
BACA SETELAH BERBUKA PUASA!!! ++
Setelah tiga kali bolak-balik ke kamar mandi, akhirnya Jovanka merasa lega karena sampah yang tertimbun berhari-hari akhirnya keluar juga. Jovanka merebahkan tubuhnya di samping Luke, sementara pria itu sibuk mengelus perut sang istri yang membuncit.
"Obat yang momy resepkan ampuh juga," ujar Luke seraya menahan tawanya, dia ingat betul bagaimana kesalnya Jovanka yang tiba-tiba sakit perut saat mereka baru mulai pemanasan.
"Jangan menggodaku. Aku sembelit juga gara-gara dirimu menghilang begitu saja" kilah Jovanka untuk mengurangi rasa malunya.
"Bagaimana aku tidak pergi sementara kau tidak mau bicara padaku," jawab Luke tak mau kalah.
Ya, ya, semuanya memang salah Jovanka Janzsen," aku Jovanka pada akhirnya. Wanita hamil itu lalu memiringkan tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan. "Luke," panggilnya seraya menekan-nekan dada sang suami dengan jari telunjuknya.
"Hem," Luke hanya bergumam, netranya tak pernah puas menatap wajah cantik milik Jovanka.
"Aku...." Jovanka menggantung kalimatnya ragu.
Luke tersenyum karena tau apa yang di inginkan oleh sang istri. Luke tidak mau Jovanka meminta untuk yang kedua kali. Kali ini dia yang akan memulainya. Luke membelai wajah Jovank dengan mesra, setelah itu dia mengecup bibir istriny dengan lembut. Kecupan lembut itu berangsur berubah menjadi lumaaatan yang lebih dalam dan menuntut. Jovanka membiarkan lidah suaminya menjelajahi rongga mulutnya. Mereka saling menghisapp, ******* dan bertukar saliva menimbulkan gema decapan di kamar penginapan tersebut.
"Sayang, aku menginginkanmu," bisik Luke dengan suara menggoda.
__ADS_1
"Aku milikmu Luke!"
Luke tak ingin membuang waktu, dengan lihai dia melepas seluruh pakaian sang istri hingga tubuh Jovanka yang polos terpampang di hadapannya. Luke menatap tubuh polos itu penuh damba, dia lalu melepaskan pakaiannya sendiri dan kembali mencumbu istrinya.
"Ah, Luke," Desaaaahaan pelan keluar dari mulut Jovanka saat Luke bermain-main di pucuk bukit kembarnya. Luke begitu pintar membuat Jovanka terbuai.
Puas bermain dengan benda kenyal di dadaa sang istri, Luke mulai menyusuri perut Jovanka dan berakhir di lembah sang istri. Luke sedikit membuka kaki Jovanka sehingga dia lebih leluasa bermain-main di sana.
Jovanka menarik rambut Luke saat pria itu memainkankan lidah di dalam inti miliknya. Jovanka merasakan sensasi yang berbeda, dia seolah melayang, dadanya bergemuruh lalu dia merasakan sebuah kenikmatan yang di tandai dengan desahaaan panjang.
"Kau membuatku gila Luke," ucap Jovanka dengan nafas memburu.
"Ah... Luke," Jovanka kan henti-hentinya menyebut nama sang suami, dan hal itu berhasil membuat Luke semakin bergairah. Pria itu mulai menggerakan pinggangnya, membuat sebuah ritme yang membuat Jovanka tak berhenti mengerang.
Belum puas dalam satu gaya, Luke membalik tubuh Jovanka sehingga wanita hamil itu memunggunginya. Lagi-lagi, hanya dalam satu hentakan Luke berhasil memasuki istrinya dari belakang.
Luke semakin menaikan ritme gerakannya saat dia merasa hampir mencapai titik kenikmatannya. Luke mengerang, mendesaaah dan menyebut nama Jovanka bersamaan dengan berakhirnya permainan panas mereka.
Luke terkapar di samping Jovanka dengan dada naik turun dan nafas yang memburu, pria itu tersenyum lalu memeluk tubuh istrinya yang berkeringat. "Terima kasih sayang. Apa aku boleh melakukannya lagi?"
__ADS_1
Jovanka membelalakan matanya, baru satu menit yang lalu mereka melakukannya dan kini Luke memintanya lagi. Jovanka ingin sekali menolak, namun sialnya tubuhnya bertentangan dengan otaknya. Jovanka mengangguk dan mengiyakan keinginan sang suami. Setelah mendapat persetujuan dari istrinya, Luke mulai melakukan pemanasan untuk ronde kedua.
Ronde kedua memakan waktu yang cukup lama, Jovanka bahkan menyerah karena Luke tak membiarkanny diam sedetikpun. Setelah babak kedua berakhir, Jovanka meraih botol air mineral dan meminumnya hingga habis.
"Kenapa kau frontal sekali malam ini?" keluh Jovanka.
"Maaf sayang. Aku sudah menahannya hampir dua bulan. Maaf ya," ujar Luke dengan wajah tanpa dosa.
"Kali ini aku memaafkanmu," Jovanka terkekeh karena sebenarnya dia juga menikmati permainan Luke yang lebih ganas. Jovanka lalu kembali merebahkan tubuhnya dan memeluk sang suami.
"Kapan kita pulang ke Indonesia?" tanya Jovanka pelan, keluarganya pasti panik karena dia pergi tanpa pamit.
"Aku masih betah di sini. Bagaimana kalau kita di sini sebulan lagi. Hitung-hitung kita sedang honeymoon dan babymoon?"
"Boleh, tapi aku harus mengabari keluargaku dulu!"
"Tidak perlu, aku sudah mengirim pesan pada momy Katherine dan mengatakan jika kau bersamaku!"
"Baguslah kalau begitu. Mari kita nikmati waktu bulan madu kita!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...