My Office Boy

My Office Boy
11. Kehamilan yang Merepotkan part 1


__ADS_3

Puas berkeliling, Kalia kembali ke rumah. Dilihatnya Surya sedang bertelepon entah dengan siapa. Kalia tak mau ambil pusing.


Dia lalu mendudukan dirinya di kursi teras sambil mengecek handphone nya barangkali ada pesan masuk dari stafnya di kantor.


Sebagian rekannya memang tahu, bahwa Kalia sudah menikah dan sedang mengambil cuti pernikahan selama dua hari. Hanya saja, tak ada yang tahu bahwa laki-laki yang dinikahi Kalia adalah Surya. Tak banyak juga orang yang kepo dengan suaminya, selama ini Kalia memang selalu tertutup tentang masalah pribadinya.


Meski saat ini dia sedang cuti, tapi Kalia tetap memantau barangkali ada pekerjaan urgent yang perlu ditanganinya. Syukurlah tak ada pesan apa-apa. Jadi selama dua hari ini dia bisa leha-leha saja menikmati suasana. Apalagi, disaat hamil muda seperti ini kondisi fisiknya jadi tak tentu. Bisa tiba-tiba pusing, mual-mual, bahkan muntah hebat. Badannya juga sering lemas dan sakit-sakit. Mood nya jangan ditanya, swing banget! Bisa tiba-tiba sedih, eh sedetik kemudian jadi ingin marah-marah.


Selesai bertelepon, Surya kemudian menghampiri Kalia.


" Habis jalan-jalan?"


" Hemm.." Kalia hanya menjawab malas dengan mata yang masih menatap layar handphone.


" Mau minum atau makan sesuatu gak?"


" Gak..masih kenyang."


" Ya sudah..saya tinggal sebentar boleh? Saya ada sedikit urusan."


Kalia hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa dengan mata masih saja menatap layar handphone.


Surya lalu mengeluarkan motornya dari garasi yang tepat berada disamping rumah. Motor CB150R itu langsung menderu. Sebelum pergi, Surya menundukkan kepalanya tanda berpamitan pada Kalia. Kalia hanya menggerakkan tangannya tanda menyuruh Surya pergi tanpa menatapnya lama-lama.


Hampir dua jam Surya keluar rumah. Perut Kalia kembali kelaparan. Dilihatnya isi kulkas di dapur. Tidak banyak cemilan yang tersisa. Kebanyakan hanya bahan makanan mentah yang harus diolah dulu. Kalia merasa malas bila harus memasak. Hidungnya sedang super sekali dengan bau rempah-rempah.


Kalia mau menghubungi Surya agar membeli makanan untuknya, tapi dia baru sadar bahwa Kalia tidak memiliki nomor telepon Surya. Selama ini, mereka memang tidak pernah berkomunikasi lewat handphone.


" Bodoh.." rutuk Kalia sambil mengetuk kepalanya.


" Udah mulai mual lagi nih. Kalau cuma makan keripik gini mana kenyang. " Ternyata di supermarket, Surya hanya membeli sedikit cemilan. Kalia menyesal, kenapa tadi dia tidak mau diajak belanja oleh Surya di supermarket. Setidaknya kalau tadi dia ikut, dia bisa membeli stock cemilan yang banyak agar tidak kelaparan seperti sekarang. Gengsi gede-gedean sih.


" Aduh..mana sih itu orang. Perginya lama banget." Kalia mulai bersungut-sungut.


Tak lama berselang, deru motor Surya terdengar di halaman. Kalia langsung memberondongnya penuh kekesalan.


" Dari mana aja sih? Lama banget..! Saya kelaparan tauk..!! Udah mual, udah lemes ini. Sengaja ya biar saya tersiksa."

__ADS_1


Surya tampak kaget.


" Maaf..maaf..Lia udah lapar lagi?" Surya tampak merasa bersalah sekaligus heran. Padahal baru dua jam tadi mereka makan siang. Kalia juga makan banyak sekali kenapa sekarang sudah misuh-misuh kelaparan.


" Sebelum pergi tadi, saya tawarin mau makan atau minum apa, tapi Lia bilang masih kenyang. Saya kira.." jawab Surya sambil meletakkan helm nya di atas jok motor dan langsung diberondong lagi oleh Kalia.


" Ya itu kan tadi. Beda lagi sama sekarang. Nyebelin banget sih." Kalia langsung masuk kedalam kamar dan membanting pintu.


Surya masih melongo, kebingungan. Dia memukul mulutnya yang terlalu banyak bicara. Sudah tahu Kalia orangnya tak bisa dibantah atau diberi alasan kalau sudah ada maunya, masih saja dia jawab. Harusnya diam saja, nurut saja biar gampang.


