
" Assalamualaikum.." salam Surya dan Kalia ketika memasuki rumah bercat biru langit milik keluarga Pak Asep.
" Waalaikumsalam...Ya Allah..ujang, neng.." jawab Bu Ati dan langsung menghambur menghampiri anak dan menantunya.
" Hayu..hayu masuk. Meuni kangeeen mamah teh sama kalian. Tadi pagi mamah keingetan ujang, eh sekarang betulan datang." Bu Ati langsung memeluk Surya dan Kalia bergantian.
" Sehat-sehat sayang? ini..si utunnya sehat juga?" tanya Bu Ati sambil mengelus perut Kalia.
" Alhamdulillah sehat, mah. Mamah sendiri gimana? Sehat?" tanya Kalia.
" Sehat..sehat..harus sehat atuh. Sok hayu..duduk dulu disini, bisi kakinya pegel kalau berdiri terus." Bu Ati memapah Kalia agar duduk di kursi sofa.
Mertuanya ini memang super duper baik. Mereka sama sekali tak peduli dengan latar belakang cerita yang terjadi antara anaknya dan Kalia. Baginya, itu hanya serangkaian cerita yang membuat Surya dan Kalia akhirnya berjodoh. Sudah suratan takdir..begitu ucapan mereka kala itu. Dan perlakuan mereka selalu membuat Kalia nyaman.
" Bapak masih di warung mah?" tanya Surya.
" Ooh..nggak, sudah pulang tadi jam 5. Lagi ngurusin baglog di kumbung." jelas Bu Ati. Baglog adalah media tanam untuk menginokulasikan bibit jamur. Sedangkan kumbung adalah tempat petani jamur membudidayakan jamurnya. Selain sebagai penjual oleh-oleh khas Lembang, ternyata Bu Ati dan Pak Asep adalah petani jamur tiram.
Kalia hanya melongo mendengar percakapan Surya dan Bu Ati.
" Bapak sama mamah itu petani jamur, Lia. Baglog tuh media tanam untuk jamurnya. Nanti kalau ada waktu kita jalan-jalan ke kumbung yah." terang Surya ketika melihat isterinya hanya melongo tak mengerti. Kalia mengangguk sambil tersenyum manis.
" Neng sudah makan belum?" tanya Bu Ati kemudian. Kalia menggeleng sambil nyengir.
" Aduh karunya teuing si sayang nya mamah belum makan. Ayo..makan dulu yuk." Bu Ati langsung menggamit tangan Kalia untuk mengajaknya duduk di ruang keluarga yang sudah dialasi karpet.
" Tunggu disini yah, da mamah mah gak punya meja makan. Kita makan lesehan disini sajah ya. Sebentar mamah ambilkan nasi sama lauknya."
" Kalia bantu ya Mah.."
" Eh..nggak, nggak usah. Neng duduk disini. Tunggu mamah bawa makanannya."
Makanan sudah terhidang lengkap di hadapan Kalia. Nasi hangat dalam bakul, sayur asem, ikan asin, sambal terasi, jengkol goreng, tempe goreng, kerupuk dan lalapannya. Benar-benar membuat air liur Kalia hampir menetes.
" Sebentar mamah telepon bapak dulu ya. Biar bisa makan sama-sama." Bu Ati berlalu dan kembali beberapa menit kemudian.
Surya sudah senyum-senyum melihat isterinya yang terus memandangi makanan yang ada di hadapan mereka seperti siap menerkam.
" Makan duluan aja Li.." pinta Surya.
" Eh..ng..nggak ah, tunggu Bapak dulu." jawab Kalia sedikit kaget.
Tak berapa lama, Pak Asep ayah Surya datang sambil mengucapkan salam. Semua serentak menjawab ucapan salam Pak Asep.
__ADS_1
Senyum ramahnya langsung terpampang. Senyum yang mirip sekali dengan Surya.
" Waah mantu bapak datang ternyata. Udah lama neng? Gimana? Sehat?"
Kalia tersenyum lebar.
" Sehat Bapak. Bapak sehat juga?" tanya Kalia sambil mencium punggung tangan Pak Asep takzim.
" Sehat atuh Bapak mah."
" Pak..Surya gak ditanyain?" canda Surya sambil meraih tangan ayahnya.
" Ah kamu mah tong ditanya. Udah bosen..mending nanyain anak bapak yang baru ajah." Kalia tertawa renyah.
" Kumaha si utunnya? rewel gak?"
Kalia mengelus perutnya.
" Hehehe..lumayan pak, sedikit kerepotan Lia nya."
" Sabar nya neng, tuh si mamah juga waktu hamil Surya juga begitu. Gak bisa makan apa2, bahkan deket sama bapak ajah sampai gak mau. Bau bandot ceunah, padahal Bapak segini wangi dan ganteng nya..hahaha." Pak Asep berkata dengan pede nya.
" Euh..aki-aki teh sok kamana wae ngomongnya. Udah ah nanti lagi ceritanya. Kita makan dulu aja, kasian tuh si sayang udah lapar." ujar Bu Ati sambil menyodorkan piring satu persatu.
