
Di sebuah hutan yang terletak di pinggiran kota, Luke bersama polisi dan tentara setempat menuju sebuah lokasi yang di yakini menjadi tempat pembuangan mayat Jenderal Anderson. Butuh waktu lebih dari setahun polisi mencari informasi tersebut karena tak banyak anak buah Wilson yang tau mengenai kematian Anderson.
Di tengah hutan belantara, terdapat sebuah batu besar. Di bawah batu tersebut terdapat beberapa tengkorak manusia yang sudah berserakan. Luke dan polisi yang datang bersamanya terkejut melihat penemuan itu, dapat di simpulkan jika yang menjadi korban kejahatan Winson bukan hanya Anderson saja.
"God," pekik Luke seraya menangkup wajahnya, dia bahkan tidak tau mana tengkorak milik dady nya. Tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa lemah saat membayangkan betapa kesepiannya Anderson selama ini karena di buang di tengah hutan belantara.
"Kumpulkan semua kerangkanya, kita harus menemukan identitas para korban sehingga mereka bisa di kuburkan dengan layak!" titah salah satu anggota polisi kepada rekannya.
Dengan langkah gontai Luke menghampiri tengkorak yang berada di bawah pohon cemara. Tengkorak tersebut menarik perhatiannya karena bekas sobekan baju yang melekat di tengkoran tersebut. Luke berjongkok, pria itu memaki sarung tangan lalu meraih sobekan dengan bordiran nama Anderson. "'Dady," tangis Luke seketika pecah, pria itu ambruk di tanah seraya memeluk bekas baju milik sang ayah.
Mendengar tangisan Luke, polisi dan tertara yang sedang bertugas pun menghampiri Luke.
"Ada apa?" tanya mereka penasaran.
Luke memberikan serpihan kain tersebut. "Sepertinya ini kerangka dady ku, Jenderal Anderson," ucap Luke dengan tak berdaya.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit dan melakukan tes DNA secepatnya!"
Setelah satu minggu lamanya, akhirnya pihak kepolisian memberi kabar kepada Luke jika hasil tes DNA sudah keluar. Sebelum ke rumah sakit, Luke menjemput Martha terlebih dahulu dan mereka datang ke rumah sakit bersama-sama.
Luke tak melepaskan tangan Martha sama sekali, keduanya saling menguatkan saat polisi datang menghampiri mereka membawa hasil tes DNA.
"Berdasakan pencocokan sampel DNA saudara Lucas dan tulang belulang yang kami temukan, hasil menunjukan jika tengkorak tersebut benar milik mendiang Jenderal Anderson. Kami mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya," ujar petugas kepolisian tersebut dengan wajah penuh sesal.
__ADS_1
Martha tak kuasa menahan air matanya, wanita paruh baya itu limbung, untung saja Luke sigap menangkap tubuh ibunya dan membantu Martha untuk duduk. Martha terisak di pelukan putranya. Dia bersyukur karena akhirnya suaminya di temukan, namun sisi lain dia juga sedih karena harapannya jika sang suami masih hidup sirna sudah.
Kabar tentang penemuan tengkorak Anderson telah sampai di keluarga Janzsen, mereka langsung terbang ke Amerika menggunakan jet pribadi. Setibanya di luar negeri, mereka langsung ke rumah lama Luke.
"Luke," Jovanka menghampiri suaminya dan memeluknya dengan erat.
"Sayang, kau datang," ucap Luke, di pelukan sang istri Luke kembali menitikan air matanya. Rasanya begitu menyakitkan, kenangan saat Anderson tertembak di depan matanya seolah kembali terulang. Pria itu kembali merasa berada di titik terendah.
"Menangislah Luke," kata Jovanka sambil terisak, hati istri mana yang tak sakit melihat suaminya di rundung kesedihan.
Pun dengan Katherine yang mencoba menguatkan Martha, kedua besan itu saling memeluk. Katherine tak mengucapkan apapun, dia tak memiliki kalimat penghibur apapun. Baginya, kehilangan seseorang bukan suatu hal yang mudah untuk di hibur. Untuk itu mereka membiarkan Luke dan Martha menangis dan meluapkan kesedihan mereka.
