
Kalia berjalan menuju mobilnya dengan gontai, hari ini begitu banyak hal yang menyita tenaga dan pikirannya. Semua berjalan dengan tidak baik bahkan rasa kesalnya pada Surya pun tak juga menyurut. Apalagi sore ini, Surya bilang akan pergi ke kampus dulu untuk mengurusi beberapa persyaratan agar bisa menerima surat kelulusan, karena kebetulan Surya sudah lulus sidang dan tinggal menunggu wisuda saja. Meski kuliah dan skripsinya sempat terseok-seok setelah dia menikah dengan Kalia, tapi syukur semuanya bisa dilewati dengan baik dan kini Surya sudah resmi menyandang gelar sarjana.
Tapi kesibukan Surya memang semakin menjadi-jadi saja, selain bekerja di kantor. Dia juga harus memeriksa usahanya hampir setiap hari dan pulang selalu larut. Meski Kalia mengerti, tapi tetap saja Kalia mengharapkan hari ini Surya bisa meredakan marahnya.
Hingga Surya pulang, Kalia masih malas beranjak dari kamar untuk menyambut Surya seperti yang biasa dia lakukan. Kalia mengakui bahwa dia adalah tipikal wanita pencemburu dan juga posesif terhadap pasangan. Menurutnya, seseorang yang sudah memiliki pasangan tidak perlu lagi berteman akrab dengan lawan jenis demi menjaga perasaan pasangannya.
Sampai Surya mengetuk pintu kamar, Kalia masih saja berdiam diri, dia malah membenamkan badannya dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuh hingga kepala. Malas rasanya melihat wajah Surya.
Surya sadar bahwa Kalia masih marah. Setiap kali dia mengirim pesan, tak ada satu pun yang dibalasnya. Hanya dibaca kemudian dibiarkan begitu saja.
Dengan hati-hati Surya mendudukan dirinya di ranjang. Dia tahu istrinya ini belum tidur karena memang belum terlalu malam. Biasanya Kalia akan tidur diatas jam 10, dan sekarang masih jam 9. Dengan perlahan, Surya mengusap tubuh Kalia yang terbalut selimut.
Kalia menggerakan tubuhnya menghindari belaian Surya. Dia masih sangat marah pada suaminya yang tidak tepat janji.
" Sayang, maafin akang ya. Akan udah ingkar janji. Harusnya akang gak terima ucapan selamat dari Ratna. Jangan marah terus. Akang jadi sedih ini.." Surya kembali mengelus Kalia.
" Kalau Lia mau marah, tinggal marahin akang aja. Tapi jangan diasinin kayak gini atuh. Lebih sedih lagi rasanya." Ketika Surya masih mengelus Kalia, tiba-tiba Kalia membuka selimutnya dengan cepat hingga membuat Surya terperanjat kaget.
" Kalau udah tau aku bakalan marah kalau akang digelendotin itu ulet keket harusnya akang bisa mikir dong. Ngapain pakai jabat-jabat tangan depan ruangan aku? Si Ratna sengaja lakuin itu? Biar bikin aku panas gitu? Lancang banget sih tuh perempuan satu. Akang juga kayak gak ngerti banget, aku pasti lihat akang lah, kenapa masih bebal juga? Mentang-mentang aku udah cinta sama akang terus akang jadi seenaknya sama aku? Aku memang posesif sama pasangan, buat aku rasanya gak penting kalau kita masih berteman dengan lawan jenis sementara status kita sudah menikah. Akang gak bisa jaga perasaan aku banget sih?" air mata mulai lolos dari kedua sudut mata Kalia. Surya jadi gelagapan. Tak menyangka Kalia akan semarah ini.
__ADS_1
" Pekerjaan aku lagi kacau, mood aku sudah jelek. Ditambah lagi harus lihat akang yang ditempelin si Ratna depan ruangan aku banget. Tega banget sih.." Kalia semakin tergugu. Dengan cepat Surya memeluk istrinya dan mengelus punggung Kalia lembut.
" Maafin akang ya sayang. Akang salah.."
" Kenapa nggak ngerti terus sih kalau aku cemburu akang dekat-dekat sama Ratna?" Kalia memandangku dengan air mata memenuhi pipinya dan hidung yang meler.
