My Dangerous Bodyguard

My Dangerous Bodyguard
Jangan terluka


__ADS_3

Sepanjang malam Luke gelisah dan tidak bisa tidur. Dia begitu khawatir jika pria yang di lihatnya tadi akan menemukan mansion keluarga Janzsen. Dia sungguh tidak ingin menyeret orang lain ke dalam masalahnya, namun Luke tidak mungkin pergi begitu saja dan meninggalkan Jovanka. Bukan tidak mungkin wanita itu akan mengandung anaknya karena benih yang dia taman beberapa waktu yang lalu.


"Tenang Luke, jangan gegabah!" ucap Luke bermonolog, pria itu mengacak rambutnya dengan kasar karena belum menemukan cara untuk menghindar dari pria itu.


Luke terperanjat saat ponselnya berdering, pria itu segera meraih ponselnya. Sebuah panggilan dari nomor asing yang membuat Luke cemas.


"Keluarlah jika kau ingin kekasihmu dan keluarganya selamat!" ucap seorang pria di seberang sana.


Luke menelan salivanya dengan kasar, dia memakai jaket dan topi hitam lalu keluar dari mansion secara diam-diam.


"Luke?" sapa security yang sedang berjaga malam.


"Malam pak? Anda sedang shift malam?" tanya Luke basa-basi.


"Ya. Kau mau kemana malam-malam begini?"


"Ah, nona Jovanka ingin makan sesuatu dan dia menyuruh saya membelinyaa," jawab Luke bohong.


"Kenapa tidak bawa mobil saja?"


"Mmm, sudah lama saya tidak olahraga pak, jadi sekalian saja. Lagi pula pesanan nona tak jauh dari mansion!"


"Oh begitu. Baiklah, hati-hati Luke."


"Baik pak, permisi!"


Di ujung jalan Luke melihat sebuah mobil yang pasti sedang menunggunya. Luke menoleh ke kiri dan ke kanan sekedar memastikan jika tidak ada yang mengikutinya.


Setibanya di dekat mobil, kaki Luke di tendang dari belakang hingga pria itu jatuh bersimpu di aspal, saat dia berusaha bangun, lagi-lagi seseorang memukulnya kepalanya dari belakang. Luke kembali terjatuh dan bersujud di aspal. Di saat yang bersamaan, seorang pria berdiri tepat di depan kepala Luke.


Pria itu menunduk dan menarik membuang topi yang Luke kenakan, dengan kejamnya pria itu menarik rambut Luke hingga kepala Luke terangkat dan bisa melihat dengan jelas pria yang berdiri di hadapannya.


"Apa kabar Luke?" tanya pria itu dengan seringai di wajahnya.


Luke menelan ludahnya dengan kasar. "Tuan Morgan," pekik Luke dengan suara tertahan.


"Oh waow, aku pikir kau sudah melupakanmu Luke," jawab pria paruh baya bernama Morgan. Pria berkebangsaan Polandia yang merupakan seorang bos mafia yang terkenal sangat kejam di negaranya. "Dimana kau menyimpannya?" tanya Morgan seraya mencengkeram wajah Luke.


"Apa yang anda bicarakan tuan, saya tidak mengerti," jawab Luke tertatih.


Morgan menarik rambut Luke dengan keras sehingga kepalanya mendungak ke atas. Salah satu tangan Morgan meraih pistooll dan menempelkannya di kening Luke. "Katakan atau aku akan membuat lubang di kepalamu!" ancam Morgan dengan tatapan membunuh.


"Saya benar-benar tidak mengerti dengan yang anda maksud," jawaban Luke tetap sama meski Morgan bisa membunuhnya kapan saja.

__ADS_1


Buggg...


Morgan memukul wajah Luke dengan grip pistolnya, darah mengalir dari bibir Luke namun tak serta merta membuat pria itu bicara.


"Cepat katakan!" teriak Morgan mulai kehilangan kesabaran.


"Bunuh saja aku!" ucap Luke menantang, dia bahkan mulai berani menatap wajah Morgan.


