
Dua hari sebelum syuting di mulai, Jovanka menemui Mister Serkan karena ada beberapa hal yang ingin dia diskusikan dengan sang sutradara. Sebelum datang ke kantor Mister Serkan, Jovanka mampir ke kedai kopi dan membeli kopi untuk di bagikan kepada karyawan yang ada di kantor Mister Serkan.
Para karyawan menyambut baik kedatangan Jovanka, pujian demi pujian terlontar dari mulut para karyawan, mereka begitu mengagumi Jovanka karena selain cantik, model papan atas itu tidak sombong dan begitu ramah. Luke yang mendengar pujian itu pun tertawa dalam hati, seandainya mereka tau betapa konyolnya seorang Jovanka pasti mereka tidak akan mengagung-agungkan wanita itu.
Jovanka lalu menemui Mister Serkan di ruangannya, keduanya lalu duduk di sebuah sofa panjang dan Luke menunggu sudut ruangan.
"Bagaimana persiapanmu Jov?" tanya Mister Serkan seraya menatap Jovanka.
"Mm, saya gugup mister," jawab Jovanka sambil tersenyum.
"Wajah saja karena ini film pertamamu, aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik!"
"Semoga saja saya tidak mengecewakan anda mister. Oh ya, kedatangan saya kemari karena saya ingin meminta bantuan mister," ucap Jovanka mengutarakan niat kedatangannya.
"Katakan!"
"Ada beberapa adegan yang saya kurang mengerti, apa saya boleh bertemu dengan penulis novelnya, saya ingin bertanya secara langsung dengan penulis After Darkess!"
Mister Serkan melirik Luke sejenak karena dia merasa canggung di perhatikan oleh Luke. "Sepertinya tidak mungkin Jov. Penulis After Darkness sangat misterius. Aku sudah menyelidikinya, sejauh ini dia hanya menerbitkan satu buku dan identitasnya sangat di rahasiakan. Nama penanya pun sangat singkat, JV," jelas Mister Serkan.
"Lalu bagaimana naskah ini bisa sampai ke tangan anda?" tanya Jovanka penasaran.
"Novel After Darkness sangat terkenal. Beberapa produser tertarik membuat film dari novel tersebut tapi mereka tidak menemukan informasi mengenai penulis JV. Dan tanpa di duga, JV mengirimkan email kepadaku dan mengatakan jika dia ingin novelnya di angkat menjadi sebuah film. Aku pikir hanya orang iseng saja, lalu JV mengirimkan skrip naskah kepadaku dan mengajukan beberapa syarat!"
"Syarat?" ulang Jovanka.
"Hem, mengenai royalti dan lain-lainnya!" jawab Mister Serkan.
"JV, siapa dia sebenarnya?" gumam Jovanka penasaran, kenapa penulis itu menyembunyikan identitasnya padahal novelnya menjadi salah satu novel best seller.
"Sayang sekali, padahal saya ingin bertanya pada JV, apakah ending cerita After Darkness bisa di rubah. Meski di novel berakhir sad ending, namun saya berharap film nya akan berakhir happy ending! Hm, baiklah kalau begitu, saya permisi dulu Mister Serkan!"
Jovanka keluar dengan wajah kecewa, jujur saja dia sangat tertarik dengan kisah cinta Robbert dan Eve si tokoh wanita, namun karena endingnya sangat tragis Jovanka berharap bisa bicara dengan penulis novel After Darkess dan merubah bagian akhir. Namun apa yang di katakan Mister Serkan membuat Jovanka kehilangan semangat, dimana dia harus mencari keberadaan penulis JV.
Namun semua sudah di tetapkan dan Jovanka tidak bisa mundur. Hari ini adalah hari pertama syuting, Jovanka bangun sangat pagi karena proses syuting memang di mulai sejak pagi. Perjalanan menuju tempat syuting Jovanka manfaatkan untuk tidur dan tanpa dia sadari mereka sudah tiba di lokasi pertama.
"Kita sudah sampai nona," ucap Luke membangunkan Jovanka. "Nona," ulang Luke karena Jovanka belum juga bangun. "Nona Jovanka!" panggil Luke dengan suara yang lebih keras.
Jovanka mulai menggeliat, perlahan dia mulai membuka matanya dan merenggangkan otot-otot tubuhnya. "Sudah sampai ya. Ayo kita turun Luke," ujar Jovanka dengan suara serak.
__ADS_1
"Tunggu nona," tahan Luke sata Jovanka akan membuka pintu, Jovanka lalu menoleh dan kembali duduk.
Luke memberikan tisu basah pada Jovanka dan memberi kode pada wanita itu untuk menyeka mata serta bibirnya. Jovanka lalu bercermin dan mulai membersihkan wajahnya.
"Kau tidak jijik milihatku ileran dan belekan?" tanya Jovanka seraya menyeka bibirnya, kali ini dia tak malu lagi karena Luke sudah terbiasa melihatnya ileran.
"Tidak!" jawab Luke dengan tegas.
"Hem. Lihat Luke apa sudah bersih?" Jovanka mendekatkan wajahnya ke arah Luke membuat Luke deg deg ser.
"Sudah," Luke menjawabnya dengan singkat lalu memalingkan wajahnya.
"Ayo kita turun Luke!"
