My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Pingsan


__ADS_3

Josh menjemput adik dan ibunya di bandara, selama perjalanan menuju bandara Josh memikirkan perkataan yang tepat agar Jovanka tidak panik saat mengetahui Luke tertembak dan masih belum sadar. Josh mengela nafas berkali-kali, sepertinya dia tidak bisa beralasan apapun karena Jovanka sangat pandai membaca ekpresi wajah seseorang. Jovanka pasti akan tau jika terjadi hal buruk pada suaminya hanya dengan melihat wajah Josh, meski Josh berusaha tersenyumm selebar mungkin.


"Kak, kau mau membuatku gila ya. Kenapa tidak menjawab telefonku hah?" cecar Jovanka begitu dia bertemu dengan Josh.


"Maaf, kami sangat sibuk Jov!" jawab Josh beralasan.


"Ck, cepat bawa aku ke rumah kalian. Aku ingin melihat Luke!"


"Ya!"


Sudah dua jam lebih Josh membawa adik dan ibunya berkeliling kota agar mereka jangan dulu sampai di rumah. Bisa gawat kalau Jovanka tidak menemukan Luke di rumah sewa mereka sementara Josh belum memiliki alasan yang tepat. Jovanka awalnya tidak curiga namun lama-kelamaan dia merasa Josh sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Josh kenapa kita ke sini lagi?" tanya Jovanka saat menyadari dia melewati jalan yang sama.


"Benarkah? Aduh, kenapa aku nyasar ya," jawab Josh berkilah.


"Jangan banyak alasan Josh, mantan pilot sepertimu tidak buta maps dan tidak mungkin nyasar!" hardik Jovanka dengan wajah kesal


"Sudah 2 tahun sejak aku berhenti menjadi pilot, kadang aku suka lupa caranya baca maps!"


"Cepat bawa aku ke rumah atau aku akan mengadukanmu kepada Frey!"


"Baik nyonya!" ancaman terbesar bagi Josh adalah Freesia, bisa-bisa dia tidak mendapat jatah selama sebulan full kalau sampai Frey marah padanya. Josh terpaksa membawa Jovanka ke rumah sewa mereka, sepanjang jalan dia memikirkan alasan apa yang akan dia gunakan saat Jovanka menanyakan keberadaan Luke.


Begitu sampai di alamat, Jovanka langsung turun dan mengetuk pintu rumah dengan bar-bar, lebih tepatnya bukan mengetuk tapi mendobrak pintu tersebut.


"Jov, kau bisa di penjara kalau membuat keributan," ucap Josh seraya menahan tangan adiknya. "Awas, aku buka pintunya!"


Setelah pintu terbuka, Jovanka langsung mencari keberadaan Luke namun dia tidak menemukan suamunya di manapun.

__ADS_1


"Momy istirahat dulu, momy pasti lelah," Josh membawa Katherine ke salah satu kamar kosong dan membiarkan Jovanka berkeliling mencari suaminya.


"Josh, apa terjadi sesuatu?" tanya Katherine begitu mereka tiba di kamar. Dari gelagat aneh Josh, Katherine bisa menyimpulkan jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.


"Tidak mom. Jangan pikirkan apapun, istirahatlah!"


Josh lalu keluar dari kamar, di depan kamar Jovanka sudah menunggunya dengan tatapan penuh tanya.


'Kemana suamiku?" tanyanya dengan suara meninggi.


"Dia sedang pergi bersama Andrew dan anak buahnya," jawab Josh sambil berusaha bersikap tenang.


"Kemana?" tanya Jovanka lagi.


"Mungkin ke rumah lama Luke, beberapa hari terakhir kami sedang menggeledah rumah lama Luke tapi belum menemukan apapun!"


"Dimana rumahnya?"


Jovanka akhirnya patuh dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Untuk sementara Josh bisa bernafas lega. Josh hanya berharap Luke segera sadar agar Josh tidak perlu berbohong pada Jovanka lagi.


Namun sialnya semua berjalan tidak sesuai dengan rencana Josh, dia lupa di kamar mereka ada televisi. Dan karena bosan seharian di kamar, Jovanka menyalakan televisi tersebut.


"Tumben kau nonton televisi Jov?" tanya Katherine penasaran, meski bekerja di industri hiburan Jovanka sangat jarang menonton acara televisi.


"Aku bosan mom!"


Keduanya lalu menonton televisi bersama, ibu dan anak itu menonton berita seputar kabar terbaru di Amerika. Keduanya sama-sama terkejut saat mengetahui jika Wilson sudah tewas dan sebelum tewas Wilson menembak seorang pria yang belum jelas identitasnya.


"Pria itu bukan Luke kan mom?" tanya Jovanka dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Semoga saja bukan Jov!" sahut Katherine yang mulai nampak cemas.


"Aku harus bertanya kepada Josh!"


Jovanka lalu keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan sang kakak, karena khawatir Katherine menyusul Jovanka keluar dari kamar.


"Josh," teriak Jovanka yang mulai tak terkendali. "Josh di mana kau?"


Josh keluar dari kamarnya dengan wajah kusam, pria itu mengusap kedua matanya sambil menguap. "Ada apa, aku sedang tidur?"


"Di rumah sakit mana Luke di rawat?" tanya Jovanka tanpa basa basi.


"Dari mana kau tau Luke di rawat di rumah sakit?" seketika kantuk Josh hilang, dia terkejut karena Jovanka mengetahuinya dengan sangat cepat.


Kaki Jovanka terasa lemas, wanita hamil itu limbung dan untung saja Katherine sigap menahan tubuh Jovanka. "Jadi benar kalau Luke terluka?" tanya Jov dengan air mata yang mulai berjatuhan.


Josh menarik rambutnya dengan frustrasi, dia masuk ke dalam perangkap Jovanka.


"Jawab kak!" teriak Jovanka.


Josh hanya mampu menganggukan kepalanya. "Maaf!" ucapnya penuh sesal.


"Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?"


"Dia di rumah sakit dan kondisinya kritis!" Josh terpaksa jujur karena dia tidak mungkin berkilah lagi.


Seakan batu besar menghantam kepalanya, Jovanka tiba-tiba merasa pusing dan pandangannya mulai berkabut dan Jovanka kehilangan kesadarannya.


"Jov!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2