
Jovanka sangat kesal karena setiap pagi Steve selalu datang menjemputnya, meski selalu mendapat penolakan namun pria itu tetap datang dan tidak punya malu. Seperti siang ini, Steve kembali datang menjemput Jovanka karena syuting tertunda sampai sore nanti. Jovanka memutar bola matanya malas, namun dia harus tetap bersikap baik demi proyek film yang sedang mereka kerjakan.
Dan sialnya, siang ini Luke tidak ada di rumah. Pria itu izin keluar sebentar karena tau Jovanka hanya memiliki jadwal saat sore.
"Come on baby, kita berangkat bersama saja," ajak Steve yang terkesan memaksa.
"Maaf Steve aku mau menunggu Luke saja," entah penolakan yang ke berapa yang sudah Jovanka lontarkan, jika bisa dia ingin sekali memukuli wajah Steve. Pria itu benar-benar kebal muka.
"Biarkan pegawaimu bersenang-senang di luar Jov!"
Jovanka hanya diam dan mencoba menghubungi Luke, sebelum pergi Luke sudah berjanji akan pulang sebelum Jovanka berangkat ke lokasi syuting, namun sampai detik ini Luke belum juga pulang. Jovanka merasa khawatir karena ponsel Luke tak bisa di bohongi.
Jovanka kembali masuk ke dalam rumahnya, dalam setengah jam ke depan dia harus segera berangkat. Sambil bersiap, Jovanka berharap Luke segera pulang agar dia bisa menolak ajakan Steve.
Namun harapannya hanya tinggal harapan, Luke belum juga sampai dan saat Jovanka keluar Steve masih menunggunya di depan rumah.
"Kita bisa telat babe, ayo berangkat bersamaku!" ucap Steve seraya membukakan pintu mobil untuk Jovanka. Jovanka tak punya pilihan lain, dengan terpaksa dia masuk ke dalam mobil dan menerima tawaran mantan kekasihnya.
Steve tersenyum penuh kemenangan, pria itu segera menyusul Jovanka ke dalam mobil. Steve segera melajukan mobilnya sebelum Luke tiba dan rencananya akan gagal. Selama perjalanan ke lokasi syuting, Steve beberapa kali bertanya pada Jovanka namun wanita itu menjawabnya dengan singkat dan membuat Steve merasa kesal.
"Kenapa kau berubah babe, kau sangat cuek padaku," keluh Steve seraya melirik wanita yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Hanya perasaanmu saja," jawab Jovanka dengan malas, dia lebih memilih menatap keluar jendela dan kembali mengkhawatirkan Luke.
Ponsel Jovanka berdering, dengan cepat dia mengambilnya dari dalam tas. Senyumnya seketika mengembang saat dia melihat panggilan dari Luke, tak ingin memuat Luke menunggu, Jovanka segera menerima panggilam tersebut.
"Hallo Luke," ucap Jovanka penuh kelegaan, sebelumnya dia sangat takut terjadi sesuatu pada Luke.
"Dimana anda?" tanya Luke di seberang sana.
"Aku sudah berangkat bersama Steve!"
"Kenapa tidak menunggu saya?" tanya Luke, dari suaranya pria itu sepertinya sedang kesal.
"Maaf Luke, aku takut terlambat!"
"Tolong ambilkan jaket di kamarku!"
"Ya!"
Jovanka kembali menyimpan ponselnya dengan wajah bahagia, hal tersebut tentu saja mengganggu Steve, pria itu merasa jika Jovanka memiliki perasaan lain terhadap pengawalnya itu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Steve tiba-tiba, bukan tanpa alasan pria itu menebak jika Jovanka menyukai Luke, wajah Jovanka begitu girang saat mendapat telefon dari bodyguardnya itu, padahal sebelumnya wajahnya terlihat murung.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud?" tanya Jovanka.
"Bodyguardmu!"
"Oh!"
"Jadi kau menyukainya?" tanya Steve lagi karena sebelumnya dia tak mendapat jawaban dari Jovanka.
"Bukan urusanmu Steve!" jawab Jovanka dengan tegas, menurutnya dia tak perlu menjawab pertanyaan Steve karena perasaannya tidak ada hubungannya dengan orang lain.
"Jadi kau menyukainya ya," tebak Steve dengan senyum kecut, namun dia semakin bersemangat untuk memengkan kembali hati Jovanka. Dia sangat yakin bisa memiliki Jovanka lagi, dia tidak mungkin kalah dengan seorang pengawal.
Jovanka memilih diam dan tak menjawab pertanyaan Steve, suasana mobil begitu hening hingga keduanya tiba di lokasi syuting. Saat keluar dari mobil, Jovanka kaget saat tiba-tiba Luke muncul di hadapannya tanpa bersuara.
"Astaga Luke, kau mengagetkanku," ujar Jovanka seraya memegangi dadanya yang berdebar karena terkejut.
"Maaf nona. Ini jaket anda!" Luke memakaikan jaket Jovanka di pundak, Steve yang melihat kedekatan mereka begitu kesal. Apalagi Jovanka selalu tersenyum saat sedang bersama Luke.
"Pengawal tidak tau diri," maki Steve dalam hati, pria itu lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari tau tentang pengawal bernama Luke, dia bekerja di bawah agency Jovanka. Secepatnya!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...