
Selama di perjalanan, Kalia khawatir bagaimana kalau rumah yang akan ditempati olehnya kelak jauh dari kata nyaman. Sedangkan dia sudah terbiasa hidup enak. Meski mamanya selalu mendidiknya untuk mandiri, tetap saja ini semua terasa berat. Rasanya dia ingin segera melewati masa 9 bulan yang menyusahkan ini dan kembali hidup nyaman seperti sedia kala.
Di dalam mobil, Surya tak banyak bicara. Dia mengemudikan mobil Kalia dengan tenang. Mencoba bungkam saja dari pada merusak mood istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sesampainya di daerah Lembang, Surya ijin pergi ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan dapur, makanan ringan untuknya dan Kalia serta perintilan perabotan yang belum dimilikinya. Kalia tak mau ikut, dia hanya diam saja di dalam mobil dengan muka ditekuk.
Selesai berbelanja, Surya kembali melajukan mobil Kalia menuju rumahnya.
Rumah Surya terletak di sebuah perkampungan yang lumayan jauh dari jalan raya. Jalan menuju rumah Surya bukanlah jalan beraspal mulus, ada banyak lubang kecil di sana sini. Tapi pemandangan sekelilingnya masih begitu hijau dan asri. Penuh dengan lahan-lahan perkebunan dan pohon pinus di sisi kanan kiri jalan. Ada juga perkebunan selada, bawang, wortel, bunga kol, dan bunga mawar. Pemandangan hijau nan indah sedikit mengobati perasaan kesal Kalia. Dia menurunkan jendela mobil dan menghirup udara yang segar itu perlahan. Surya meliriknya kemudian tersenyum kecil.
Sesampainya di rumah Surya, tampaklah sebuah rumah minimalis bercat hijau. Terlihat sekali bahwa rumah itu baru selesai di bangun. Cat nya masih bersih, ubinnya masih mengkilap dengan beberapa jendela minimalis di sana sini yang memberikan aksen modern pada rumahnya. Rumah Surya tidak besar, juga tidak terlalu kecil. Yang paling memesona dari rumah itu adalah penataan halaman dan tanaman-tanamannya. Semuanya cantik dan tertata. Banyak bunga bermekaran disana sini, ada kursi kayu yang bertengger manis di teras rumahnya. Diam-diam, Kalia merasa kagum dengan Surya. Walaupun Surya hanyalah seorang office boy tapi dia bisa memiliki rumah sendiri yang begitu indah seperti ini.
Surya mempersilahkan Kalia untuk masuk, hawa segar dan dingin langsung menerpa wajah Kalia. Bau cat baru masih tercium. Sedikit membuat Kalia mual, tapi tak terlalu mengganggunya.
Rumah itu terdiri dari dua buah kamar, ruang tamu yang tidak terlalu besar, ruang keluarga, dua kamar mandi dan dapur yang lebih luas dari ruang tamu. Disamping dapur tersebut, terdapat sebuah taman dan kolam kecil berisi ikan hias. Memasak sambil melihat tanaman hijau dan ikan yang berlarian kesana kemari, sungguh menyenangkan pikir Kalia. Rumah Surya di dominasi warna hijau dan putih, membuatnya terasa segar dan nyaman.
" Lia bisa tidur disinih. Dan yang sebelahnya adalah kamar sayah." jelas Surya sambil membawa tas koper Kalia ke dalam kamar."
Entah kenapa, Kalia langsung merasa betah dengan suasana di rumah ini. Kamarnya cukup besar, ada jendela yang tepat menghadap halaman. Kalia membuka jendela tersebut lebar-lebar. Kini Kalia merasa tak heran bila mamanya langsung akrab dengan Surya, ternyata mereka sama-sama memiliki hobi yang sama yaitu berkebun.
Surya masih bolak-balik menurunkan barang dan memasukkannya kedalam rumah. Kalia memperhatikannya dengan seksama. Sebetulnya Surya itu tidak jelek, dia memiliki hidung yang mancung dan bulu mata yang lentik. Lucu juga laki-laki memiliki bulu mata lentik pikirnya. Badan Surya tampak berotot, tidak besar memang tapi membuatnya terlihat macho dan tegap. Apalagi kulit Surya yang berwarna coklat membuat Surya tampak lebih manly. Kalia langsung mengetuk kepalanya beberapa kali.
