
Wilson tak terima jika hanya dia yang menderita, saat pasukan bersenjata tampak lengah, pria paruh baya itu tiba-tiba melawan dan berhasil mengalahkan dua orang yang meringkusnya. Wilson bahkan tak takut apapun lagi, hidupnya telah hancur dan sebelum dia mati dia ingin Luke mati bersamanya.
Tampa mereka duga, rupanya Wilson menyimpan pistol di balik pakaiannya. "Matilah kau Luke!" teriak Wilson seraya menarik pelatuk pistolllnya.
Luke menoleh dan terkejut saat melihat peluru mengarah ke punggung sang ibu, tanpa berpikir panjang Luke memeluk punggung ibunya dan...
Dorrr....
"Argg," Luke memekik ketika peluru menembus punggungnya. Sekujur tubuhnya bergetar, dadanya terasa sesak dan pandangannya mulai berkabut. Meski harus mati, Luke tidak menyesal karena dia melakukan semuanya demi sang ibu. Namun, sesaat sebelum matanya terpejam, tiba-tiba bayangan Jovanka memenuhi kepalanya. Luke terengah-engah, dia berusaha tetap sadar. "Maafkan aku Jov, aku mencintaimu," batin Luke sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.
"Luke!!! Teriak Martha dan Josh secara bersamaan.
Dor...dorr...dorr...
Tiga peluru pasukan bersenjata berhasil melumpuhkan Wilson, salah satu peluru mengenai tangannya dan dua peluru bersarang di dadanya, pria itu lalu jatuh berlutut. Di ambang kematiannya, Wilson menatap Luke dengan tatapan nanar, pria itu menyeringai melihat Luke terkapar bersimbah darah. "Mari ke neraka bersama Kapten," ucap Wilson sebelum akhirnya dia terjelambab ke lantai dan menghembuskan nafas terakhirnya.
Luke segera di larikan ke rumah sakit terdekat, setibanya di rumah sakit Luke segera di bawa ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya. Sementara Luke di operasi, Josh menemani Martha dan Charli mendapat pengobatan dari dokter. Hati Josh begitu teriris melihat kondisi ibu dan kakak Luke.
Karena mengalami luka parah, Charli mendapatkan perawatan intensif, sementara Martha hanya di infus untuk mengembalikan tenaganya. Dokter juga terpaksa memberi Martha obat tidur karena wanita itu terus menangis histeris.
Andrew dan Josh menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah, Josh bahkan mematikan ponselnya karena sejak tadi Jovanka dan Frey terus saja menghubunginya. Josh belum siap mengatakan apa yang terjadi pada Luke. Tiga jam kemudian, dokter keluar dari ruang operasi, Josh dan Andrew segera menghampiri dokter tersebut.
"Bagimana kondisinya dok?" tanya Josh dengan wajah menegang.
"Kami berhasil mengangkat peluru yang bersemayam di katup jantungnya, dan kami terpaksa mengganti katup jantung pasien yang rusak tertembus peluru dengan katup buatan. Meski peluru berhasil kami angkat, tapi kondisi pasien masih kritis karena kami juga menemukan sejumlah luka di tubuhnya," ucap dokter menjelaskan kondisi Luke.
__ADS_1
"Lalu kapan Luke akan sadar dok?" tanya Josh lagi, dia tidak mungkin menyembunyikan hal ini lebih lama lagi, mengingat bagaimana peringai Jovanka. Jika tidak segera mendapat kabar dari Luke sudah dapat di pastikan dalam sehari saja Jovanka akan menyusul ke Amerika.
"Kami tidak bisa memastikannya!"
Josh meraup wajahnya dengan kasar. "Terima kasih dok!"
Sementara itu, Jovanka menggila karena Luke, Josh, dan Andrew tidak bisa di hubungi. Wanita hamil itu memiliki firasat jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya. Jovanka mondar-mandir di ruang tamu dan terus berusaha menghubungi Josh.
"Jov duduklah, aku pusing melihatmu mondar-mandir!" ujar Freesia seraya menatap adik iparnya.
"Frey coba hubungi Josh lagi, dia pasti akan mengangkat telefonnya kalau kau yang menelfon!" titah Jovanka.
"Sudah Jov, tapi Josh malah mematikan ponselnya!"
Jov menggigit ujung jarinya dengan panik, sepertinya di tidak bisa menunggu lebih lama lagi. "Aku akan menyusul mereka ke Amerika!" ujarnya dengan wajah serius, wanita hamil itu lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kau mau ke Amerika dengan siapa Jov?" tanya Frey.
"Sendiri!"
"Tidak. Aku tidak setuju. Kau sedang hamil. Aku akan menelfon momy dan meminta momy menemanimu!"
"Terserah kau saja Frey!"
Frey lalu keluar untuk menghubungi ibu mertuanya. Setelah Frey menceritakan semuanya Katherine langsung setuju untuk menemani putrinya ke luar negeri.
__ADS_1
Satu jam kemudian Katherine telah sampai di mansion keluarga Janzsen. Kedatangan Katherine di sambut Frey dan Lynda.
"Kath kau yakin akan ikut ke Amerika?" tanya Lynda cemas, meski Katherine sudah bercerai dengan Jimmy namun Lynda masih menganggap Katherine sebagai putrinya.
"Aku yakin mom," jawab Katherine tanpa keraguan.
"Kau yakin tidak takut? Ini penerbangan pertamamu setelah kecelakaan pesawat beberapa puluh tahun yang lalu!"
"Aku yakin bisa mengatasinya mom. Lagi pula aku tidak bisa membiarkan Jov pergi sendirian. Frey juga tidak mungkin menemani Jov karena Abel pasti rewel jika di tinggal momy nya!"
Frey memeluk Katherine dan menenangkan wanita itu. "Frey yakin momy pasti bisa mengatasi rasa takut momy!"
Setelah Katherine dan Jovanka berangkat ke bandara, Frey mengirim pesan kepada Josh dan Andrew, dia mengabarkan jika Jovanka sedang menyusul sehingga Andrew bisa menjemput Jovanka di bandara.
Setelah Luke di pindahkan ke ruang perawatan, Andrew mengaktivkan ponselnya karena khawatir Maggie Zantman menghubunginya. Andrew terkejut mendapat puluhan pesan dari Jovanka. Setelah membaca pesan dari Frey, Andrew segera menghampiri Josh yang sedang tertidur di sofa yang berada di ruang perawatan Josh.
"Tuan bangun!" ucap Andrew dengan panik.
Josh terpaksa membuka matanya, pria itu sangat kesal karena sejak semalam dia baru bisa tidur. "Ada apa?" tanyanya.
"Nona Jovanka dan nyonya Kathrine menyusul kemari!"
"Apa?" mata Josh langsung terbuka sempurna dan kantuknya seketika hilang.
"Mereka sudah berada di dalam pesawat!" sambung Andrew.
__ADS_1
"Fvckkkk!!!!"
BERSAMBUNG...