagi indahnya jadi mendung gara-gara kedatangan sang mantan.
"Aku datang menjemputmu babe, hari ini kita syuting bersama kan," jawab Steve, pria itu membuka pintu mobilnya dan menghampiri Jovanka. Tanpa izin dari Jovanka, Steve menarik tangan Jovanka. Namun segera di tepis oleh Jovanka sebelum Luke bertindak.
"Maaf Steve, aku akan berangkat bersama Luke," tolak Jovanka seraya mengusap pergelangan tangannya yang terasa pegal karena tarikan Steve begitu kencang.
"Ayolah honey, dia bisa mengikuti kita di belakang," ucap Steve yang terdengar seperti rayuan.
"Maaf Steve!"
Steve merasa kesal karena Jovanka terus menolaknya, pria itu kembali menarik paksa tangan Jovanka membuat wanita itu hampir terjatuh. Luke yang melihat hal itu tentu saja tak tinggal diam, dia segera menahan Steve dan melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jovanka.
Luke menghempaskan tangan Steve dengan kasar, mata elangnya menatap mantan kekasih majikannya dengan tajam. "Nona bilang dia tidak mau, saya rasa anda tidak tuli kan," sindir Luke dengan sinis.
"Kau pikir kau siapa berani tidak sopan padaku?" bentak Steve seraya menatap balik Luke. Namun tatapan Luke benar benar mengintimidasi membuatnya sedikit takut.
"Saya pengawal nona Jovanka dan saya tidak akan membiarkan orang asing seperti anda memaksa majikan saya!" tegas Luke dengan wajah yang semakin garang, urat-urat lehernya menyumbul keluar menandakan pria itu sedang menahan amarah.
"Pengawal saja belagu. Asal kau tau aku bukan orang asing. Aku adalah mantan kekasih Jovanka!" balas Steve tak terima, bisa-bisanya seorang pengawal begitu galak padanya, sunggung menyebalkan.
"Hanya mantan kan? Jadi silahkan pergi!" usir Luke, kemudian dia menarik pelan tangan Jovanka dan memasukan majikannya ke dalam mobil. Sebelum menyusul masuk ke dalam mobil Luke kembali menghampiri Steve dan mengancamnya. "Saya bisa mematahkan tangan anda jika anda berani menyentuh tangan nona Jovanka lagi!"
Steve merinding mendengar ancaman Luke, pria itu memegangi tangannya dan bergidik ngeri membayangkan tangannya yang berharga patah. Sebelum hal itu terjadi Steve segera pergi meskipun dia sangat kesal, saat ini Luke bukan lawan yang sepadan dengannya.
"Apa yang kau katakan pada Steve?" tanya Jovanka begitu Luke masuk ke dalam mobil.
"Saya hanya menyuruhnya untuk tidak mengganggu anda," jawab Luke sambil memakai sabuk pengaman.
"Oh!"
"Pakai sabuk pengaman anda, kita berangkat sekarang!"
"Hem! Oh ya apa kau menyiapkan bekal lagi?" tanya Jovanka penuh harap.
Luke menggelengkan kepalanya. "Tidak nona, saya bangun kesiangan jadi tidak sempat masak," jawab Luke penuh sesal.
"Kau kesiangan? Tumben sekali? Apa kau semalam begadang?" selidik Jovanka seraya menatap Luke dengan seksama.
"Tidak, saya hanya terlalu lelah saja. Nanti saya akan membeli sarapan untuk anda!"
"Hem!"
.
.
Tidak ada yang istimewa dari syuting hari ini, belum ada adegan yang mengharuskan Jovanka beradu akting dengan Steve sehingga Jovanka merasa lebih tenang. Saat break syuting, Steve kembali menghampiri Jovanka sambil membawa kopi dan beberapa cemilan untuk wanita cantik itu.
Jovanka mendesah kesal dan melirik Luke agar pria itu tak terlalu jauh darinya.
__ADS_1
"Ada apa Steve?" Jovanka memasang wajah kesal, namun Steve tidak perduli karena tujuannya kini ingin merebut hati sang mantan lagi.
"Aku membelikan kopi dan cemilan favoritmu," jawab Steve dengan senyum menggoda.
