My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Kecurigaan Jovanka


__ADS_3

Entah mengapa ucapan Steve terngiang-ngiang di kepala Jovanka, mungkin karena dia sangat membenci pria itu sehingga apa yang Steve katakan membekas di kepalanya. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Jovanka tidak sengaja bertemu Mister Serkan di di depan kantor agency miliknya.


"Mister, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Jovanka dengan ramah, karena berkat Mister Serkan dirinya jadi seterkenal sekarang.


"Aku ada janji bertemu Desy," jawab Mister Serkan. "Oh ya Jov, selamat atas pernikahanmu dan Luke," sambungnya memberi selamat.


"Terima kasih Mister!"


"Sama-sama. Aku masuk dulu ya!"


Setelah Mister Serkan masuk, Jovanka baru sadar jika tadi pria itu menyebut nama Luke. "Dari mana dia tau aku menikahi Luke?" tanya Jovanka pada dirinya sendiri. Namun dia memilih untuk tidak memikirkannya, mungkin saja Mister Serkan anya asal menebak.


Jovanka memilih ke kantor J&J Company untuk menjemput Luke karena Luke belum memiliki mobil sendiri, rencananya akhir pekan ini mereka akan membeli mobil baru untuk Luke.


Jovanka melambaikan tangannya saat Luke keluar dari gedung J&J Company, pria itu berlari menghampiri istrinya dan langsung memeluknya. Hari pertamanya bekerja sangat melelahkan dan melihat Jovanka seakan memberi tenaga tambahan untuknya, rasa lelahnya hilang seketika begitu dia memeluk istrinya.


"Bagaimana hari pertamamu?" tanya Jovanka seraya menepuk punggung suaminya dengan lembut.


"Sangat melelahkan. Aku tidak terbiasa duduk diam di depan komputer," keluh Luke dengan manja.


"Bagaimana kalau kau jadi tentara lagi?" usul Jovanka, namun dia hanya iseng karena dia tidak rela melihat Luke terluka jika bergabung dengan militer lagi.


"No. Mungkin lebih baik aku jadi pengawalmu saja," jawab Luke seraya melepaskan pelukannya.


"Boleh juga. Bukankah menyenangkan bekerja di jaga oleh suami!"


"Ah, tapi aku tidak mau membuatmu malu. Apa kata orang nanti kalau seorang Jovanka memiliki suami seorang bodyguard?"


"Memang apa salahnya. Bodyguard kan pekerjaan yang halal!"


"Sudahlah. Lupakan. Ayo kita pulang. Aku sudah lapar!"


Karena sudah terlalu lapar, Jovanka dan Luke memutuskan makan malam di luar. Malam ini Jovanka mengajak Luke makan pecel lele, sebelumnya di pernah makan itu bersama Frey dan rasanya sangat enak.


"Kau yakin mau makan di sana?" tanya Luke memastikan, seorang Jovanka Janzsen mana mungkin makan di warung tenda pinggir jalan.


"Ya, aku serius!"


Sebelum turun dari mobil Jovanka menghapus make up tebalnya agar orang-orang tidak mengenalinya, dia ingin menikmati makanannya dengan tenang tanpa gangguan dari manapun.


Keduanya lalu turun, Jovanka memesan beberapa menu yang sebelumnya pernah dia coba bersama Freesia.

__ADS_1


"Banyak sekali Jov?" Luke terperangah melihat banyaknya makanan yang tersaji di atas meja.


"Aku ingin mencoba semuanya," jawab Jovanka dengan mata berbinar. Sebelum makan tiba-tiba Jovanka ingin minum es kelapa muda yang berada di seberang jalan. "Luke, apa kau mau membelikan es kelapa muda untukku?" pinta Jovanka dengan wajah penuh damba, sepertinya dia sangat ingin minum es kelapa muda.


Sebagai suami yang siaga tentu saja Luke bersedia. "Tunggu sebentar ya," ucapnya lalu pergi, Luke hanya membawa selembar uang lalu dia meninggalkan dompet dan ponselnya.


Karena tak sabar menunggu, Jovanka memutuskan untuk mencicipi makanannya lebih dulu. Namun niatnya tertahan saat ponsel Luke berbunyi beberapa kali. Awalnya Jovanka biasa saja, namun lama-lama dia merasa penasaran karena Luke begitu banyak mendapat pesan. Jovanka meraih ponsel Luke dan diam-diam mengintip pesan tersebut.


"MS? Siapa dia?" tanya Jovanka saat melihat nama pengirim pesan tersebut.


"Kapan kau akan membuat proyek baru?" eja Jovanka saat membaca pesan tersebut. Namun Jovanka cepat-cepat mengembalikan ponsel Luke karena suaminya sudah datang.


"Ini es kelapa mudanya!" ucap Luke seraya meletakan pesanan sang istri.


"Terima kasih," jawab Jovanka dengan senyum manisnya. "Oh ya, dari tadi ponselmu terus berbunyi. Sepertinya penting!"


"Benarkah?" Luke lalu memeriksa ponselnya. Wajahnya sedikit menegang lalu dia menyimpan ponselnya di saku.


"Dari siapa Luke?" tanya Jovanka penasaran.


"Ah, dari temanku. Ayo cepat makan, kau pasti sudah lapar!"


