My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Film pertama


__ADS_3

Luke dan Jovanka di bawa ke pos security yang berada di pusat perbelanjaan karena mereka di curigai sedang melakukan mesyuuumm di tempat terbuka. Jovanka hanya bisa diam dan menundukan kepalanya, sementara Luke berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah melakukan push up 100 kali sebagai hukuman, Luke dan Jovanka akhirnya di bebaskan.


Di dalam mobil, keduanya tak henti-hentinya tertawa mengingat bagaimana konyolnya kencan pertama mereka.


"Kencan yang luar biasa," ucap Jovanka seraya menyeka ujung matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. "Mereka tidak mengenaliku kan?"


Luke mengedikkan kedua bahunya. "Semoga saja tidak," jawab Luke tak yakin. Semoga saja mereka tidak mengenali Jovanka sehingga tak akan ada masalah yang akan timbul di kemudian hari.


Keduanya memutuskan pulang ke mansion karena malam semakin larut. Jov dan Luke terpaksa berpisah dan kembali ke kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri, Jovanka menatap pantulan dirinya di cermin. Tangannya menyentuh tanda merah keunguan di lehernya. Seketika Jovanka merasa sedih, meski Luke yang telah merenggut kesuciannya, namun tetap saja dia merasa gagal menjaga diri. Dia sangat marah dengan dirinya sendiri, hanya saja dia tidak menunjukannya di depan Luke karena tidak ingin Luke ikut merasa bersalah.


"It's okay Jov. Kau sudah dewasa dan sexxxxxx bukanlah sesuatu yang tabu," ucap Jovanka mencoba menghibur diri. Setelah merasa lebih tenang, Jovanka memutuskan untuk tidur karena tubuhnya sangat lelah.


Sementara di kamar lain, Luke duduk termenung seraya menatap foto seorang wanita di dompetnya. Luke mengusap foto tersebut penuh kasih sayang, entah apa yang sedang pria itu rasakan, namun wajahnya terlihat begitu sendu.


"Maafkan aku," ucapnya pada selembar foto yang telah usang.


.


.


Malam ini film pertama Jovanka akan di tayangkan serentak di bioskop di seluruh negeri. Jovanka mengajak seluruh anggota keluarganya menghadiri gala premier yang di adakan di salah satu pusat perbelanjaan di pusat kota. Keluarga Janzsen dan Zantman begitu antusias ingin melihat film pertama Jovanka, sementara sang tokoh utama begitu gugup dan khawatir filmnya gagal.


Sepanjang film di putar, Katherine tak henti-hentinya menangis, wanita paruh baya itu begitu terharu dan bangga pada putri bungsunya. Menurut Katherine, akting Jovanka begitu apik dan menghayati membuat penonton ikut larut dalam cerita After Darkness.


Selesai menonton, anggota keluarga Janzsen dan Zantman makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan Jovanka, sayangnya sang tokoh utama tidak bisa bergabung karena harus melakukan jumpa pers untuk film perdananya.


"Aku tidak menyangka Jovanka sangat berbakat, aktingnya sangat bagus dan menjiwai. Seolah-olah dia merasakan apa yang tokoh utama rasakan," puji Maggie yang turut hadir dalam acara pemutaran film perdana Jovanka.


"Aku juga tidak menyangka akan hal itu," sahut Lynda tak kalah heran.


"Dia memang hebat," puji Katherine dengan perasaan haru, melihat putri kecilnya tumbuh menjadi wanita yang sangat hebat.

__ADS_1


"Aku dengar filmnya di angkat dari kisah nyata. Penulisnya pasti sangat senang melihat akting Jovanka," ujar Anne menimpali.


"Kau benar bi. Tapi kata Jovanka penulis novelnya sangat misterius. Bahkan mereka tidak tau siapa penulis penulis itu sebenarnya," sahut Frey.


"Benarkah? Kenapa dia merahasiakan identitasnya. Padahal novelnya kan sangat terkenal. Apalagi setelah di buat film, aku yakin akan semakin terkenal," balas Anne tak mengerti, kenapa penulis After Darkness memilih menyembunyikan identitasnya.


"Mungkin karena yang dia tulis adalah kisahnya sendiri," terka Josh.


"Mungkin juga!"


"Sudahlah. Lebih baik kita makan!"


Acara makan malam keluarga itu di selimuti rasa bahagia. Selain karena kesuksesan Jovanka, akhirnya mereka bisa berkumpul dalam formasi lengkap.


