My Office Boy

My Office Boy
17. Tak kenal maka tak sayang.


__ADS_3

Pesanan mereka akhirnya datang, dua porsi kue surabi komplit mengepul hangat di hadapan.


Selagi menikmati surabi hangat, Surya kembali menanyakan beberapa hal kepada Kalia.


" Tanya lagi boleh ya.." Kalia hanya mengangguk sambil memotong kue surabi miliknya.


" Sejak kapan Lia ditinggal sama ayah?"


" Udah lama, waktu aku masih SD. Sekitar umur 11 tahun. Sejak ayah gak ada, cuma Mama yang aku punya." jelas Kalia.


" Hemm..udah lama atuh ya. Berarti cuma tinggal berdua aja gitu sama mama?" Kalia kembali mengangguk.


" Saudara yang lain ada dimana? Mamang, bibi, uwak..atau sepupu-sepupu gitu?"


Kalia menggeleng.


" Mama anak tunggal, ayah juga sama. Kakek nenek udah meninggal semua jadi ya aku gak punya saudara lain."


" Oh gitu..kasian mamah atuh ya sekarang kesepian. Kapan-kapan kita tengokin mama ya, biar mamah seneng."


Kalia mengangguk bersemangat sambil tersenyum.


" Ya sudah cepet habisin surabi nya. Udah malem, nanti makin dingin pulangnya."


" Sekarang, giliran aku yang nanya ya."


Surya mengangguk bersemangat. "Boleh sok mau nanya apa?"


" Kam..eh Kang Surya kok bisa sih kasih aku mahar lumayan gede gitu?"


Surya diam sejenak. Kemudian..


" Saya nabung atuh, kan kerja teh udah lumayan lama. Selagi menunggu jodoh datang, uang gajian sering saya tabung karena keperluan saya kan juga gak banyak. Memang sengaja disisihkan untuk biaya menikah. Tenang saja, uangnya halal kok. Kalau Lia ingin membeli sesuatu, dipakai saja uangnya."


" Belum ada sih kalau sekarang, uangnya juga udah aku titip Mama, nanti kalau ada waktu rencananya mau aku deposito-in aja." jawab Kalia sambil menyuapkan potongan terakhir kue surabi nya.


Kalia memandang Surya yang masih sibuk dengan makanannya. Dia mulai kagum pada kedewasaan Surya, ternyata dia memang sudah menabung lama untuk mahar itu. Jika bukan dirinya yang menikah dengan Surya, pasti wanita lain yang akan mendapatkannya.


Syukurlah..kekhawatirannya sedikit terjawab.


***


Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kalia dan Surya langsung membersihkan diri dan tidur di kamar masing-masing.


Ketika Kalia baru merebahkan badan, sebuah pesan masuk ke handphonenya.


Tertera nama Surya di layar.


Selamat tidur, Lia. Jangan lupa berdo'a dulu biar tidurnya nyenyak. Mimpi indah.


Kalia membalas.


Iya


Surya membacanya, pesan yang singkat, padat, jelas. Perempuan ini memang tak pandai berbasa-basi.

__ADS_1


" Meuni irit si neng mah bales whatsapp Aa teh. Hehe." Surya lalu mencium layar handphone nya.


" Cium dari sinih aja lah. Mudah2an we nyampe."


Surya lalu menyimpan handphone nya di atas nakas. Setelah 15 menit berbaring, mata Surya mulai terasa berat. Sedetik lagi terlelap, tiba-tiba handphone nya berdering. Dengan cepat Surya membuka mata dan tertera nama Arum Daru dilayar. Kantuk Surya seketika lenyap.


" Halo, neng. Kenapa? Ada apah? Mual? Pusing? Lapar?" Surya langsung memberondong Kalia dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi karena khawatir.


" Nggak iih..aku cuma gak bisa tidur, gak tau kenapa nih." jawab Kalia dari ujung teleponnya.


" Ooh..dikirain ada apa. Sampai kaget. Mau dibuatkan susu?"


" Boleh.."


" Sebentar yah. Akang buatkan dulu. Mau sama cemilan yang lain gak?"


" Gak usah, susu aja. Pakai gula sedikit ya kang, biar ga enek."


" Iya..tunggu ya."


Surya lalu membuatkan susu hangat untuk Kalia. Memberinya sedikit gula sesuai dengan permintaan isterinya.


Tok


Tok


Tok


" Neeng...Liaa..boleh masuk?" panggil Surya sambil mengetuk daun pintu pelan.


" Iya masuk aja.."


