
" Sok ayeuna mah jang..caritakeun ka mamah jeung ka bapak. Aya naon ieu teh sabenerna? Nepi si neng ieu rek bunuh diri. Pingsan deui pingsan deui.." (Sekarang coba ceritakan ke mamah sama bapak jang. Ada apa sebenarnya sampai si neng ini mau bunuh diri. Sampai pingsan terus menerus) bujuk Ibu nya Surya sambil mengelus punggung anak semata wayangnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Surya kemudian menceritakan semua kejadian yang telah menimpa mereka. Menerangkan bahwa Kalia adalah atasannya di tempatnya bekerja. Menceritakan bahwa malam itu Kalia sedang dalam keadaan mabuk karena minum minuman keras, kemudian memaksa Surya untuk memuaskan nafsu birahi nya. Menjelaskan bahwa luka jahitan di tangannya adalah usaha Surya untuk mencegah Kalia bunuh diri karena hendak menusukkan pisau ke lehernya. Surya juga meminta maaf berkali-kali kepada kedua orang tuanya karena telah terbawa nafsu dan malah melayani ajakan sang atasan.
Ibu nya tergugu dan memukul-mukul dada nya karena frustasi mendengar cerita Surya. Bapak nya tampak murka dan hampir saja menghajar Surya.
" Maneh nyaho teu?? Ayeuna ieu budak awewe teh keur kakandungan. Budak maneh meureun eta..! Tadi bapak dibere nyaho ku dokter di klinik yen budak ieu keur kakandungan. Lamun geus kieu rek kumaha?? Maneh kudu tanggung jawab!! Kawin ieu budak awewe. Tanggung jawab mun maneh bener-bener lalaki." ( Kamu tahu nggak?? Sekarang anak perempuan ini sedang hamil. Anak kamu mungkin itu..! Tadi bapak dikasih tau sama dokter di klinik bahwa anak perempuan ini tengah hamil muda. Kalau udah kayak gini harus gimana? Kamu harus tanggung jawab!! Nikahi anak ini, kalau kamu benar-benar laki-laki) ucap Pak Asep sambil berkacak pinggang menahan amarah. Wajahnya memerah, ingin sekali dia hajar anak tak tahu diri nya ini.
" Tapi mana mau Bu Kalia sama ujang, pak. Ujang cuma OB. Pasti Bu Kalia malu". ucap Surya sambil menundukkan pandangannya, tak berani melihat mata bapaknya.
" Naha era? Da sarua jelema!" (Kenapa malu? Sama-sama manusia ini). Jawab Pak Asep tak terima.
Ketika kedua ayah dan anak itu sedang berdebat, Kalia mulai siuman. Dia memegang keningnya yang masih berdenyut menyakitkan.
" Aaarggh.." Kalia merintih karena kepalanya masih saja pusing. Bu Ati langsung menghampiri Kalia yang masih terbaring lemah di kamar sempit milik keluarga Pak Asep.
" Sudah sadar neng? Bagaimana sekarang? Masih pusing?" Kalia mengangguk lemah.
" Sudah neng Kalia tiduran sajah dulu. Biar ibu buatkan teh hangat ya."
Kalia masih kebingungan dan mengumpulkan memori sebelum dia tak sadarkan diri tadi.
" Bu.." ucap Surya ragu-ragu.
Kalia melihat Surya sekilas kemudian membuang muka.
" Sayah sudah dengar semuanyah dari orang tua sayah kalau ibu mau loncat dari tebing..dan.." Surya ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
Hening berbahasa.
__ADS_1
" dan kalau ibu..hamil anak sayah."
Kalia diam, tak mengiyakan pun tak menyanggah ucapan Surya.
Lama Surya tak melanjutkan kata-katanya. Memikirkan kata apa yang pantas dia ucapkan pada Kalia.
" Kalau memang begituh, ijinkan sayah bertanggung jawab atas apa yang sudah sayah lakukan."
" Gak perlu..saya gak butuh." jawab Kalia pendek tanpa memandang wajah Surya.
" Kenapah? karena sayah cuma OB?" tanya Surya menyudutkan Kalia.
" Karena saya gak mau anak ini. Biar saya gugurkan saja. Jadi baik saya maupun kamu tidak perlu menanggung ini semua. Kejadian yang lalu, anggap saja gak pernah terjadi."
Surya tampak kaget dengan jawaban Kalia. Kemudian menggeleng kuat.
" Sayah sudah melakukan dosa besar dengan berzinah. Sayah tidak mau menambah dosa lagi dengan membunuh. Kalau ibu memang tidak menginginkan anak ituh, biar sayah yang akan mengurusnya. Tapi tidak perlu membunuhnya." jawab Surya dengan suara tercekat.
" Kalau begitu, ijinkan sayah untuk menikahi Ibu Kalia." Kalia tertawa sumir.
" Hah..saya gak sudi kamu jadi suami saya." jawab Kalia dengan tatapan melecehkan.