Di tengah kesedihan Luke dan Martha, kehadiran baby JV seolah penawar bagi mereka. Tingkah lucu JV yang mulai aktiv membuat Martha dan Luke kembali ceria, mereka tidak ingin menampakan luka mereka di hadapan baby JV.
Keesokan harinya, setelah melakukan prosedure yang cukup panjang akhirnya tengkorak Anderson akan di makamkan dengan upacara kemiliteran. Anderson juga di makamkan di taman makam pahlawan dan mendapatkan kehormatan tertinggi dari satuan militer Amerika.
Setelah pulang dari pemakaman, Jimmy, Josh, Frey dan Abel lebih dulu pulang ke Indonesia, sementara Katherine, Jovanka dan baby JV masih berada di Amerika. Rencananya mereka akan kembali pulang ke Indonesia setelah Martha mengurus harta waris peninggalan sang suami dan juga putranya, Charli.
"Luke, dady mu meninggalkan beberapa properti atas nama kau dan Charli. Kini semua ini menjadi milikmu. Kau bisa menggunakannya untuk kebutuhanmu dan juga istrimu," ucap Martha seraya menyerahkan beberapa sertifikat yang sudah berpindah nama menjadi milik Luke.
"Tidak mom, Luke tidak bisa menerima ini!" tolak Luke, dia tidak mungkin menerimanya karena dia merasa tidak berhak. "Lebih baik momy yang menyimpannya," sambung Luke.
"Momy tidak sanggup Luke. Bagaimana bisa momy menerimanya sementara mereka pergi dengan cara yang begitu tragis!"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita menjualnya dan menyumbangkannya ke panti asuhan," usul Jovanka.
Luke dan Marths bertukar pandangan, keduanya lalu mengangguk. Mungkin menyumbangkannya adalah jalan terbaik agar Martha dan Luke tidak di hantui perasaan bersalah.
"Kau benar Jov, lebih baik kita memberiksnnya kepada mereka yang lebih membutuhkan," ujar Luke yang menyetujui saran dari istrinya.
"Ya momy juga setuju!"
Setelah menjual beberapa aset peninggalan sang ayah. Luke dan Martha menyumbangkannya ke beberapa panti asuhan yang berharga. Mereka menyumbang menggunakan nama Anderson dan Charli agar keduanya bahagia di surga. Satu-satunya aset yang tidak mereka jual adalah rumah yang dulu mereka tempati, Luke tidak menjualnya karena di rumah itu dia lahir dan tumbuh besar. Di rumah itu pula semua kenangan bersama keluarganya tercipta.
"Semuanya sudah berakhir Luke. Momy merasa lega dan momy rasa momy bisa tidur dengan tenang," ucap Martha penuh kelegaan.
"Bagaimana kalau momy ikut kami ke Indonesia," Jovanka berujar demi kebaikan bersama, dia tidak tega meninggalkan Martha sendirian di tempat ini.
Martha menggeleng dengan pelan. "Tidak nak. Momy akan tetap di sini bersama Anderson dan Charli," tolak Martha dengan senyuman yang lebih terlihat hidup, sebelumnya wanita itu juga banyak tersenyum namun hanya senyum penuh kesedihan yang selalu Martha tampilkan.
"Tapi mom, aku khawatir momy sendirian di sini," sahut Luke seraya menatap wajah sang ibu.
"Momy tidak sendirian. Momy memiliki banyak teman di sini. Lagi pula momy sangat nyaman hidup di pedesaan!"
Luke dan Jovanka tidak akan memaksa lagi, mereka menghormati keinginan Martha untuk tetap tinggal di daerah pedesaan.
"Momy harus sering memberi kabar kepada kami..kami akan sering datang menjenguk momy!"
__ADS_1
Martha mengangguk, dia lalu menggenggam tangan kedua anaknya. "Momy berdoa agar kalian selalu bahagia!"
BERSAMBUNG...