
Memasuki malam, udara di daerah Lembang memang langsung menurun drastis. Takut istrinya tak terbiasa dengan cuaca dingin, Surya menawarkan kaos kaki dan sandal agar selalu di pakai Kalia selama di rumah. Surya juga membuatkan minuman hangat agar istrinya tidak terserang flu.
Kali ini Kalia tidak sesewot tadi, mungkin efek perut kenyang. Emosinya jadi terkendali.
Kali ini mereka sedang sibuk di kamar masing-masing. Kalia dengan gadgetnya, begitu juga Surya. Udara dingin benar-benar membuat mereka malas kemana-mana. Hanya berkutat di dalam selimut saja.
Kalia mulai merasa mual dan pusing. Memasuki malam hari, biasanya kehamilannya memang selalu berontak. Kalia akan kembali merasa pusing atau mual-mual. Hampir begitu setiap harinya, morning sickness dan night sickness. Kegiatan rutin yang merepotkan Kalia hampir satu bulan ini.
Dia keluar dari kamarnya hendak menuju toilet. Ternyata begitu juga dengan Surya yang hendak mengambil minum.
" Lia lapar lagi? Mau saya buatkan makanan?" tanya Surya karena melihat istrinya keluar kamar dengan tergesa.
Kalia hanya menggeleng kemudian membekap mulutnya dan menuju toilet.
Hooeeekkk...hooeeekkk...
Kalia mulai bertahak.
Surya segera membantu Kalia dengan memijit tengkuknya dan memegangi rambut Kalia yang menjuntai. Kali ini Kalia tidak menolak. Dia pasrah, perutnya lebih membutuhkan konsentrasinya saat ini.
Hooeeekkk...hoeeekkk...hoooeeekkk..
Semua makanan yang dimakannya sore tadi dimuntahkan semua. Tak ada yang tersisa sedikitpun.
Melihat hal itu, Surya sama sekali tidak merasa jijik. Justru dia merasa kasihan karena Kalia harus mengalami ini semua. Badannya gemetar karena muntah-muntah hebat. Keringat dingin juga membasahi bajunya. Lama Kalia di kamar mandi, lututnya lemas dan tak sanggup berdiri. Surya membantu Kalia berdiri yang masih memegangi perutnya. Dengan telaten, Surya membersihkan sisa-sisa muntahan di bibir merah Kalia.
" Sudah lega?" tanya Surya prihatin. Kalia menggangguk lemah. Matanya terpejam, pandangannya masih berkunang-kunang.
" Saya gendong ya..takut Lia jatuh." tawar Surya. Lagi-lagi Kalia hanya mampu mengiyakan tanpa perlawanan. Tenaganya sudah terkuras habis untuk memuntahkan semua makanan hingga tenggorokan dan hidungnya terasa perih.
Setelah Kalia memberikan ijinnya. Surya lalu menggendong Kalia dengan satu hentakan saja, seperti Kalia seringan kapas.
Didudukkannya Kalia di tempat tidur. Kemudian merapikan bantal-bantal menjadi sedikit lebih tinggi agar Kalia dapat bersandar. Surya duduk di samping tempat tidur sambil mengelap keringat dingin yang bermunculan di kening Kalia. Wajahnya sangat pucat. Kalia meringkukan badannya untuk menahan perut yang mungkin saja akan kembali berontak.
" Sebentar saya buatkan teh jahe hangat ya, biar Lia gak mual lagi."
Surya berlari menuju dapur dan kembali dengan segelas teh jahe hangat ditangannya. Diserahkannya pada Kalia kemudian melihat istrinya meminum teh itu perlahan-lahan sampai habis.
__ADS_1
" Sudah baikan?"
Dilihatnya wajah Kalia tidak sepucat tadi.
" Hemm.." jawab Kalia singkat.
Kalia memejamkan matanya lagi.
" Masih pusing?" tanya Surya lagi. Kalia mengangguk lemah dan menyandarkan belakang kepalanya pada sandaran tempat tidur.
" Sini biar saya pijitin kepalanya Lia.." baru saja tangan Surya terulur, Kalia langsung menepisnya.
" Gak usah..gak perlu. Nanti juga sembuh sendiri."
" Eh..oh..iya." Surya tergagap karena penolakan Kalia.
Hening berbahasa.
" Maaf yah..gara-gara saya, Lia jadi harus melewati ini semua. Pasti menyulitkan harus melewati masa-masa kehamilan seperti ini." ucap Surya dengan suara bergetar.