Sementara di tempat lain, Jovanka menjadi sorotan karena aktingnya begitu apik dan membuat penonton larut dalam kisah cinta Robbert dan Eve dalam film garapan Mister Serkan. Mereka tak menyangka, sebagai pendatang baru, Jovanka memiliki kualitas akting yang sangat mumpuni.


Setelah melakukan jumpa pers, Mister Serkan mengajak semua pemain dan kru untuk merayakan kesuksesan film mereka. Namun Jovanka menolak karena dia tidak ingin bertemu dengan Steve. Jovanka masih sangat marah pada mantan kekasihnya itu.


Untung saja Mister Serkan mengerti dan membiarkannya pergi. Namun saat tiba di parkiran, tiba-tiba Steve mengejarnya, hal tersebut membuat Luke geram dan menyembunyikan Jovanka di belakang tubuhnya.


"Aku ingin bicara dengan Jovanka," jawab Steve tanpa basa basi.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!" sahut Jovanka dari balik punggung Luke.


"Please baby, aku ingin menjelaskan semuanya. Malam itu aku juga di jebak, bukan aku yang melakukannya," ujar Steve membela diri.


"Cih, dasar pembual," sela Luke dengan tatapan meremehkan.


"Diam kau! Aku tidak bicara denganmu!" Steve begitu kesal karena Luke terlalu ikut campur.


"Ayo pergi Luke. Aku sangat lelah dan muak melihat wajah badjingan itu!" Jovanka menarik tangan Luke, namun hal tersebut justru membuat Steve kesal. Steve berlari dan menarik tangan Jovanka dengan kasar, melihat hal tersebut Luke segera menepis tangan Steve dan hampir saja menghajar pria itu seandainya Jovanka tidak menahannya.


"Jangan Luke. Jangan kotori tanganmu, badjingan seperti dia tidak pernah sadar dengan kesalahannya!'

__ADS_1


"Aku hanya ingin bicara denganmu Jov?"


"Bicara apa lagi? Kau mau menyangkal semua perbuatanmu? Aku memiliki bukti jika kau memang sengaja melakukannya. Aku memiliki rekaman CCTV saat kau memasukan obat ke minumanku, dan aku juga memiliki rekaman saat kau membawaku ke kamar hotel!" ucap Jovanka panjang lebar.


"Apa?" pekik Steve terkejut, dia tak percaya Jovanka memiliki bukti seperti itu.


"Jangan pernah menemuiku lagi atau aku akan melaporkanmu ke kantor polisi! Dan satu hal lagi, aku sangat menyesal pernah memiliki hubungan dengan pria brengsek sepertimu," ancam Jovanka dengan tatapan penuh kebencian. Wanita itu lalu masuk ke dalam mobilnya dan menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Akhirnya dia bisa mengeluarkan semua yang dia pendam selama ini.


Luke segera menyusul Jovanka ke dalam mobil dan memastikan keadaan Jovanka. "Kau baik-baik saja?"


"Oh astaga Luke, aku tidak percaya aku bisa mengatakan semuanya! Aku sangat lega!"


"Apa benar kau memiliki bukti?" tanya Luke penasaran, pasalnya sejak kejadian malam itu mereka selalu bersama dan Jovanka tidak pernah mengatakan apapun tentang bukti.


"Tidak," jawab Jovanka dengan santai.


"Kau membohonginya?"


"Badjingan sepertinya memang harus di ancam Luke, aku sangat muak dengannya. Seandainya membunuh orang tidak di larang, aku pasti sudah membunuhnya sejak dulu," ujar Jovanka mengungkapkan kekesalannya.


Luke tersenyum dan membelai rambut Jovanka. "Kau sangat licik!"


"Bukan licik Luke tapi cerdik!"


"Bedanya sedikit!"


"Terserah kau saja Luke!


Luke terkekeh melihat wajah cemberut wanita cantik itu, namun wajah Luke berubah seketika saat dia melihat seseorang yang tak asing baginya. Kedua mata Luke membola saat seorang pria keluar dari mobil dan tersenyum menyeringai ke arahnya. Pria itu menggaruk kepalanya dengan sebuah pistoolll.


"Sebaiknya kita pulang," ajak Luke dengan gugup, dia segera melajukan mobilnya dan meninggalkan tempat tersebut.


"Bagaimana mereka bisa menemukan tempat ini?" batin Luke dengan sekujur tubuh bergetar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2