Akhirnya kegiatan yang paling ditunggu oleh Kalia dimulai juga. Dia makan dengan lahap semua hidangan yang disajikan mertuanya.
Selesai makan, mereka melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Hingga malam, Kalia merasa badannya begitu bugar. Biasanya kalau sudah memasuki malam, kehamilannya sering merepotkan tapi tidak kali ini.
Mereka dipaksa untuk menginap oleh kedua orang tua Surya alasannya karena waktu sudah semakin malam. Udara juga sangat dingin. Bu Ati dan Pak Asep khawatir dengan kesehatan Kalia bila memaksakan pulang. Lagi pula, tak baik wanita hamil keluar malam-malam. Takut diikuti demit, wangi soalnya. Begitu pemikiran dua paruh baya tersebut, maklum masih sedikit kolot pemikirannya.
Kalia dan Surya mendadak kelimpungan, bagaimana tidak? bila mereka menginap, itu artinya mereka harus tidur satu kamar dan kasur yang ada di rumah itu ukurannya lumayan kecil untuk mereka berdua. Mereka akan tidur berdempetan kalau begitu.
Tapi permintaan kedua orang tuanya tak mungkin mereka tolak, mengingat betapa baiknya mereka memperlakukan Kalia dan begitu khawatirnya mereka dengan kehamilan Kalia.
" Lia mau pakai baju akang dulu? Pasti gak nyaman kalau pakai baju itu untuk tidur."
Surya menawarkan kaos oblong dan celana training yang masih dia simpan di rumah orang tuanya bila menginap.
Kalia tampak berpikir.
" Ya udah, mana?"
Surya lalu menyerahkan baju tersebut pada Kalia. Kemudian keluar dari kamar agar Kalia nyaman berganti pakaian.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian, Kalia tampak lucu mengenakan baju yang kedodoran karena tubuh Lia memang kecil bila dibandingkan dengan Surya.
Kalia membaringkan tubuhnya di kasur, setengah jam kemudian Surya memasuki kamar. Kalia menjadi gugup.
" Sudah ngantuk?" tanya Surya menutupi kecanggungan.
" Ehm..belum."
" Nanti biar akang tidur di bawah aja." kata Surya sambil menunjuk lantai yang tanpa alas.
Lama mereka terdiam.
" Tidur di atas aja kang. Nanti masuk angin kalau tidur di lantai." Mata Surya seketika berbinar.
" Gak apa-apa gitu?"
" Hemm.." jawab Kalia sambil menggeser posisinya menyediakan space untuk Surya di kasur tersebut tetapi segera memunggunginya mencoba menutupi kegugupan. Jantung Kalia berdetak kencang. Entah kenapa..
Tak berapa lama, terdengar Surya membaringkan dirinya di kasur. Tubuh Kalia menegang.
" Jangan tegang gitu atuh. Akang gak akan ngapa-ngapain kok. Janji."
Eh kok dia tau? emang detak jantung aku kedengeran gitu? haduuuh maluuu. batin Kalia sambil membenamkan wajahnya pada bantal.
" Siapa yang tegang? Enggak kok, biasa aja. Niiih.." Kalia langsung membalikkan badannya dan mata mereka seketika beradu.
Wajah Kalia dan Surya memerah.
" Selamat tidur, neng. Mimpi indah.." ucap Surya begitu lembut dan penuh kasih sayang ketika mereka saling bertatapan.
" Heem.." Kalia langsung menutup matanya lucu. Dirasakannya Surya merapikan anak rambut Kalia dengan pelan.. Lembut dan terasa nyaman, sama sekali tidak ada nafsu disitu. Justru Kalia merasa tenang ketika Surya mengelusnya. Perasaan tegang yang tadi dirasakan Kalia, perlahan hilang. Lambat laun mata Kalia mulai terasa mengantuk. Dia pun tertidur pulas.
Kalia tidur sangat pulas, bahkan tangannya kini memeluk Surya. Cuaca yang dingin benar-benar menghipnotisnya. Bahkan tanpa segan, Kalia memeluk Surya dengan erat, mengira bahwa Surya itu guling. Ketika terbangun, Kalia kaget ada seseorang yang tidur di sampingnya. Dia memekik kemudian menendang Surya dengan kencang hingga terjatuh dari kasur.
BRUUGGHHH..
" Aduuuhhh.." Surya mengaduh karena kini dia terjatuh dengan posisi menungging di lantai.
" Kenapa tidur disini?!" tanya Kalia sedikit berteriak, dia masih belum sadar kalau mereka sedang menginap di rumah orang tua Surya.
Surya mengusap kepalanya yang terantuk ubin dan pinggangnya yang sakit akibat tendangan Kalia.
Setelah beberapa saat Kalia baru tersadar.
__ADS_1
" Aduh..maaf akang. Aku lupa kalau kita lagi nginep di rumah mamah sama bapak. Maaf ya..sakit yah?" tanya Kalia sambil meringis merasa bersalah.
" Ya sakit atuh neng, tendangan kamu mah udah kayak pemain bola profesional. Aduuh.." Ucap Surya sambil terus mengusap-usap pinggangnya.