Mata Kalia memanas. Dia mulai lelah menjalani proses kehamilan yang menyulitkannya seperti ini.
" Tiap pagi dan malam hari." jelas Kalia dengan suara tercekat dan mata yang masih terpejam.
Surya semakin merasa bersalah.
" Udahlah..semuanya udah terjadi kan? Menyesal sekarang juga udah gak ada gunanya. Anggap aja ini hukuman yang harus kita terima karena udah berzinah." Kalia menangis. Bulir-bulir bening meluncur mulus dari sudut mata Kalia yang masih terpejam.
Rasanya menyakitkan bagi Surya melihat Kalia menangis seperti itu. Semua yang sudah dilaluinya pasti berat. Rasanya saat itu juga Surya ingin memeluk tubuh rikuh istrinya dengan erat. Memberinya kekuatan bahwa semua ini bisa dilewati asalkan mereka bersama-sama. Tapi Surya hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan diri.
Lama Surya tak bicara, begitupun Kalia.
Tiba-tiba..
" Tenggorokan sama hidung saya perih karena muntah tadi, tapi saya lapar. Bisa masakin bubur gak? pake telor rebus, kerupuk dan kecap yang banyak." ucap Kalia dengan wajah memelas. Menggemaskan.
Surya sampai melongo, beberapa menit tadi Kalia menangis sedih. Lah sekarang langsung minta makan lagi. Perempuan hamil memang benar-benar tidak bisa diprediksi.
__ADS_1
" Bisa gak?" tanya Kalia lagi sedikit merengek.
" Oh..i..iya..bisa. Sebentar ya."
Surya langsung menghambur pergi sambil menahan tawa.
Surya memenuhi ngidam istrinya dengan membuat bubur dan telur rebus. Surya juga dengan cekatan mempersiapkan bahan pelengkap lain untuk bubur tersebut. Kerupuk goreng, irisan seledri, kecap dan sedikit taburan bawang goreng.
Setelah selesai memasak, Surya lalu menyerahkannya pada Kalia yang langsung berbinar. Membuat bahagia perempuan ini ternyata gampang, cukup dengan makanan saja maka emosinya akan stabil. Surya tersenyum puas ketika bubur spesial pakai cinta yang dibuatnya habis dimakan oleh Kalia. Bahkan Kalia minta tambah satu porsi saking doyannya.
Dengan sabar, Surya melayani istrinya yang sedang kalap memakan bubur di malam hari.
Sepertinya mualnya sudah jauh berkurang.
Selesai makan dua mangkok bubur porsi jumbo, mata Kalia mulai terlihat mengantuk. Beberapa kali dia menguap.
" Sudah ngantuk ya? Tidur aja atuh."
Lia melirik jam dinding. Sudah pukul 10 malam.
" Iya..udah ngantuk. Tapi baru selesai makan. Tunggu sebentar lagi aja." jawab Kalia kemudian menutup mulutnya karena kembali menguap.
" Oh iya..besok kita masih cuti kerja kan? Mau gak pergi ke dokter kandungan sama-sama?" ajak Surya dengan hati-hati.
Kalia tampak berpikir lama.
Sejak tahu bahwa dirinya hamil, Kalia memang tidak pernah memeriksakan kondisi kandungannya ke dokter sekalipun. Dulu dia bahkan ingin menggugurkan kandungannya. Tetapi kemudian, dia merasa kasihan pada janin yang sedang dikandungnya. Padahal janin yang kini tumbuh dalam rahimnya itu tak memiliki kesalahan apa-apa. Kenapa malah harus menerima hukuman dari kesalahan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Meskipun pada akhirnya dia tidak akan membesarkan bayi tersebut, tapi menjaganya tetap sehat selama didalam kandungan, tetap menjadi tanggung jawabnya.
" Boleh.." jawab Kalia kemudian.
Hati Surya mendadak berbunga-bunga.
" Besok pagi kita berangkat ya biar banyak waktu." ucap Surya penuh semangat.
" Hemm.." Kalia hanya menjawab singkat kemudian kembali menguap.
" Ya udah atuh, Kalia istirahat aja. Kasihan udah ngantuk pisan kayaknya. Selamat tidur yah, semoga nyenyak. Jangan lupa pakai kaos kaki dan selimutnya. Biasanya masuk subuh suka makin dingin kalau disini."
__ADS_1
Malam itu baik Kalia maupun Surya tertidur dengan nyenyak. Seperti ada beban berat yang sedikit demi sedikit mulai terangkat dari hati mereka masing-masing. Semoga esok semuanya jauh lebih baik.