__ADS_1
Ngapain pake mikir begitu sih? Sadar Kalia..sadaarr..
Dengan cepat Kalia memalingkan pandangannya dari Surya yang masih sibuk jadi kuli angkut.
" Saya lapar.." ucap Kalia ketika keluar kamar, dengan muka yang ditekuk dan menjatuhkan badannya pada sofa minimalis yang terdiam manis di ruang tamu ketika Surya masuk kedalam rumah.
" Lia lapar? sebentar saya masakkan sesuatu.." dengan tergopoh-gopoh Surya langsung mengambil beberapa bahan makanan yang tadi sempat dibelinya di supermarket dan belum sempat dia bereskan.
" Gak bisa ya langsung beli aja gitu, gak usah masak dulu. Saya kalau udah kelaparan suka mual dan muntah. Bisa mati karena lemas kalau nunggu kamu masak dulu." Kalia masih bersungut-sungut.
" Hemm..kalau beli juga butuh waktu lebih lama. Disini kan jauh dari kota." ucap Surya masih mengaduk-aduk isi belanjaan.
"Aah..gimana kalau makan inih dulu." Surya menunjukan sebungkus roti keju yang tadi dia beli dari supermarket.
Hanya perlu waktu kurang dari satu jam, Surya sudah menyelesaikan semua masakannya. Nasi hangat, sayur bayam, dan ayam goreng sudah tersaji dengan manis di meja dapur. Ketika Surya hendak memanggil Kalia untuk makan, dilihatnya Kalia sedang tidur di sofa ruang tamu dengan tangan sebagai bantalan. Surya tersenyum, dan membiarkan Kalia istirahat sejenak. Dia tak mau menganggu, karena Kalia tampak kelelahan.
Sambil menunggu Kalia bangun, Surya menyibukkan dirinya membenahi taman di pekarangan depan. Hampir setengah jam Kalia tertidur di sofa. Dia kemudian terbangun dengan rasa lapar yang semakin menjadi-jadi.
" Masaknya udah beres apa belum? Kok malah beresin tanaman sih?" Kalia cemberut.
" Eh..Lia udah bangun. Sudah matang kok, yuk makan dulu."
__ADS_1
Tanpa berbasa-basi Kalia langsung menyendok seporsi nasi lengkap dengan sayur dan dua potong ayam. Dia sangat kelaparan, dan wangi dari masakan Surya sungguh menggugah selera.
" Bagaimana? Enak?" tanya Surya dan hanya dibalas anggukan malas oleh Kalia.
Selesai makan siang, Kalia menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekitar rumah Surya. Di kanan kiri rumahnya terdapat kebun wortel dan bunga kol yang sudah siap panen. Suasananya begitu menenangkan. Kalia menjadi semakin penasaran dengan Surya, bagaimana mungkin Surya bisa memiliki hunian nyaman seperti ini. Bila hanya mengandalkan gaji dari pekerjaannya sebagai office boy, rasanya tidak mungkin terjadi. Dan lagi, Surya bisa memberikannya mahar sebesar itu. Terasa tidak masuk akal.
Ketika Kalia tengah asyik memperhatikan keadaan sekitar, handphone nya berbunyi. Telepon dari mama.
" Assalamualaikum, Ma".
Waalaikumsalam, udah sampai Li?
" Udah, Ma. Maaf belum sempat kasih kabar. Tadi begitu sampai langsung ketiduran. Cape.
Gak apa-apa. Syukur atuh kalo udah sampai mah.Gimana, nyaman rumahnya?
" Iya Ma nyaman, banyak kebunnya. Sejuk deh. Kapan-kapan Mama kesini ya. Mama sih pasti suka geura kalau disini mah. Sesuai sama passion Mama." ucap Kalia sambil tersenyum.
Syukurlah..berarti kamu bisa betah tinggal disitu. Mama sempat khawatir kalau Lia gak betah. Kamu kan rada pemilih anaknya. Rewel. ucap Mama sambil terkikik.
Kalia tersenyum sumir.
__ADS_1
Ya udah atuh, kamu baik-baik disana ya. Kapan-kapan Mama main kesana jengukin kamu. Salam buat Surya ya. Assalamualaikum.
" Waalaikumsalam."