
Krak...
Josh tersenyum melihat sebuah benda kecil yang tersimpan di dalam gagang alat pancing tersebut. Sebelumnya dia memang sedikit curiga kenapa alat pancing tersebut memiliki gagang yang sepertinya dapat di buka dan saat Josh menariknya ujung gagang pancing itu benar-benar bisa terbuka.
"Aku menemukannya Luke!"
Luke segera berlari menghampiri Josh, pria itu membelalakan matanya melihat flashdisk yang selama ini dia cari berada di depan matanya. "Dimana kau menemukannya Josh?" tanya Luke masih tak percaya jika mereka berhasil menemukan bukti tersebut.
"Di gagang pancing ini," jawab Josh seraya menunjuk ujung gagang pancing yang terbuka.
"Astaga, kenapa aku tidak memikirkannya selama ini," ujar Luke.
"Ayo kita pergi dari sini!" ajak Josh seraya memberikan flashdisk tersebut kepada Luke, mereka tak boleh membuang banyak waktu. Luke mengangguk, dia menerima benda kecil itu lalu mematikan semua lampu dan menaiki anak tangga. Namun langkah Luke terhenti saat mendengar suara bising di luar sana.
"Ada apa?" tanya Josh seraya berbisik.
"Sepertinya ada yang datang."
Suara kegaduhan semakin terdengar keras, beberapa kali mereka bahkan mendengar suara benda pecah. "Jangan-jangan Wilson yang datang," bisik Josh dengan wajah menegang, mereka tak memiliki persiapan apapun untuk melawan Wilson jika sampai bertemu penjahat itu.
Luke dan Josh berjalan mundur saat mendengar suara kegaduhan semakin dekat, mereka bahkan bisa mendengar suara beberapa orang di luar sana.
"Jika masih tidak ketemu, ledakan saja tempat ini!"
Luke menengang mendengar suara Wilson yang memerintahkan anak buahnya untuk meledakan rumah miliknya. entah apa yang ada di dalam pikiran Luke, di tengah kegelapan pria itu mengambil sebuah tas besar dan memasukan uang serta emas batangan ke dalam tas tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Josh dengan pelan.
"Katamu Jov akan bahagia melihat uang dan emas ini!"
__ADS_1
Mendengar jawaban Luke membuat Josh berpikir yang bukan-bukan, tapi semoga saja apa yang dia pikirkan tidak akan terjadi. Setelah mengemas semua uang dan emas tersebut, Luke memberikan tas tersebut kepada Josh membuat Josh bertanya-tanya.
"Josh, kau lihat rak kayu itu?" ujar Luke dengan wajah menegang. Josh menoleh ke arah rak kayu yang di tunjuk oleh Luke, pria itu mengangguk setelah melihatnya meski di dalam kegelapan. "Kalau kau memutar vas berwarna biru itu maka sebuah pintu akan terbuka. Di balik pintu itu ada lorong panjang yang menghubungkan tempat ini ke halaman belakang tempat kita masuk tadi!" jelas Luke panjang lebar.
"Kenapa kau memberi tahu semua ini Luke?"
"Hanya untuk berjaga-jaga. Dan ini," Luke memberikan flashdisk tersebut kepada Josh. "Jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi, bawa tas dan flashdisk ini keluar dari rumah ini!" pesan Luke dengan tatapan begitu serius.
"Kita akan keluar bersama-sama Luke!" tegas Josh.
"Tidak lama lagi mereka pasti akan menemukan tempat ini Josh! Kau dengar sendiri Wilson akan meledakan tempat ini, jika kita pergi bersama kita akan meledak bersama rumah ini!"
Krieett....
Benar saja, pintu rahasia berhasil di buka. Luke bisa mendengar suara tawa dari atas sana. "Kau harus selamat dan membongkar kejahatan Wilson!"
"Ayo pergi bersama-sama Luke!" ajak Josh dengan panik.
"Tapi Luke," Josh mulai berkaca-kaca,.dia harus membawa Luke pergi. Apa yang akan dia katakan pada Jovanka jika terjadi sesuatu yang buruk pada Luke.