" Iya..iya..akang salah sama Lia. Kedepannya akang gak akan lakukan itu lagi. Maafin akang ya." Surya merangkum wajah Lia dengan kedua tangannya kemudian menghapus air mata yang menggenangi mata Kalia dan membasahi pipi istrinya itu.
Surya lalu mengecup bibir Kalia dengan sangat lembut.
" Please jangan marah lagi ya, maafin akang ya sayang. Akang sangat sayang sama Lia. Sayaaaang banget. Gak ada yang bisa gantikan Lia di hati akang." Surya kembali mengecup bibir Kalia.
Akhirnya hati Kalia melunak juga, ditatapnya Surya dalam-dalam kemudian dilabuhkannya ciuman yang panas dan menuntut. Dicurahkannya semua kekesalannya hari itu dengan menggigiti bibir Surya, menyesapnya dalam-dalam. Kemudian dilanjutkan ke leher dan mengigit kuping Surya. Tentu saja Surya menggelinjang tak tahan, celananya mendadak sangat sempit. Tapi dia tak bisa apa-apa. Tak bisa mengeluarkan hasrat yang menggebu dalam hatinya. Ini hukuman terberat yang harus diterimanya, benar-benar berat.
Surya makin tak tahan dan hampir saja menyesap biji salak berwarna coklat yang ada di puncaknya. Tapi Kalia langsung mendorong kepala Surya agar menjauh kemudian dengan cekatan menyembunyikan kembali pusaka gunungnya dan langsung membaringkan dirinya di ranjang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Selamat menyempit ya celananya. Itu hukuman buat akang. Biar kepanasan sepanjang malam tapi gak bisa apa-apa. Sukurin..!!"
Surya menatap nanar tubuh Kalia yang sudah tertutup selimut dengan posesif. Kemudian memandang ke arah intimnya. Sudah ada yang berdiri tegak disana, tetapi bukan keadilan.
__ADS_1
Ampun, Gusti..ini mah hukuman paling mematikan namanya.
***
Keeseokan harinya, Surya sudah bersiap-siap berangkat kerja. Kini kebiasaannya menyiapkan sarapan sudah diambil alih oleh Kalia.
Dimeja makan sudah tersaji nasi goreng yang mengepul hangat. Serta bekal makan siang untuk Surya. Mereka makan tanpa banyak berbicara. Cuma saling tatap, kemudian Kalia tersenyum puas karena melihat kantung mata di mata suaminya.
" Semalam akang gak bisa tidur ya?" akhirnya Kalia memulai pembicaraan.
Surya hanya mengangguk sambil tersenyum lesu.
" Makanya gak usah macam-macam kalau gak mau dihukum kayak semalam. Tahan-tahan aja selama 4 bulan ini bakalan gak bisa tidur terus kalau akang masih tanggapin si Ratna yang kegatelan itu." ucap Kalia sambil menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya dengan gemas.
" Iya neng, ampun. Akang gak sanggup kalau hukumannya kayak semalam. Gak kuat, sumpah..!" Surya menjawab dengan lesu. Terbayang kembali perlakuan liar yang dilakukan istrinya terhadap dirinya. Memang benar-benar licik istrinya ini. Tahu betul kelemahan Surya.
" Lagian si Ratna tuh kayaknya udah tahu kalau akang ada hubungan sama aku. Sengaja banget dia harus lenjeh-lenjeh sama akang di tempat yang aku pasti bisa melihatnya. Kalau gak sadar kemarin tuh di kantor, udah aku jambak tau gak rambutnya. Gemes banget aku sama dia tuh. Kayak ulet keket main nemplok-nemplok aja."
Surya hanya bisa menanggapi cerocosan istrinya dengan senyum lemah. Dia akui, Ratna memang seperti ulat yang sering menempel kuat padanya setiap kali ada kesempatan. Memang susah membuat Ratna mengerti bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan apalagi mereka bukanlah mahram.
__ADS_1
" Keluar aja lah kerja akang tuh. Udah capek juga kan sama usaha akang. Aku janji bisa jaga diri kalau alasan akang masih bertahan jadi OB tuh karena aku." ucap Kalia kemudian.
" Kalau akang keluar kerja, mau gak Lia juga keluar kerja? Biar bantu akang aja, rawat anak kita dan dukung usaha akang." jawab Surya kemudian. Kalia langsung terdiam.