My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Rekaman


__ADS_3

Hujan mengguyur langit kota Jakarta hingga sore hari, hal tersebut tentu saja Jovanka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama Luke. Keduanya masih berada di atas tempat tidur dan tak sedetikpun Jovanka melepaskan pelukannya dari Luke.


Semenjak kejadian semalam sikap Luke berubah 180 derajat, pria itu lebih banyak bicara dan sering tersenyum. Sesekali Luke tertawa saat Jovanka menceritakan kisah konyolnya.


Jovanka merasa sangat bahagia, dia tak memperdulikan apapun lagi asalkan Luke bersama dirinya dan mencintainya.


"Jov," panggil Luke dengan lembut, Jovanka sangat suka saat Luke mamanggil namanya.


"Ya," jawab Jovanka tanpa bergerak sedikitpun, dia terlalu nyaman berada di dada Luke.


"Apa kau tidak pernah penasaran dengan identitasku?" tanya Luke tiba-tiba, Jovanka sedikit terganggu dengan pertanyaan Luke, dia menjauhkan kepalanya sehingga dia bisa melihat wajah Luke secara langsung.


"Bohong kalau aku bilang tidak," jawabnya seraya menatap mata Luke.


"Kenapa kau tidak pernah bertanya?"


"Ya karena kau pasti tidak akan menjawab!" ketus Jovanka dengan bibir mencebik, mengingat sikap Luke hingga kemarin malam membuat Jovanka kesal.


"Kau tidak takut seandainya aku orang jahat?"

__ADS_1


Jovanka menghela nafas, tangannya lalu bergerak menyentuh wajah Luke. "Selama kau tidak menyakitiku maka aku tidak percaya kalau kau orang jahat! Dengar Luke, aku mencintaimu apa adanya dirimu. Aku tidak keberatan dengan masa lalumu. Aku akan menunggumu siap menceritakan siapa dirimu sebenarnya," ucap Jovanka dengan tatapan serius, seolah wanita cantik itu mengetahui sesuatu tentang Luke.


"Kau ingin melihat sesuatu yang lucu?" ucap Luke mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Apa itu?" tanya Jovanka bersemangat.


Luke meraih sesuatu dari dalam laci dan memberikannya kepada Jovanka.


"Kamera?" ujar Jovanka seraya menatap Luke dengan wajah bingung, untuk apa pria itu memberinya sebuah kamera.


"Itu kamera yang Steve pasang. Dia berencana menjebakmu. Aku menyadarinya saat aku bangun, jadi...." Luke menggantungkan kalimatnya.


"Kenapa wajahmu kecewa begitu? Jangan-jangan kau benar-benar ingin melihatnya ya?" tebak Luke tepat sasaran.


Seketika Jovanka menjadi gugup dan wajahnya memerah, kenapa Luke tau apa yang ada di dalam kepalanya. "Tentu saja tidak. Untuk apa aku ingin melihatnya. Lagipula kita bisa melakukannya lagi jika aku ingin melihatnya secara langsung!"


Luke menelan ludahnya dengan kasar, dia memang tau jika Jovanka sangat konyol, namun dia tak menyangka Jovanka bisa sefrontal itu. "Nona Jovanka, sebaiknya anda jangan terlalu jujur!"


"Kenapa? Kau tidak ingin melakukannya lagi?" tantang Jovanka dengan senyuman menggoda.

__ADS_1


"Kau pikir aku pria gampangan," kilah Luke seraya menghindari kontak mata dengan Jovanka, bisa-bisa dia tersihir lagi seperti semalam.


"Come on baby, aku ingin melakukannya secara sadar," Jovanka kembali menggoda Luke, bahkan tangannya mulai menyusup ke dalam kemeja Luke.


"Hentikan Jov. Jangan menggodaku lagi. Aku tidak akan tersihir olehmu lagi. Apa kau tidak puas menodaiku semalam!"


Jovanka tak bisa menahan tawanya, wajah panik Luke benar-benar menggemaskan. "Apa tidak terbalik, jelas-jelas kau yang meniduriku Luke!"


"Tapi kau yang marayuku lebih dulu!"


"Dan kau tergoda dengan rayuanku kan!"


"Hentikan Jovanka Janzsen," seru Luke seraya menahan tangan Jovanka yang mulai bergerak liar, Luke sekuat tenaga menahan sesutu yang mulai mendesak minta di keluarkan lagi.


"Baiklah kalau itu maumu!" Jovanka menarik tangannya dan memasang wajah masam, wanita itu lalu berbalik dan memunggungi Luke. Luke merasa bersalah, bukan maksudnya untuk menolak, hanya saja dia tidak ingin melakukannya lagi karena mereka belum menikah.


Tunggu... Tunggu...


Apakah artinya Luke berencana untuk menikahi Jovanka?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2