
Setelah semua urusannya di Amerika selesai, Luke dan Jovanka kembali pulang ke Indonesia. Mereka hanya berdua karena Martha sudah memutuskan tetap tinggal di Amerika. Kepulangan Luke dan Jovanka di sambut keluarga mereka dengan hangat, mereka berharap setelah ini kebahagiaan mengiringi keluarga kecil Luke dan Jovanka.
"Selamat datang di rumah Luke," ucap Jimmy , meski wajahnya begitu datar namun ucapannya tulus.
"Terima kasih tuan," jawab Luke dengan senyum kaku.
"Karena kalian sudah kembali aku ingin mengatakan sesuatu!" sambung Jimmy dengan wajah yang tiba-tiba serius.
"Apa dad?" tanya Jovanka penasaran.
"Seperti yang kalian tau, Josh dan Frey tinggal di rumah mereka, Anne dan Jo tinggal di Villa Zantman. jadi untuk kalian, aku ingin kalian tetap tinggal di mansion ini dan Luke membantuku mengurus perusahaan!"
Luke dan Jovanka sama-sama terkejut karena rencananya mereka ingin meminta izin untuk tinggal berdua di tempat baru.
"Tapi dad," ucap Jovanka karena ingin mengutarakan pendapatnya, namun Luke menahan tangannya dan melarangnya untuk bicara.
"Baik tuan, kami akan tinggal di sini!" jawab Luke tanpa berunding lebih dulu dengan Jovanka.
Setelah memutuskan tinggal di mansion, Jovanka menarik tangan Luke ke kamar mereka. Jovanka sangat kesal karena Luke tidak mendiskusikan dulu dengannya. Padahal rencana awal mereka akan tinggal sendiri sebelumnya.
"Kau ini kenapa Luke, bukanya kita setuju akan tinggal di rumah sendiri," protes Jovanka dengan kesal.
"Jov, apa yang di katakan dady mu itu benar. Kalau kita keluar dari rumah ini lalu bagaimana dengan Lynda dan dady? Sebelumnya aku lupa jika di rumah ini hanya tersisa dirimu. Jadi, aku memutuskan untuk tinggal di sini," jelas Luke dengan pelan dan berharap Jovanka mau mengerti dengan keputusannya.
"Tapi Luke," Jovanka masih berusaha untuk protes.
"Sayang, apa kau tidak kasian pada Lynda?"
Jovanka menunduk lemah. "Kasian," jawabnya lesu.
"Kau tidak keberatan kan kita tinggal di sini?" tanya Luke lagi.
__ADS_1
Jovanka menganggukkan kepalanya dengan pelan, dia terpaksa menyetujuinya mengingat kondisi Lynda yang sudah tua dan pasti akan sangat kesepian jika di tinggal di rumah besar ini hanya bersama Jimmy.
"Gadis baik," Luke mengusap kepala Jovanka dengan lembut, lalu dia menarik tubuh Jovanka ke dalam pelukannya. Luke terpaksa melepas pelukannya karena pintu kamar mereka di ketuk oleh seseorang, Luke membuka pintu dan cukup terkejut melihat Josh berdiri di depan pintu kamarnya sambil menenteng sebuah tas besar di tangan.
Tanpa izin dari pemilik kamar Josh menerobos masuk lalu meletakan tas besar tersebut di atas meja. "Ah, berat sekali," keluh Josh seraya mengibaskan tangannya yang terasa pegal.
Jovanka menghampiri Josh dan menatap tas tersebut dengan alis mengekerut. "Apa ini Josh?" tanya Jovanka penasaran.
"Buka saja, kau pasti senang melihatnya!" jawab Josh yang membuat Jovanka semakin penasaran.
Jovanka lalu menarik sleting tas tersebut dan...
Cling....
Begitu tas terbuka, sebuah cahaya berwarna kuning keluar dari tas tersebut dan membuat mata Jovanka menjadi silau.
Jovanka mengedipkan matanya berulang kali, dia bahkan mengusap matanya untuk memastikan jika dia tidak salah lihat.
"Yup, dan ini milikmu!" jawab Josh dengan cepat.
Jovanka menatap Josh dengan tatapan tak percaya. "Really? Kau tidak bohong kan Josh?"
