
Sudah dua hari sejak dirinya pulang dari pantai, Jovanka merasa bosan karena tak melakukan apapun di rumah besarnya, dan dia masih memiliki dua hari sebelum kembali beraktivitas sebagai model dan artis pendatang baru. Apalagi Abel dan Van berada di rumah masing-masing, dia sungguh kesepian dan merindukan kedua keponakannya yang sedang lucu-lucunya.
Jovanka duduk di teras rumahnya sambil memangku toples besar berisi keripik bawang, entah sejak kapan wanita cantik itu mulai memakannya, tapi saat Luke keluar, Jovanka sudah menghabiskan setengah dari toples besar tersebut.
"Nona, apa kau menghabiskan semua keripik itu?" tanya Luke dengan tatapan heran, beberapa hari terakhir nafsu makan Jovanka meningkat drastis.
Jovanka menunduk dan terkejut melihat isi tomplesnya hampir habis. "Astaga naga, aku pasti sudah gila. Dua hari lagi aku harus bekerja, bagaimana ini. Pasti berat badanku naik," oceh Jovanka pada dirinya sendiri. Dia lalu memberikan toples itu kepada Luke. "Sembunyikan keripik sialan itu dariku!"
"Kenapa jadi keripiknya yang salah?" gumam Luke seraya menatap keripik bawang yang malang. Luke lalu kembali ke dalam dan menyimpan keripik bawang tersebut. Luke lalu kembali keluar karena tadi dia melihat mood Jovanka sedang jelek.
Luke berjongkok di samping kursi Jovanka sambil tersenyum, melihat wajah manyun Jovanka membuat Luke gemas. "Mau jalan-jalan?" tanya Luke.
Jovanka menoleh dengan mata berbinar. "Mau. Kemana?" jawabnya antusias.
"Bagaimana kalau ke time zone?"
Jovanka mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat. "Mau! Ayo pergi!"
"Ganti dulu bajumu. Pakai baju yang normal dan jangan mencolok. Jangan lupa pakai masker dan bawa topi!"
"Siap bos!"
Luke rersenyum melihat mood Jovanka yang kembali membaik, kini mereka berada di pusat permainan yang terletak di salah satu mall besar di tengah kota. Jovanka begitu atraktif, dia mencoba semua permainan yang ada di tempat itu.
"Aku lelah, aku lapar dan aku ingin makan!" ucap Jovanka setelah menjajal semua permainan.
"Ayo kita makan!"
Keduanya berjalan sambil bergandengan tangan. Namun Luke merasa gelisah karena merasa ada yang sedang mengikuti mereka. Beberapa kali Luke menoleh namun dia tidak menemukan orang yang mencurigakan.
"Luke aku mau makan Ramen," pinta Jovanka seraya menunjuk sebuah restoran ala Jepang.
Luke mengangguk dan menggandeng tangan Jovanka dengan mesra. Sebelum masuk ke dalam restoran tersebut, tiba-tiba seorang pria menabrak Jovanka hingga wanita itu limbung dan hampir jatuh, untung saja Luke sigap menangkap tubuh Jovanka. Namun Luke merasa ada sesuatu yang aneh, dia merasakan sesuatu yang basah dan hangat dari pinggang Jovanka, pria itu menarik tangannya dan begitu terkejut melihat darah di telapak tangannya.
__ADS_1
Luke menatap Jovanka dan melihat wanita itu sedang meringis menahan sakit. Sekujur tubuh Luke bergetar saat dia melihat dengan jelas darah keluar dari pinggang kekasihnya.
"Luke," ucap Jovanka dengan suara bergetar.
"Ah, Jov. Bagaimana ini," ujar Luke dengan mata berkaca-kaca.
Melihat darah berceceran, pengunjung mall yang lain mulai mengerubungi mereka. Luke semakin panik saat Jovanka semakin pucat dan bahkan tidak sanggup untuk berdiri lagi.
"To-long, panggilkan ambulan," pinta Luke dengan suara mengiba, dia sungguh tidak sanggup melihat Jovanka terluka. Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Luke menggendong Jovanka menuju lantai bawah dan menunggu ambulan.
"Jangan tidur sayang, tetap bersamaku. Buka matamu!" tutur Luke dengan isak tangis, untuk yang pertama kalinya dia menunjukan air matanya. "Aku mohon bertahanlah!" Luke semakin panik saat Jovanka mulai tak sadarkan diri. Tepat saat dia tiba di lobby, sebuah ambulan datang dan petugas paramedis segera mengambil alih Jovanka dari gendongan Luke.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya petugas paramedis.