"Brengsekkkk," umpat Morgan kesal, dia kembali meninju wajah Luke hingga tubuh Luke terhuyung ke samping. "Habisi dia!" titahnya kepada anak buahnya, lima orang berbadan sangar menggelilingi Luke dan mulai menendang Luke tanpa ampun. Namun, di tengah aksi pengeroyokan tersebut, suara sirine mobil polisi terdengar mendekat, kelima pria itu berhenti menendang Luke dan menatap Morgan menunggu perintah selanjutnya.


"Mundur. Kita tidak boleh terlibat masalah di negara orang," titah Morgan dan segera di angguki oleh anal buahnya. Sebelum pergi, Morgan kembali berjongkok dan menatap wajah Luke yang kini babak belur. "Aku akan datang lagi Luke, pastikan kau mengembalikan flashdisk yang kau curi atau aku akan membunuh orang-orang di sekelilingmu!"


Setelah Morgan dan anak buahnya pergi, Luke bersembunyi di balik pohon. Dia juga tidak ingin terlibat dengan polisi karena dia masuk ke negara ini secara ilegal, dia bahkan memakai identitas palsu demi memperoleh pekerjaan.


Luke mengintip dari balik pohon, dia heran kenapa mobil polisi itu mengarah ke mansion keluarga Janzsen, dan karena hal itu Luke tidak bisa kembali ke mansion itu hingga mobil polisi tersebut pergi. Setengah jam kemudian, mobil polisi itu pergi. Dengan langkah tertatih Luke berjalan menuju mansion. Sialnya, dia kembali bertemu satpam. Untung saja Luke sudah menutup wajahnya dengan masker.


"Kenapa kau tidak membawa apa-apa?" tanya satpam itu heran karena awalnya Luke bilang akan membeli pesanan untuk Jovanka.


"Nona Jovanka berubah pikiran!" jawab Luke, tanpa permisi dia segera masuk ke dalam mansion dan berhasil ke kamarnya tanpa di ketahui oleh siapapun.


Luke membuka masker, topi serta jaketnya dan melemparnya dengan asal, pria itu lalu bercermin dan memeriksa wajahnya yang babak belur. Luke lalu melepas celana dan bajunya, menyisakan sebuah boxeer yang menutup tubuh bagian bawahnya. Luke merintih kesakitan, sekujur tubuhnya di penuhi luka memar, sangat mengenaskan.


Ceklek....


Luke gelagapan dan berusaha memakai bajunya lagi, namun Jovanka lebih cepat dan menarik tangan Luke membawa pria itu duduk di sofa. Tanpa berkata apapun Jovanka segera mengomper luka di wajah Luke dengan kompres es batu yang di bawanya.


"Bagaimana kau...


"Diam!" potong Jovanka sebelum Luke selesai berkata. Luke segera membukam mulutnya, dia melihat dengan jelas amarah dan kekhawatiran di wajah Jovanka. Setelah mengompres luka di wajah kekasihnya, Jovanka lalu mengoleskan salep dengan sangat hati-hati. Tanpa dia sadari buliran bening lolos begitu saja, bukan hanya sebulir, air matanya kini berderai meski mulutnya tak mengatakan apapun. Melihat orang yang dia cintai terluka benar-benar menyiksanya.


Luke menahan tangan Jovanka dan menggenggamnya, pria itu seakan tau apa yang sedang di rasakan oleh Jovanka. Luke lalu mengusap air mata Jovanka dengan lembut. "Aku baik-baik saja, berhentilah menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis!"


Jovanka memilih bungkam, Luke lalu menarik tubuh Jovanka ke dalam pelukannya. Luke mengusap rambut Jovanka penuh kasih sayang, mereka tak berucap apapun sampai Jovanka berhenti menangis.


Jovanka melepaskan diri dari pelukan Luke, wanita itu kembali mengobati sekujur tubuh Luke yang mulai membiru. "Kenapa kau hanya diam saat di pukuli? Kenapa kau tidak melawan? Apa kau memiliki utang pada mereka? Katakan berapa utangmu? aku akan melunasinya," cecar Jovanka dengan deretan pertanyaan yang sudah dia tahan sejak tadi.