" Sayah mungkin cuma seorang OB. Pekerjaan saya cuma pekerjaan rendahan bila dibandingkan dengan Ibu. Tapi sayah hanya tidak mau kita berdua semakin banyak melakukan kesalahan. Anak itu juga punya hak untuk hidup sama seperti kita."
Bu Ati tiba-tiba masuk kedalam kamar sambil membawa teh hangat kemudian menyerahkannya pada Kalia.
" Neng, maafkan kelakuan anak ibu yang sudah membuat neng jadi beginih." Bu Ati kembali menangis sambil mengelus lengan Kalia.
Surya memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan erat. Dia menyesal telah membuat orang tuanya terluka.
__ADS_1
" Meski Surya cuma pegawai rendahan, pendidikannya juga rendah, dan tidak memiliki apa-apa, tapi biarkan dia bertanggung jawab dengan yang sudah dia lakukan sama neng Kalia. Jangan...dibunuh..bayinya. Ka..kasihaan.." ucap Bu Ati terbata kemudian menangis tersedu.
Air mata terus menganak sungai di pipinya yang sudah mulai keriput.
Kalia ikut menangis. Ada perasaan tak tega dalam hatinya. Bayi ini memang tidak bersalah, dia yang bersalah. Lantas kenapa bayi ini yang harus menanggung kesalahannya?
" Coba neng Kalia pikirkan dulu. Malam ini, istirahat di rumah ini sajah. Besok pagi biar kami antarkan neng Kalia pulang."
Malam itu, Kalia nyaris tak bisa memejamkan matanya. Pikirannya menerawang memikirkan perkataan Surya dan Bu Ati, dielusnya perut yang masih rata itu. Ada kehidupan disini, akibat kesalahan fatal yang diperbuatnya.
Hati Kalia sakit. Meski menarik nafas dalam-dalam, sesaknya tidak juga hilang. Mungkinkah dia harus menerima Surya untuk menjadi suaminya? Agar dia tidak menanggung malu seorang diri, agar anak dalam rahimnya memiliki seorang ayah. Tapi Surya hanya seorang OB? Apa pendapat rekan-rekan kerjanya bila mengetahui hal ini? Lagi pula, dia sangat membenci Surya karena sudah membuatnya menjadi seperti ini. Bagaimana mungkin dia menikahi laki-laki yang dia benci setengah mati?
Tapi bila dia tidak menikah, Ibu nya pasti akan merasa malu. Istilahnya dia telah melempar kotoran ke wajah ibu yang sangat dicintainya.
" Mamaa..maafin Kalia.." bisik Kalia lirih sambil terisak.
***
Pagi harinya, setelah dibujuk dengan lembut oleh Bu Ati akhirnya Kalia bersedia diantar pulang oleh keluarga Surya. Dia sudah membulatkan tekad untuk mengakui semuanya kepada Ibu Rani, mamanya. Apapun konsekuensi yang akan terjadi, harus Kalia hadapai karena ini adalah kesalahannya.
Mendengar deru mobil Kalia, Bu Rani langsung menghambur keluar dan menyambut anaknya dengan wajah cemas. Pasalnya hampir seharian Kalia tak mengabarinya. Handphone nya mati, bahkan sahabat-sahabatnya pun tak tahu kabar tentang Kalia.
Bu Rani langsung menghambur dan memeluk tubuh rikuh Kalia ketika dilihatnya anak kesayangannya itu keluar dari mobil dengan muka yang kuyu dan mata yang bengkak.
Tanpa berlama-lama, Bu Rani langsung mempersilahkan semuanya untuk masuk kedalam rumah dan meminta penjelasan tentang hal yang telah terjadi pada anaknya.
Kalia langsung menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh wanita yang sangat dicintainya dan menjelaskan semua yang sudah menimpanya pun tentang kehamilannya dan aksi bunuh diri yang sudah dua kali akan dia lakukan.
Bu Rani memekik, menangis, menguncang-guncang tubuh Kalia dengan marah tapi juga merasa begitu terpukul dengan keadaan Kalia sekarang. Pantas saja anak kesayangannya ini begitu berubah total selama 3 minggu kebelakang. Badannya pun menjadi lebih kurus. Ternyata ada masalah yang begitu berat yang sedang ditanggungnya.
__ADS_1
" Maafkan saya Bu, yang sudah begitu lancang kepada Bu Kalia. Saya memang cuma laki-laki biasa yang tidak mempunyai apa-apa. Tapi ijinkan saya bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya hanya tidak mau Bu Kalia menanggung malu seorang diri. Saya juga tidak mau kalau anak itu digugurkan. Sudah cukup kami melakukan dosa besar, tidak mau lagi menambah dosa dengan membunuh bayi tidak berdosa." ucap Surya panjang lebar sambil menunduk dan sesekali menyeka air matanya. Dia tampak terpukul dan menyesal.
" Ya..kamu memang harus bertanggung jawab. Nikahi anak saya, jangan sampai dia harus melewati masa-masa sulitnya seorang diri. Ini semua kesalahan kalian. Jadi memang kalian yang harus menanggungnya bersama." Bu Rani mengatakannya dengan tegas. Kalia tidak bisa membantah, dia hanya bisa terisak.