
Jovanka duduk di taman belakang mansion sambil membaca novel After Darkess yang baru saja di belinya karena dia penasaran dengan novel tersebut setelah membaca naskah filmnya. Meski sudah tau endingnya, namun Jovanka tetap penasaran dengan kisan Robbert dan wanita yang dia cintai. Di dalam novel tersebut di jelaskan secara rinci bagaimana kisah cinta mereka.
Saking seriusnya membaca, Jovanka sampai tak menyadari jika Luke berdiri di belakangnya, pria itu hanya diam dan mengamati majikannya yang sedang menangisi kisah di dalam novel tersebut.
"Anda sangat cocok memerankan tokoh wanitanya," ucap Luke tiba-tiba, Jovanka lalu menoleh dan segera mengusap air mata serta ingusnya.
"Sejak kapan kau datang?" tanya Jovanka.
"Sejak tadi. Manager anda terus menelfon dan menanyakan apakah anda mau ikut casting!"
"Bilang saja aku tidak mau. Aku tidak suka endingnya. Kecuali mereka mau merubah endingnya!" ucap Jovanka asal-asalan.
"Kita bisa membicarakan ini dengan sutradara serta penulisnya," ujar Luke memberi saran.
"Memangnya bisa?"
Luke mengedikan kedua bahunya. "Entah!"
"Aish, dasar menyebalkan!" gumam Jovanka kesal.
"Hm, padahal saya ingin melihat anda main film ini," cetus Luke.
"Benarkah?"
"Hem. Pasti filmnya akan sangat bagus kalau anda yang menjadi pemeran utamanya!"
"Menurutmu begitu?" tanya Jovanka dan Luke hanya mengangguk. "Haruskah aku ikut casting?"
"Kenapa tidak?"
Jovanka diam sejenak, meski di tak menyukai akhir dari kisah Robbert namun Jovanka sangat menyukai karakter wanita yang begitu kuat dan ceria, tokoh utama wanita dalam novel tersebut memiliki sifat yang hampir mirip dengannya, konyol namun sangat perhatian dengan orang-orang di sekitarnya. Apalagi Luke bilang dia ingin melihat Jovanka memerankan film tersebut, mungkin tidak ada salahnya untuk mencob.
"Oke, ayo kita casting!" putus Jovanka setelah berpikir sejenak. Wanita itu lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap karena casting film akan di lakukan sore ini.
Jovanka dan Luke sudah berada di tempat casting, Jovanka terlihat gugup meski dia sudah terbiasa berpose di depan kamera. "Bagaimana penampilanku Luke?" tanya Jovanka untuk menutupi kegugupannya.
"Seperti biasa, anda selalu cantik," jawab Luke dengan jujur, Jovanka tersipu mendengar pujian dari Luke.
"Aku gugup sekali," gumamnya seraya mengibaskan kedua tangannya.
"Tenang nona, anda pasti berhasil!"
Luke menunggu selama Jovanka sedang melakukan casting, pria itu berharap Jovanka akan melakukan dengan baik dan mendapat peran utama dalam film tersebut. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Jovanka keluar dari sebuah ruangan dan segera menghampiri Luke.
"Ayo kita pulang Luke!" ajak Jovanka.
"Bagaimana hasilnya nona?"
__ADS_1
"Sutradara akan menghubungiku lagi karena banyak artis terkenal yang ikut casting!"
"Saya yakin anda akan mendapatkan peran itu!"
"Semoga saja!"
.
.
Dua hari setelah casting, Jovanka belum juga mendapatkan kabar dari Mister Serkan. Karena hal itu Jovanka berhenti berharap dan yakin jika dia tidak lolos casting.
Jovanka menghabiskan sarapan paginya dengan wajah murung, seharusnya sejak awal dia tidak terlalu berharap akan mendapatkan peran tersebut.
"Kenapa wajahmu sangat murung Jov?" tanya Lynda setelah sarapan selesai.
"Tidak papa Grann, aku hanya sedang badmood," jawab Jovanka dengan senyum terpaksa. "Aku ke kamar dulu ya Grann," Jovanka beranjak dari duduknya dan segera kembali ke kamar, di tangga dia tak sengaja berpapasan dengan Luke yang akan turun.
"Kau mau kemana Luke?" tanya Jovanka sambil menatap Luke yang terlihat begitu rapi dan wangi.
"Saya mau keluar sebentar nona," jawab Luke dengan cepat.
"Kemana?"
"Ke kantor agency!"