"Ck, bola matamu hampir keluar Jov," cibir Josh sambil terkekeh. "Tanyakan saja pada suamimu, aku yakin dia akan memberikannya kepadamu!"
Jovanka lalu beralih pada Luke yang berdiri tak jauh darinya. "Dari mana kau mendapat semua ini Luke?" tanya Jovanka yang semakin di buat penasaran.
"Semua ini peninggalan Charli dan dady. Kau boleh memilikinya sekarang!" jawab Luke dengan tersenyum.
"Oh my God," Jovank memekik sambil membungkam mulutnya. Lihatlah, kini mata birunya menjadi warna hijau karena terkontaminasi cahaya kuning dari emas batangan tersebut. Jovanka mengambil salah satu emas tersebut dan menatapnya dengan mata berbinar. "Aku akan menjagamu dengan baik," ucapnya sambil mengusap lembut permukaan emas tersebut.
"Apa aku boleh minta satu Jov?" pinta Josh penuh harap.
__ADS_1
"Tidak Josh, kau sudah kaya dan tidak butuh semua ini!" tolak Jovanka dengan cepat.
"Ck, pelit sekali. Padahal aku yang bersusah payah membawanya kemari!" ujar Josh menggerutu.
"Josh, bukankah kalian memakainya untuk menyewa Billboard? Kenapa masih ada emas dan uangnya?" sela Luke penasaran.
"Awalnya kami memang memakainya untuk menyewa papan iklan. Tapi setelah kasusmu dan Wilson meledak, mereka mengembalikan uang tersebut dengan alasan kemanusiaan. Kami menerimanya dan membagikannya kepada beberapa orang miskin di sana, dan ini sisanya!" jelas Josh panjang lebar.
"Terima kasih banyak Josh," ucap Luke dengan tulus.
"Semua ini tidak gratis. Kau harus membayarnya dengan cara membahagiakan adikku yang konyol ini!"
Luke tersenyum karena tanpa Josh memintanya pun dia akan melakukan hal tersebut. "Aku janji Josh!"
"Aku pegang janjimu. Kalau kau berani membuatnya menangis, aku akan mencongkel salah satu matamu dan menjualnya!" ancam Josh dengan wajah serius.
"Astaga kak, kenapa kau seperti preman begitu?" cobir Jovanka karena tak percaya kakaknya akan berkata seperti itu.
"Bukan preman Jov. Tapi Mafia. Aku dan Andrew akan membuat kelompok mafia dan kami beri nama Blue Bloods, aku yang akan menjadi ketuanya" ucap Josh penuh percaya diri.
Jovank tidak bisa menahan tawanya, dia tak percaya Josh memiliki pemikiran konyol seperti itu. "Mana ada ketua Mafia yang takut pada istri," sindir Jovanka seraya menyeka sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa.
"Ck, kau sangat menyebalkan Jov. Seharusnya tidak aku bawa emas ini untukmu!" Josh mengegrutu kesal dan segera keluar dari kamar adiknya. Dia sangat kesal saat kelemahannya di ungkit oleh orang lain. Meskipun benar jika dia memang tajut pada sang istri.
"Kenapa tidak di kasih saja Jov," ujar Luke setelah Josh pergi.
"Dia bahkan lebih kaya dari kita Luke. Setelah berhenti menjadi pilot, Josh memiliki pohon uang yang tidak ada habisnya. Frey juga memiliki tambang emas warisan dari Zantman. Lebih baik kita gunakan emas ini untuk modal kita usaha agar kita juga memiliki pohon uang seperti mereka!"
Luke hanya tersenyum, namun jauh di dalam hatinya dia merasa tercubit dengan ucapan sang istri karena dia tak memiliki kekayaan ataupun warisan yang berlimpah. Namun Luke bertekad, dia akan bekerja keras sehingga anak dan istrinya tidak kekurangan. Luke akan belajar membangun bisnisnya sendiri dan dia yakin suatu saat nanti bisa menanamkan pohon berbatang emas, berdaun uang, berbunga berlian dan berbuah saham obligasi. Wah, jika memilikinya satu saja pasti rasanya sangat menyenangkan bukan? Apa kalian ingin memilikinya juga?
BERSAMBUNG...
__ADS_1