
Dua hari sebelum Luke pergi ke negaranya, Jovanka dan Luke menghabiskan waktu bersama. Jovanka tiba-tiba menjadi sangat manja dan selalu menempel, dia bahkan mengikuti Luke ke kamar mandi karena tak ingin menyia-nyiakan waktu dua harinya.
Luke sama sekali tak keberatan, karena di dalam hatinya pun dia menginginkan hal tersebut, dia ingin menciptakan momen tak terlupakan selama dua hari. Meski berharap dia akan berhasil menemukan bukti dan kembali, namun tidak ada yang tau apa yang akan terjadi di sana.
Setelah sarapan, Luke mengajak Jovanka untuk jalan-jalan di halaman belakang mansion. Keduanya saling bergandengan dan menikmati udara pagi yang cukup segar. Pagi itu, bunga-bunga bermekaran, membuat taman begitu indah dengan hamparan bunga berwarna-warni.
"Aku capek," keluh Jovanka seraya menyeka keringat di keningnya, wanita itu lalu duduk di bangku taman dan Luke segera menyusulnya. Luke memeluk Jovanka dan membiarkan wanita itu bersandar di bahunya, keduanya menatap lurus ke depan di mana bunga mawar merah dan putih dengan bermekaran.
"Siapa yang membuat taman secantik ini?" tanya Luke.
"Awalnya Granny yang membuatnya, lalu Frey datang dan menanam beberapa macam bunga dan menyulap taman gersang menjadi secantik ini," jawab Jovanka seraya mengingat masa lalu, dimana Frey baru saja datang di tengah keluarganya. Gadis itu begitu ceria dan membuat suasana rumah menjadi hidup.
"Wow, nona Frey sangat berbakat dalam urusan tanam-menanam rupanya!" puji Luke.
"Ya, dan aku senang memiliki kakak ipar seperti dia. Selain cantik dan baik hati, Frey juga sangat tangguh!"
"Ya aku tau itu. Aku mendengar kisah cinta Frey dan Josh yang sangat menyentuh hati!"
"Dan aku ingin seperti mereka. Meski pernikahan kita memiliki banyak rintangan, aku ingin kita selalu bersama, saling bergandengan tangan dan menguatkan," ucap Jovanka penuh harap.
"Aku janji tidak akan pernah melepaskan tangan ini," Luke mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut, keduanya lalu kembali menikmati pemandangan yang sayang untuk di lewatkan.
Sehari sebelum keberangkatan, Luke mengajak Jovanka ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. Luke menitikan air matanya saat dia melihat sebuah titik hitam di layar monitor, dokter mengatakan jika titik hitam tersebut adalah calon bayi mereka. Usia kehamilan Jovanka kini memasuki minggu ke delapan.
Setelah pulang dari rumah sakit, mereka menyempatkan mampir ke restoran favorit Jovanka. Wanita hamil itu memesan begitu banyak makanan, katanya dia sangat lapar dan ingin memakan semua. Dan seperti yang Jovanka katakan, dia benar-benar melahap habis semua pesanannya. Luke hanya terkekeh, jika biasanya dia akan melarang Jovanka makan terlalu banyak, kini Luke membiarkan Jovanka melakukan apapun yang dia inginkan.
"Ada lagi yang ingin kau makan?" tanya Luke dengan lembut.
"Aku mau ice cream," pinta Jovanka.
__ADS_1
"Baik tuan puteri!"
Jovanka tertawa geli mendengar panggilan Luke yang sangat berlebihan, keduanya memutuskan pulang dan memakan ice creamnya di mansion utama.
Malam ini semua anggota keluarga berkumpul untuk makan malam bersama, mereka ingin memberi semangat pada Luke sebelum pria itu memperjuangkan nama baiknya.
"Kembalilah dengan selamat Luke, aku akan mengirim beberapa orang untuk membantumu selama kau di sana," ujar Maggie Zantman setelah makan malam selesai.
"Terima kasih banyak nyonya, saya tidak tau harus membalas kebaikan anda dengan cara seperti apa," jawab Luke penuh haru.
"Cukup kau kembali dengan selamat!"
Katherine juga memeluk menantunya, dia benar-benar tidak ingin menangis, namun air matanya lolos begitu saja. "Cepat kembali, istri dan anakmu sangat membutuhkanmu!"
"Aku pasti akan kembali mom, tolong jaga Jovanka selama aku pergi!"
Suasana haru menyelimuti mansion mewah tersebut, Luke begitu bersyukur karena dia bertemu dengan keluarga yang sangat perduli padanya. Setelah semua orang pergi, Luke dan Jovanka kembali ke kamar mereka.
Setelah berkemas, Luke mengajak istrinya untuk tidur. Luke memeluk Jovanka dan mengusap kepalanya penuh kasih sayang.
"Jov," panggil Luke dengan mesra.
"Hem!"
"Sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Luke penasaran.
"Sejak aku melihatmu di Sky Bar beberapa tahun yang lalu. Jantungku berdebar saat melihatmu di sana dan aku langsung yakin jika aku jatuh cinta padamu," jawab Jovanka tanpa keraguan sedetikpun.
"Bagaimana denganmu? Sejak kapan kau mulai menyukaiku? Apa sejak kita tidur bersama?" kini giliran Jovanka yang bertanya.
__ADS_1
"Emm, entah. Mungkin jauh sebelum itu," jawab Luke penuh tanda tanya.
"Aku tidak peduli sejak kapan, yang aku perdulikan adalah selamanya kau harus tetap mencintaiku!" tutur Jovanka dengan tegas.
"Aku janji sayang!"
Luke mempererat pelukannya, keduanya menikmati malam dengan pelukan hangat.
Pagi-pagi sekali, Luke sudah bersiap karena dia akan segera berangkat ke Amerika. Jovanka mengantarkan Luke sampai ke depan rumah, di sana sudah ada Frey dan Abel yang sedang di peluk oleh Josh.
Luke membungkukan tubuhnya dan mengecup perut Jovanka. "Dady pasti akan segera pulang. Jangan buat momy mu kesulitan, tunggu dady kembali!" ucap Luke dengan mata berkaca-kaca.
Luke lalu berdiri dan memeluk Jovanka. Rasanya dia tidak rela melepaskan tubuh istrinya. "Tunggu aku. Jaga kesehatanmu dan bayi kita. Jangan terlalu banyak makan dan begadang. Aku akan sering menghubungimu saat di sana!" pesan Luke panjang lebar.
"Hm. Berjanjilah kau akan kembali!"
Dengan berat hati Luke melepaskan pelukannya, langkahnya begitu berat untuk meninggalkan Jovanka. Namun Luke harus melakukannya demi kebaikan mereka bersama.
"Luke," tahan Jovanka dengan mata memerah.
Luke berhenti dan berbalik.
"Saat pulang nanti, tolong belikan oncom goreng untukku ya!"
Luke menangis sambil tersenyum, lalu dia mengangguk, dia berjanji akan kembali dan membeli oncom goreng kesukaan istrinya. Luke dan Josh lalu masuk ke dalam mobil. Kedua pria itu lalu pergi untuk mengembalikan nama baik Luke dan keluarganya.
Frey menghampiri Jovanka dan memeluknya. Jovanka tak bisa lagi menahan air matanya. Wanita hamil itu menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar takut Luke tidak akan kembali.
"Kau pasti akan kembali!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...