
"Pergilah karena aku sudah tidak membutuhkanmu lagi!" setelah mengucapkan kalimat yang begitu menyakitkan, Luke melangkahkan kakinya menjauh dari Jovanka sebelum dia berubah pikiran dan kembali memeluk wanita itu. Luke harus tegas meski hatinya begitu sakit memperlakukan Jovanka dengan buruk.
"Lalu bagaimana dengan bayi kita Lucas Robbert Anderson?"
Deg...
Langkah kaki Luke terhenti seketika, dua kejutan besar seolah menghantam kepalanya. Benarkah apa yang dia dengar barusan? Jovanka memanggil nama lengkapnya? Nama yang bahkan sudah hampir lima tahun ini dia kubur bersama kenangan kedua orang tuanya. Dan, bayi? Benarkah Jovanka mengandung anaknya? Ratusan pertanyaan berputar di kepala Luke, pria itu berbalik dan menatap Jovanka penuh tanya.
"Barusan kau bilang apa?" ulang Luke dengan suara bergetar.
"Aku hamil. Aku mengandung anakmu Lucas Robbert Anderson," Jovanka kembali mengulang berita yang entah bahagia atau tidak, dia juga kembali mengeja nama yang selama ini Luke sembunyikan.
Luke menelan ludahnya dengan kasar, di saat sepertu ini seharusnya dia melompat bahagia dan memeluk Jovanka atas kabar bahagia tersebut. Namun Luke terlihat gamang, ketakutannya berlipat ganda dan kenyataan bahkan Jovanka mengetahui nama aslinya membuat Luke khawatir, bagaimana jika Jovanka juga tau tentang masa lalunya.
"Pergilah jika kau tidak menginginkan kami. Aku rasa aku bisa membesarkan bayi ini tanpamu Luke," ujar Jovanka bernada putus asa, dia tidak tau lagi harus berbuat apa untuk menahan Luke tetap berada di sisinya.
"Sejak kapan kau tau namaku?" tanya Luke dengan tatapan nanar, sungguh dia tak ingin Jovanka mengetahui masa lalunya.
"Sejak awal," jawab Jovanka apa adanya.
Malam itu, sejak Andrew mengingatkannya untuk tidak berhubungan dengan pria bernama Luke, Jovanka justru semakin penasaran. Dan ketika Luke tiba-tiba menjadi bodyguardnya, Jovanka merasa jika hubungan mereka akan semakin dekat. Dan sebelum hal itu terjadi Jovanka harus menyelidiki identitas Luke yang sebenarnya. Jovanka memang terlihat bodoh dan konyol, namun dia di besarkan di tengah keluarga konglomerat yang selalu bertindak dengan hati-hati. Diam-diam Jovanka menyewa dua detektiv swasta untuk menyelidiki latar belakang Luke. Uang mempermudah segalanya, tak butuh waktu lama bagi Jovanka untuk mengetahui identitas Luke yang sebenarnya. Awalnya dia cukup terkejut dengan fakta yang dia peroleh, namun Jovanka rasa, dia bisa menerima masa lalu Luke dan membiarkan Luke berada di sisinya, membiarkan perasaannya terus bertumbuh hingga tak ada ruang tersisa di hatinya. Cintanya hanya milik Luke, hatinya telah sepenuhnya terisi oleh Luke.
Luke meraup wajahnya dengan kasar, pantas saja Jovanka tidak pernah bertanya mengenai bekas luka di punggungnya saat wanita itu mengobati luka siraman air keras beberapa waktu yang lalu, pantas saja Jovanka pernah bercanda dan bertanya kepada nya apakah dia seorang mafia atau tentara bayaran. Pantas saja Jovanka bersikap biasa saja saat Morgan memukulinya hingga babak belur. Dan dengan bodohnya Luke tidak curiga sama sekali dengan sikap Jovanka.
"Kenapa kau tidak takut padaku?" tanya Luke setelah cukup lama diam.
"Karena aku mencintaimu dan aku tau kau tidak bersalah," jawab Jovanka tanpa keraguan.
"Kau bisa mati jika terus berada di sisiku!"
__ADS_1
"Tanpamu aku juga akan mati. Lalu apa bedanya? Bukanlah lebih baik aku mati di pelukanmu dari pada mati seeorang diri?"
Luke membuang nafasnya dengan kasar, dia lupa jika yang sedang dia ajak bicara adalah Jovanka Janzsen, wanita keras kepala yang tidak takut dengan bahaya apapun. "Lalu bayi itu? Kapan kau tau kau sedang hamil?"
