
Setengah jam kemudian Martha keluar dari ruang pemeriksaan dan menghampiri putranya.
"Bagaimana mom?" tanya Luke.
"Dia...."
"Dia kenapa mom? Bayi kami baik-baik saja kan?" potong Luke sebelum Martha menyelesaikan kalimatnya. Luke benar-benar takut sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan calon anaknya.
"Dia sembelit," jawab Martha dengan garis senyum di wajahnya.
"Sembelit?" ulang Luke dengan dahi berkerut.
"Ya, sangat wajar bagi ibu hamil mengalami sembelit," jelas Martha dengan perasaan lega. Saat Jovanka menemuinya dia memang sedikit curiga jika Jovanka sedang kurang sehat, itulah sebabnya Martha menyusul ke penginapan. Dia juga sempat khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada menantu dan calon cucunya
"Tapi kenapa sampai kesakitan mom?" tanya Luke penasaran.
"Selain sembelit, dia juga kelelahan, kelaparan dan dehidrasi. Untung saja fisiknya sangat kuat sehingga dia masih bertahan, dan lebih bersyukurnya lagi bayi kalian baik-baik saja. Dia sekuat momynya!"
"Astaga, kenapa dia sampai seperti itu mom?"
"Apalagi penyebabnya? Jelas-jelas kau yang membuatnya seperti itu," ujar Martha seraya mencubit lengan putranya. "Jovanka sedang tidur. Lebih baik kau carikan makanan untuks istrimu!"
"Baik mom!"
Setelah membelikan makanan untuk istrinya, Luke kembali ke klinik. Jovanka masih tertidur dengan selang infus menancap di tangannya. Luke duduk di samping tempat tidur istrinya, pria itu menatap wajah Jovanka yang masih terlihat pucat.
"Kalau kau marah padaku, setidaknya kau harus menjaga kesehatanmu. Kenapa kau malah menyiksa dirimu sendiri?" tanyanya pada wanita yang tertidur pulas.
Satu jam, dua jam, tiga jam lamanya dan Luke tetap setia menemani Jovanka. Tangannya sama sekali tak terlepas dari tangan sang istri. Luke merasa lega saat tangan Jovanka mulai menghangat setelah sebelumnya begitu dingin.
Setelah istirahat cukup lama, Jovanka mulai mengerjapkan matanya. Wanita itu membuka matanya perlahan dan terkejut karena dia berada di tempat asing.
"Aku dimana?" gumamnya pelan.
Luke yang sempat tertidur segera bangun begitu mendengar suara istrinya. Dia bernafas lega melihat mata Jovanka terbuka. "Kau baik-baik saja?" tanya Luke dengan pelan.
"Luke," panggil Jovanka dengan suara serak.
"Ya ini aku!"
"Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Jovanka.
__ADS_1
"Tidak sayang, ini aku!" Luke meraih tangan Jovanka dan membawanya ke wajahnya.
Jovanka tersenyum dengan.perasaan lega, setelah beberapa hari mencari Luke akhirnya dia bisa menemukan suaminya. "Luke, maafkan aku," ucap Jovanka dengan mata berkaca-kaca. "Maaf karena aku terlalu egois dan tidak memikirkan perasaanmu," sambungnya penuh sesal. Perlahan air matanya mulai berjatuhan, dia benar-benar menyesali perbuatannya.
Luke menggelengkan kepalanya seraya mengusap air mata sang istri. "Tidak sayang. Kau tidak salah. Aku yang bersalah. Aku janji, aku tidak akan menyembunyikan apapun dari dirimu lagi. Aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi!" tutur Luke yang juga menyesali perbuatannya.
"Jangan pernah meninggalkanku lagi Luke. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik!"
Luke mengangguk lalu memeluk tubuh istrinya. "Ya, aku janji. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan selalu bersama-sama sayang!"
Jovanka terisak di bawah dekapan suaminya. Dia benar-benar bersyukur karena Luke mau memaafkannya. Sebelumnya dia begitu takut, dia cemas Luke akan meninggalkannya dan membencinya. Namun kini ketakutanny sirna sudah, yang perlu Jovanka lakukan saat ini adalah menjaga Luke dengan sebaik-baiknya.
Setelah kondisi Jovanka membaik, Jovanka sudah di perbolehkan pulang. Karena tak ingin istrinya kelelahan, Luke menggendong Jovanka di punggungnya.
"Turunkan aku Luke, aku bisa jalan sendiri!" ucap Jovanka, dia kasihan pada Luke karena Luke pasti kelelahan menggendongnya.
"Jangan bergerak atau kita akan jatuh sayang!"
"Tapi aku berat Luke! Turunkan aku, aku ingin berjalan!"