"Cepat!!" Luke menarik tangan Josh. Dia lalu memutar vas berwarna biru dan sebuah pintu rahasia terbuka. Luke mendorong tubuh Josh agar masuk ke dalam pintu tersebut. "Terus ikuti lorong ini. Keluarlah dengan selamat Josh! Katakan pada Jovanka jika aku sangat mencintainya!" ucap Luke dengan mata berkaca-kaca, pria itu lalu kembali menutup pintu karena musuhnya semakin dekat.
Benar saja, tepat setelah pintu rahasia tertutup. Lampu ruang rahasia itu kembali menyala sehingga Luke bisa melihat dengan jelas wajah Wilson dan beberapa anak buahnya.
"Rupanya ada tikus kecil di rumah ini," ujar Wison dengan seringai di wajahnya.
Luke tersenyum santai. "Apa kabar kolonel? Oh apakah sekarang Jenderal?" tanya Luke dengan suara mengejek.
"Kabarku sangat baik Kapten, akan semakin baik jika kau memberikan barang itu kepadaku!"
__ADS_1
Luke menghela nafas berat. "Ck, sayang sekali. Aku bahkan tidak memiliki barang itu. Jika aku memilikinya mungkin kau tidak akan menjadi seorang Jenderal saat ini!"
Wilson menggeram kesal, dia sama sekali tak mempercayai ucapan Luke. "Kau pikir aku bodoh? Kau pasti memiliki benda itu kan?"
Luke bertepuk tangan seraya tertawa terbahak-bahak. "Ternyata kau tidak bisa di tipu Jenderal! Aku akan menyerahkannya, tapi katakan di mana kau menyembunyikan ibuku!"
"Hm, kau masih sangat cerdik seperti dulu Luke. Itulah mengapa aku sangat menyukaimu. Sayang sekali kau harus berakhir seperti ini, seandainya kau tidak menyelidiki kasus penyelundupan secara diam-diam, kau pasti sudah menjadi seorang kolonel sekarang!"
"Aku tersanjung mendengarnya. Jadi bagaimana dengan penawaranku Jenderal?" tanya Luke dengan tatapan tajam, tak terlihat sedikit ketakutanpun di wajah tampannya.
"Hm, ibumu berada di tempat yang aman. Serahkan barang itu dulu!"
"Serahkan ibuku dan aku akan memberikan ini!"
"Bawa dia!" titah Wilson kepada anak buahnya. Dua orang langsung mengikat tangan Luke dan menyeretnya keluar dari gudang tersebut. Mereka memasukan Luke ke dalam mobil dan membawa Luke pergi dari tempat tersebut.
Sementara itu, Josh masih berada di dalam lorong yang begitu gelap. Hampir dua jam dia bersembunyi di dalam lorong tersebut. Setelah merasa aman, perlahan Josh mulai mendorong sebuah papan besi yang menjadi pintu keluarnya. Papan tersebut terbuka dan Josh merasakan udara segar masuk ke dalam paru-parunya. Josh naik ke atas permukaan, dia benar-benar berada di halaman belakang rumah keluarga Luke.
"Ck, mereka benar-benar keluarga tentara. Mereka bahkan memiliki lorong rahasia seperti ini," gumam Josh seraya menutup kembali papan besi tersebut. Dia berjalan mengendap-endap sambil memeriksa apakah ada orang lain. Namun rumah itu nampak sepi. "Kemana mereka membawa Luke pergi? Ah entahlah, aku harus pulang dulu dan memeriksa bukti ini!"
Josh berhasil menyelamatkan diri. Dia kembali ke rumah sewanya membawa tas besar berisi uanh dan emas serta barang bukti yang mereka cari. Kedatangan Josh seorang diri tentu saja membuat Andrew bertanya-tanya.
"Dimana Luke?" tanya Andrew cemas.
"Dia menyerahkan diri agar aku bisa kabur. Cepat periksa ini!' Josh memberikan flashdisk tersebut kepada Andrew.
"Anda menemukannya?"
"Ya. Cepat, kita tidak punya banyak waktu, kita harus menyelamatkan Luke!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...