"Aku sudah tidak minum kopi Steve, maaf!" tolak Jovanka berusaha bersikap seramah mungkin.
"Jangan membohongiku Jov. Aku hanya ingin berteman denganmu lagi, jangan tolak niat baikku!" bujuk Steve. Pria itu lalu duduk di sebelah Jovanka dan memberikan snack favorit mantan kekasihnya. Namun bukannya Jovanka yang menerima, Luke justru lebih dulu meraih snack tersebut dan segera memeriksanya, dia takut Steve akan meracuni Jovanka.
"Heh pengawal, apa maksudmu. Sangat tidak sopan!" hardik Steve dengan tatapan marah.
"Sangat ingin memastikan keamanan nona Jovanka!"
"Kau pikir aku akan meracuninya?" tanya Steve kesal, dia sangat ingin memukul Luke saat ini juga.
"Siapa tau," jawab Luke seraya mengangkat kedua bahunya. Dia lalu membuka snack tersebut dan mencicipinya. Jovanka menahan senyumnya melihat wajah kesal Sreve, pria itu lalu meninggalkan Jovanka dengan marah.
"Awas saja kau Luke. Aku akan memberi perhitungan padamu!" batin Steve mengancam.
Setelah Steve pergi, Jovanka membuang snack tersebut ke tong sampah.
"Kenapa di buang Luke?" tanya Jovanka penasaran.
"Terlalu manis, tidak baik untuk kesehatan anda," kilah Luke dengan wajah datar.
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tidak!" jawab Luke dengan cepat.
"Lalu apa kau cemburu?"
Jovanka lalu berdiri dan mensejajari Luke. "Kau yakin tidak cemburu?"
"Hm!"
"Hm, sayang sekali. Aku pikir kau cemburu! Oh ya tolong belikan sikat gigi dan pasta gigi untukku Luke!"
"Untuk apa?" tanya Luke penasaran.
"Ah, nanti ada adegan kiss scene dengan Steve, nafasku harus segar dan wangi kan," jawab Jovanka dengan santai.
"Ki-Kiss Scene?"
"Ya. Nanti adalah adegan pertama kalinya Robbert bertemu dengan Ave dan mereka tak sengaja berciuman!"
"Jangan bercanda nona, jelas-jelas tidak ada di dalam script. Mereka bertemu di toko kue dan tidak ada adegan kiss!" jawab Luke dengan sangat yakin.
"Dari mana kau tau Luke?" Jovanka menatap Luke dengan serius, bagaimana pria itu bisa mengetahui awal pertemuan Robbert dan Eve.
"Saya membaca naskahnya sekilas," jawab Luke.
"Oh!"
Karena jebakannya tak berhasil Jovanka lalu pergi karena dia akan mengambil melakukan syuting. Sementara itu Luke menatap kepergian Jovanka dengan bibir sedikit terangkat.
"Kau pikir kau bisa menipuku Jov," gumam Luke.
__ADS_1
.
.
Sementara itu di tempat lain, Josh berada di sebuah tempat yang sangat lembab dan kotor. Pria beranak satu itu duduk di hadapan Windy yang terikat dan dalam kondisi yang memprihatinkan. Selama beberapa hari Windy di sekap di gudang tanpa makan dan minum. Josh memang sangat kejam jika sudah menyangkut orang-orang yang dia sayangi.
"Tolong lepaskan saya," pinta Windy dengan suara lemah. Wajahnya pucat pasi dan tidak memiliki tenaga.
"Melepaskanmu? Cih, jangan harap. Setelah apa yang kau lakukan pada adikmu kau pantas mendapatkannya!" hardik Josh dengan suara keras.
"Ampuni saya tuan, saya menyesal!" Windy kembali mengiba, dia sungguh tak menyangka akan berakhir seperti ini. Terkurung dan kelaparan di dalam gudang karena membalaskan dendam Jennifer.
"Seharusnya kau memikirkan ini sebelum bertindak. Kau membela orang yang salah, Jennifer pantas mati atas semua perbuatannya!"
"Maafkan saya tuan. Tolong lepaskan saya, saya berjanji tidak akan mengganggu keluarga anda lagi!"
