
"JV adalah penulis novel After Darkness!" ujar Luke sambil menunduk.
"What?" Jovanka memekik, dia masih belum mengerti dengan situasi yang sedang dia hadapai. "Lalu siapa penulis JV itu, kenapa dia memakai inisial namaku?" tanya Jovanka dengan wajah bingung.
"Aku!" jawab Luke dengan pelan.
Jovanka tertawa hambar, dia masih belum percaya dengan ucapan sang suami. "Maksudmu kau yang menulis novel After Darkness?"
Luke mengangguk pelan, dia benar-benar merasa bersalah karena telah membohongi istrinya selama ini.
"Mustahil," ujar Jovanka mencoba menyangkal semuanya.
"Kau bisa bertanya pada Mister Serkan. Novel itu ku tulis sebagai bentuk rasa rinduku padamu!"
"Mister Serkan? Jadi selama ini dia tau siapa kau sebenarnya?" lagi-lagi Luke hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang istri. "Hebat sekali kau Luke, kau berhasil mengecewakanku dengan dua hal sekaligus. Selama ini aku mencari penulis JV dan ternyata kau berada di sampingku. Kau pasti mentertawakanku selama ini kan. Selain mengemis cintamu aku juga memaksa agar alur novelmu berakhir happy ending. Aku benar-benar kecewa Luke!" untuk pertama kalinya mata biru itu menatap Luke penuh kekecewaan, wajah yang selalu ceria berubah muram berkabut amarah yang terpendam.
"No. Aku tidak pernah mentertawakanmu sayang. Aku merahasiakan semua ini karena aku terlalu malu untuk mendekatimu!" ucap Luke mencoba meyakinkan Jovanka.
"Lalu kenapa kau mendekatiku dan menjadi pengawalkau. Jika kau merasa rendah diri kenapa malam itu kau malah meniduriku?" tanya Jovanka setengah berteriak, matanya memerah dan urat-urat lehernya menonjol karena menahan amarah.
"Karena kau membuatku gila. Karena aku tidak bisa menahan perasaanku ini. Karena aku sangat mencintaimu Jovanka Janzsen!" jawab Luke emosional, pria itu berteriak dan tidak perduli beberapa orang memperhatikan mereka.
"Entah aku bisa percaya lagi padamu atau tidak. Aku benar-benar tidak memahami kondisinya. Beri aku waktu untuk berpikir!" Jovanka berlalu masuk ke dalam mobil. Melihat istrinya yang begitu emosional membuat Luke khawatir, pria itu mencoba menghentikan istrinya agar tidak mengendarai mobil dalam kondisi marah.
"Jov tolong buka pintunya. Biarkan aku mengantarmu pulang. Setelah itu aku janji akan memberismu waktu untuk berpikir. Tapi aku mohon sayang, jangan pergi sendiri!" teriak Luke seraya mengetuk kaca mobil Jovanka, namun wanita hamil itu tidak mengindahkan ucapan sang suami dan menginjak gas meninggalkan tempat itu.
"Jov," teriak Luke seraya menarik rambutnya dengan kasar, pria itu lalu berlari ke jalan raya untuk mencari taxi. Untungnya dia langsung menemukan taxi dan segera menaikinya. "Ikuti mobil itu!" titah Luke seraya menunjuk mobil Jovanka.
Sepanjang jalan Luke di hantui rasa cemas melihat bagaimana Jovanka mengendarai mobilnya dengan ugal-ugalan. Luke hanya bisa berdoa agar istrinya dan anaknya baik-baik saja. Luke bisa bernafas lega saat Jovanka masuk halaman mansion utama, Luke segera turun dari taxi yang mengejar Jovanka masuk.
"Mana mobil barunya Jov?" tanya Frey yang kebetulan sedang berkunjung bersama anak dan suami serta Katherine.
Jovanka tak menjawab pertanyaan Frey dan langsung berlari masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian Luke berlari masuk mengejar Jovanka.
"Kenapa kalian main kejar-kejaran?" tanya Frey penasaran. Namun lagi-lagi Frey tak mendapat jawaban karena Luke berlari menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar mereka.
"Mereka kenapa?" tanya Frey bermonolong.
__ADS_1
"Ada ada Frey?" tanya Katherine yang melihat menantunya bergumam seorang diri.
"Jovanka dan Luke sepertinya sedang bertengkar mom," jawab Frey seraya menunjuk ke lantai atas di mana Luke sedang berusaha membujuk istrinya untuk membuka pintu.
"Maklumi saja, mereka kan pengantin baru," ujar Kartherine.
"Iya mam!"
Di lantai atas Luke masih mengetuk pintu dan berusaha membujuk istrinya untuk keluar dan berbicara dengan kepala dingin.
"Jov, aku mohon dengarkan aku Jov. Buka pintunya sayang!" bujuk Luke dengan putus asa.
"Sayang, tolong maafkan aku. Tidak sedikitpun aku berniat membohongimu. Aku sedang mengumpulkan keberanianku untuk menceritakan segalanya!"