Rasa penasaran Jovanka semakin membuncah saat tengah malam dia terbangun dan tak sengaja mendengar Luke sedang berbincang dengan seseorang di telefon. Dan yang lebih mencurigakan saat Luke langsung menutup telefonnya begitu sadar Jovanka bangun.


"Kenapa bangun?" tanya Luke seraya menyimpan ponselnya .


"Aku haus," Jovanka meraih gelas yang berada di atas nakas dan menghabiskan air di dalamnya. "Kau bicara dengan siapa tengah malam begini?" selidik Jovanka karena dia semakin penasaran.


"Temanku, dia mengajakku berbisnis," jawab Luke.


"Temanmu yang mana?"


"Kau tidak mengenalnya. Lain kali aku akan memperkenalkannya padamu. Sudah larut, sebaiknya kita tidur lagi!"


"Ya!"


.


.


Berhari-hari Jovanka gelisah dengan sikap Luke yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Mungkin karena hormon kehamilan sehingga Jovanka menjadi sepeka ini dan selalu merasa cemas. Ya, semoga saja ini hanya pengaruh hormon kehamilan, semoga saja Luke tidak benar-benar menyimpan rahasia darinya.

__ADS_1


Di akhir pekan, seperti janjinya, Jovanka menemani Luke untuk membeli mobil. Sebelum pergi ke showroom, keduanya mampir pusat perbelanjaan karena Jovanka merengek ingin membeli baju baru karena baju lamanya sudah tidak muat.


Luke menggeleng-gelengkan kepalanya karena Jovanka sama sekali tidak terlihat kelelahan padahal wanita hamil itu sudah mengelilingi mall dan masuk ke beberapa toko baju favoritnya


"Jov, apa kau tidak lelah?" tanya Luke sambil memijat kakinya yang terasa pegal.


"Tidak!" jawab Jovanka penuh semangat. "Aku sudah selesai, ayo kita beli mobil baru!"


Luke terkekeh melihat tingkah lucu Jovanka, dia bersyukur karena Jovanka tidak mengalami drama kehamilan seperti ibu hamil lainnya. Sejauh ini Jovanka belum mengalami morning sickness, nafsu makannya juga masih baik dan cenderung meningkat. Luke berharap Jovanka akan tetap sehat sampai bayi mereka lahir.


Setibanya di showroom, Jovanka bimbang memilih mobil yang cocok untuk sang suami. Padahal yang akan memakai mobilnya saja terlihat cuek.


"Yang murah saja Jov, uangnya bisa kita tabung," ucap Luke berbisik.


"No. Yang murah kualitasnya pasti buruk. Aku harus memilih mobil yang kualitasnya paling bagus!"


Setelah memilih beberapa, akhirnya Jov memilih salah satu mobil yang menurutnua sangat cocok untuk Luke. Mereka lalu mengurus surat jual beli. Namun Luke lupa meninggalkan dompetnya di mobil.


"Aku saja yang ambil!" ujar Jovanka menawarkan diri, Luke mengangguk karena dia juga sedang sibuk mengiri form jual beli.


Jovanka pergi ke mobilnya dan mengambil dompet sang suami. Tiba-tiba dia penasaran dengan isi dompet suaminya. "Lihat dikit tidak dosa kan?" gumamnya seorang diri. Jovanka menahan senyumnya saat melihat foto KTP Luke yang terlihat sangat lucu. Memang benar, foto KTP adalah foto terabsurd di dunia ini.


"Aku harus mengabadikannya!" ucap Jovanka bermonolog. Dia lalu menarik KTP Luke keluar dari tempatnya dan tak sengaja sebuah foto ikut tertarik keluar dan jatuh di jalan. Jovanka meraih foto dalam kondisi terbalik, karena penasaran dia lalu memeriksa foto tersebut. Namun betapa terkejutnya Jovanka saat dia melihat fotonya sendiri, lebih tepat fotonya saat dia baru memulai karirnya sebagai model.


"Bagaimana dia memiliki foto lamaku?" tanyanya pada diri sendiri. Karena penasaran, Jovanka menggeledah isi dompet Luke dan menemukan secarik kertas yang terlipat. Jovanka membuka lipatan tersebut dan membaca isi kertas tersebut. Jovanka semakin terkejut karena secarik kertas itu berisi biodata lengkap dirinya. Bukan hanya nama, di sana juga tertulis alamat email, alamat rumah serta nomor ponsel miliknya.


"Sayang kenapa lama sekali?" Luke menyusul Jovanka karena khawatir terjadi sesuatu pada Jovanka.


Jovanka menoleh dan menunjukan foto serta secarik kertas berisi biodatanya. "Apa ini Luke? Kenapa kau memiliki foto lamaku? Dan, kenapa kau memiliki biodata lengkapku? Dan di sini juga tertulis tanggal saat kau menulisnya. Lima tahun yang lalu, apakah kau sudah mengenalku sejak dulu?" cecar Jovanka dengan tatapan nyalang.


"Jov aku bisa jelaskan!"


"Katakan? Apa kau sudah mengenalku sejak lama?"


Luke mengangguk pelan.


"Lalu kenapa kau menyembunyikan semuanya?"


"Aku...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2