"Entah, aku juga tidak tau. Ada seseorang yang menabraknya dan..."
Petugas itu langsung mengerti, dia membawa Jovanka ke dalam ambulan dan memeriksa kondisi Jovanka. Setelah Jovanka mendapat pertolongan pertama, Luke naik ke dalam ambulan dan ikut ke rumah sakit.
Ting..
Luke memeriksa ponselnya, sebuah pesan masuk dari nomor tidak di kenal.
"Bagaimana? Apa kau terkejut? Ini baru awal Luke!"
Luke mengeraskan rahangnya, matanya memerah dan tangannya mengepal. "Badjingan!"
Di tengah amarah yang sedang memuncak, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut san menghampiri Luke.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Luke seraya menyeka air matanya.
"Pasien baik-baik saja, untung saja luka tusukannya tidak dalam. Pasien pingsan karena terkejut!"
Luke sedikit bernafas lega, dia hampir saja mengamuk jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Jovanka. Kabar penusukan Jovanka telah sampai di keluarga Janzsen dan Zantaman. Semua orang berbondong-bondong menuju rumah sakit.
__ADS_1
Katherine datang bersama Frey dan Josh, mereka segera menghampiri Luke yang duduk di lantai. Melihat kedatangan mereka, Luke segera berdiri.
"Bagaimana kondisi Jovanka?" tanya Katherine panik, terlihat matanya sembab dan memerah.
"Dia baik-baik saja nyonya. Nona sedang tidur sekarang. Sebentar lagi nona akan di pindahkan ke ruang rawat jalan!" jelas Luke.
"Bagaimana ini bisa terjadi Luke?" tanya Frey kemudian.
"Maafkan saya nyonya, saya lalai menjaga nona Jovanka," jawab Luke penuh sesal, pria itu bahkan tak berani mengangkat kepalanya.
Tak lama setelah itu Jovanka di pindahkan ke ruang perawatan di temani Frey dan Katherine. Sementara itu Josh menarik kerah Luke dengan kasar dan membawanya ke tempat sepi.
Buggg...
Sebuah pukulan mendarat di wajah Luke, dia hanya bisa pasrah dan menerima amukan dari Josh.
"Kau puas sekarang?" tanya Josh dengan tatapan penuh kebencian. "Andai saja kau pergi sejak awal, Jovanka tidak akan terluka! Aku yakin semua ini gara-gara dirimu!"
Luke hanya bisa menunduk, pria itu bahkan tak bisa berkata apapun karena semua yang di katakan Josh adalah kebenaran. Seandainya saja Luke tidak egois dan tetap bertahan bersama Jovanka, mungkin wanita itu tidak akan terluka seperti ini.
"Pergilah Luke. Jangan pernah kembali lagi!" usir Josh dengan kejam, namun sebagai seorang kakak dia hanya berusaha melindungi adiknya. Apalagi dia tidak tau seberbahaya apa Luke dan musuh-musuh Luke di luar sana. Dia tidak ingin Jovanka dan anggota keluarga yang lain terluka.
"Izinkan saya melihat Jovanka untuk yang terakhir kalinya," pinta Luke dengan suara mengiba, pria itu bahkan bersujud di kaki Josh sambil menangis. "Tolong biarkan saya melihatnya tuan," Luke kembali memohon.
Josh merasa iba melihat Luke memohon kepadanya. "Baiklah, waktumu hanya sepuluh menit!"
"Terima kasih banyak tuan!"
Kini Luke berada di ruangan Jovanka, pria itu duduk sambil menggenggam erat tangan Jovanka. Luke tak bisa menahan air matanya melihat wajah Jovanka begitu pucat, dia juga tak bisa meninggalkan Jovanka. Namun demi kebaikan wanita terkasihnya, Luke harus menghilang secepatnya.
"Terima kasih karena telah mencintaiku dengan tulus. Dan, maafkan aku karena aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu menemanimu dan menjagamu. Berbahagialah Jov, lupakan aku! Ucap Luke dengan hati yang hancur. Pria itu terpaksa melepaskan tangan Jovanka. Sebelum pergi, Luke mengecup kening Jovanka dan meninggalkan setetes air mata di wajah Jovanka. "Aku mencintaimu Jov!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1