
Setelah selesai diperiksa, Surya tak henti-hentinya tersenyum. Dilihatnya gambar hasil USG berkali-kali kemudian memandang Kalia dan nyengir lagi. Begitu terus menerus. Surya tak bisa menutupi kebahagiaannya.
" Bahagia banget ya?" tanya Kalia sinis.
Surya hanya mengangguk bersemangat sambil kembali tersenyum lebar.
" Bisa mingkem gak? nyengir melulu."
Surya langsung mengatupkan kedua bibirnya.
" Buruan cari makan ah. Saya udah lapar banget." ucap Kalia ketus sambil mendahului Surya menuju mobil.
" Kalia mau makan apa?" tanya Surya setelah mereka berdua ada di dalam mobil.
" Nasi liwet, ayam penyet, tempe mendoan, tahu gejrot, yoghurt, sama jus apel malang. Harus apel malang, gak mau apel yang lain." jawab Kalia sambil melipat kedua tangan di dada. Surya diam-diam menepuk jidat.
" Siap Ibu ratu anu geulis kabina-bina..laksanakan." mobil pun melaju ke sebuah rumah makan lesehan yang tak jauh dari sana. Beruntung semua makanan yang Kalia inginkan ada disana, jadi Surya tidak perlu susah-susah mencari di tempat lain.
Kalia makan dengan lahap seperti belum makan beberapa hari. Surya hanya menatapnya lucu. Kalia sangat menggemaskan kalau sedang makan. Tidak banyak bicara, hanya fokus dengan makanan yang tersaji di depan mata.
Tak berapa lama, semua makanan yang terhidang sudah habis, bersih. Mereka lalu melanjutkan perjalanan pulang. Diperjalanan, Kalia tampak mengantuk. Dia menyandarkan kepalanya, tak berapa lama Kalia sudah terlelap.
Sesampainya di rumah, Kalia masih tertidur pulas. Surya mencoba membangunkannya dengan menepuk tangan Kalia pelan. Kalia mengerjapkan matanya.
" Udah sampai?"
" Sudah..yuk turun. Tidurnya di kamar aja biar nyaman." Kalia mengangguk.
Surya lalu turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil untuk Kalia.
__ADS_1
" Lebay.." Kalia malah sewot. Surya cuma sanggup nyengir. Aneh betul perempuan ini, diberi perhatian malah marah.
Kalia dan Surya masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, waktu shalat ashar masih lumayan lama. Bisa tidur siang dulu untuk melepas penat, karena shalat dzuhur sudah mereka laksanakan tadi di tempat makan.
Hari itu terlewati dengan baik, ketika malam tiba mual Kalia dapat teratasi akibat obat pengurang mual yang diresepkan dokter. Makan banyak tadi siang dan malam hari yang ditelan Kalia akhirnya tidak berakhir mubazir di toilet.
***
Keesokan harinya, masa liburan pun berakhir. Baik Kalia maupun Surya harus kembali menjalani rutinitas masing-masing.
" Sudah bangun, Li?" Surya mengetuk pintu kamar Kalia pelan.
" Udah.." sahut Kalia dari dalam kamar.
" Jangan lupa shalat subuh dulu yah."
" Hemm.." sahutnya lagi dengan suara ogah-ogahan.
Kalia keluar dari kamar sambil mengikat rambutnya asal, kemudian mengambil wudhu dan shalat subuh di kamarnya.
Selesai shalat, Kalia membaringkan tubuhnya di kursi malas yang terdapat di ruang keluarga. Surya menghampirinya dengan dua piring nasi goreng yang masih mengepul.
" Ini sarapan dulu. Hari ini mulai kerja kan?" Kalia mengangguk dan meraih piring yang disodorkan Surya.
" Mual gak?"
" Lumayan"
" Setelah sarapan, jangan lupa diminum yah vitamin sama obat pereda mualnya."
__ADS_1
" Iya udah tau, gak usah diingetin terus." jawab Kalia ketus.
Acara sarapan selesai dengan keadaan yang hening. Kemudian Surya pamit untuk bersiap lebih dulu karena jam masuk kerjanya lebih cepat 1 jam dibanding Kalia.
Sebelum Surya berangkat kerja, Kalia lagi-lagi mewanti-wantinya untuk tak membocorkan pernikahan mereka pada siapapun. Surya hanya mengangguk pasrah. Sebetulnya Surya merasa sedih dan kecewa, tapi apa boleh buat? Surya mencoba mengerti posisi Kalia. Dia seorang manager yang dihormati di kantornya, menikahi bawahannya sendiri yang hanya seorang office boy. Apalagi pernikahan mereka terjadi, murni karena kecelakaan, tidak berlandaskan cinta sama sekali. Wajar saja bila Kalia merasa malu untuk mengakui Surya sebagai suaminya.
