My Office Boy

My Office Boy
36. Bertahan Sekuat Tenaga


__ADS_3

Kang, masih lama di toko nya?


Kalia mengirimkan pesan pada Surya karena sampai jam 9 malam masih juga belum pulang. Sepulang kerja tadi, selepas shalat maghrib Surya ijin kepada Kalia untuk mengecek toko bunga nya yang terletak di pasar Lembang. Surya akan mengecek pembukuan dan persediaan barang katanya. Surya juga bilang hanya akan ke toko sebentar saja kemudian kembali sebelum isya. Tapi sampai jam 9 malam, dia belum juga kembali.


Sebentar lagi ya neng. Kenapa, ada yg mau dibeli? balas Surya pada Kalia.


Nggak ada, cuma pengen akang cepat pulang aja. Sepi di rumah sendirian.


Iya..secepatnya akang pulang. Jangan lupa shalat isya dulu. Takutnya ketiduran.


Udah shalat dong. Balas Kalia kemudian.


Hampir setengah jam kemudian, terdengar deru mesin mobil yang masuk kedalam parkiran, Surya baru saja pulang. Dengan sedikit berlari, Kalia segera menuju teras untuk menyambut Surya. Lupa bahwa kini sedang berbadan dua. Entah kenapa, Kalia jadi mudah sekali rindu pada suaminya. Rasanya tak ingin terlalu lama ditinggal. Ada Surya di sampingnya selalu membuat dia merasa aman.


Ketika Surya baru saja keluar dari mobil, Kalia langsung menghambur ke arah Surya dan bergelayut manja di lengan suaminya itu. Diusapnya rambut Kalia oleh Surya kemudian dicium dengan lembut. Wangi shampo menguar, membangkitkan syahwatnya. Aah..musti berjuang lagi sepertinya malam ini. Waktu seperti lambat berputar kalau sudah begini.


" Akang udah makan?" tanya Kalia masih dalam posisi yang sama.


" Sudah tadi..sayang udah makan juga?"


" Udah sih..tapi lapar lagi." Kalia memandang Surya sambil nyengir lebar menampakkan gigi geliginya yang rapih dan putih.


Surya mengacak-acak rambut Kalia yang sedang diikat asal saja.


" Kayaknya si cantik di perut kamu tuh gak ada kenyang-kenyangnya. Tadi udah makan setangkup burger, makan malam juga sudah, sekarang masih lapar aja."


" Gak tau nih..diperut aku kayaknya bukan cacing deh, tapi naga.." ucap Kalia asal. Surya tertawa mendengarnya.


" Mau makan apa?" tanya Surya sambil mendudukkan Kalia di sofa.


" Cemilan aja ah..pisang goreng misalnya. Hehe."


" Siaap..tunggu ya. Akang buatkan dulu." Surya hendak menuju dapur, tapi Kalia kembali menggapai tangannya.


" Ikuuut.." rengek Kalia manja membuat Surya gemas dibuatnya.

__ADS_1


Jadilah malam itu mereka memasak pisang goreng berdua sambil sesekali memperhatikan ikan koi yang berlarian di kolam kecil di samping dapur. Kemudian menyantap bersama pisang goreng hangat di sebuah meja makan minimalis yang masih terletak di samping kolam ikan mini di dapur tersebut.


" Siapa sih yang design rumah ini kang?" tanya Kalia pada Surya yang masih kesusahan mengunyah pisang goreng yang ternyata masih terasa panas di mulut.


" Ahang hinta arhitek hambarin.." ucap Surya tak jelas karena kepanasan mengunyah pisang goreng.


" Ooh.." Kalia mengangguk mengerti.


Setelah menelan pisang gorengnya, Surya melanjutkan penjelasannya.


" Akang minta arsitek menggambarkan designnya terus dibangunlah rumah ini. Sengaja tidak ingin terlalu besar, minimalis saja tapi nyaman untuk di tempati. Akang tuh gak suka rumah-rumah besar, kesannya kurang hangat kalau untuk keluarga kecil. Akan banyak ruangan yang tak terpakai. Lebih baik sedikit ruangan tapi bisa multifungsi. Semua ruangan terisi dan lebih homey aja gitu, neng. Lia juga waktu pertama datang kesini, langsung ngerasa nyaman kan? Padahal lagi cemberut-cemberutnya tuh waktu itu gara-gara harus tinggal berdua sama akang." ucap Surya sambil tersenyum lebar melihat istrinya langsung merengut.


" Iya..dulu aku masih sebel sama akang. Benci banget.." jawab Kalia dan menjejalkan potongan pisang goreng terakhirnya.


" Sekarang? masih benci?" tanya Surya usil.