"Sehari sebelum aku mendapat libur. Sehari sebelum kita ke pantai!" Jovanka menjawabnya dengan lugas. "Aku sedang mengandung anakmu dan aku juga mengetahui identitasmu. Aku tidak keberatan dengan masa lalumu dan aku menerimamu apa adanya. Sekarang keputusan ada di tanganmu Luke! Tetap bersamaku dan kita hadapi masalah ini bersama-sama atau kau akan terus lari dan bersembunyi layaknya seorang pengecut. Jika kau memilih pergi, maka kau tidak akan pernah melihatku dan anak kita kelak!"
Pengecut?
Ucapan Jovanka bagaikan tamparan keras untuk Luke, selama lima tahun terakhir dia memang seperti pengecut dan bersembunyi dari satu negara ke negara lain. Luke juga tidak ingin selamanya hidup dalam persembunyian, tapi dia belum cukup kuat untuk melawan musuh-musuhnya. Dia harus mengumpulkan kekuatan dan bukti untuk mengembalikan nama baik keluarganya.
"Pulang denganku. Ceritakan semua yang kau alami selama ini. Aku dan keluargaku akan membantumu mengembalikan nama baik keluargamu!"
Luke kembali terkejut, sebanyak apa Jovanka mengetahui tentang masa lalunya.
"Sudah aku bilang kan, aku mengetahui semuanya!" ucap Jovanka seolah bisa membawa isi kepala Luke.
"Baiklah kalau kau tidak mau ikut denganku! Ayo nak, kita cari bapak baru untukmu," Jovanka mengelus perutnya yang masih rata, wanita itu berbalik dan melangkahkan kakinya sambil berdoa dalam hati semoga Luke mengejarnya.
"Jov," panggil Luke sebelum hitungan ketiga. Jovanka menahan senyumnya. Dia kembali memasang wajah sedih sebelum berbalik.
"Ya," sahut Jovanka dengan wajah sendu.
Tanpa berkata apapun Luke berjalan cepat dan langsung memeluk Jovanka dengan erat. Luke bahkan tak bisa menahan air matanya, dia begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Jovanka. Dia tak perduli lagi jika suatu saat Morgan datang dan membunuhnya. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah bersama Jovanka dan calon anak mereka. Untuk masalah Morgan, dia bisa memikirkannya dengan kepala dingin dan dia bisa mendiskusikannya dengan Jovanka.
"Maafkan aku sayang, maaf karena aku sangat pengecut dan melarikan diri darimu," ucap Luke penuh sesal, untuk yang kedua kalinya Jovanka melihat Luke menangis.
"Mulai sekarang kita harus saling terbuka. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama!"
"Ya, aku janji!"
__ADS_1
Jovanka berhasil membawa Luke kembali, mereka pulang ke mansion utama dan kedatangan mereka sudah di tunggu oleh semua orang karena sebelumnya Jovanka mengirim pesan kepada anggota keluarganya untuk berkumpul di mansion utama, bahkan Maggie Zantaman dan Andrew turut hadir di mansion Janzsen.
Jovanka menggandeng tangan Luke dengan erat, semua orang terkejut melihat mereka dan menatap keduanya penuh tanya. Hanya Freesia yang tersenyum melihat Jov berhasil membawa cintanya pulang.
"Apa-apaan ini Jov?" tanya Josh dengan suara meninggi.
"Aku hamil!"
"What?" ujar mereka dengan serempak.
"Siapa yang melakukannya Jov?" tanya Katherine dengan lemas, dia benar-benar terkejut.
Luke melepaskan tangan Jovanka, tiba-tiba pria itu berlutut di hadapan anggota keluarga Jovanka. "Maafkan saya, saya yang melakukannya!"
"What?" semua orang kembali terkejut.
Josh beranjak dari duduknya dengan amarah yang memuncak, tanpa ragu-ragu dia melayangkan tinju di wajah Luke hingga tubuh Luke terjerembab di lantai.
"Brengsekkkk kau, dasar sampah!" maki Josh, dia hampir saja menendang Luke jika Jonathan tidak mengehentikannya. "Lepaskan aku Jo, aku harus membunuhnya. Beraninya dia menyentuh Jovanka!" Josh terus memberontak, sebagai seorang kakak tentu saja dia sangat marah karena adiknya di hamili oleh pria yang tak jelas asal-usulnya.
"Tenang Josh, dengarkan dulu penjelasan mereka," ucap Frey menenangkan suaminya. Frey menarik Josh menjauh dari Luke sambil memeluknya.
"Siapa namamu?" tanya Jimmy dengan tatapan marah, namun pria itu berusaha menahan diri.
"Lucas Robbert Anderson," untuk yang pertama kalinya Luke mengenalkan nama aslinya.
"Dari mana kau berasal? Dimana keluargamu tinggal?" cecar Jimmy.
"Sayaa...."
__ADS_1
BERSAMBUNG...