Sementara, Kalia sebenarnya tak enak hati melihat tatapan Surya yang tiba-tiba saja redup. Kalia tahu, bahwa Surya merasa sedih tapi bila rekan-rekannya tahu bahwa dia menikahi seorang OB, reputasinya sebagai manager di perusahaannya bisa rusak dan jadi bahan cemoohan orang.
" Saya berangkat dulu. Di jok mobil depan sudah saya siapkan bekal cemilan dan teh jahe biar Kalia baik-baik saja selama bekerja." ucap Surya dengan tatapan sedih kemudian melajukan motornya menembus tebalnya kabut dan dinginnya pagi.
Pukul 7 pagi, Kalia baru berangkat bekerja. Sebuah tas jinjing berwarna biru muda sudah teronggok manis di jok mobil tepat di sebelah kursi kemudi. Dilihatnya, sebuah kotak makan yang masih baru dan termos kecil berisi teh jahe yang masih hangat. Sepertinya kotak makan itu sengaja Surya beli ketika berbelanja di supermarket sewaktu hari pertama mereka pindah ke rumah ini, karena Surya lupa untuk melepas barcode harga yang masih menempal di pinggir kotak makannya. Kalia tersenyum kecut.
Beli nya kenapa gak yang mahalan dikit sih? batin Kalia dalam hati, tapi tak urung dia merasa senang dengan semua perhatian yang Surya berikan padanya. Tampaknya laki-laki itu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjaganya. Seperti janjinya pada mama Rani dan dokter Ika. Kalia terkekeh ketika mengingat betapa bersemangatnya Surya mendengarkan anjuran dokter Ika padanya.
Sesampainya di kantor, rekan-rekan kerjanya banyak yang memberikan selamat atas pernikahan Kalia. Mereka menggoda Kalia dengan pertanyaan-pertanyaan seputar malam pertama. Kalia mejawabnya dengan banyak bohong di sana sini dan sesekali tertawa agar tak terlalu kentara.
" Mana dong Bu foto pernikahannya? Mau lihat suaminya Bu Kalia? Pasti deh ganteng banget." ucap Listi, salah satu stafnya di kantor.
" Belum jadi..nanti deh kalau udah jadi saya kasih lihat." lagi-lagi Kalia hanya mampu berbohong.
Obrolan pagi itu dipenuhi dengan kebohongan dan tawa palsu. Kalia merasa bersalah, tapi tak ada yang dapat dilakukannya selain ini. Memberitahu yang sebenarnya pada semua orang hanya akan membuat malu dirinya sendiri.
Sementara Kalia sedang asyik bercerita tentang pernikahan khayalannya, Surya memperhatikan dengan raut muka sedih sambil mengepel ubin kantor.
Lia pasti malu mengakui saya sebagai suaminya, tapi gak apa-apa lah toh dimata Allah dan keluarganya, saya adalah suaminya yang sah. Sabar aja ya hati..yang penting perempuan cantik itu cuma milik kamu seorang. Batin Surya sambil membersihkan kain lap yang dipakainya untuk mengepel lantai.
***
Sudah pukul 10, mulut Kalia mulai terasa pahit, perutnya keroncongan. Harus segera diganjal makanan nih, dari pada mual-mual lagi pikir Kalia dan mencari sesuatu di dalam tas nya yang bisa dia makan. Kalia lalu teringat kotak makan yang diberikan Surya padanya tadi pagi. Kalia langsung membuka kotak makan tersebut, ada beberapa kue, lemper ayam, puding coklat, dan yoghurt kemasan. Ditambah lagi termos kecil berisi teh jahe yang kehangatannya masih terjaga. Kalia tersenyum, jujur hatinya terenyuh dengan semua perhatian yang Surya berikan. Dari awal pertemuannya dengan laki-laki tersebut, sudah tampak bahwa Surya adalah laki-laki yang penyayang dan penuh perhatian. Sifat kedua orang tuanya benar-benar menurun padanya. Tatapan teduh Ibu Ati dan senyum ramah Pak Asep menyatu menjadi sosok Surya yang seperti sekarang. Kalia langsung teringat pada kedua paruh baya yang sekarang sudah menjadi mertuanya tersebut. Lain kali dia harus menengok mereka, begitu pikirnya.
__ADS_1
Kalia memakan dengan lahap semua bekal yang diberikan Surya padanya. Perutnya sudah kenyang, mualnya juga jauh berkurang. Kalia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik.
Dia ingin menghubungi Surya untuk mengucapkan terimakasih untuk bekalnya, tapi lagi-lagi Kalia lupa meminta nomor telepon Surya, padahal sudah berhari-hari mereka tinggal bersama.