
Pagi hari, Surya sudah siap dengan seragam OB kebanggaannya. Dia hendak berangkat kerja. Pada akhirnya, Kalia mau juga diantar oleh Surya meskipun resikonya dia harus berangkat lebih pagi. Tapi baguslah, dengan begitu tidak akan ada rekan-rekannya yang melihat mereka datang bersama ke kantor.
" Pakai jaketnya, Li. Takut masuk angin." Lia memakai jaketnya tapi agak kesulitan memasangkan resleting. Agak macet rupanya.
" Sini saya bantu.."
Dengan cekatan Surya memasangkan resleting jaket Kalia, sedikit berjongkok kemudian menarik resletingnya perlahan. Ketika salesai memasangkan resleting, mata mereka berserobok. Kalia dan Surya langsung merasa canggung.
Pasang resleting aja bisa romantis gitu yak. Hehehe
Surya menyerahkan helm untuk Kalia dan menaiki motor CB150R nya terlebih dahulu. Kalia memakai helmnya setelah sebelumnya mengikat rambut sebahunya menjadi cepol asal saja, yang penting tidak ribet ketika memakai helm, begitu pikirnya.
" Hati-hati naiknya, pegangan yang kencang. Saya gak akan ngebut kok, takut ban motornya ngelindas paku." Kalia langsung mencubit pinggang Surya kencang.
" Gak usah nyindir.."
" Hehehe..iya maaf. Sok cepet pegangan, bisi jatoh."
Kalia menyerah, dia memegang jaket yang dikenakan Surya dan menyamankan posisi duduknya.
Udara pagi terasa begitu dingin, lama kelamaan Kalia mulai menempelkan badannya pada Surya untuk menghalau dinginnya pagi. Kabut masih tebal, matahari pun masih malu-malu menampakkan diri.
Hati Surya mencelos ketika punggungnya menempel pada dada Kalia. Ada yang berdesir di hatinya.
Sesampainya di kantor, suasana masih lengang. Belum ada siapapun yang datang. Kalia jadi lebih leluasa masuk kedalam ruangannya. Ditangannya, Kalia menenteng tas kecil berwarna biru muda, bekal cemilan yang Surya siapkan sebagai amunisi ketika Kalia kelaparan sebelum jam makan siang.
Semakin lama, Kalia merasa semakin nyaman dengan semua perhatian yang Surya berikan padanya. Dia tak lagi merasa risih, rasa bencinya pada Surya pelan-pelan memudar.
Waktu masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kalia menyalakan komputernya dan mulai mengecek pekerjaan yang belum selesai. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk seseorang.
" Selamat pagi Bu.." kepala Surya menyembul dari balik pintu.
Kalia sedikit kaget.
" Ngapain kesini?"
" Boleh masuk ya.." belum juga Kalia memberikan ijin, Surya langsung masuk kedalam ruangan tersebut.
" Minum ini dulu..air madu tambah perasan lemon. Tadi Lia udah dingin-dinginan naik motor. Takut kena flu. Diminum dulu yah, baru mulai kerja." ucap Kalia sambil meletakkan cangkir minuman di meja kerjanya.
Kalia tersenyum.
" Makasih.." ucap Kalia singkat. Surya nyengir lebar. Hatinya senang.
" Saya pamit ya..mau mulai kerja."
__ADS_1
" Tunggu.." Kalia memanggil Surya lagi.
" Minta nomor teleponnya, aku suka susah hubungi kalau ada apa-apa." Surya melongo kemudian tersenyum aneh saking bahagianya. Dua hal yang membuat Surya kegirangan bukan main, satu karena Kalia meminta nomor teleponnya, dua karena Kalia tidak lagi mengatakan "saya" tapi berganti menjadi "aku" . Itu artinya, kedekatan mereka seinchi lebih maju.
Surya lalu memberikan nomor teleponnya dan Kalia mencoba menelepon nomor tersebut. Tertulis 1 misscalled di layar handphone Surya. Dengan cepat Surya menyimpan nomor Kalia dan menamainya "Arum Daru".
Setelah pertukaran nomor telepon yang bersejarah itu, Surya jadi sering menatap layar handphone nya selama bekerja. Takut bila Kalia menghubunginya dan membutuhkan sesuatu.
Rasanya pekerjaan berat yang dia lakukan hari ini tak sedikitpun menyulitkannya. Surya terlalu bahagia, hingga kakinya seperti tidak menapaki bumi. Hahaha..lebayyy...
***
Waktunya makan siang.