Karena Jovanka terus memaksa, akhirnya Luke menurunkan Jovanka dan membiarkan istrinya jalan sendiri. Luke menggandeng tangan Jovanka, mereka berjalan beriringan menuju penginapan.
"Dari mana kau tau aku ada di sini?" tanya Luke penasaran.
"Bohong," celetuk Luke tak percaya. Jika tebakannya benar, Jovanka pasti menyewa detektive swasta untuk melacak keberadaannya.
"Tidak percaya juga tidak masalah!" ucap Jovanka dengan bibir mencebik.
Luke terkekeh melihat bibir manyun Jovanka, dia sangat merindukan momen yang istriny sedang cemberut. "Ya, ya aku percaya nona!"
Setibanya di penginapan, Luke menyuruh Jovanka untuk istirahat. Setelah merebahkan tubuh istrinya, Luke keluar dari kamar karena ingin membuatkan sesuatu yang hangat untuk Jovanka. Beberapa menit kemudian Luke kembali masuk membawa segelas cokelat hangat dan roti. Luke membantu Jovanka untuk duduk dan memberikan cokelat hangat tersebut.
"Minumlah selagi hangat," ucap Luke penuh perhatian.
Jovanka mengangguk dan meminum cokelat tersebut. Seketika tubuhnya merasa hangat dan rileks.
"Aku sangat merindukanmu Luke," aku Jovanka setelah menghabiskan cokelatnya.
"Aku juga, sangat, sangat, sangat merindukanmu," jawab Luke dengan lembut, pria itu lalu merengkuh tubuh Jovanka ke dalam pelukannya.
"Ah, hangat. Aku merindukan pelukanmu," gumam Jovanka di dalam pelukan Luke yang selalu membuatnya merasa tenang dan aman.
__ADS_1
Luke melepaskan pelukannya, dia menatap wajah istrinya dengan intens. Entah sudah berapa lama.dia tak melihat wajah istrinya dengan jelas. Selama sebulan lebih dia hanya bisa menatap wajah Jovanka dari jauh.
Luke membelai wajah Jovank dengan lembut, tangannya menyapu seluruh bagian wajah Jovanka tanpa terkecuali. Kini jemarinya berakhir di bibir Jovanka yang masih terlihat pucat. Setelah cukup lama menatap bibir itu, Luke memberanikan diri untuk mengecupnya sekilas.
Jovanka tersenyum, wanita hamil itu lalu menarik tengkuk sang suami dan kini giliran Jovanka yang mencium bibir Luke. Namun ciuman Jovanka tak selembut ciuman Luke, wanita itu menyesap bibir suaminya penuh hasrat.
Kerinduan yang mendalam membuat Luke lupa diri, dia mulai membalas ciuman istrinya dan mengimbangi permainan lidah sang istri. Suara decapan menggema di dalam kamar yang tak terlalu luas itu, sepasang suami istri mabuk dalam sentuhan yang telah lama mereka rindukan.
Luke menahan tangan Jovanka saat istrinya mulai menyentuh titik sensitif di tubuhnya. Luke mengerti apa yang di inginkan Jovanka, namun mengingat kondisi Jovanka yang masih lemah Luke harus menahan diri.
"Tidak sekarang Jov, kau masih sakit," tolak Luke dengan perasaan bersalah.
"Tapi aku menginginkannya Luke," pinta Jovanka dengan nafas memburu.
"Besok. Kita lakukan besok saat kau sudah lebih baik!"
Jovanka menggelengkan kepalanya dengan cepat. "No. Aku mau sekarang. Aku sangat merindukanmu!"
"Tapi Jov!"
"Lakukan dengan pelan. Aku akan baik-baik saja!"
Tidak Jov. Aku takut kau kelelahan!"
"Please!" pinta Jovanka dengan wajah memohon.
Luke menghela nafas berat, dia juga sangat ingin menyentuh istrinya. Namun dia takut akan membuat Jovanka kelelahan.
"Apa kau tidak ingin menyentuhku lagi?" tanya Jovanka dengan sedih.
"Aku jhga sangat menginginkannya sayang, tapi kau sedang tidak enak badan!" jawab Luke dengan tegas.
"Aku baik-baik saja sekarang Luke. Sentuh aku, please!"
Luke tidak tega melihat wajah sendu Jovanka. Akhirnya dia menyerah dan mengabulkan keinginan istrinya. Luke kembali mencium Jovanka dengan mesra, tangannya juga mulai bergerak liar di tubuh sang istri.
Di tengah permainan panas mereka, tiba-tiba Jovanka mendorong tubuh Luke dan wanita itu bergegas turun dari tempat tidur.
"Ada apa?" tanya Luke kebingungan.
Jovanka berlari menuju kamar mandi. "Perutku mulas!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...