My Office Boy

My Office Boy
45. Kecelakaan Kerja


__ADS_3

Surya melangkahkan kakinya mendekati kerumunan, mencoba mencari tahu tentang apa yang terjadi. Masih terdengar pekikan dan jeritan panik dari karyawati yang menyaksikan hal tersebut. Betapa kagetnya Surya, ketika yang sedang dikerumuni oleh orang banyak itu adalah Kalia. Tubuh Kalia tertelungkup dan tak sadarkan diri di bawah tangga dengan luka robek di pelipisnya, tampak mengeluarkan darah. Lebih keterlaluan lagi, tak ada yang berinisiatif segera menolong Kalia. Mereka masih membiarkan Kalia dalam posisi yang sama.


Dengan panik Surya merengkuh tubuh Kalia, wajah Surya berubah pucat pasi. Pelipis Kalia masih mengeluarkan darah. Pikirannya tiba-tiba buntu tak tahu harus berbuat apa, dia hanya memeluk tubuh Kalia dan tak peduli dengan pandangan orang-orang disekitarnya yang terhenyak melihat perlakuannya terhadap Kalia.


Setelah kesadarannya kembali, dia langsung berteriak meminta pertolongan agar Kalia di bawa ke rumah sakit. Orang-orang makin banyak mengerumuni, udara semakin sesak. Semuanya ingin tahu apa yang terjadi.


" TELEPON AMBULANS..!! TONG CARICING WAE..!!! (JANGAN DIEM AJA..!!!)" Surya berteriak panik dan memerintahkan siapa saja yang ada di sana untuk memanggil ambulans atau mobil perusahaan atau apa sajalah yang penting istrinya cepat ditolong.


Seseorang mencoba menyuruh orang-orang yang berkerumun untuk sedikit memberi ruang agar Kalia tidak kekurangan oksigen. Banyak suara bergemuruh, entahlah tak jelas apa yang mereka gumamkan. Surya sudah tak peduli lagi, air matanya sudah jebol sedari tadi. Menganak sungai tak terkendali. Dia terus saja memeluk Kalia sambil terus menerus mengucapkan istighfar..


" Astagfirullah, sayang sadar sayang. Astaghfirullah..Astaghfirullahaladzim.." air matanya semakin deras keluar, Surya mencoba menepuk pipi Kalia pelan untuk mengembalikan kesadarannya.


Baju Surya sudah dirembesi darah Kalia.


" Saya pinjam sapu tangan atau kassa untuk menekan lukanya.." pinta Surya dan seseorang langsung memberikan sebuah sapu tangan berwarna abu kepadanya.


Dengan pelan Surya menekan luka robek di pelipis Kalia untuk mengurangi jumlah darah yang keluar.


Ketika Surya mengitarkan pandangannya untuk memeriksa lagi barangkali ada luka lain di tubuh Kalia, Surya melihat ada darah segar mengalir dan terlihat melewati mata kaki istrinya yang saat itu menggunakan celana panjang formal.


Untung saja Kalia tidak menggunakan rok knee seperti biasanya, kalau tidak entah pemandangan aurat apa yang bisa disaksikan orang banyak itu dari tubuh Kalia.


Surya langsung panik mengetahui hal tersebut. Wajahnya seketika pias. Kengerian tergambar disana.

__ADS_1


Darah dari mana ini? Jangan-jangan Kalia mengalami perdarahan akibat terjatuh? jangan-jangan Kalia keguguran, batin Surya. Surya kembali memeluk Kalia dengan posesif dan berteriak dengan panik.


" MANA AMBULANS NYA? CEPETAAN..!!! ALLAHUAKBAR, ASTAGHFIRULLAH LIAA..!! TOLONG PANGGIL AMBULAN !! TOLOONG!!" Surya memohon pada siapapun yang ada disana. Rasa panik sudah membuatnya kehilangan kontrol diri.


Seseorang akhirnya mencoba menenangkan Surya, dan mengatakan kalau dia sudah menelepon ambulans dan menghubungi pihak perusahaan untuk segera menanggulangi kecelakaan ini. Surya sedikit tenang mendengarnya kemudian kembali memandang wajah istrinya dengan pandangan sedih luar biasa, tak mengira hal ini akan menimpa Kalia.


" Kenapa bisa kayak gini sayang? Ya Allah.." tangisan Surya makin terdengar pilu di telinga. Semua orang yang menyaksikan makin yakin bahwa Kalia dan Surya memang mempunyai hubungan yang spesial.


Beberapa saat kemudian, seseorang menepuk pundak Surya kemudian memintanya untuk melepaskan pelukannya terhadap Kalia. Sepertinya ambulans sudah datang dan beberapa tenaga medis akan menangani Kalia untuk diangkat menggunakan tandu dan dibawa ke rumah sakit.


" Pak, bisa tolong dilepaskan pelukannya. Kami mau membawa ibu ke rumah sakit." pinta salah seorang dari mereka, dua orang lainnya tampak menyingkirkan orang-orang yang berkerumun agar memberi akses jalan.


" Bapak siapanya korban?" tanya petugas tersebut.


" Istri saya sedang hamil. Tolong hati-hati, tadi saya lihat ada darah keluar melewati kakinya. Saya takut istri saya mengalami perdarahan dan keguguran, soalnya jatuhnya tertelungkup." ucap Surya dengan suara tercekat.


