My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Bukan urusanmu


__ADS_3

Puas bermain dengan baby Van, Jovanka kembali ke lokasi syuting untuk menyelesaikan beberapa adegan terakhir sebelum proses syuting selesai. Meski kadang melelahkan, namun siapa sangka Jovanka bisa melewatinya hingga akhir.


Di lokasi syuting, Steve telah menunggunya dengan senyum yang begitu menggoda. Meski kesal namun Jovanka bersikap ramah dan membalas senyuman Steve.


"Babe kenapa kau baru datang?" tanya Steve seraya mengejar Jovanka yang berjakan ke tempat make up.


"Aku ada urusan," seperti biasa Jovanka akan menjawabnya dengan singkat.


"Dengan pengawalmu itu?" pertanyaan Steve seolah menyindir Luke yang berada tak jauh dari sana.


"Bukan urusanmu!"


"Oh ayolah babe, jangan ketus begitu padaku. Aku tunjukan sesuatu yang bagus, bagaimana?"


"Aku tidak tertarik Steve!"


"Lihat dulu baru putuskan kau tertarik atau tidak!"


Jovanka membuang nafasnya dengan kasar saat Steve memaksanya untuk melihat ponselnya. Mata Jovanka membelalak sempurna saat melihat vidio dirinya dan Luke sedang berciuman. Jovanka menoleh dan menatap nyalang pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.


"Apa yang kau inginkah Steve?" tanya Jovanka tanpa basa-basi, mengingat peringai Steve, dia yakin jika pria itu menginginkan sesuatu darinya.


"Kau sangat pengertian babe. Hmm, aku hanya ingin kau bersikap baik padaku. Jangan tolak aku jika aku mengajakmu jalan jalan atau sekedar makan malam bersama," ucap Steve dengan seringai di wajahnya.


"Aku tidak mau!" tolak Jovanka dengan tegas.


"Oh come on baby. Jangan seperti ini, jika vidio ini tersebar maka karirmu akan wusss, terjun bebas. Film perdanamu pasti akan gagal, apa kau mau itu terjadi," ancam Steve dengan suara lembut namun penuh penekanan.


Kedua tangan Jovanka mengepal erat, wanita itu menoleh lalu menatap Luke yang juga sedang memperhatikannya bersama Steve. Jovanka diam sejenak dan memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi jika rekaman tersebut bocor ke media, bukan hanya dia yang di rugikan pasti nama besar keluarganya juga akan terbawa.


"Oke, tapi hapus vidio itu!" Jovanka terpaksa menyetujui Steve namun dengan syarat yang dia berikan.

__ADS_1


"God job babe, kau tenang saja. Aku akan menghapusnya setelah film kita tayang! Dan sebagai awal, kau harus pulang bersamaku setelah syuting!"


"Hem," Jovanka benar-benar kesal, namun dia tidak bisa berbuat apapun selain menyetujui ajakan Steve karena rekaman tersebut tidak boleh tersebar.


Luke yang menyadari gelagat aneh Jovanka segera menghampiri majikannya itu, dia khawatir karena ekspresi wajah Jovanka berubah setelah Steve datang. "Ada apa nona, apa dia mengganggu anda lagi?" tanya Luke cemas.


Jovanka menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak Luke. Oh ya, nanti aku akan pulang dangan Steve. Kau bisa pulang sekarang!"


"Apa? Anda yakin? Dia tidak mengancam anda kan?" cecar Luke dengan wajah terkejut, bagaimana tidak, sebelumnya Jovanka sangat menghindari Steve tapi kenapa tiba-tiba mereka akan pulang bersama.


"Tidak. Aku hanya ingin memperbaiki hubungan kami!"


Deg...


Jawaban Jovanka seolah menyentil hati Luke, entah mengapa dia tak menyukai jawaban majikannya itu. "Oh, baiklah!" jawab Luke karena dia tak berhak melarang Jovanka.


Setelah syuting selesai, Steve segera menghampiri Jovanka dan membawanya ke dalam mobilnya. Steve tersenyum smrik saat dia melewati Luke, pria itu merasa menang satu langkah dari Luke.