Surya lalu mengetuk pintu kamar Kalia.


" Lia..boleh masuk ya." Dilihatnya Kalia sedang duduk di bibir tempat tidur sambil menangis sesenggukan.


" Maafin saya ya. Sok sekarang Lia mau makan apa? Nanti saya belikan yang baaanyaak banget." goda Surya. Kalia mendelik.


" Gak perlu..udah gak lapar."


kriiuuuuuukkkk...


Perut Kalia berbunyi, memberontak.


Iih gak tau sikon banget sih nih perut. Pake bunyi segala. Malu-maluin. ucap Kalia dalam hati sambil menunduk malu.


Surya menahan tawa.


" Jadi mau makan apa? Sok bilang aja jangan malu-malu."


" Siapa yang malu?" Kalia langsung melotot tanda protes.


" Mau makan rujak, seblak ceker, kwetiauw goreng, es kelapa muda, milkshake coklat sama anggur." jawab Kalia cepat. " Tapi yang cepet belinya, jangan lama-lama. Saya udah gemeteran ini."


" Hah..yakin habis itu semua?" Surya kaget, makanan segitu banyak apa benar akan dimakan Kalia semua.


" Cepetan iih..belii " Kalia kembali merajuk.


" Iya..iya..tunggu sebentar ya."

__ADS_1


Dengan cepat Surya pergi mencari semua pesanan yang Kalia minta. Untung saja masih sore, kalau Kalia minta semua pesanan itu malam-malam bakalan repot. Mau cari dimana? rumah Surya jauh dari jalan raya. Belum lagi lampu penerangan menuju rumahnya pun terbatas kalau malam hari. Ternyata punya istri yang sedang hamil itu repot juga ya, batin Surya. Tapi tak urung bibirnya tersenyum sumringah.


Satu jam kemudian, Surya datang dengan membawa semua pesanan Kalia. Tangannya penuh menjinjing semua makanan tersebut. Obat selera untuk orang hamil ternyata lumayan juga ya. Harus kerja lebih giat lagi kalau gini mah, batin Surya.


Ketika sampai di rumah, mata Kalia tampak berbinar-binar dan langsung mengambil kantong makanan yang masih ditenteng Surya. Dia memakan semuanya satu persatu sampai habis tanpa menawari Surya. Surya hanya memandangnya dengan takjub.


" Pelan-pelan makannya, Li. Takut nanti perutnya sakit." ucap Surya mencoba perhatian.


" Gak usah nyumpahin." ucap Kalia sewot dan kembali melanjutkan acara kulinernya.


Uuppss..kena lagi deh Surya disemprot petasan mercon.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Surya bergegas ke kamar mandi untuk shalat ashar. Karena terlalu lama mencari semua pesanan Kalia, dia hampir saja lupa kalau dia belum shalat. Dibiarkannya Kalia menikmati semua jajanan yang tadi dibelinya.


Selesai dzikir, Surya menemui Kalia lagi. Dilihatnya Kalia sedang mengusap-usap perutnya kekenyangan. Wajahnya tampak lebih segar. Efek makanan itu benar-benar luar biasa. Mood Kalia cepat membaik karenanya.


" Sudah habis semua?" tanya Surya sambil melipat sarungnya.


" Hemm.." jawab Kalia singkat.


Kalia membetulkan posisi duduknya, mengambil bantal kursi untuk menyangga punggungnya.


" Selera makan Lia memang seperti itu atau semenjak hamil aja?" tanya Surya mencoba mencairkan suasana.


" Semenjak hamil kayaknya sih. Dulu gak sampai begitu." Akhirnya Kalia menjawab dengan nada biasa, tidak sewot seperti tadi. Benar-benar ajaib ini makanan. Surya tersenyum.


" Semenjak hamil, saya jadi doyan makan. Tiap dua jam sekali sering kelaparan. Kalau gak diisi makanan, mulut langsung kerasa pahit terus mual, kadang-kadang malah sampai muntah. Lemes banget pokoknya." Surya menatap prihatin mendengar penjelasan Kalia.


" Terus kalau sudah makan, mualnya hilang?" tanya Surya lagi.


" Heem..langsung hilang. Langsung gak gemeteran lagi."


Surya mengangguk-angguk tanda mengerti.


" Saya harus banyak stock makanan atuh yah biar Kalia gak kelaparan. Siap deh kalau begitu." jawab Surya bersemangat.


Kalia tersenyum.

__ADS_1


Eh kok senyum? Ngapain pake senyum? Aku kan benci sama laki-laki ini. rutuk Kalia dalam hati dan segera menyingkirkan senyum yang sempat tersungging dibibirnya beberapa detik tadi dengan cara memanyun-manyunkan bibir.


__ADS_2