"Jov, buka pintunya!"
Luke merasa putus asa, dia lalu berhenti mengetuk pintu. "Baiklah jika itu maumu Jov, aku tidak akan mengganggumu sampai kau tenang. Tapi aku mohon ingat hal ini Jov, aku sangat mencintaimu!" ucap Luke pasrah, dia lalu turun ke lantai bawah dengan langkah gontai.
Luke menghampiri Frey dan Katherine, pria itu duduk dengan wajah lesu. Abel yang sedang bermain bersama Frey pun berlari menghampiri Luke dan dusuk di sampingnya.
"What happen uncle?" tanya Abel dengan polosnya. "Don't cry uncle, Abel punya lolipop, apa uncle mau?"
"Ada apa Luke?" tanya Frey yang sudah duduk di hadapan Luke.
"Jovanka marah!" jawab Luke jujur.
"Kenapa? Setau momy dia jarang sekali marah Luke?" sahut Katherine.
"Luke yang salah mom. Luke merahasiakan sesuatu dari Jovanka!" aku Luke dengan wajah muram.
"Merahasiakan apa Luke?" tanya Frey penasaran.
Luke menghela nafas berat, pria itu lalu menceritakan semuanya kepada Frey dan Katheirine. Mungkin dengan menceritakan semuanya, kedua wanita itu bisa memberinya solusi untuk membujuk Jovanka.
"Hmm, pantas saja Jov marah Luke. Kau tau kan selama ini dia menyukaimu dan mengejar cintamu. Ketika dia tau semuanya, dia merasa malu dan merasa di tipu olehmu Luke!" ucap Katherine setelah Luke menceritakan semuanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan mom?" tanya Luke putus asa.
__ADS_1
"Jov adalah orang yang jarang marah, tapi sekalinya dia kecewa dan marah maka akan butuh waktu yang sedikit lama untuk membujuknya. Untuk saat ini biarkan dia tenang, beri dia waktu untuk memikirkan segalanya. Momy yakin cinta di antara kalian lebih kuat dari pada apapun dan kalian akan melewati masalah ini dengan mudah!" ucap Katherine memberi saran.
"Baik mom, aku akan membiarkan Jovanka memikirkan semuanya. Semoga Jovanka mau memaafkanku!"
Karena penat memikirkan istrinya, Luke menghubungi Andrew dan Josh lalu mengajak mereka bertemu di bar. Luke juga perlu mendengar solusi dari pria yang sudah lebih lama berumah tangga.
Setengah jam kemudian Andrew dan Josh datang bersama. Mereka menghampiri Luke yang sedang minum-minum seorang diri.
"Ck, baru beberapa bulan menikah dan kau sudah mabuk-mabukan begini," cibir Josh seraya duduk di sebelah Luke.
"Jangan mencibirku, aku sedang sedih!" jawab Luke kesal.
"Ada apa tuan?" tanya Andrew penasaran.
Luke lalu mulai menceritakan masalahnya dan Jovanka, semakin banyak yang memberinya saran mungkin akan lebih mudah untuk membujuk Jovanka agar mau memaafkannya.
"Ck, ck, ck, kalau aku jadi Jovanka aku akan langsung menceraikanmu!" celetuk Josh sambil menenggak segelas bir.
Luke menoleh dan menatap Josh kesal. "Aish, dasar bedebah!" umpat Luke terang-terangan.
"Aku bedebah dan kau badjingan gilaa yang sudah menipu adikku selama ini. Sadarlah, perbuatanmu sudah melukai harga diri Jovanka. Kau pantas mendapatkannya Luke!" hardik Josh yang ikut marah.
Luke lalu menoleh ke arah Andrew. "Bagaimana menurutmu?"
"Apa yang di katakan tuan Josh adalah benar. Sebuah hubungan harus di landasi dengan kepecayaan dan anda sudah menghancurkan pondasi utama pernikahan kalian. Saya belum terlalu mengenal nona Jovanka, tapi saya yakin dia sangat terluka. Apalagi dia yang mengejar anda terlebih dahulu tanpa tau jika anda juga menyukainya. Terlepas alasan di balik anda merahasiakan semuanya, anda tertap bersalah dan harus mengembalikan kepercayaan nona Jovanka lagi!" ucap Andrew dengan bijak meski terkadang dia juga masih kewalahan menghadapi istrinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Luke seraya menahan kepalanya dengan kedua tangan.
"Pikir sendiri!" jawab Josh dan Andrew bersamaan.
"Kamvreett!!"
BERSAMBUNG...
Hay gays, apa kabar? Semoga kalian sehat sll ya..
Dalam kesempatan hari ini, author ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang menjalankannya. Semoga diberi kesehatan, kelancaran & Allah berkenan menerima ibadah puasa teman-teman semua.
__ADS_1
Dan mulai besok, semua novel akan author up setelah berbuka puasa...
Semangat all ❤️❤️❤️❤️