Luke dapat melihat dengan jelas wajah Jovanka yang begitu tertekan, namun dia tidak tau mengapa Jovanka melakukannya. Dari kejauhan Luke bisa melihat Steve berkali-kali menyentuh tangan Jovanka meski wanita itu terus saja menepisnya. Luke menggeram kesal, ingin rasanya dia mematahkan pergelangan tangan Steve saat ini juga.


Setelah makan malam, Steve mengantarkan Jovanka ke mansion keluarga Janzsen. Luke yang lebih dulu pulang menyambut kedatangan majikannya agar mereka tidak curiga jika tadi Luke membuntuti mereka berdua.


"Terima kasih untuk hari ini babe, aku akan menjemputmu besok!" ucap Steve seraya memeluk Jovanka dengan paksa.


Jovanka berusaha mendorong tubuh Steve hingga tubuhnya terlepas. "Hem. Hati-hati di jalan," jawab Jovanka malas.


Jovanka lalu masuk ke dalam rumah, saat Luke akan menyusulnya tiba-tiba Steve menahan pria itu.


"Sadar posisimu pengawal rendahan!" hina Steve dengan sombongnya. Kedua tangan Luke mengepal, namun pria itu berusaha menahan amarahnga agar tidak sampai memukul Steve atau Steve akan mati di tangannya.


Luke lalu menoleh dan menatap Steve penuh kemarahan. "Berani kau menyakiti nona Jovanka, akan ku pastikan namamu tertulis di batu nisan saat itu juga!" ancam Luke dengan rahang mengatup dan mata memerah. Setelah mengancam Steve, Luke masuk ke dalam mansion dan ingin mendengar penjelasan dari Jovanka.

__ADS_1


Luke mengetuk pintu kamar Jovanka, tak lama setelah itu pemilik kamar membukakan pintu utuknya .


"Ada apa Luke?" tanya Jovanka dengan wajah lesu, padahal biasanya Jovanka sangat bersemangat jika melihat Luke.


"Apa maksudnya semua ini? Bukankah anda sangat membencinya? Kenapa hari ini kalian begitu dekat?" tanya Luke tanpa basa basi lagi.


"Bukan urusanmu Luke!"


"Tugas saya adalah menjaga anda, jadi segala sesuatu yang membahayakan anda adalah urusan saya!" jawab Luke dengan lantang.


"Steve tidak bahaya Luke, kami hanya ingin berteman, itu saja," kilah Jovanka memberi alasan.


"Anda yakin? Dia tidak mengancam anda kan?" selidik Luke dengan tatapan curiga.


"Kenapa kau sangat perduli? Apa kau mencintaiku?"


Luke menggigit bibir bawahnya, jantungnya seakan berhenti setiap Jovanka menanyakan tentang perasaannya.


"Tidak perlu kau jawab Luke. Selama kau tidak mencintaiku maka jangan ikut campur dalam masalah pribadiku. Tugasmu hanya mengawalku, jadi jangan membuatku salah paham dengan keperdulianmu yang palsu itu. Silahkan keluar karena aku sangat lelah!"


Luke tak menyangka Jovanka akan mengusirnya. Tanpa berkata apapun Luke keluar dari kamar Jovanka dan kembali ke kamarnya. Di dalam kamar, Luke melampiaskan amarahnya yang sejak tadi dia tahan. Pria itu meninju cermin yang terpasang di dinding hingga cermin tersebut hancur berantakan.


Dada kekar Luke naik turun seirama dengan nafasnya yang memburu, dia tak memperdulikan darah yang mulai berceceran di lantai, luka di tangannya tidak sebanding dengan kemarahan yang sedang dia rasakan.


Luke menatap cermin yang telah hancur dan bernodakan darah, giginya saling bergemelatuk dan amarahnya belum juga padam. Matanya yang memerah menjadi bukti betapa marahnya pria itu.


Tapi apa yang membuat pria itu begitu marah?


Apa Luke cemburu?


Atau hanya kesal karena dia merasa gagal menjaga Jovanka?"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2