Surya lagi-lagi mengecek handphone nya. Ada satu notif whatsapp masuk, dari Arum Daru.
Aku hari ini lembur, kalau mau pulang duluan sok aja. Nanti biar pulang naik grab. Surya membaca pesan itu berkali-kali. Hari bersejarah, dia dapat pesan pertama dari Kalia.
*Saya tunggu aja, biar pulang sama-sama. Takut Lia kenapa-napa*. Balas Surya sambil nyengir.
Ya. Singkat..tapi Surya senang, karena tidak ada penolakan. Hati Surya ber-yes-ria sampai-sampai teman sesama OB nya heran dengan tingkah lakunya.
" Kunaon, Sur? menang togel?" tanya Yudi teman sesama OB nya. (Kenapa Sur? dapet togel?).
" Lebih ti togel, lur. Harta karun ieu mah. Hehehe." ( Lebih dari togel, bro. Harta karun ini sih. Hehehe). jawab Surya sambil meninggalkan teman-temannya yang masih keheranan.
***
" Nungguan saha deui, Sur? Meuni beuki diuk didieu teh." tanya Pak Edi penasaran ketika dia baru selesai patroli dan kembali ke ruangannya untuk beristirahat. (Nungguin siapa lagi, Sur? Suka banget duduk disini).
" Da geus eweuh sasaha. OB mah geus baralik." jelas Pak Edi lagi. (Udah gak ada siapa-siapa. OB udah pada pulang semua).
" Sanes ngantosan OB, Pak. Tapi OH..obat hati. Hehehe." jawab Surya sambil cengar-cengir.
" Saha sih? jadi penasaran."
Surya terkejut, dia menyadari telah salah bicara.
" Heureuy, Pak. Saya mah lagi nunggu temen di bagian produksi. Ada bisnis." jelas Surya agar Pak Edi tak curiga.
" Mangga atuh, Pak. Abdi tipayun.." Surya langsung pergi, takut diinterogasi lagi. (Mari, Pak. Saya duluan).
Agar tak ada yang melihatnya, terpaksa Surya menunggu Kalia di tempat parkir motor paling belakang. Kemudian satu pesan notifikasi masuk ke handphonenya. Dari Arum Daru.
Aku udah selesai. Tunggu dimana?
__ADS_1
Surya tersenyum kemudian membalas dengan cepat.
Di parkiran belakang, dekat Water Treatment
jawab Surya.
Tak berselang lama, Kalia sudah berjalan menuju parkiran. Surya langsung menyiapkan helm untuknya. Tampak Kalia sudah mengenakan jaket dan meraih helm yg Surya berikan.
" Cape?"
" Lumayan.."
" Mau beli makan dulu nggak?"
Kalia berpikir lama.
" Boleh deh, aku lagi ngidam surabi."
" Siaaap..langsung meluncur ke lokasi, Bu hajah." jawab Surya melucu. Kalia tersenyum manis. Surya sampai gemas dibuatnya.
Sambil duduk di bangku lesehan dan menunggu kue surabi pesanan mereka datang. Surya mencoba mencairkan suasana.
" Boleh tanya gak?"
" Hemm..tanya apa? jangan yang susah-susah, aku lagi capek mikir."
Surya terkekeh.
" Nggak lah..bukan ujian CPNS inih. Gak akan susah-susah."
Diam sejenak.
" Lia lahir tahun berapa?"
" 92 " jawab Kalia singkat.
" Berarti tuaan saya yah. Saya lahir tahun 90."
" Udah kelihatan kok dari muka.." jawab Kalia asal bunyi.
" Wadaawww....to the point kitu bilang saya bermutu."
" Apaan bermutu?" tanya Kalia bingung.
" Iya..bermuka tua." Kalia tergelak. Memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Tawa pertama yang membuat jantung Surya mencelos. Dia jadi gemas dibuatnya tapi tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa mencubiti pahanya sendiri.
__ADS_1
" Ya udah..mau dipanggil apa kalau gitu?" tanya Kalia sambil meminum susu hangat yang tadi sempat dipesannya. Dia ingin sedikit mengakrabkan diri dengan Surya.
" Hemm...apa ya? Aa..kayak ke kakaknya aja. Kang Mas..sayah bukan orang Jawa. Hemm..akang aja deh. Panggil saya akang ya. Kang Surya..hehehe." bujuk Surya sambil nyengir, menunggu persetujuan. Kalia hanya mencibirkan bibirnya sambil mengangguk-angguk tanda "boleh juga dicoba".