"Tidak tau, bu Desy yang menyuruh saya datang!"
"Oh. Hati-hati Luke!"
Jovanka benar-benar merasa kesal, di rumah dia hanya sendirian karena Luke pergi dan Freesia serta Josh sudah pulang ke rumah mereka, sementara Lynda berada di rumah yang ada di belakang mansion.
Hampir setengah hari Jovanka menghabiskan waktunya di dalam kamar. Dia lalu mendapat telepon dari sang manager dan menyuruhnya datang ke kantor. Beruntungnya Luke sudah datang menjemputnya sehingga Jovanka tidak perlu mengemudikan mobil sendiri, jujur saja dia masih trauma dengan kecelakaan mobil waktu itu.
"Kenapa kau memanggilku kemari Des?" tanya Jovanka begitu dia sampai di kantor.
Desy terlihat begitu girang, wanita itu lalu memeluk Jovanka dengan erat. "Kau berhasil mendapat peran utama Jov," jawabnya sambil berteriak.
Jovanka melepaskan pelukan Desy dan menatap managernya tak percaya. "Kau serius?" tanua Jovanka memastikan.
"Ya, aku serius. Besok siang akan di lakukan pembacaan naskah dan seminggu setelahnya kau mulai syuting!"
"Benarkah. Oh Astaga, aku tak percaya ini. Oh ya, siapa pemeran prianya?" tanya Jovanka girang, sungguh sebelumnya dia sudah tidak berharap lagi akan mendapatkan peran itu.
"Kau akan mengetahuinya besok!"
Untuk merayakan keberhasilannya, Jovanka mengajak Luke makan siang di sebuah restoran mewah yang berada di pusat kota. Wanita itu begitu senang dan ingin membagi kebahagiaannya bersama Luke.
__ADS_1
"Pesan apapun yang kau inginkan Luke," ucap Jovanka dengan sombongnya.
"Baik nona!"
Setelah pesanan mereka datang, keduanya menikmati makan siang mereka dengan khidmat, sejak kecil Jovanka memang selalu di ajarkan untuk tidak berbicara saat sedang makan, sehingga kebiasaan itu berlangsung hingga saat ini.
Setelah makan siang, Luke menunggu Jovanka di depan restoran karena Jovanka harus pergi ke kamar mandi.
"Luke," panggil seseorang, Luke lalu menoleh dan terkejut melihat pria yang berdiri di hadapannya.
"Kau Luke kan?" tanya pria itu memastikan.
"Anda salah orang!" sangkal Luke dengan cepat.
"Tidak mungkin aku salah orang. Aku yakin kau Luke yang terkenal itu!" ujarnya bersikeras.
"Maaf, saya bukan Luke!" Luke kembali menyangkal, dia ingin pergi namun dia tidak mungkin meninggalkan Jovanka.
"Baby, ayo kita pulang," ucap Jovanka yang tiba-tiba saja datang, wanita itu lalu menggandeng lengan Luke dengan mesra. "Siapa dia beb?" tanya Jovanka seraya menatap pria asing yang berdiri di hadapannya.
"Entah, saya tidak kenal!" jawab Luke.
"Ini aku Luke, Jordan. Teman kul..."
"Maaf tuan Jordan, tapi anda salah orang. Dia bukan orang yang anda maksud," potong Jovanka sebelum pria bernama Jordan menyelesaikan kalimatnya. Tanpa berkata-kata lagi Jovanka segera membawa Luke dari restoran itu, dari wajahnya saja Jovanka paham Luke begitu tegang dan tidak ingin bertemu dengan pria itu.
"Kenapa anda melakukannya?" tanya Luke setibanya mereka di parkiran.
"Melakukan apa?" jawab Jovanka.
"Soal pria tadi."
"Ah. Aku melihatmu tidak nyaman bicara dengan pria itu jadi aku melakukannya!"
"Anda tidak penasaran siapa pria itu?"
"Sedikit. Tapi aku tidak akan bertanya sampai kau menceritakannya sendiri padaku! Sudahlah ayo kita pulang, aku harus perawatan wajah supaya besok terlihat lebih cantik!"
"Terima kasih nona!" ucap Luke tulus.
"Untuk?"
"Tidak bertanya tentang siapa saya!"
"Aku tidak perduli siapa kau sebenarnya. Yang aku tau, aku menyukaimu dan akan selalu melindungimu!" ucap Jovanka tanpa keraguan, wanita itu lalu masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu jawaban Luke karena dia yakin Luke tak memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1