"Tunggu sebentar!" Luke menahan Jovanka lagi.
"Apa lagi Luke!"
Luke lalu mengambil sesuatu di kursi belakang dan memberikannya kepada Jovanka. "Anda belum sarapan, saya membuat roti lapis untuk sarapan!"
Jovanka tersenyum senang, dia tak menyangka Luke sangat perhatian padanya,bahkan pria itu tidak lupa menyiapkan sarapan untuknya. Jovanka menerima kotak bekal yang Luke berikan dan membukanya. Jovanka menahan tawanya saat melihat roti lapis buatan Luke yang sudah tak berbentuk lagi.
Luke lalu memeriksa kotak bekal itu dan tertawa, untuk yang pertama kalinya Jovanka melihat Luke tertawa begitu lebar, Jovanka menatap Luke sambil tersenyum, pria itu semakin tampan saat tersenyum.
"Maaf nona, pasti kotak bekalnya terbalik tadi," ucap Luke masih dengan senyum kecil di wajahnya. "Jangan di makan, saya akan membelikan sarapan yang layak untuk anda!" Luke mengambil kotak bekal itu dari tangan Jovanka namun Jovanka menahannya.
"Ini saja, masih layak di makan kok!" tolak Jovanka dengan cepat, mana mungkin dia melewatkan sarapan yang di siapkan oleh Luke. Meski bentuknya sudah tak karuan, Jovanka akan tetap memakannya
"Tapi nona!"
Jovanka memakan bekal tersebut meski Luke melarangnya,meski bentuknya sudah hancur namun rasanya cukup enak. Melihat Jovanka sangat lahap membuat Luke menelan ludahnya sendiri. "Apa enak?"
"Hem," Jovanka hanya bergumam karena mulutnya penuh dengan makanan. Melihat Luke yang sepertinya menginginkan roti lapis juga, Jovanka berinisiatif mengarahkan sepotong roti le mulut Luke. "Buka mulutmu Luke!" titah Jovanka, kali ini dia tak mendapat penolakan dari Luke karena pria itu benar-benar membuka mulutnya dan membiarkan Jovanka menyuapinya. "Enak kan?" tanya Jovanka dengan wajah berbinar.
"Lumayan!"
Keduanya lalu menikmati sarapan sederhana mereka, Luke pasrah saat Jovanka terus menyuapinya sampai bekal mereka habis. Setelah selesai makan Jovanka segera turun dari mobil karena beberapa rekan serta kru sudah bersiap untuk melakukan proses syuting.
"Hati-hati nona," pesan Luke sebelum Jovanka pergi.
__ADS_1
Jovanka mengangguk dan melambaikan tangannya, sementara Luke tetap mengikuti Jovanka meski dari jauh.
Proses syuting berjalan dengan lancar, Jovanka tidak kesulitan memerankan sosok Eve yang merupakan seorang model pemula. Mister Serkan pun cukup puas melihat akting Jovanka, tidak sia-sia dia memilih Jovanka sebagai pemain utama.
Dari kejauhan Luke melihat Jovanka begitu serius dengan pekerjaannya. Saat melihat Jovanka sedang bekerja, terkadang Luke tak percaya jika seorang Jovanka Janzsen memiliki sifat konyol dan sedikit jorok. Luke lalu pergi untuk menghubungi seseorang.
Malam semakin larut, Jovanka dan kru baru saja menyelesaikan proses syuting. Saat Jovanka akan pulang Mister Serkan memanggilnya.
"Ada apa mister?" tanya Jovanka.
"Kerja bagus untuk hari ini Jov, aku memiliki kabar baik untukmu!" jawab Mister Serkan.
"Apa itu?"
"JV mengizinkan kita merubah akhir cerita After Darkness!"
Jovanka menutup mulutnya tak percaya, benarkah apa yang di dengarnya ini. "Anda serius?" tanya Jovanka dengan wajah tak percaya.
"Ya. Aku sempat mengirim email untuknya dan tadi siang dia membalas dan mengizinkan kita membuat akhir yang bahagia!"
"Oh astaga, aku sangat senang. Terima kasih banyak mister," Jovanka begitu bahagia, dia sangat bersemangat sekarang.
"Pulanglah dan istirahat. Besok kau mulai syuting bersama Steve."
"Baik mister!"
Jovanka berlari menghampiri Luke, namun wanita itu tersandung dan tubuhnya terhuyung ke depan. Untung saja jarak Luke tak terlalu jauh sehingga Luke berhasil menangkap tubuh Jovanka.
"Kenapa kau sangat ceroboh!" ucap Luke dengan wajah panik, setiap kali panik dia akan lupa menggunakan bahasa formal pada majikannya itu.
"Maaf, aku terlalu bersemangat Luke!"
Luke lalu melepaskan tangannya dari tubuh Jovanka, namun Jovanka tiba-tiba memeluknya.
"Nona lepas!"
"Sebentar Luke, hanya sebentar. Aku sangat senang hari ini!" Jovanka memeluk tubuh Luke dengan erat, karena tak bisa menghindar akhirnya Luke hanya pasrah dan menerima pelukan hangat dari majikannya.
"Aku harap bisa bertemu dengan penulis JV dan mengucapkan terima kasih kepadanya!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...