" Masih laaaah..." Surya melongo mendengar jawaban Kalia.


" Benci...benar-benar cintaaa.." Kalia nyengir lebar. Surya langsung tertawa mendengar gombalan istrinya.


" Lia udah bisa gombal ternyata sekarang ya. Bikin gemes tau gak, sayang belum bisa diapa-apain. Nanti deh tunggu 4 bulan lagi, kalau gemas begini bakalan abis sama akang mah. Gak akan bisa lepas, dikekepin terooos. Semalaman." Surya langsung mencubit pipi gembil Kalia.


Surya menepuk keningnya halus,


" Oh iya ya..si cantik nya gimana kalau Ibunya di kekepin ayah terus. Lupa..bakalan ada Kalia junior nanti. Aah..diakalin aja deh, kan bisa serangan fajar juga pas si cantik udah bobo. Hahaha.."


" Huuu....mau nya." Kalia memanyunkan bibirnya. Hati Surya mencelos, kenapa harus manyun-manyun segala sih itu bibir, minta disosor ya? Batin Surya.


" Ya mau atuh..ini si udin udah kayak kolang-kaling begini sembilan bulan gak tersalurkan. Lia mah, kumaha?"


" Iih akang porno ah.." Kalia langsung tergelak mendengar perumpamaan Surya.


" Udah ah..hayu tidur.." Surya beranjak dari duduknya dan menarik tangan Kalia agar berdiri. Awalnya ingin mengajak Kalia tidur, tapi entah kenapa bibir merah Kalia begitu menggoda malam ini. Apalagi acap kali Kalia menggigit bibir bawahnya ketika sedang memasak pisang goreng tadi. Begitu sensual, mengundang hasrat kelelakian Surya untuk berontak.


Tanpa berpikir lama, Surya kemudian menambatkan ciumannya pada Kalia. Ciuman yang dalam dan menuntut. Ciuman yang berhasrat. Surya mengabsen gigi geligi Kalia dengan lidahnya. Menyesap bibir bawah Kalia, mengeksplor setiap lekuk indah bibirnya. Membiarkan saliva mereka bertukar. Lama..sampai sesak.

__ADS_1


Setelah itu, Kalia melepaskan ciumannya kemudian menunduk di dada bidang Surya dengan nafas terengah-engah.


" Udah ya sayang..nanti kita gak tahan. Sabar..sebentar lagi." ucap Kalia pelan dan tertahan.


Nafas Surya sama terengah-engahnya. Menahan hasrat yang membesar dan bergejolak di perut bagian bawahnya, hampir meledak. Ada yang sudah berdiri tersiksa dari tadi. Tapi terpaksa dia tahan sekuat tenaga agar pertahanannya tidak jebol. Kemudian mengecup kening istrinya.


" Akang mau wudhu aja ya. Biar tenang.." ucap Surya kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi.


Ada perih yang menelusup di hati masing-masing. Rasanya semua ini benar-benar menyiksa, ketika mereka sedang begitu saling mencintai tapi tak bisa meluapkan semuanya hingga tuntas. Selalu kena tanggung seperti ini.


Surya mengambil air wudhu dan shalat witir 3 rakaat sebelum tidur agar kembali tenang. Diangkatnya kedua tangan untuk memohon ampun pada Rabb nya. Surya hanya makhluk lemah, tapi dia sangat ingin berubah. Dia juga memohon perlindungan dan kekuatan pada sang Pemilik jiwa dan raganya agar bisa melalui masa-masa menyiksa ini dengan baik hingga nanti akan indah pada waktunya.


Setelah selesai shalat, Surya menuju kamar Kalia kemudian melihat istrinya sudah meringkuk nyaman di kasurnya.


Kalia yang belum tertidur, balik memandang wajah suaminya yang masih basah karena sisaan air wudhu.


" Belum tidur sayang?" Kalia menggeleng.


" Mau minta dinyanyiin lagi, boleh?" tanya Kalia sambil tersenyum manis.


Surya kemudian membaringkan badannya disamping Kalia. Mereka saling tidur berhadapan. Di rengkuhnya badan Kalia dengan lembut kemudian menepuk halus punggung Kalia.


" Berdoa sebelum tidur dulu Lia nya.." perintah Surya sambil mencium ubun-ubun Kalia.


Suara Surya mengalun lembut, menyanyikan lagu pengantar tidur untuk Kalia.


Bulan sabit di awan


Laksana perahu emas


Berlayar langit, berlampu bintang


Tinggi di angkasa luas


Betapa senang hatiku rasanya

__ADS_1


Menjadi nahkoda disana..


" Selamat tidur, sayang.."


__ADS_2