" Inih susunya, sok diminum mumpung hangat. Siapa tau habis itu bisa tidur."


Kalia mengambil segelas susu yang disodorkan Surya kemudian meminumnya sedikit demi sedikit sampai tandas.


" Jangan pergi dulu, duduk disini sebentar. Temenin." ucap Kalia tiba-tiba.


" Ah..gimana?" tanya Surya mencoba meyakinkan, takut salah dengar.


" Temenin dulu sebentar." ulang Kalia lagi terlihat malu.


Surya mengangguk.


" Iya..sok. Ditemenin dulu sampai Lia tidur."


Lia berbaring menyamping menghadap Surya dan Surya terduduk di samping tempat tidur.


" Kenapa susah tidur begitu? Ada yang lagi dipikirin?" Kalia menggelengkan kepala dengan posisi masih berbaring.


" Nggak ada, gak tau kenapa." jawab Kalia sambil memandang wajah Surya. Kalia makin menyadari kalau bulu mata Surya benar-benar lentik bila dilihat dari dekat. Bulu matanya cantik. Kalia tersenyum.


Surya tampak jengah. Wajahnya memerah.


Hening berbahasa.

__ADS_1


" Boleh akang nyanyiin gak?" Surya tiba-tiba menawarkan diri untuk bernyanyi.


" Emang bisa?" tanya Kalia lucu.


" Dicoba ajah..kalau mau muntah bilang aja yah. Hehe."


Kalia tertawa.


" Sok atuh, dicoba." ucap Kalia sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


" Dengerin yah.." Surya bersiap-siap.


Bulan sabit di awan


Laksana perahu emas


Berlayar langit, berlampu bintang


Tinggi di angkasa luas


Betapa senang hatiku rasanya


Menjadi nahkoda di sana


Surya menyanyikan lagu anak-anak pengantar tidur untuk Kalia. Suaranya mengalun merdu, lembut dan sopan sekali masuk ke gendang telinga. Kalia suka ketika Surya bernyanyi. Hatinya seketika tenang dan nyaman.


" Lagi.." ucap Kalia sedikit merengek.


" Eh..si neng suka ternyata." Surya menggoda Kalia.


" Cepet iiih..nyanyiin lagii.."


" Oke..oke..ehemm...tes..tes.." Surya pura-pura check sound. Kemudian menyanyikan lagu tersebut sambil menepuk-nepuk pundak Kalia lembut.


Bulan sabit di awan


Laksana perahu emas


Berlayar langit, berlampu bintang


Tinggi di angkasa luas


Betapa senang hatiku rasanya


Menjadi nahkoda di sana


Selamat tidur, Kalia.


Surya menopang dagunya, Kalia sudah tertidur pulas, tampak damai dan tenang. Nafasnya berhembus teratur. Entah kenapa suasana berubah romantis. Seperti ada alunan musik balada di kepala Surya. Surya memberanikan diri untuk merapikan anak rambut Kalia, membelainya dengan lembut dan memandang wajah Kalia lekat. Surya merasa beruntung dapat melihat wajah Kalia yang begitu cantik dari jarak yang dekat ketika Kalia tertidur. Ada rasa sayang yang tumbuh subur dalam hatinya. Rasa yang entah dari kapan tertanam di situ.


Surya berjanji dalam hati, bahwa membahagiakan Kalia adalah prioritas utamanya.


Baginya, senyum Kalia adalah anugerah paling indah yang diberikan Tuhan padanya. Dengan takut-takut, Surya meraba perut Kalia yang masih rata. Ada janinnya yang sedang tumbuh disana, dan semakin hari Surya semakin mencintai mereka berdua.


" Jangan rewel yah, utun. Jagain ibu nya di dalam sana. Kasihan, ibu jadi kurus tuh. Ayah sayang kamu, sayang ibu kamu juga. Selamat tidur yah kesayangan ayah." Surya mencium perut Kalia pelaan sekali, takut membangunkan Kalia dan membuatnya marah karena Surya telah lancang mencium perutnya tanpa seijin Kalia.

__ADS_1


Malam itu berakhir indah. Surya merasa hubungannya semakin membaik bersama Kalia. Begitupun sebaliknya..Kalia sudah tak membenci Surya atas kejadian yang pernah terjadi diantara mereka meskipun rasa cinta belum tumbuh, tapi setidaknya Kalia sudah tidak terjajah lagi dengan perasaan bencinya.


*utun : sebutan untuk janin yang ada dalam rahim (dalam bahasa sunda)


__ADS_2