" Baik, Pak. Tenang saja." jawab petugas medis tersebut.


Kalia tampak terkulai lemas, darah kembali mengalir dari luka di pelipisnya yang menganga ketika sapu tangan yang ditekan Surya tak sengaja terlepas, petugas dari pihak rumah sakit langsung melakukan tindakan pertolongan pertama. Mengecek kesadaran Kalia, Surya melihat istrinya sedikit mengerang menandakan bahwa dia tak sepenuhnya tak sadarkan diri ketika petugas dari rumah sakit memanggil-manggil namanya dan menepuk pipi Kalia pelan.


Kalia dipindahkan dari posisinya ketika terjatuh oleh 4 orang petugas medis. Masing-masing kaki mereka ada yang ditekuk mendatar dan satu lagi di tekuk ke arah dekat dengan dada.


Tiga orang yang berada di dekat tubuh Kalia mengangkatnya. Kaki, betis, paha, punggung, serta badan Kalia tergenggam dengan stabil.

__ADS_1


Dan satu orang lainnya yang memegang bagian leher serta kepala memberikan aba-aba agar Kalia dipindahkan keatas tandu ambulans dengan baik.


Ketika Kalia sudah berada di atas tandu, orang yang memegang kepala Kalia memberikan aba-aba untuk menurunkan kepala Kalia secara pelan-pelan.


Surya mengikuti mereka dan masuk kedalam ambulan tanpa diminta.


Ketika di dalam ambulans, Kalia sempat tersadar kemudian mengalami sakit yang parah di bagian perut bawahnya. Dia memeluk perutnya dengan posesif sambil mengerang hebat menahan sakit. Surya seketika panik dan mencoba menenangkan istrinya. Mungkin karena terlalu sakit, pada akhirnya Kalia kehilangan kesadaran kembali. Petugas medis memeriksa tanda vital Kalia, kemudian menerangkan kepada Surya bahwa kemungkinan Kalia mengalami syok pasca kecelakaan.


Surya tak melepaskan genggaman tangannya dari Kalia. Pandangannya terus saja tertuju pada wajah Kalia yang kembali tak sadarkan diri. Wajah istrinya sangat pucat, sisa-sisa darah yang mulai mengering masih menghiasi wajahnya yang cantik. Surya kembali tergugu. Tak kuasa melihat istrinya terluka seperti itu. Dia bertanya-tanya dalam hati, kenapa Kalia menggunakan tangga saat itu? apa dia akan menuju mushola untuk shalat dzuhur? tapi tidak biasanya Kalia mengunakan tangga bila ingin ke mushola atau ke kantin. Biasanya dia selalu menggunakan lift bila ingin naik ataupun turun, karena menggunakan tangga selalu membuat kakinya pegal dan kelelahan, begitu alasannya.


Sesampainya di rumah sakit, Kalia langsung dilarikan ke IGD dan mendapat pertolongan lebih lanjut.


Surya menunggu di ruang tunggu pasien dengan perasaan cemas luar biasa. Dia menangkupkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya atau menjambaki rambutnya sendiri. Kepalanya terasa pening.


Tubunya gemetar, takut sesuatu yang fatal menimpa Kalia. Dia terus saja beristighfar untuk meredam kekalutannya. Sesekali merapalkan do'a kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Air mata tak hentinya menelusup keluar dari kedua mata Surya. Dia benar-benar tak habis pikir kenapa masalah datang begitu bertubi-tubi kepadanya dan juga istrinya.


Hampir satu jam, setelah selesai di observasi, dokter jaga dari pihak rumah sakit memanggilnya. Surya pun mengikuti dokter tersebut masuk kedalam ruangannya dengan langkah tertatih.


" Pak, kondisi luka Bu Kalia sebetulnya tidak terlalu parah. Selain luka robek dipelipisnya, tidak ada luka lain, dan tidak mengalami patah tulang juga. Tapi yang jadi masalah adalah posisi ibu yang jatuh dengan posisi tertelungkup. Saya khawatir terjadi sesuatu pada bayi yang dikandungnya karena ibu mengalami perdarahan. Kami akan menunggu hasil selanjutnya dari dokter spesialis obgyn yang akan memeriksa Ibu. Usia kandungannya sudah berapa minggu ya?" tanya dokter tersebut.


" Su..sudah 23 minggu, dok." Dokter itu mengangguk-angguk kemudian meminta Surya untuk menunggu sedikit lebih lama karena selanjutnya Kalia akan diobservasi oleh dokter spesialis obgyn.


Mendengar hal tersebut, lutut Surya benar-benar lemas. Dia keluar dari ruangan dokter dengan tubuh yang gemetaran dan wajah yang kuyu. Entah apa yang harus dilakukannya dalam kondisi seperti ini. Kemudian dia ingat bahwa belum mengabari orang tua mereka perihal kecelakaan ini.

__ADS_1


Dia mengeluarkan handphonenya dari saku celana, mengabari orang tuanya dan juga Ibu Rani, mamanya Kalia. Mungkin kedatangan orang tuanya bisa sedikit meredakan rasa cemas yang kini menderanya. Serta bisa membuatnya berpikir lebih jernih. Orang tuanya dan mamanya Kalia seketika panik mendengar berita tersebut. Kemudian memutuskan untuk datang ke rumah sakit secepatnya.


__ADS_2