"Kau melihatnya?" tanya Luke dengan gugup, bagaimana dia akan menjelaskan semuanya pada Jovanka jika wanita itu bertanya lebih jauh.


"Kau pikir kenapa polisi tiba-tiba datang! Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun saat kau di pukuli seperti itu," jawab Jovanka dengab wajah sendunya.


"Terima kasih karena telah menyelamatkanku, aku berjanji tdak akan membuatmu khawatir lagi," Luke mengusap wajah Jovanka dan tersenyum agar gadis itu tak lagi merasa cemas.


"Tolong tepati janjimu!"

__ADS_1


"Hem, aku janji!"


"Oh ya, aku membeli obat anti nyeri, kau harus meminumnya agar malam ini bisa tidur," Jovanka merogoh saku baju tidurnya,.dia lalu memberikan obat tersebut pada Luke. "Istirahatlah, aku tidak akan mengganggu lagi!"


"Kenapa kau tidak bertanya?" tahan Luke saat Jovanka beranjak dari duduknya. Luke lalu menyusul Jovanka berdiri dan menatap wajah wanita itu dengan tatapan serius. "Kau tidak ingin tau kenapa mereka memukuliku?" sambung Luke.


Jovanka tersenyum simpul. "Aku akan menunggu sampai kau mengatakan semuanya padaku!" jawaban Jovanka begitu bijak, meski dia sangat penasaran namun dia ingin menghormati privasi Luke dan memberi pria itu waktu untuk terbuka padanya.


Luke begitu tersentuh, pria itu kembali memeluk Jovanka penuh syukur. "Terima kasih," ucap Luke dengan tulus. Pria itu lalu melepaskan pelukannya.


"Tidurlah. Jangan lupa makan obatnya!"


Lagi-lagi Luke menahan Jovanka, pria itu enggan melepaskan tangan wanita cantik itu. "Bisakah kau menemaniku tidur di sini?"


Jovank menatap Luke tak percaya, Jovanka yakin jika telinganya bermasalah dan dia pasti salah dengar.


"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Jovanka memastikan.


"Menemaniku tidur. Hanya tidur, aku janji tidak akan macam-macam!"


"Tapi kita ada di rumah Luke, bagaimana kalau ada yang melihat kita?" ucap Jovanka cemas.


"Aku akan membangunkanmu sebelum yang lain bangun!"


"Kau yakin hanya tidur kan?"


Luke mengangguk. "Hem, aku janji. Aku hanya ingin memelukmu!"


Jovanka akhirnya setuju, keduanya sedah berada di atas tempat tidur setelah melakukan ritual sebelum tidur yaitu sikat gigil dan membantu Luke meminum obat.


Luke memejamkan matanya dan memeluk tubub Jovanka layaknya sebuah bantal. Jovanka sama sekali tak keberatan, hanya saja di takut menyenggol luka di tubuh Luke saat dia tidur.


"Kenapa tidak tidur?" tanya Luke setelah kembali membuka matanya.


"Aku takut menyentuh lukanya saat tidur nanti. Kau tau sendiri bagaimana aku tidur," jawab Jovanka apa adanya.


Luke terkekeh, lalu dia mengecup bibir Jovanka tanpa izin membuat si empu tersipu dengan wajah memerah. "Aku akan memelukmu dengan erat agar kau tidak cosplay menjadi gasing saat tidur!" goda Luke seraya menahan senyumnya.


"Berhenti menggodaku atau aku akan mencubit perutmu!" Jovanak mencebikkan bibirnya, dia sangat malu karena Luke sudah melihat semua hal buruk di dalam dirinya.


"Ampun nona!" Luke kembali mencium bibir Jovanka hingga gadis itu tersenyum malu-malu.


"Sudah aku mau tidur. Kalau kau menciumku terus bisa-bisa kita tidak tidur!" Jovanka membalik tubuhnya dan membelakangi Luke, dia membiarkan pria itu memeluknya dari belakang. "Jangan pernah terluka lagi!" ucapnya sebelum dia terlelap ke alam mimpi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2