"Kau pikir aku akan percaya. Orang sepertimu sangat mirip dengan Jennifer. Jika aku melepaskanmu suatu saat kau pasti akan kembali dan mencelakai keluargaku!"
"Tidak tuan, saya janji akan pergi sejauh mungkin!"
"Lepaskan Josh!" tutur sebuah suara dengan lembut, Josh sangat mengenali suara itu dan segera menoleh, pria itu begitu terkejut melihat istrinya berdiri di belakangnya. Josh beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Freesia dengan tatapan yang sukar di artikan.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk kesini?" tanya Josh dengan takut, meski dia begitu kejam pada musuh-musuhnya, namun Josh adalah tipe suami takut istri.
"Aku mengikutimu. Anak buahmu mengenalku dan mereka membiarkan aku masuk. Tolong lepaskan dia Josh!"
"Tidak Love. aku tidak akan pernah melepaskannya!"
"Jangan penuhi hatimu dengan demdam sayang, aku tidak mau kau menjadi orang yang jahat!" Frey berusaha membujuk suaminya.
"Tapi Love, dia sudah membuat Jov celaka. Bukan tidak mungkin dia akan mencelakai kita lagi. Aku takut dia akan mengganggu keluarga kita lagi!"
Frey lalu menghampiri Windy dan tanpa izin suaminya melepaskan ikatan Windy. Freesia menggenggam tangan Windy yang begitu dingin. "Aku tau kakak melakukan semua ini demi Jennifer. Tapi apa yang kakak lakukan salah. Tidak seharusnya kakak nekat mencelakai Jovanka demi Jennifer. Jovanka menyebar vidio Jennifer dan dady nya karena dia sangat sakit hati. Kakak juga seorang putri, kakak pasti tidak ingin kan ayah kakak berselingkuh dan keluarga kakak hancur. Jovanka melakukannya demi melindungi keluarganya, sementara yang kakak lakukan adalah membela orang jahat. Perihal suamiku yang membuang Jennifer ke luar negeri, aku sendiri yang akan menasehati suamiku. Aku tau suamiku salah, tapi dia melakukannya demi melindungi keluarganya. Sekarang pilihan ada di tangan kakak, pergi sejauh mungkin dan jangan pernah menggangguk keluarga kami lagi atau mati sia-sia di tempat kotor ini," ucap Frey panjang lebar, Luke yang mendengar hal itu di buat terkejut karena selama ini istrinya mengetahui semua hal yang dia rahasiakan.
"Aku akan pergi, jika aku kembali kalian bisa membunuhku," jawab Windy seraya menggenggam erat tangan Freesia.
"Pilihan yang tepat kak. Kakak tidak perlu khawatir, aku akan memberikan sejumlah uang agar kakak bisa memulai hidup baru di tempat lain!"
"Terima kasih banyak nona Freesia. Maafkan saya karena dulu pernah menyinggung anda," ucap Windy penuh sesal, dia teringat saat membantu Jennifer untuk mengusik hidup Frey.
"Aku sudah memafkan kakak. Berdirilah, di depan ada orang yang akan mengurus segala keperluan kakak sebelum pergi ke luar kota!" jawab Frey dengan bijak, meski marah dengan sikap Windy namun Frey bukanlah orang kejam dan tak memiliki hati nurani.
"Terima kasih banyak nona, saya tidak akan melupakan kebaikan anda!"
"Hiduplah dengan bahagia kak!"
Setelah Windy keluar, Frey kembali menghampiri suaminya yang masih berdiri mematung di tempatnya. Freesia lalu memeluk suaminya dengan erat, sungguh dia tak ingin melihat suaminya menjadi seseorang yang kejam.
"Lupakan semuanya sayang. Buang semua dendam dan kemarahanmu. Aku tidak ingin kau mengotori tanganmu!"
Josh lalu membalas pelukan sang istri, dia benar-benar memilih wanita yang tepat untuk di jadikan teman hidup. Selain cantik, Freesia juga memiliki hati yang sangat baik.
"Maafkan aku Love," sesal Josh.
"Aku akan selalu memaafkanmu dan mencintaimu!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...